
Happy reading♡
Beruntungnya bayi bayi Ashel tetap anteng bermain bahkan mereka juga tidur siang cukup lama sekali tadi, mungkin karena kelelahan bermain bersama dengan suster susternya. Sekarang sudah pukul satu siang tidak ada tanda tanda ketiga bayi itu akan bangun. Anna dan Sarah membiarkannya. Mereka tidur di kamar yang selalu ditempati Sarah dan Faraz ketika menginap yang ada di lantai satu. Sarah dan Anna sengaja karena mereka tidak mau naik turun tangga bahkan naik lift. Terlalu melelahkan.
"Sar, kenapa kita gak ikutan tidur aja dari tadi?" Tanya Anna.
"Benar juga. Aku ingin tidur di sofa. Kamu tidur di kasur sama mereka ya," ucap Sarah.
Anna menganggukan kepalanya, "Oke."
Kedua wanita paruh baya itu pun tidur. Sudah usia lanjut seperti ini mereka memang mudah mengantuk dan kelelahan. Padahal kegiatan mereka sehari hari hanya di rumah dan mengecek butik serta restoran masing masing.
Sementara itu di dalam kamar utama, Ashel terbangun karena haus. Baju yang ia kenakan juga sangat basah. Ashel tidak nyaman sekali karena keringat yang lengket ini. Ia pun hendak bangun namun Kavin malah semakin erat memeluknya.
"Aku haus sayang," ucap Ashel pelan. Kavin membuka matanya dan menatap ke arah istrinya.
"Aku ambilin," ucap Kavin. Ashel mengangguk dan bangun setelah Kavin melepaskan pelukannya dan mengambilkan air minum untuknya.
Ashel menenggak habis air mineral yang berada di dalam gelas. Ia kemudian memberikan gelas kosong tadi pada suaminya.
"Lagi?" Tanya Kavin.
Ashel menggeleng, "Cukup."
Kavin menggangguk. Ia melihat ke arah baju sang istri yang terlihat basah. Apa itu karena keringat?
"Aku ganti baju dulu ya mas. Gak enak banget, lengket sama lembab," ucap Ashel.
"Aku ambilin baju gantinya," ucap Kavin.
"Gak usah, aku aja. Kamu mending disini duduk nunggu aku," ucap Ashel.
"Emangnya kepalanya gak pusing lagi?" Tanya Kavin. Ia menempelkan telapak tangannya pada kening sang istri. Sudah tidak sepanas tadi, sepertinya demamnya sudah turun.
"Ya udah, hati hati tapi ya," ucap Kavin.
__ADS_1
"Iya sayang."
Ashel pun bangun dan berjalan ke walk in closetnya. Sementara Kavin duduk diatas tempat tidur. Namun ternyata pria itu malah tiduran tengkurap dan kembali memejamkan matanya. Entah kenapa ia merasa masih mengantuk.
Ashel membuka semua kain yang melekat di tubuhnya. Semua kain itu sudah basah karena keringatnya. Kepalanya sudah tidak sepening tadi pagi. Bahkan tubuhnya sudah tidak semenggigil tadi. Ashel mengelap badannya menggunakan kain yang dibasahi air hangat. Niatnya ia ingin mandi, namun takutnya ia malah kembali demam. Jadi ia hanya menggunakan air hangat untuk mengelap sisa keringat di tubuhnya.
Setelah selesai, ia pun kembali mengenakan pakaian baru yang bersih. Baju tidur berbahan satin berwarna putih dengan corak bunga yang juga dihiasi paletan kain satin berwarna merah dengan bawahan celana panjang berwarna senada dengan paletan. Kerahnya berbentuk V jadi Ashel harus menggunakan tanktopnya. Ia menggulung rambutnya dan keluar dari sana menuju kamar.
Terlihat suaminya kembali memejamkan matanya. Ashel pun mendekat ke arah Kavin. Matanya melotot melihat luka cakar yang banyak di punggung suaminya. Ia mengangkat tangannya dan memperhatikan kuku kukunya. Sialan, dia lupa potong kuku. Ashel pun bergegas mengambil kotak obat yang ada di laci kamar mandi.
Luka di punggung suaminya masih sangat basah sepertinya luka ini belum diberi obat merah. Ashel pun naik perlahan ke atas tempat tidur dan mengobati luka di punggung suaminya. Perlahan ia mengoleskan alkohol untuk membersihkan kuman kuman yang mungkin menempel disana.
"Shhh, perih yang," ucap Kavin. Memang alkohol cukup perih jika dibalurkan pada luka.
"Maaf mas, aku pake alkohol bukan retinol. Takutnya luka dari kuku kuku aku bawa kuman ke kulit kamu. Tahan sebentar ya?" Ucap Ashel.
"Heem," ucap Kavin. Ashel pun kembali mengoleskan alkohol sampai selesai. Setelah alkohol mengering, Ashel memakaikan salep ke ke luka suaminya.
"Udah selesai. Tadi pagi kamu makan gak?" Tanya Ashel.
"Ya udah, aku bawain dulu makanan kesini ya," ucap Ashel.
"Jangan lama lama," ucap Kavin. Ashel tersenyum dan mengiyakan permintaan suaminya. Ia pun segera turun ke lantai satu untuk menyiapkan makanan dan juga minuman hangat. Sepertinya suaminya juga ikutan demam.
Di dapur, ia melihat Lizz dan Magi sedang mencuci wadah tempat makan baby's.
"Lizz, Magi, baby's dimana?" Tanya Ashel.
"Nyonya kok bangun? Sudah sembuh?" Tanya Lizz.
"Sudah lebih baik. Baby's dimana?" Tanta Ashel.
"Tuan dan nona muda sedang tidur bersama dengan nenda mereka nyonya," ucap Magi.
"Begitu rupanya. Mereka gak rewel kan?" Tanya Ashel.
__ADS_1
"Mereka anteng nyonya. Bahkan mereka sudah tertidur dari pukul dua belas siang dan saat ini belum bangun lagi," ucap Lizz.
"Baguslah kalau mereka tidak rewel. Terimakasih ya sudah menjaga mereka," ucap Ashel.
"Sudah kewajiban kami nyonya," ucap Magi dan Lizz. Ashel hanya tersenyum dan mengangguk. Ia kemudian mengambil nasi dan beberapa lauk untuk suaminya. Setelah mendapatkan lauk dan juga obat demam, Ashel pun kembali ke kamarnya.
"Makanan datang sayang," ucap Ashel.
Kavin yang sedang rebahan pun bangun setelah mendengar suara lembut istrinya. Ia hendak menyandarkan bahunya pada kepala ranjang namun dilarang Ashel.
"Luka kamu masih basah sayang. Jangan nyender," ucap Ashel. Kavin pun mengangguk.
"Makan ya?" Ucap Ashel. Ia menyendokan nasi dan lauknya kemudian mengarahkannya ke mulut suaminya.
Kavin dengan ogah ogahan makan. Bahkan Kavin sangat lama sekali mengunyah makanannya. Ashel sendiri menunggu mulut suaminya kosong sembari mengecek keadaan suhu tubuh Kavin. Tubuhnya panas bahkan dahinya lebih panas. Ashel pun menempelkan plester yang ia bawa dari lantai satu. Plester pereda demam.
"Udah cukup yang, rasanya gak enak," ucap Kavin.
"Baru tiga suap sayang, masa udahan," ucap Ashel.
"Beneran enggak enak yang. Udah ya," ucap Kavin.
Ashel mengangguk. "Yaudah minum obatnya abis itu tidur ya?"
"Temenin tapi jangan pergi," ucap Kavin. Ashel menganggukan kepalanya dan memberikan obat paracetamol pada suaminya. Ashel juga mengambilkan kaos untuk dipakai suaminya. Setelah itu Kavin pun kembali tiduran memeluk Ashel.
Ashek tidur miring. Tangan kirinya ia gunakan tumpuan untuk menahan kepalanya. Tangan kanannya mengusap usap punggung suaminya.
"Peluk yang," ucap Kavin. Ashel pun menurut dan memeluk suaminya. Kini tangan yang tadi digunakan untuk menyangga kepalanya digunakan untuk bantalan kepala suaminya.
Jodoh adalah cerminan diri. Tadi Ashel yang demam kini berganti ke suaminya. Sungguh sangat lucu sekali keadaan ini.
"Lain kali jangan lama lama main di kamar mandinya. Kita punya kamar mas," ucap Ashel.
__ADS_1
Tbc.