
HALLO GUYSSS.
RAMEIN VOTE KOMEN DULU DONG. KOK MAKIN SEPI AKHIR AKHIR INI. ya meskipun ceritanya gak rame🤸♀️
Aku crazy up sampe 4bab loh. Masa gak ramein hmmm
.
.
.
Happy reading♡
Ashel baru selesai mandi setelah mengisi perutnya. Rasanya segar sekali. Ia melihat suaminya yang masih terlelap. Sepertinya dia memang sangat kelelahan.
Ashel mendekat ke arah suaminya. Tangannya terulur mengusap usap rambut suaminya. Tercetak jelas mata kelelahan suaminya. Matanya sudah seperti mata panda saja.
"Mas, bangun dulu yuk. Kamu makan dulu," ucap Ashel pelan.
Kavin menggeliat dalam tidurnya. Ia membuka matanya menyipit dan melihat istrinya yang sedang menatapnya.
"Makan dulu yuk," ajak Ashel.
"Makan kamu ya?" Ucap Kavin serak. Ia pun menarik tubuh istrinya untuk kembali tiduran.
Padahal tadi mata suaminya masih setengah terpejam namun dengan cepat Kavin membuka matanya. Ia bahkan mengukung tubuh istrinya.
Bibir Ashel sudah tak terelakan lagi menjadi sasaran suaminya. Ashel pun membalas ciuman suaminya. Mau tak mau ia harus mengikuti keinginan suaminya ini.
Sebenarnya Ashel enggan melakukan itu, tapi mau bagaimana lagi. Ia tidak bisa menolak suaminya.
Terpisah selama dua minggu lamanya membuat Kavin selalu ingin meniduri istrinya.
"Aku udah mandi mas," ucap Ashel saat Kavin melepas ciumannya.
"Persetan. Kita bisa mandi lagi nanti, toh banyak air juga," ucap Kavin.
Ashel menahan desah*nnya saat suaminya merem*s squishy miliknya. Setiap mereka melakukan itu, Kavin selalu merem*s milik Ashel cukup kuat sampai Ashel merasa nyeri.
"Semakin besar dan aku semakin suka," gumam Kavin saat ia melihat squishy istrinya yang tidak terhalang apapun.
"Pe-lan pel-an masshh," ucap Ashel saat suaminya melahap miliknya.
Kavin seolah tidak mendengarkan ucapan istrinya. Ia semakin bersemangat untuk membuat istrinya tepar atas kuasanya.
Tubuh Kavin yang polos tidak terbalut kain apapun memudahkannya untuk segera melakukan itu.
Milik istrinya sudah bas*h dan miliknya juga sudah meneg*ng. Tanpa ba bi bu lagi, Kavin memasukan miliknya ke dalam milik istrinya.
Tangan Ashel meremas sprei untuk menyalurkan rasa sakitnya. Meskipun sudah sering melakukan itu namun rasanya tetap saja sakit.
__ADS_1
Sedangkan Kavin menggeram. Menahan rasa sakit karena miliknya dijepit. Setelah semuanya masuk, Kavin berhenti sejenak. Memberikan jeda pada istrinya agar tidak kesakitan.
"Kamu virgin terus ya yang? Tiap aku masukin kok sempit banget," ucap Kavin.
Sedangkan Ashel masih memejamkan matanya. Mengatur nafasnya yang belum teratur.
"Punya kamu aja yang gedenya naudzubillah. Dipikir kamu aja yang kesakitan? Aku juga lebih sakit mas," bela Ashel.
Kavin tersenyum dan mengecup kilat bibir istrinya. "Aku gerakin ya?"
Dengan ragu Ashel mengangguk mengiyakan.
Mereka kembali menyatukan tubuh mereka setelah beristirahat beberapa jam. Kavin tidak akan pernah puas dengan istrinya ini. Rasanya ia ingin sekali setiap jam melakukan itu.
***
Samar samar, Ashel mendengar suara bising dari lantai satu. Tidurnya terganggu dan akhirnya ia pun bangun.
Ia menolehkan kepalanya ke samping tapi tidak ada suaminya disana. Apa mungkin ia berada di bawah?
Ashel mengambil jubah dan memakainya. Ia kepo dengan keadaan dibawah. Ada apa disana. Seperti ada keributan bahkan Ashel sampai mendengarnya.
Ashel menuruni tangga perlahan. Di ruang tengah, ia melihat suaminya dan seorang wanita yang tidak Ashel kenal.
"Bangun juga istri pertama kamu mas," ucap wanita itu. Ashel mengenyitkan keningnya bingung.
"Yang, kamu kok bangun?" Tanya Kavin. Kentara sekali wajah suaminya ini berbeda dari biasanya. Seperti ada yang ia tutupi.
Wanita itu berjalan mendekat ke arah Ashel dan memberikan sebuah map berukuran sedang. Ashel menerimanya dan hendak membukanya namun dengan cepat tangan Kavin merebutnya.
"Gak usah dilihat yang. Gak penting," ucap Kavin.
Sedangkan wanita itu tersenyum remeh, "Saking takutnya kamu ketahuan sama istri kamu. Ternyata kamu punya jiwa penakut juga ya."
"Ada apa ini? Anda siapa? Kenapa anda bisa masuk?" Tanya Ashel. Ia cukup risih melihat tampilan wanita di depannya ini.
Gaun hitam berbahan satin melekat di tubuhnya. Make up wanita ini cukup tebal. Tampilan dia sudah seperti jal*ng saja.
"Jelas aku bisa masuk. Aku wanita Kavin. Benar bukan mas?" Tanyanya.
Deg.
Wanita Kavin? Maksudnya?
"Jangan dengerin dia yang," ucap Kavin.
"Oke lo gak usah dengerin gue karena gue juga males buat bicara sama istri pertamanya pria gue. Lo tinggal lihat aja isi dari map yang ada di tangan mas Kavin," ucapnya.
"Mas," tangan Ashel terulur meminta map itu namun Kavin menggelengkan kepalanya.
"Aku mau lihat mas, itu isinya apa," ucap Ashel.
__ADS_1
Kavin tak kunjung memberikan map itu. Dengan gemas Ashel merebutnya dan membuka map coklat itu.
Di dalamnya ada sebuah foto.
Mata Ashel menatap tak percaya isi dari map itu. Ia terdiam namun matanya menyorot ke arah Kavin tanpa ekspresi.
"Ini apa maksudnya? Jadi selama kamu sering bilang ada pekerjaan di luar negri itu bukan kerja, tapi ketemu selingkuhan kamu? IYA?" Tanya Ashel. Nadanya berubah menjadi tinggi di akhir kalimat.
"Maaf." Hanya itu yang terucap dari bibir suaminya. Ashel speechless. Ia tidak mampu berkata kata lagi. Kakinya terasa seperti jeli saat ini.
"Kasihan banget hidup lo. Lo gak bisa puasin suami lo ya sampe sampe dia cari gue buat puasin hasratnya," ucapnya.
Air mata Ashel sudah tidak terbendung lagi. Dadanya terasa sesak sekali saat ini.
"Gue Bella. Calon istri kedua suami lo," ucapnya. Ia kemudian berjalan mendekat ke arah Kavin dan memeluknya.
Sedangkan Kavin hanya diam saja. Ia bingung harus berbuat apa. Bagaimana bisa Bella mengetahui alamatnya.
"Aku pergi dulu ya? Nanti malam kita ketemuan di hotel biasa. See you dear," ucapnya. Ia pun pergi dari hadapan Ashel dan Kavin.
Kavin mencoba mendekat ke arah istrinya. Namum Ashel menolaknya. Ia berjalan mundur untuk menghindari sentuhan suaminya.
"Bahkan belum satu jam aja kamu dan aku melakukan hubungan layaknya suami istri. Kamu tega mas, kamu tega," ucap Ashel. Ia sudah tidak mampu lagi menopang berat tubuhnya.
Kakinya melemas seperti jeli. Ia terduduk diatas lantai yang dingin.
"Sayang, maafin aku," ucap Kavin. Ia tidak tahu harus berkata seperti apa lagi.
"Apa maaf dari mu bisa membuat kejadian ini tidak pernah terjadi? KENAPA MAS KENAPA? AKU KURANG APA SAMPE SAMPE KAMU CARI KEPUASAN SAMA WANITA LAIN," ucap Ashel. Emosinya sudah tidak dapat dibendung lagi.
Marah, kesal, kecewa, sedih. Semuanya bercampur menjadi satu.
Ashel menangis tersedu sedu. Tangannya meremas kuat map yang ada di tangannya.
Kavin mencoba untuk memeluk istrinya meskipun Ashel terus melayangkan pukulan.
Ia rapuh. Benar benar rapuh.
Kenyataan pahit ini harus ia terima.
Apa Ashel mampu menerima semua kejahatan suaminya ini? Bermain dengan wanita lain di belakangnya.
Tbc.
Yaolo, kapin solimeh gak cukup satu lob*ng😭
Kasian Ashel😔
Tenang sel, masih ada nando sama liam wkwkw
__ADS_1
Kalo ada typ maapin ya guys.