
Vanessayang.
Last seen 16.13.
Kak Kenzo..
Aku mau jalan-jalan sama Mama.
Nanti jemput aku jam 6 ya.
Luv u😡
Kenzo tertawa membaca pesan whatsap dari Vanes. Sekarang sudah jam 5 sore. Kenzo masuk ke dalam mobilnya. Namun, Juna menahannya.
"Apa?" Tandas Kenzo.
Juna menatap intens Kenzo. "Kalian berdua jadi menikah?"
Kenzo menatap galak Juna. "Iya. Kita berdua jadi menikah. Dan kamu nggak usah temui dia. Kenapa kamu tadi masih mengajak Vanessa ketemu, hah?"
Juna tertawa sombong. "Walaupun kamu sudah menikah, aku tak peduli. Karena bagiku, Vanessa hanya milikku."
Rahang Kenzo mengeras. Emosinya meledak. Tanpa banyak bicara lagi, dia memukul pipi kanan Juna hingga tersungkur. "Aku tidak akan diam saja. Aku akan mencegahmu!"
Kemudian, Kenzo masuk ke dalam mobilnya dan melenggang pergi dari parkiran sekolah.
***
"Itu Kak Kenzo, Ma." Antusias Vanes membuat Tasya memalingakn pandangannya dari Handphone yang dipegangnya.
Anak dan ibu ini habis shopping. Mereka berdua selesai membeli Tas, sepatu, baju dan lain-lainnya. Tak hanya itu, mereka berdua membeli aksesoris.
Mobil sedang berwarna hitam itu berhenti di hadapan mereka berdua. Kenzo keluar dari mobilnya. Vanes tersenyum sumringah melihat suaminya itu.
"Vanes, Mama." Sapanya.
Tasya tersenyum. "Baru pulang, Kenzo?"
"Iya, Ma." Kata Kenzo sambil membukakan pintu untuk Tasya. Tasya masuk ke jok penumpang di belakang dengan barang belanjaannya.
Vanes masuk ke jok disamping kemudi. Disebelah Kenzo. Wajah Vanes nampak kelelahan. Mobil hitam tersebut melesat menuju ke kediaman Dylan.
"Bagaimana serumah dengan Vanessa, Kenzo?" Tasya terkikik.
"Ya begitu, Ma. Aku sudah terbiasa. Walaupun baru tiga hari serumah dengan Vanessa."
"Vanessa tidak manja kan?" Kali ini Tasya tertawa membuat Vanes cemberut.
Kenzo melirik istrinya. "Sangat manja, Ma."
"Enggak! Vanessa nggak manja kok, Ma." Tukas Vanes kesal. "Kak Kenzo nanti nggak usah tidur di kamar!" Vanes beralih ke Kenzo.
Tasya yang duduk di belakang mereka menahan tawanya. Kenzo yang duduk di balik kemudi menahan tawanya melihat anak dan menantunya.
Akhirnya mereka berdua sampai di kediaman Dylan. Tasya turun dari mobil sambil mengeluarkan beberapa belanjaannya dan sisanya milik Vanes.
"Kalian nggak mampir?" Tanya Tasya.
Vanes menggeleng. "Nggak, Ma. Vanes capek. Besok juga harus sekolah."
__ADS_1
Kenzo mengangguk. "Iya, Ma. Mungkin lain kali. Insyaallah minggu depan Kenzo sama Vanes bakal menginap disini."
Tasya tersenyum seraya mengangguk. "Iya deh."
"Titip salam ke Papa ya, Ma? Kenzo sama Vanes pulang dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
***
Selesai mandi, Vanes merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia merasa lelah. Kenzo sedang mandi. Belanjaannya di letakkan di atas sofa panjangnya.
Kenzo keluar dari kamar mandi dengan boxernya. Handuk bewarna putihnya tersangkir di leher. Melihat Kenzo terlanjang dada, dia terpesona.
Ya Tuhan. Kenapa Kak Kenzo tampan sekali.
Melihat Kenzo menggenakan setelan jas kantornya, Vanes menaikkan satu alisnya. Dia heran. Padahal ini sudah jam 7 malam. Dan kenapa Kenzo menggenakan setelan jas kantor?.
"Kak Kenzo mau kemana?" Tanya Vanes.
"Mau ke kantor, sayang."
Vanes cemberut. "Ngapain? Ini kan sudah malam. Nggak usah kesana."
Kenzo mendekat ke arah Vanes kemudian menciumnya. "Aku ada urusan, sayang."
"Jangan pergi."
Kenzo menatap wajah istrinya yang memohon itu. Mengingat selama seminggu lebih dia belum ke kantor, Kenzo harus melihat perkembangan perusahaanya. Tapi dia juga tak tega jika harus meninggalkan istri kecilnya itu.
"Aku selama seminggu lebih belum kesana, sayang. Aku juga harus mengawasi perkembangan perusahaanku. Besok aku akan fulltime sama kamu." Kenzo mengelus rambut hitam Vanes.
Vanes mencium tangan Kenzo selayaknya kebanyakan istri. Kemudian Kenzo keluar dari kamarnya. Vanes sedih.
"Jangan pergi..." Lirihnya.
***
Kenzo menemui Haris yang sedang lembur di ruangan kerjanya. Tempat kerjanya itu masih sama saja.
"Haris? Bagaimana perkembangan kantor ini?" Tanya Haris. Haris orang kepercayaanya sekaligus sahabatnya.
"Bagus. Keuangan teratur. Banyak yang mengajak kita untuk bekerja sama." Jawab Haris singkat dan langsung inti.
"Jangan sembarang menerima, Ris. Kamu harus menelaahnya. Aku nggak mau kita gabung dengan perusahaan yang penipu-penipu itu." Balas Kenzo.
Haris mendongak. Menatap atasannya itu. "Aku tidak bodoh, Ken. Aku tahu itu. Aku selalu menelusuri selubuk-selubuk perusahaan yang mengajak kita bekerja sama."
"Pintar."
"Bagaimana dengan pernikahanmu?" Tanya Haris.
"Kamu tahu aku menikah?" Tanya Kenzo.
"Bukankah kamu pernah cerita sama aku?" Haris menepuk jidatnya.
Kenzo manggut-manggut tanda mengerti. Dia lupa jika dia pernah cerita dengan Haris. "Maaf jika lupa."
"Menikah membuatmu lupa ingatan ya?" Tanya Haris setengah mengejek.
__ADS_1
Kenzo hanya tertawa menanggapinya.
"Kenzo, ada beberapa berkas yang harus kamu selesaikan minggu-minggu." Kata Haris sambil menyerahkan setumpuk berkas ke Kenzo.
Kenzo menelan ludah. Berkas yang harus di selesaikan sangat banyak dan menumpuk. Dia tidak yakin bisa menyelesaikan dalam minggu-minggu ini.
***
Ketika membuka kamar, Dia melihat Vanes yang sedang tertidur pulas dengan keadaan meringkuk. Di sebelahnya ada buku-buku.
Kenzo menggelengkan kepalanya. Dia membereskan buku-buka Vanes. Kemudian Kenzo mengeluarkan laptopnya. Menyicil berkas tadi yang diberikan oleh Haris. Tak lupa juga dia menyelimuti Vanes.
***
Pagi sudah datang. Vanes bangun. Tapi dia tak menemukan Kenzo di sebelahnya. Sedikit panik, Vanes langsung menoleh ke samping kanannya. Ternyata Kenzo tidur di sofa.
Mata tajamnya melirik jam yang menempel diatas dinding TV. Masih subuh. Dia memutuskan untuk mandi. Setelah mandi, dia memutuskan untuk membangunkan Kenzo.
"Kak Kenzo.." Vanes menepuk pipi Kenzo pelan. "Bangun..Sudah pagi."
Kenzo hanya menggerang pelan. Kemudian dia mengubah posisinya lebih nyaman. Vanes terpanah untuk kedua kalinya. Kenzo benar-benar tampan. Lebih tampan dari Juna.
"Kak..Mandi ya? Terus kita sarapan."
Kenzo masih tak bergeming.
Vanes berdecak kesal. Dia mencium kedua pipi Kenzo dan itu sukses membuat Kenzo membuka matanya lebar kemudian tersenyum.
"Good Morning, sayang!" Sapa Kenzo.
Vanes tersenyum. "Too. Kak Kenzo mandi cepat."
"Iya-iya." Kenzo berjalan ke kamar mandi.
Vanes memilih merapikan tempat tidur. Membuka gorden. Walaupun masih gelap tak apa. Kemudian Vanes membuka jendela agar oksigen baru masuk.
Kenzo yang keluar dari kamar mandi, merasa kedinginan.
"Kok dingin ya? Padahal AC nggak nyala." Celetuk Kenzo.
Vanes terkikik. "AC alami selalu menyala, Kak."
Kenzo menghela nafas. "Tumben kamu bangun pagi?"
"Bangun pagi salah. Bangun siang salah. Kak Kenzo itu maunya apa sih?" Tukas Vanes kesal.
Kenzo memeluk Vanes dari belakang. Membawanya ke balkon. Vanes merasakan udara pagi yang khas. Berada di pelukan Kenzo benar-benar nyaman. Kenzo teringat sesuatu. Dia mengajak duduk Vanes.
"Vanessa? Nesya itu sahabat kamu kan?"
Vanes mengangguk. "Iya. Kenapa?"
"Banyak yang bilang jika dia hamil, sayang. Kepala sekolah berencana untuk mengeluarkannga dari sekolah." Kata Kenzo.
Vanes terdiam. Berarti yang di bahas kemarin oleh teman-temannya itu benar. Tapi, Bagaiman Nesya bisa hamil? Siapa yang menghamili Nesya? Betapa brengseknya lelaki yang sudah merusak masa depan Nesya.
Kenzo saja masih tak berani untuk meminta nafkah batin. Palingan hanya sebatas ciuman saja. Vanes benar-benar tak menyangka sahabatnya itu hamil.
"Kak Kenzo. Aku tidak mau Nesya keluar dari sekolah. Tolong dia, Kak."
__ADS_1