
Happy reading♡
"KAMU JAHAT ARDIAN. KAMU SELALU MENYAKITI AKU," teriak Lupita kegilaan bahkan kedua tangannya terus menerus memukuli Ardian secara brutal. Bagaimana tidak marah dan sakit, miliknya dimasuki begitu saja tanpa adanya foreplay. Tubuhnya terasa dihantam benda tajam.
"Aku jahat hanya untuk kamu," ucap Ardian. Dia mulai menggerakan miliknya. Cukup kesusahan karena tidak ada cairan pelicin apapun.
"Lepaskan aku. Jika kamu tidak mau menikahi ku, tolong lepaskan aku. Aku juga ingin bahagia dengan pria yang mencintaiku," ucap Lupita.
"Apa kamu lupa? Sejak awal pertemuan kita, aku sudah mengatakan jika kamu hanya milik ku. Hanya aku yang boleh menyakiti mu, menyetubuhi mu, dan melakukan apapun yang aku mau untuk mu. Kamu adalah milik ku Lupita Arafi," ucap Ardian.
Lupita memejamkan matanya saat milik Ardian terus maju mundur di dalam miliknya. Awalnya memang sakit namun lama kelamaan Lupita menikmatinya.
"L-lupita Ar-rafi? Maksud ka-mu?" Tanya Lupita.
"Kamu ingin aku menikahi mu kan? Aku akan melakukan itu. Kamu ingin aku mencintaimu? Aku akan melakukannya, apa kamu puas?" Tanya Ardian. Ia kemudian menekan miliknya agar lebih dalam masuk ke dalam milik Lupita. Lupita menjerit keras. Bagaimana pun milik Ardian sangat besar dan dia masih belum terbiasa dengan milik pria itu.
"Berhenti meminta kejelasan. Aku tahu kamu menginginkan hal itu. Aku akan memberikannya, tapi untuk menikah tidak untuk sekarang," ucap Ardian.
"Tapi aku ingin menikah Ardian. Apa kamu tidak mengerti?" Tanya Lupita.
Ardian tidak mendengarkan ucapan Lupita. Pria itu lebih fokus pada penyatuannya. Ia tidak memperdulikan apapun selain kepuasan. Menikah? Entahlah, Ardian tidak tahu kapan ia akan menikah. Ia hanya senang melakukan penyatuan dengan Lupita. Tubuh Lupita seakan candu untuknya.
Lama lama, mereka menikmati penyatuan tubuh mereka. Ardian cukup lama melakukannya sampai Lupita akan mencapai pada puncaknya. Namun sebelum Lupita mengeluarkan cairannya, Ardian menghentikan gerakan cepatnya dan menggantinya dengan gerakan pelan. Ia menghentakan miliknya cukup keras namun kembali pelan. Ia sengaja ingin mempermainkan Lupita.
"Ardian," geram Lupita.
"Kenapa?" Tanya Ardian tersenyum miring.
"Jangan mempermainkan ku," ucap Lupita.
__ADS_1
"Memohonlah, call me daddy," ucap Ardian tersenyum miring.
Lupita menggelengkan kepalanya. Selama berhubungan dengan Ardian, Lupita tidak pernah memanggil Ardian dengan sebutan 'daddy'. Rasanya aneh saja jika harus memanggilnya seperti itu.
Ardian terus mempermainkan Lupita dibawah sana. Bahkan bibir pria itu menggigiti put*ng milik Lupita. Sesekali juga merem*snya cukup keras. Bukan kenikmatan yang Lupita dapatkan hari ini. Ia benar benar ingin marah karena tidak bisa bertindak apa apa.
"Memohonlah," ucap Ardian.
"Daddy, please. Faster," ucap Lupita akhirnya. Ia sungguh tidak bisa bertahan dengan permainan Ardian.
"As your wish baby. Aku tidak akan membiarkan mu pergi malam ini bahkan aku akan membuat mu tidak bisa berjalan besok," bisik Ardian.
***
Ashel terbangun pukul lima sore. Ia melihat suaminya yang masih tertidur lelap. Ashel memasukan squishy-nya ke dalam dasternya dan menyelimuti tubuh suaminya. Sebelum turun, Ashel mengecup pipi suaminya dan pergi ke kamar anak anaknya.
"Anak cantik mami udah bangun duluan. Gerah ya nak? Mau ibak? Mami mandiin sekarang ya," ucap Ashel. Ia pun mengambil anak itu dan membawanya ke kamar mandi. Bathup sudah terisi air hangat jadi Ashel tinggal menggunakannya.
Sepanjang memandikan Briella, Ashel tidak henti hentinya mengajak anak itu berbicara. Briella juga kadang menjawabnya namun dengan bahasa yang kurang ia mengerti.
Setelah selesai memandikan Briella, Ashel langsung mengganti baju anak itu. Selesai menggantikan baju, Ashel memberikan asinya pada Briella.
"Bri gak mau bobo lagi? Mamam aja ya sama sus? Mami mau mandiin kakak dulu," ucap Ashel.
"Ajeja jeja."
"Briella bicara apa sayang? Mami gak ngerti," ucap Ashel. Bayi itu melepaskan asinya dan langsung diberikan pada suster Lizz untuk memberikan Briella makan. Kini Ashel beralih pada Ling, memandikan bayi itu sama seperti kegiatan Briella tadi begitu juga pada Kai.
Kini anak anaknya sudah selesai mandi dan sedang diberikan makan oleh suster susternya. Sementara itu, Ashel pun beralih pada koper yang akan ia isi dengan baju baju baby's. Total ada tiga koper masing masing untuk anak anaknya. Bukan koper besar, koper kecil namun muat untuk baju baju mereka.
__ADS_1
Ashel mulai memilih dan meletakannya diatas kasur anak anaknya. Mulai dari baju tidur, celana dan baju panjang, kemeja, jas, dan dress untuk Briella. Ashel juga memasukan perlengkapan bayi lainnya seperti telon dan yang lainnya dalam satu tas kemudian menyimpannya di koper. Setelah selesai, ia pun menutup koper itu dan menyimpannya di sudut ruangan.
Kavin masih tertidur. Sepertinya asi miliknya mampu membuat tidur suaminya nyenyak sekali. Ia pun memilih masuk ke walk in closet miliknya dan kembali packing baju miliknya dan juga milik suaminya. Ia membawa satu koper besar. Kebanyakan baju miliknya. Semuanya di packing ke dalam koper. Sementara untuk jas kerja suaminya, Ashel akan membawanya dengan posisi menggantung. Tidak dilipat karena akan merusak jas itu.
"Yah, sandal sama sepatu sepatu belum masuk. Kan disana mau lama," ucap Ashel.
"Jangan dimasukin semuanya. Nanti kita beli aja di Indo," ucap Kavin. Ia mengucek matanya dan berjalan ke arah istrinya.
"Belanja mulu boros sayang," ucap Ashel.
"Uang aku banyak. Mau kamu belanja sebanyak apapun gak ngaruh. Jangan capein diri kamu sendiri dengan packing sebanyak ini. Aku cuma suruh packing baju baby's. Soalnya di rumah lama kita yang di Indo gak ada baju baby's, adanya baju baju dan jas aja," ucap Kavin. Ia pun menarik istrinya untuk keluar dari dalam walk in closetnya.
"Biarin itu diberesin sama pelayan aja. Kamu mending tidur lagi sama aku," ucap Kavin.
"Ih, jangan diberesin. Itu koper dibawa aja, badan aku kan beda mas. Dulu sebelum punya anak dan sekarang setelah punya anak. Size br* aja nambah," ucap Ashel.
"Okey. Terserah kamu, sekarang boboin aku lagi," ucap Kavin.
"Kamu beneran kecapean?" Tanya Ashel.
"Aku begadang akhir akhir ini. Aku mau habisin waktu di Indonesia sama kamu sama anak anak juga. Makanya kerjaan aku beresin dari sekarang," ucap Kavin.
"Kok gitu? Kalo sakit gimana mas? Jangan terlalu keras kerjanya," peringat Ashel.
"Demi kamu dan baby's aku rela kayak gitu. Udah sini pengen nen lagi," ucap Kavin. Ia pun menarik tubuh Ashel ke atas kasur dan kembali menyusu layaknya anak anaknya tadi.
"Sehat selalu papi."
Tbc.
__ADS_1