My Little Wife

My Little Wife
Bab 348 : Kakak Adik Sama Saja


__ADS_3

Happy reading♡


Ayu baru saja sampai di apartementnya sekitar pukul enam sore. Ia berjalan pelan menuju unitnya setelah keluar dari dalam lift. Sampai di depan pintu apartement, Ayu menempelkan sidik jarinya dan terbukalah pintu apartementnya. Ia sangat lelah sekali hari ini. Memang, Ayu masih terbilang karyawan baru jadi ia lebih banyak mengerjakan pekerjaan dibandingkan karyawan lama. Ayu merasa tidak masalah dengan itu. Toh dengan begitu ia bisa cepat paham dan mengerti.


Ayu mendaratkan bokongnya di sofa yang ada di apartementnya. Terhitung sejak lulus dan wisuda, Ayu belum pulang ke Indonesia sama sekali. Ia hanya bertemu orang tuanya saat wisuda saja.


Bukan ia tak mau pulang, namun ia langsung bekerja tiga hari setelah lulus. Tunangannya tentu saja melarangnya bekerja, namun Ayu ngotot ingin mencari pengalaman. Mau tak mau Fello mengalah dalam debat itu.


Ayu mengambil ponselnya, ia mengecek chat yang masuk. Ada chat dari Ashel. Dia meminta bertemu untuk membahas WO pernikahannya. Beruntungnya dia karena memiliki sahabat yang sangat baik meskipun dia belum bisa memberikan hal yang sama.


"Sorry ya Shel, dari dulu gue sering nyusahin lo. Tapi gue gak pernah kasih feedback baik ke elo," gumam Ayu. Ia membalas pesan Ashel dan juga membalas pesan dari tunangannya. Rafello mengirimkan spam chat bahkan spam panggilan namun Ayu tidak menjawab dan mengangkat teleponnya. Ia tadi benar benar sibuk sekali.


Ayu meminta maaf melalui chat pada tunangannya. Tubuhnya sangat lelah sekali, ia sudah mengantuk namun belum mandi. Melirik jam di dinding, baru pukul setengah tujuh. Sudah pasti saat bertemu nanti Ayu akan mendapatkan hadiah dari Fello karena ia mengabaikannya. Hadiah yang beberapa kali dilakukan Fello dan hampir membuatnya menjadi wanita sebelum menikah


"Nanti aja deh mandinya," gumam Ayu. Ia pun merebahkan tubuhnya diatas sofa dan memejamkan matanya. Ia melepas blazer dan membuka kancing blouse teratasnya sehingga bagian dadanya sedikit terbuka.


Tanpa ia ketahui, sejak tadi ada seseorang di ruangan itu. Fello sudah berada di sana sejak sore hari. Ia sengaja menunggu kedatangan tunangannya sore hari tadi sekitar pukul empat sore, karena memang biasanya Ayu pulang jam segitu. Namun ternyata gadisnya lembur bekerja.


Fello berjalan mendekat ke arah sofa. Ia duduk perlahan disamping Ayu. Raut kelelahan tercetak jelas di wajah tunangannya itu. Sangat tidak tega sekali, padahal dia sudah sanggup menanggung biaya hidup Ayu. Namun gadis itu tetap kekeuh ingin bekerja dengan alasan ingin mencari pengalaman.


Rafello muak dengan alasan itu. Jika ia tidak bertindak maka calon istrinya ini akan kelelahan. Fello mengambil ponselnya dan menghubungi asistennya untuk mengurus resign tunangannya. Hanya saja tidak boleh mencurigakan.


Fello menyimpan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan Ayu. Gadis itu masih belum tersadar jika ada yang memperhatikannya. Fello gemas sendiri apalagi melihat belahan yang menggoda itu. Beberapa kali juga Fello sudah bermain disana. Bahkan Fello sengaja memberikan obat pembesar yang ia cekoki ke minuman Ayu.

__ADS_1


Fello mengecup bibir Ayu kemudian melum*tnya. Ayu sempat terusik kemudian terkejut dan hendak mendorong pria diatasnya. Namun setelah mencium bau khas-nya Ayu pun tidak jadi mendorongnya, justru dia malah mengalungkan tangannya pada leher Fello dan menekan kepala pria itu untuk memperdalam ciuman mereka.


Cukup lama mereka saling ******* dan bertukar saliva akhirnya mereka melepaskan ciumannya. Nafas Ayu terengah engah dan hal itu membuat dadanya naik turun. Mata Fello semakin tajam melihatnya.


"Aku lelah," ucap Ayu seakan mengerti arti tatapan kekasihnya.


"Apa aku peduli? Salahkan dirimu yang tidak menurut sayang," ucap Fello. Ia menurunkan kepalanya lagi dan membenamkan wajahnya diatas dua gundukan yang cukup besar akibat ulahnya.


Kepala Fello perlahan bergerak ke leher Ayu. Menghirup aroma wangi yang sangat ia sukai. Ia juga meninggalkan kecupan disana, membuat tubuh Ayu meremang. Perlahan tangan Fello naik dan membuka satu persatu kancing blouse yang tersisa. Setelah semuanya terbuka, mata Fello menggelap.


"Time for punishment baby," bisik Rafello.


***


"Kenapa dikeluarin yang?" Tanya Kavin.


"Ini harus di cuci dulu sebelum dipakai mas. Kan kita gak tahu ini bersih apa enggak. Takutnya ada kuman atau bakteri, apalagi virus kan bahaya buat baby's," ucap Ashel.


"Pinter banget sih, jatah malam ini," ucap Kavin mengerling jahil.


"Ish, udah jadi bapak tiga anak juga masih minta jatah. Heran deh," ucap Ashel.


"Aku perlu isi daya sayang, biar besok aku fresh pas bangun tidur," ucap Kavin tersenyum.

__ADS_1


"Kamu fresh aku kecapean, dipikir delapan ronde gak cape apa? Mana kamu minta aku mulu yang diatas. Belum lagi kalo kaki aku diangkat sebelah terus milik kamu diteken kuat. Nih mas, emang kamu gak kasihan sama istri sendiri yang kesakitan sampe nangis?" Tanya Ashel. Ia mengeluarkan unek uneknya yang selama ini dipendam. Namun bukannya marah atau tersinggung, Kavin justru malah tersenyum lebar.


"Justru menurut aku, melihat kamu kelelahan, menangis, memohon untuk berhenti bahkan melihat kamu tepar, aku justru bahagia melihatnya sayang. Karena dengan begitu, berarti kamu sangat menikmatinya," ucap Kavin.


"Ya tapi gak sampe pake banyak gaya mas. Kan aku kelelahan. Satu ronde aja cukup," ucap Ashel. Ia memanggil pelayan untuk mencuci semua baju baby's termasuk baju yang akan dipakai nanti oleh mereka saat pesta ulang tahun.


"Kan kamu tahu sendiri kalo cuma satu ronde, punya aku masih tegang. Meskipun udah pelepasan tiga kali, milik aku tetep bakalan bereaksi cinta," ucap Kavin.


"Baperan sih adik kamu," ucap Ashel. Ia mencuci tangannya kemudian beralih pada anak anaknya yang sedang sibuk mondar mandir dengan banyak mainan di atas karpet yang mereka duduki. Ashel duduk di sebelah suaminya.


"Baperan kalo gak masuk ke sarang kamu. Tahu sendiri uring uringan aku ngalahin baby's pas udah imunisasi," ucap Kavin.


Benar sekali apa yang diucapkan oleh suaminya ini. Ashel sampai pusing sendiri ketika menghadapi suaminya ini. Sangat susah dibujuk. Dan maunya itu cuma dikelon oleh istrinya.


"Mau pusing tapi aku bisa hadapin. Buktinya aku bertahan sama sikap kamu sampe saat ini," ucap Ashel.


"Big love you mami," ucap Kavin. Ia menarik bahu istrinya dan mengecup pipinya beberapa kali. Hal itu terlihat oleh anaknya, Ling. Bayi itu tiba tiba melempari papinya dengan mainan pesawat terbang miliknya. Lemparannya tepat mengenai bahu Kavin.



...ashel waktu shopping...


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2