
"PAPA!"
Dylan yang baru saja keluar dari ruang kerjanya terkejut dengan kedatangan Vanes serta teriakannya. Dylan dapat melihat wajah Vanes yang penuh amarah.
"Ada apa, Vanes?"
"HANA? SIAPA HANA, PA? KENAPA PAPA ASUH HANA TANPA DISKUSI DENGAN VANES?"
Dylan langsung mendekat ke arah Vanes yang sedang di landa amarah itu. "Ei sayang, jangan marah-marah dulu, dengerin papa ngomong dulu."
"APA? APA, PA? VANES SUDAH NGGAK DI ANGGAP DI RUMAH INI?" Badan Vanes merosot ke bawah bersamaan dengan isak tangisnya yang memburu.
Hana masuk ke dalam. Menghampiri Vanes yang sedang terisak menangis. "Va-Vanessa." Panggilnya ragu.
Vanes berdiri. Matanya menatap nyalang Hana. "KAMU? SIAPA KAMU? DASAR PARASIT!"
PLAK
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi kiri Vanes. Vanes tertegun. Dia baru kali ini mendapat tamparan dari Dylan. Seumur hidupnya, baru kali ini.
Pipinya terasa panas. Badannya semakin bergetar karena isak tangis. "Papa..Papa bisa lakukan ini ke Vanes?"
"Ma-Ma-Maaf, Nak." Dylan merasa bersalah.
"Nggak. Dari sini, Vanes dapat menangkap jika Papa lebih sayang ke Hana." Balas Vanes kemudian dia segera keluar dari rumahnya.
Tasya mematung di depan pintu utama. Ternyata dia melihat semua kejadian tadi. Vanes berhenti. Menatap Tasya yang sangat ingin di peluknya.
"Ma.."
"Hati-Hati."
"Ma?" Panggil Vanes lagi. "Mama juga bakal sama kayak Papa?"
Tasya tak menggubris ucapan Vanes. Dia melenggang masuk ke dalam rumah. Air mata Vanes kembali keluar. Rasanya sakit sekali. Ketika Vanes rindu dengan kedua orang tuanya dan saat datang ke rumah, dia dapat tamparan.
"Nyonya muda.."
Vanes menoleh. "Sinta?" Dia berlari ke arah Sinta kemudian memeluknya.
"Nyonya muda..Yang sabar ya." Ucap Sinta.
Vanes mengangguk. Dia kemudian melepaskan pelukannya. Setelah itu, Vanes masuk ke dalam mobil dan melesat.
***
21. 56
Kenzo membuka kamar. Gelap. Tak ada tanda-tanda Vanes di kamar. Kenzo memutuskan untuk mandi terlebih dahulu kemudian mencari keberadaan sang istri.
15 menit kemudian..
"SARI! SARI!" Panggil Kenzo.
Sari datang tergopoh-gopoh dengan celemek yang masih melekat di tubuhnya. "Ada apa, Tuan?"
"Dimana Vanessa?"
"Nyonya..belum pulang dari tadi pagi, Tuan." Jawab Sari takut.
Seketika rahang Kenzo langsung mengeras. Dia baru sadar jika mobil hitamnya tidak ada. Dan sopir ada di lobby rumah. Kemungkinan besar, mobil itu di pakai Vanes untuk pergi ke rumah Dylan.
Tanpa berfikir panjang lagi, Kenzo langsung pergi ke rumah Dylan. Dengan kecepatan tinggi, dia melesat kencang ke rumah Dylan.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Dylan, Tak ada mobil Vanes. Pintu rumah Dylan terbuka. Ada gelak canda tawa di dalam sana.
"Papa? Mama?" Kenzo masuk kemudian menyalami punggung tangan mereka berdua.
"Kenzo?" Tasya tersenyum hangat.
"Ada apa, Kenzo?" Tanya Dylan sambil menyuruh Kenzo untuk duduk.
Tanpa sengaja, Kenzo melihat Hana yang duduk di hadapannya. Ada pertanyaan di benak kepalanya. Tapi, dia tidak peduli. Dia sedang menkhawatirkan Vanes karena sedari tadi, dia tidak melihat Vanes.
"Dimana Vanessa, Ma? Pa?" Tanya Kenzo.
Alis Dylan bertaut. "Tadi pagi Vanes memang kesini. Tapi sudah pulang."
"Tapi di rumah Vanessa nggak ada." Balas Kenzo.
Tasya langsung panik. "Nggak ada? Belum pulang?"
Ponsel Kenzo berdering. Kenzo berdiri kemudian mengangkat teleponnya. Setelahnya, dia langsung terkejut hingga ponselnya terjatuh.
Tasya mendekat. "Ada apa, Kenzo?"
"Vanesaa kecelakaan."
***
Vanes dapat merasakan kepalanya begitu pening. Di raba kepalanya. Ada perban. Vanes mengaduh kesakitan.
"Arghh.." Desah Vanes kecil.
Kenzo berdiri dari duduknya. "Vanessa? Kamu sudah sadar? Tujuh jam terlalu lama untuk tidur."
Vanes mengernyitkan dahinya. "Tujuh jam?"
"Kamu nggak kenapa-kenapa, kan?" Tanya Dylan.
Vanes hanya mengangkat bahunya acuh. Tasya melepaskan pelukannya. Dia juga tampak habis menangis.
Kenzo mengelus punggung Vanes. "Bagaimana bisa terjadi?"
"Entah. Saat melaju dengan kecepatan tinggi, ada mobil yang tiba-tiba melintas. Sudah." Cerita singkat Vanes.
Vanes menatap datar Hana yang berdiri di dekat Tasya. Wajah Hana menampangkan aura sedih ketika melihat Vanes. Vanes acuh. Dia tidak peduli.
"Besok kamu sudah boleh pulang." Kata Dylan setelah menemui dokter.
"Kamu pulang ke rumah ya? Buat proses penyembuhan." Kata Tasya menggenggam tangan Vanes.
"Nggak usah, Ma. Vanes bisa jaga diri baik-baik." Tolak Vanes.
"Em- Vanessa, kamu pulang aja ya ke rumah. Biar aku yang jaga in kamu." Kata Hana sambil tersenyum ramah.
"Aku nggak kenal kamu. Nggak usah cari muka di hadapan keluargaku dan suamiku." Cetus Vanes.
"Su-Suami?" Kaget Hana.
"Diam kamu!" Tukas Vanes kesal.
"Udah sayang udah." Kenzo melerai.
Vanes mengatur nafasnya agar tidak emosi. Sejujurnya, kepalanya masih sakit. Apalagi saat di buat marah-marah tadi.
"Keluar kamu!" Imbuh Vanes dingin.
__ADS_1
"Vanessa.." Bujuk Dylan dan Tasya.
"KELUAR! KELUAR KALIAN SEMUA! AKU BENCI KALIAN SEMUA HIKS HIKS."
Hana langsung keluar dari ruang rawat Vanes. Tasya mengikutinya di belakang. Begitu juga dengan Dylan. Kecuali Kenzo.
"Vanessa.." Lirih Kenzo lembut sambil memeluk Vanes.
Vanes membalas pelukan Kenzo sambil menangis. "Kak Kenzo..Aku nggak mau ketemu sama mereka. Ayo pulang, Kak. Aku mau pulang saja!" Nada manjanya keluar.
***
Dua minggu kemudian..
"Sayang..Luka kamu kan baru aja sembuh, masa mau ikut?" Kenzo khawatir.
Vanes menatap Kenzo dari pantulan kaca meja rias. Dia tersenyum. "Nggak pa-pa. Kita datang ke acara pernikahan Juna."
"Yakin?"
"Yakin banget." Jawab Vanes.
"Iya. Aku tunggu kamu di bawah ya."
Vanes tersenyum simpul seraya mengangguk. Kenzo keluar dari kamar.
Vanes menghela nafas. Sungguh, Dalam lubuk hati kecilnya, dia tidak terima jika Juna akan menikah. Bagaimana pun juga, Juna bagian dari masa lalunya. Yang membuat hatinya pernah berdebar-debar.
Selesai bersiap-siap, Vanes turun ke bawah. Kenzo rupanya sudah menunggu sambil memainkan Handphonenya. Vanes tersenyum. Dia langsung menghampiri Kenzo.
"Kak Kenzo..."
"Kamu sudah siap?"
"Sudah. Ayo berangkat."
"Ayo."
***
Pesta pernikahan Juna di dominasi dengan warna emas. Sungguh mewah. Banyak orang yang berlalu lalang mengucapkan selamat untuk Juna.
Vanes dapat melihat Juna dan Selena yang tersenyum bahagia. Vanes menatap lurus ke arah Juna. Dan Juna, juga melakukan hal yang sama.
"Vanessa? Ayo."
Kenzo kemudian menghampiri Juna dan Selena. Memberinya ucapan selamat. Begitu juga dengan Vanes.
"Aku harap pernikahan kalian langgeng." Juna tersenyum.
"Dan aku berharap, kamu nggak akan mengkhianati istrimu dan nggak ganggu aku." Kata Vanes kemudian di berlalu.
Kenzo menyusulnya. Begitu juga dengan Juna yang hendak menyusulnya namun di cegah oleh Selena.
"Juna..Biarkan.." Ucap Selena.
Juna menahan amarahnya ketika melihat Vanes memeluk Kenzo. Sebenarnya, Juna tak ingin menikah dengan Selena. Dia masih ingin mengejar Vanes dan mendapatkannya lagi.
Walaupun sudah menikah, baginya, Vanes tetap akan dikejarnya. Dia harus menggenggam Vanes lagi.
Seringai kecil di tujukan untuk Vanes. Vanes begidik.
Vanes mengajak Kenzo keluar dari gedung pernikahan Juna dan Selena. Dia takut dengan seringai itu. Seringai itu bagaikan sebuah ultimatum bagi Vanes.
__ADS_1