
Happy reading♡
Sebelum kejadian, disuatu ruangan...
"Gue mau kalian semua buat kerusuhan disana. Gue juga bakalan turun langsung. Malam ini adalah malam terakhir buat Ashel. Dia harus mati hari ini juga," ucapnya.
"Kami bersedia membantu anda bos. Kami sudah di sumpah dan berjanji akan selalu bersama dengan bos," ucap salah satu bawahannya.
"Kalian tinggal berpencar disana nanti, gue bakalan kasih aba aba hitungan ketiga. Setelah peluru mengudara, baru kalian juga layangkan tembakan. Kalo ada yang ganggu kalian, tinggal kalian tembak aja. Kalian buat keadaannya kacau. Sisanya biar gue yang urus," ucapnya.
Mereka semua pun mengangguk dan langsung pergi ke hotel tempat dimana acara diadakan. Jelas dia mengetahuinya karena undangan yang disebar. Dan kebetulan keluarganya diundang.
"Nyawa lo tinggal hitungan jam. Bersiaplah, karena lo Liam pergi sebagai gantinya Liam juga pergi," ucapnya.
***
Setelah mendengar tembakan, semua orang mulai berlalu lalang untuk menyelamatkan diri. Kavin juga melindungi Ashel. Ia berusaha membawa Ashel keluar dari kerumunan.
Semua petugas keamanan yang bertugas langsung turun tangan. Beberapa mengamankan orang orang di pesta dan sisanya mencari orang yang menembakan peluru.
"Keluarga kita," ucap Ashel.
"Aku yakin Josh sudah mengurusnya. Sekarang kamu denger ucapan aku dan jangan jauh dari aku," ucap Kavin memperingati.
Ashel memegang tangan Kavin dan berusaha keluar bersama dengan Kavin. Pintu masuk tiba tiba tertutup dan sulit dibuka.
"Kav, Kenapa pintunya tiba tiba terkunci? Dan kemana staff yang bertugas di depan pintu?" Tanya Ashel.
"Entahlah, aku tidak tahu. Aku akan mencoba mengeceknya. Kamu diam disini dan jangan kemana mana. Aku akan segera kembali," ucap Kavin.
"Hati hati," ucap Ashel. Kavin mengangguk. Sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan Ashel disana. Namun mau bagaimana lagi, ia tidak bisa diam saja.
Ashel berada diantara kerumunan orang orang yang berusaha saling dorong untuk bisa keluar. Mereka mencoba mendobraknya juga namun belum membuahkan hasil.
Pandangan Ashel menangkap sesosok anak kecil yang tengah ketakutan. Jaraknya cukup jauh darinya. Karena khawatir dan merasa kasihan, Ashel pun berlari untuk menyelamatkannya.
Anak itu berusia sekitar enam tahun. Dia anak perempuan.
"Dek, mama kamu dimana?" Tanya Ashel.
"Tidak tahu kak, aku tidak tahu mama dimana," ucapnya sambil terisak.
"Stt, jangan menangis. Kamu ikut kakak ya," ucapnya. Anak itu pun mengangguk.
__ADS_1
Ashel menggandeng anak itu ke arah barat. Biasanya setiap hotel akan dilengkapi pintu darurat lain dan ia mencoba mencarinya.
Area ini kosong dan tidak ada satu pun orang. Ashel sebenarnya cukup takut karena lampunya juga tidak terlalu terang. Namun demi menyelamatkan anak ini, ia harus melawan ketakutannya.
Saat berjalan, tiba tiba ia dihadang oleh dua orang pria yang tadi berjaga di depan hotel.
"Ikut kami," ucapnya.
"Siapa kalian? Pergi dari sini," ucap Ashel. Ia berusaha menyembunyikan anak itu dibelakangnya.
"Kakak aku takut," ucapnya.
"Cepat ikut kami atau kami lakukan kekerasan pada anda," ucapnya.
"Lakukan saja jika kalian berani," ucap Ashel. Dua orang pria dewasa itu pun langsung memisahkan Ashel dan anak perempuan tadi.
Ashel tidak diam. Ia terus berontak. Ia pernah ikut eskul taekwondo. Jadi ia bisa bela diri sedikit sedikit.
Ashel menggigit tangan pria yang memegang tangannya dan menendang area selangkangannya. Sehingga pria itu melepaskan cengkramannya dan mengaduh kesakitan.
Ashel juga melakukan perlawanan pada teman pria ini. Ashel melempar vas bunga yang ditempel di dinding. Setelah dua pria tadi terkapar dibawah, Ashel kehilangan anak perempuan tadi. Saat ia berbalik untuk mencarinya, tiba tiba sebuah suara membuatnya terdiam.
"Nyerah atau anak ini gue bunuh."
"Remember me Brianna Sashel Adinata?" Tanyanya.
"Lepasin dia. Lo jangan macem macem," ucap Ashel.
"Gue lepasin dia asal lo ikut gue," ucapnya.
"Mau lo apa sih? Lo gak cape ganggu hidup gue terus dari dulu?" Tanya Ashel.
"Enggak sebelum lo mati. Nyawa Liam mati karena lo," ucapnya.
"Dona, lo gak sadar? Liam mati bukan karena gue, tapi karena emang udah harusnya dia meninggal," ucap Ashel.
"Bacot. Kalo dia gak nolongin lo dia pasti masih hidup," ucap Dona.
Kalian ingat Dona? Siswi yang menjadi teman sekelas Ashel saat Ashel pindah sekolah ke SMA Praja.
"Dia gak nolongin gue. Tapi gue yang nolongin dia. Buka mata lo," ucap Ashel.
"Gue gak peduli mau kayak gimana faktanya. Yang jelas lo yang udah bunuh Liam. Lo juga yang udah rebut Liam dari gue. Dan lo pantes mati. Tapi sebelum lo mati, anak ini harus mati juga," ucap Dona.
__ADS_1
"JANGAN GILA LO DONA! DIA ANAK KECIL GAK TAHU APA APA," teriak Ashel menggebu gebu. Saat ia akan menghampiri anak itu tiba tiba tangannya ditahan oleh kedua pria yang tadi ia lawan.
"LEPASIN ANJ*NG," umpat Ashel.
"Apa gue peduli sama nyawa anak ini? Enggak. Sama sekali enggak," ucap Dona. Setelah mengucapkan itu, suara tembakan pun terdengar.
"ENGGAKKKKKK," teriak Ashel.
Darah segar mengalir dari kepala anak itu. Dona tepat menembaknya di area kepalanya. Anak itu pun tergeletak tak bernyawa.
Tanpa sadar, Ashel menitikan air matanya. Ia tidak menyangka jika anak itu juga akan menjadi sasaran Dona.
Awalnya Ashel berniat untuk menyelamatkannya namun ternyata salah, Ashel malah membawanya pada akhir hayatnya.
Bughh..
Ashel langsung tak sadarkan diri saat pundaknya di pukul keras. Ia langsung jatuh pingsan kemudian dibawa pergi dari sana. Entah kemana. Yang jelas hanya Dona yang mengetahuinya.
Sedangkan dilain tempat, masih di sekitatan hotel. Kavin sudah berhasil membuka pintu utama. Semua orang yang sudah menunggu langsung berhamburan pergi keluar untuk menyelamatkan dirinya masing masing.
Kavin langsung masuk saat semua orang sudah keluar. Ia berusaha mencari keberadaan Ashel ke tempat dimana tadi ia meninggalkannya. Namun ternyata Ashel sudah tidak ada. Apa mungkin dia sudah keluar?
Kavin pun memanggil Josh dan beberapa bodyguard untuk membantunya mencari Ashel.
Sudah sekeliling hotel dicarinya namun mereka tidak menemukan keberadaan Ashel. Salah satu dari mereka hanya melihat seorang anak kecil perempuan yang tergeletak dan sudah berlumuran darah.
"Tuan, kamu tidak menemukan keberadaan nona muda. Sepertinya nona sudah tidak ada disini," ucap Josh.
"Cari lagi." Mereka pun mengangguk dan kembali berpencar. Sedangkan Josh mengikuti Kavin yang mendekati anak yang tergeletak.
"Anak ini sudah meninggal bos," ucap salah satu bodyguard yang mengecek keadaanya.
"Urus mayatnya dan cari orang tuanya," ucap Kavin. Saat ia akan meninggalakan ruangan itu. Matanya menangkap sesuatu yang berkilauan di dekat anak itu.
"Ini cincin tunangan milik Riana," ucap Kavin saat ia sudah mengambilnya.
doain Ashel baik baik aja yages
Tbc.
__ADS_1
Ramein guyss. Vote komen yaaa. Makasih