
Happy reading♡
Pada besok harinya, barang yang diinginkan oleh Dona sudah sampai di tempatnya. Barang itu sampai sekitar pukul sembilan pagi.
Para bawahan Dona sudah mengatur tempat dan juga alat yang cukup besar itu sudah masuk ke dalam rumah tua itu.
Mereka juga sudah membawa Ashel dan mendudukan Ashel di sebuah kursi khusus. Banyak sekali kabel yang terpasang ke tubuh Ashel. Dua kabel berukuran cukup besar di pasang di sebelah pelipis kiri dan kanan Ashel sisanya ada di beberapa bagian tubuhnya.
"Kita tinggal nunggu bos, kalian jaga di luar lagi," ucap yang menjadi ketua mereka.
"Baik bos," ucapnya. Mereka semua pun keluar dari dalam ruangan itu. Hanya tersisa Ashel. Ia sudah membuka matanya sejak ia dipindahkan kesini.
Kedua tangannya diikat ke tangan kursi kayu. Ashel tidak bisa bergerak banyak karena lukanya semakin sakit.
"Gue udah gak berharap bisa selamat, tapi seenggaknya sebelum gue mati, gue bisa ketemu Kavin dulu," gumam Ashel. Kemarin tubuhnya tiba tiba panas. Ashel hanya menduganya jika ia terkena demam.
Tubuh Ashel sudah sangat lemah. Apalagi darah terus keluar dari perutnya akibat tusukan pisah yang diberikan oleh Dona.
Ashel tidak pernah menyangka jika hidupnya akan berakhir seperti ini. Padahal ia tidak bersalah namun ia yang harus menanggungnya sendiri.
Miris sekali. Seharusnya saat ini ia sedang sibuk membagikan undangan untuk para sahabat dan teman temannya yang dekat untuk datang ke hari bahagianya. Tapi kenyataanya sekarang ia disekap dan sudah berhari hari tidak makan ataupun minum. Lukanya pun belum diobati. Sepertinya ini sudah infeksi.
Sayup sayup Ashel mendengar deru mobil diluar rumah. Sepertinya Dona sudah datang dan ini adalah hari terakhirnya untuk hidup.
Seperti biasa, Dona masuk ke dalam rumah itu dengan menendang pintu.
"Dasar lemah!" Ucap Dona saat ia melihat Ashel yang sudah terikat di kursi.
"Sayang banget hari ini adalah hari terakhir lo melihat dunia. Miris banget ya mungkin saat ini keluarga lo lagi ketar ketir nyariin lo," ucap Dona namun Ashel masih tetap diam ia menatap datar ke arah Dona.
"Setelah lo mati, gue bakalan satu per satu bunuh keluarga lo. Kebayang kan bahagianya gue? Gue bisa ambil alih semua aset dan perusahaan lo dan keluarga lo," ucap Dona.
"Kasian banget, keluarga lo miskin banget ya sampe sampe harus klaim hak orang lain?" Tanya Ashel.
__ADS_1
Dona naik pitam mendengar ucapan Ashel. Meskipun terdengar lemah, namun Dona masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"ANJ*NG LO. MATI LO SET*N," umpat Dona. Ia menampar pipi Ashel dan menendang kursi yang di duduki Ashel. Ashel langsung tersungkur dengan kursinya. Hampir saja alat yang berada di sebelahnya tidak menimpanya karena tertarik olehnya.
Ia kembali mengaduh kesakitan saat dirinha terjatuh ke lantai karena perutnya kembali sakit.
Dona menendang Ashel yang sudah tersungkur. Ia seperti orang kesetanan.
Tanpa sepengetahuannya, semua bawahannya yang berada di luar sudah di lumpuhkan.
Flashback on
Kavin dan Ardian merancang rencana sejak semalam. Mereka memang tidak percaya pasti jika lokasi Ashel memang sudah dekat dengan lokasi penginapan mereka di Kalimantan Barat.
Mereka mendapatkan informasi kembali dari para detektif yang terus berusaha mencarinya.
Semalam Kavin hampir putus asa karena ia masih belum bisa menemukan gadisnya. Kavin berjalan keluar dari penginapan yang jaraknya dekat dengan pintu masuk ke hutan.
Kavins sedikit curiga itu sebabnya ia langsung mengambil motor milik Reza dan langsung mengikuti mobil itu secara diam diam.
Mobil itu melaju cukup jauh ke dalam hutan. Ternyata mobil itu berbelok dan memasuki sebuah gerbang besar.
Kavin mematikan mesin motornya dan melihat ke sekitaran sana. Di depan gerbang ada dua orang yang sedang berjaga. Ia mengintip ke sebelah gerbang tinggi itu. Ternyata disana ada sebuah rumah kecil. Dan banyak sekali orang yang berjaga.
Kavin tidak yakin dengan instingnya, namun hatinya terus mengatakan jika Ashel berada disana. Saat sedang sibuk mengintip, Kavin mendengar orang orang yang berjaga di dekat gerbang tengah berbincang.
"Cewek yang disekap si bos cantik juga, gue pengen banget nyobain dia."
"Jangan sembarangan, dia udah babak belur. Lo gak lihat semalam si bos nusuk dia terus ditinggalin gitu aja? Iya sih dia emang cantik mukanya juga agak ke bule bulean," ucap temannya.
Setelah mendengar ucapan itu. Kavin kembali ke penginapan. Ia memberitahu semuanya pada Ardian dan malam itu juga mereka merencanakan semuanya.
Pagi datang, mereka segera berpencar untuk masuk ke dalam rumah yang ada di tengah hutan belantara. Mereka juga membawa cukup banyak membawa bodyguard.
__ADS_1
Flash back off
Kavin terus menembak orang orang yang menghadangnya. Setelah pintu masuk kosong, ia pun membukanya dan masuk diam diam. Matanya membulat menatap gadisnya yang sudah dipasangi kabel. Dan disebelahnya sudah ada alat sengat listrik. Kavin juga melihat seorang wanita di dekat gadisnya.
Kavin mengkode pada Ardian untuk tetap diam. Disini semua bawahan Dona sudah mati hanya tinggal Dona sendiri.
"Ada yang mau lo ucapin sebelum lo mati? Oh iya, gue juga bakalan rebut tunangan lo itu dan gue bakalan nikahin dia. Anggap aja sebagai kado kematian lo," ucap Dona tersenyum devil. Ia kemudian mengatur tinggi tegangan yang akan ia berikan pada Ashel.
Namun sebelum Dona menekan tombol untuk menyengat Ashel, tiba tiba peluru mengenai tangannya.
"BANGS*T," umpat Dona. Ia pun melihat ke arah tembakan. Disana sudah berdiri Kavin.
"Ooh, ternyata tunangan lo dateng nih. Kayaknya dia mau lihat gimana cara lo mati," ucap Dona. Ia kemudian tertawa keras.
"Menyerah atau kamu akan mati," ucap Kavin. Ia menodongkan pistol ke arah Dona.
"Gue gak takut. Tapi sebelum lo tembak gue, gue bakalan bunuh duluan tunangan lo ini," ucap Dona. Saat ia akan meneka tombol untuk menyengat Ashel, lagi lagi tembakan menuju ke arahnya. Kali ini mengenai bahunya. Dona sedikit mundur dari arah Ashel.
Kavin langsung berjalan cepat ke arah Ashel sedangkan Ardian memborgol tangan Dona. Dona sudah berteriak kesakitan namun Ardian tidak mendengarkannya.
Kavin mematikan alat penyengat listrik dan melepaskan berbagai kabel yang melekat di tubuh gadisnya. Ia juga melepaskan ikatan di kedua tangan Ashel.
Kavin sangat hancur saat ini.
Hancur karena melihat belahan jiwanya seperti ini. Ashel tidak bisa dikatakan baik baik saja saat ini.
"Aku kira, aku gak bakalan lihat kamu sebelum aku mati," ucap Ashel pelan. Ia jatuh ke pelukan Kavin.
"Enggak sayang, bangun. Buka mata kamu," ucap Kavin namun Ashel tetap menutup matanya.
Tbc
Kl typ mapp yyy
__ADS_1