
Happy reading♡
Pagi hari yang cerah disambut wajah cemberut dari Ashel. Bagaimana tidak, suaminya baru saja satu jam yang lalu memperk*sa-nya lagi. Bukan masalah apa apa. Semalam saja suaminya tidak benar benar melakukan hal itu hanya satu kali. Bilangnya satu ronde tapi berakhir dengan tiga rode dengan jeda waktu cukup panjang.
Dan pagi ini, Ashel melipat tangannya. Ia sangat kesal bukan main karena Kavin main sosor. Kavin sangat tahu dimana saja letak titik sensitif Ashel. Setelah nafsu Ashel memuncak, tidak ada pilihan lain selain mengiyakan. Sedangkan Kavin sejak tadi terus menahaaan senyumnya melihat wajah istrinya yang sangat lucu. Saat ini mereka berdua sudah mandi dan bersiap.
Mereka diundang oleh keluarga Kavin untuk ke rumah mereka. Sekedar berkumpul karena besok acara tunangan Rafello dan Ayu.
"Udah sayang. Jangan cemberut, nanti mas kasih lebih. Setelah baby's lahir," ucap Kavin.
"Ish, kamu itu bisa gak sih gak bikin aku kesel?" Tanya Ashel.
"Emang aku gak bisa bikin kamu kesel. Bisanya bikin kamu des*h," ucap Kavin. Ia mengambil dompet dan ponselnya kemudian ia masukan ke dalam tas istrinya.
"Ih tau ah kesel sama kamu," ucap Ashel. Ia pun pergi dari sana duluan membawa tas selempangnya. Kavin tentu saja mengejar istrinya.
"Hati hati turunnya. Jangan karena kesel kamu lampiasin sama diri kamu. Kamu berharga buat aku," ucap Kavin.
"Iya iya," ucap Ashel. Seketika ia melunak saat mendengar nada bicara suaminya. Memang tidak meninggi namun itu sudah cukup memperlihatkan jika Kavin sudah memberikan peringatan.
"Om Josh di Boston mas? Kok aku udah lama gak lihat dia," ucap Ashel.
"Iya, dia netap disana. Kan perusahaan harus ada yang handel sementara aku disini. Kadang aku juga zoom meeting sama tanda tangan berkas lewat digital khusus. Aku kerja dari sini, sedangkan Josh kerja disana sekaligus tinggal disana," jelas Kavin.
Ashel manggut manggut mengerti. "Astaga mas, Nando gimana keadaannya? Dia baik baik aja kan? Dia masih hidup? T-tembakan itu kena ke dia."
"Dia masih hidup sayang ku. Cuma sampai saat ini dia belum sadar. Masih koma," ucap Kavin.
"Mas, dia di rawat dimana?" Tanya Ashel.
"Di rawat di Jakarta sayang. Peralatan medis disana belum memadai. Jadi Nando dibawa pindah ke Jakarta," ucap Kavin.
"Kalo kita jenguk dulu dia keburu gak? Mama gak marah kalo kita telat?" Tanya Ashel. Matanya sudah memerah. Kejadian tragis yang menimpanya beberapa waktu lalu kembali ia ingat.
__ADS_1
Kavin menarik Ashel ke dalam pelukannya. "Sstt, jangan nangis sayang. Semua sudah berlalu. Aku tahu itu berat buat kamu, tapi kamu harus bisa melewati semuanya ya? Ingat, ada si kembar disini."
"I-iya mas. Boleh kan ke rumah sakit dulu?" Tanya Ashel.
"Boleh sayang. Nanti mas kabarin Fello kalo kita telat. Yuk berangkat," ucap Kavin.
Ashel mengangguk dan masuk ke dalam mobil.
Perjalanan menuju ke rumah sakit sekitar satu jam lamanya dari rumah Ashel. Namun Kavin tetap akan menuruti keinginan istrinya. Rasa cemburu itu ada, namun Kavim tidak meluapkannya. Ia sengaja memendamnya karena ia tahu Ashel hanya mencintainya. Buktinya sampai saat ini, wanita di sampingnya yang berstatus sebagai istrinya tidak pernah tergoda dengan pria lain.
"Mas nanti beli dulu buah tangan. Malu kalo gak bawa apa apa," ucap Ashel.
"Siap sayang."
***
Ashel dan Kavin sudah sampai di rumah sakit tempat Nando di rawat. Kavin menenteng parcel buah sedangkan Ashel memeluk tangan suaminya. Ia masih sedikit takut saat bertemu dengan orang baru.
"Rileks sayang. Mereka gak bakal ngapa ngapain kamu selagi aku sama kamu," ucap Kavin.
Mereka pun sampai di depan ruangan Nando. Ashel menatap pintu besar di depannya. Sedangkan Kavin meminta Ashel melepaskan dulu pelukannya karena ia ingin mengetuk pintu.
Tok.. tok.. tok..
"Masuk saja tuan Kavin dan istri," ucap seseorang dari belakang mereka berdua.
"Loh, saya kira anda di dalam tuan Anggana," ucap Kavin. Yap, yang barusan berbicara adalah Liando, papa Nando.
"Saya barusan sarapan di luar. Makanan rumah sakit cukup membosankan," ucap Liando.
"Ayo masuk."
Ashel dan Kavin pun masuk ke dalam ruangan tempat Nando di rawat setelah Liando membukakan pintu.
__ADS_1
Dapat Ashel lihat bahwa Nando masih terbujur kaku diatas brankar rumah sakit. Banyak alat medis yang menempel di tubuhnya. Jujur saja, Ashel merasa sangat bersalah.
Ashel menolehkan kepalanya pada Kavin. Meminta ijim untuk lebih mendekat ke brankar yang di tempati Nando.
"H-hai Nan," sapa Ashel.
"Makasih banget, lo udah mau nolongin gue. Bahkan lo rela ditembak berkali kali sama mereka. Lo udah lindungin gue sama anak anak gue. Makasih, makasih banyak," ucap Ashel terisak. Kavin pun mendekat dan merangkul istrinya.
"Sudahlah nak Ashel, mungkin ini semua sudah seharusnya terjadi. Lagi pula kamu di sekap sama kakaknya dia, sudah sepantasnya dia selamatin kamu. Om yakin kok, Nando denger suara kamu. Yah, semoga aja Nando cepat bangun lagi," ucap Liando.
"Maaf ya om, gara gara Ashel, anak om jadi kayak gini," ucap Ashel.
"Yang harusnya minta maaf itu om nak. Kamu disekap sama Liam. Bahkan kamu sampai trauma. Om benar benar menyesal karena tidak bisa mendidik Liam jadi anak yang baik. Dia terlalu terobsesi sama kamu, makanya waktu kecelakaan itu, om sengaja bawa dia pergi karena sudah melihat gelagatnya yang tidak baik. Ternyata benar, Liam memang sudah berubah menjadi jahat," jelas Liando.
"Suatu saat nanti, Liam akan sadar sama kesalahanya om. Dia pasti akan bertobat dan kembali ke jalan yang seharusnya," ucap Ashel.
Liando tersenyum dan menggeleng, "Om sudah tidak o
Peduli tentang anak itu. Yang jelas saat ini dia harus menebus semua kesalahan yang ia lakukan dimasa lalu. Entah disengaja atau tidak, dia harus tetap mempertanggung jawabkan semua kesalahannya."
Ashel terdiam. Ia tidak menyangka jika Liam ternyata berubah. Meskipun tidak aneh, karena Ashel sudah menduganya. Selama ia mengenal Liam, Liam memang dikenal sangat ambisius.
"Tuan Anggana, kalau begitu saya dan istri saya pamit dulu. Kami sudah ditunggu keluarga kami," ucap Kavin.
"Iya tuan Kavinder. Silahkan. Terimakasih sudah menjenguk Nando. Nak Ashel juga," ucap Liando.
Ashel dan Kavin pun mengangguk dan pergi dari sana. Menyisakan Liando yang berdiri menatap anaknya yang masih setia menutup matanya.
"Ashel sudah jenguk kamu nak. Cepatlah bangun," ucap Liando. Ia menghela nafasnya dan berjalan ke sofa untuk mulai bekerja. Tanpa ia ketahui, jari jari milik Nando sudah mulai bergerak.
Bumil enam bulan. Nanti aku skip ke delapan bulan ya biar cepet berojol si kembarnya 😆
__ADS_1
Tbc.