My Little Wife

My Little Wife
Bab 297 : Yang Ada Airnya


__ADS_3

Happy reading♡


Ayu bersama Rafello sedang sibuk sibuknya mempersiapkan acara tunangan mereka. Kemarin mereka baru selesai membuat undangan digital dan memilih konsep acara tunangan mereka. Dan saat ini, kedua manusia itu sedang memilih cincin untuk mereka.


Ayu dan Rafello sepakat untuk memilih cincin yang simpel namun masih elegan dan cantik. Keduanya memilih warnaa silver. Cincin Rafello memiliki aksen nama Ayu di dalam lingkarannya begitu juga sebaliknya. Namun, nama Rafello tidak di sematkan semuanya karena terlalu panjang. Hanya bertuliskan nama Rafello saja.


Mereka sudah selesai membawa cincin itu pulang. Sebenarnya mereka sudah memilih desain cincin, hanya saja keduanya masih labil dan meminta tiga desain yang mereka pilih dengan wujud asli. Namun pilihan mereka jatuh pada cincin silver.


"Byy, langsung ke butik aja ya? Buat pas-in kebaya aku nanti," ucap Ayu.


"Siap sayang."


Setelah selesai dengan cincin, mereka pun langsung menuju ke butik milik bunda Ashel. Ayu sengaja memesan dari butik ini sebab kualitas kain dan jahitannya sangat rapih dan cantik.


Masih terasa mimpi bagi Ayu. Kemarin ia di sia siakan oleh Dimas, namun setelah mengenal keluarga suami Ashel, ia juga jadi mengenal Rafello. Ayu juga masih tidak menyangka karena dulu ia dan Rafello sering terlibat cek cok karena hal sepele.


"Kenapa senyum senyum?" Tanya Fello.


"Enggak papa kok. Aku cuma masih berasa mimpi aja tahu gak ketemu sama kamu, kita sering berantem, tahunya kita berjodoh," ucap Ayu.


"Ngaku sama aku, dulu kamu benci gak sama aku? Waktu kita sering cek cok?" Tanya Fello.


"Mm, dikit sih byy. Soalnya kamu ngeselin tahu gak," ucap Ayu.


"Itu dia. Jarak benci dan cinta itu tipis byy. Makanya kalo benci sama orang jangan benci benci amat. Nanti kalo tiba tiba suka kan, malu," ucap Fello.


"Ya mau gimana lagi. Namanya juga benci, perasaan yang muncul tiba tiba terus berubah jadi cinta. Mana mentoknya sama kamu, tapi gak papa. Soalnya kamu sat set gak banyak drama langsung ngajak serius," ucap Ayu.


"Aku emang sering ngeselin, ngomong ceplas ceplos, tapi itu cuma sama kamu sayang. Aku sengaja mau tunangan dulu sama kamu biar kamu gak merasa kalo aku mainin kamu. Aku gak pernah kepikiran buat hal kayak gitu, gak ada waktu," ucap Fello.


Ayu tersenyum mendengar ucapan Rafello. Mereka memang sama sama setuju untuk bertunangan dulu dan menikah setelah mereka lulus sarjaan. Toh mereka satu kampus dan satu fakultas, apalagi sekarang mereka sudah berada di gedung apartement yang sama namun berbeda ruangan.


"Abis fitting baju kemana lagi?" Tanya Rafello.


"Pulang. Aku cape, catering sama sisanya di urus mama. Orang orang WO juga udah mulai pasang dekor buat tunangan kita nanti," ucap Ayu. Memang tunangan mereka diadakan di hotel milik papa Rafello. Ini sengaja dilakukan atas kemauan Rafello sendiri


"Oke sip. Aku juga cape banget pengen tidur," ucap Rafello.

__ADS_1


Sementara itu, Ayu tiba tiba terpikirkan oleh Ashel. Karena sibuk dengan urusan acara tunangannya, ia sampai tidak sempat untuk menanyakan kabar sahabatnya itu. Ayu tahu, dulu ia tidak pernah jadi sahabat yang baik untuk Ashel. Jadi sekarang ia akan menebus semuanya. Meskipun terlambat, dari pada tidak sama sekali.


***


Baru pukul satu siang, Ashel masih sibuk menonton tv di kamarnya. Bahkan satu kotak anggur sudah di lahap habis olehnya. Tidak terasa, padahal satu kotaknya itu cukup banyak.


Sedangkan Kavin tiduran. Ia terlalu lelah karena terus duduk di sofa depan ranjangnya. Sedangkan Ashel masih duduk disana.


"Yang sini, jangan disitu terus," ucap Kavin.


"Mau apa emangnya? Aku lagi pw ini," ucap Ashel.


"Pw? Pw apaan yang? Password?" Tanya Kavin.


"Posisi wenak mas. Udah nyaman gini. Rebahan di sofa terus lihat tv," ucap Ashel.


"Sini sayang. Tenggorokan mas kering," ucap Kavin.


Ashel mengernyit. Apa hubungannya tenggorokan kering dengan ia pindah tempat?


"Kalo kering ya minum sayang. Itu di samping tempat tidur ada air putih. Apa mau ini?" Tanya Ashel. Ia mengangkat kaleng soda yang sengaja ia bawa untuk suaminya.


"Hah? Cucu? Apaan? Aku gak punya cucu," ucap Ashel.


"Ya makanya sini. Nanti kamu tahu," ucap Kavin. Ia terus memaksa istrinya naik ke tempat tidur. Semoga saja istrinya mau menurutinya. Ia sudah tidak tahan sekali pemirsa.


Ashel tidak menyahut, ia memang sedang fokus pada film barbie di depannya.


"Yang," panggil Kavin.


"Apa cinta? Kesini aja sih kalo mau cucu. Emang apaam sih cucu? Bukannya cucu itu nama orang?" Ucap Ashel bergumam di akhir kalimat.


"Ah, ayang mah gitu deh. Sini dong yang," ucap Kavin. Ia terus merengek pada istrinya agar mau mendekat ke arahnya.


Sedangkan Ashel yang sedang serius menonton pun harus terganggu karena ulah suaminya yang terus merengek memanggilnya.


"Ya udah iya aku kesana. Diem napa, berisik banget." Ucap Ashel.

__ADS_1


Ashel pun langsung naik ke tempat tidur karena jarak sofa yang ia duduki berdekatan sekali dengan ranjang mereka.


"Apa? Mau cucu apa?" Tanya Ashel. Ia sudah duduk di depan suaminya.


"Maminya tiduran dong. Miring tapi," ucap Kavin.


Ya salam.


Punya suami modelan fisik seperti aktor hollywood tapi sifat sepeti bayi selalu membuatnya geleng geleng tidak paham.


Namun meskipun begitu, Ashel tetap melakukannya. Ia tiduran miring menghadap suaminya. Kavin sendiri langsung meneribitkan senyumnya saat istrinya yang cantik ini sangat penurut.


"Tv-nya aku matiin. Kamu nonton lewat laptop aku aja," ucap Kavin. Laptopnya sudah menayangkan film barbie tadi.


Kavin pun ikut tiduran. Hanya saja posisi kepalanya berada di depan kedua squishy istrinya. Tangannya terulur ke belakang tubuh Ashel untuk membuka pengait br* milik istrinya.


"Kamu mau apa sih mas, ya allah. Cucu yang kamu maksud itu sus* aku?" Tanya Ashel.


"Hehe. Iyalah. Enak kan ini dari pada minuman tadi," ucap Kavin.


"Kan gak ada airnya mas. Enak dari mananya," ucap Ashel.


"Menurut aku enak sayang," ucap Kavin. Ia pun memaksa Ashel membuka penutup itu bahkan Kavin sudah masuk ke dalam baju milik istrinya yang untungnya berukuran cukup besar.


Ashel memekik terkejut saat Kavin melahapnya begitu rakus. Sesekali Ashel meringis juga. Kalo seperti ini keadaanya, bisa dipastikan akhirnya akan seperti apa.


"Pel-an pelan massh," ucap Ashel.


Kavin tidak mengindahkan permintaan istrinya. Ia malah semakin kuat menghis*p squishy itu dan jangan lupakan remas*n kuat yang diberikan Kavin.


Uhuk.. uhuk..


"Yang, ada airnya."



Tbc.

__ADS_1


Air apa tuhhh😔


__ADS_2