My Little Wife

My Little Wife
Bab 203 : Hambar dan Berbeda


__ADS_3

VOTE KOMEN DULU SEBELUM BACA.


.


.


.


Happy reading♡


Kavin menggendong istrinya yang sudah terlelap menuju ke kamar mereka. Perlahan namun pasti, Kavin berjalan santai agar tidak membangunkan istrinya.


Kavin masih menggunakan setelan kerjanya. Ia keluar dari dalam ruang kerjanya dan masuk ke dalam kamarnya. Josh membantunya membuka pintu kemudian setelah Kavin masuk, Josh kembali menutup pintunya.


Dengan gerakan pelan dan lembut, Kavin menidurkan istrinya. Ia masih belum beranjak dari sana setelah Ashel lepas dari pelukannya.


Kavin melihat jejak air mata di pipi istrinya ini. Tangannya terangkat untuk menghapus jejak air mata itu.


"Maafkan aku sayang," gumamnya. Sebelum beranjak Kavin mencium kening Ashel kemudian mencium bibir istrinya itu.


Namun saat ia akan melepaskan ciuman itu, Ashel menarik kerah bajunya sehingga ciuman mereka tak terlepas.


Ashel membuka matanya. Mata keduanya beradu dengan jarak cukup dekat. Perlahan Ashel melepaskan ciumannya.


"Mas," ucapnya lirih.


"Maafin aku. Aku tahu aku salah, tapi jangan diemin aku kayak gini. Aku gak suka," sambungnya.


Kavin tidak menjawab ucapan Ashel. Ia melepaskan cekalan istrinya yang berada di kerahnya. Namun Ashel tetap mencekalnya dan tidak mau melepaskannya.


"Maafin dulu mas," ucap Ashel.


"Lepas." Hanya itu yang keluar dari dalam mulut suaminya.


Tanpa sadar, air mata langsung mengenang di pelupuk mata Ashel. Dengan cepat ia melepaskan cekalanny kemudian bergeser dan langsung membelakangi suaminya.


Kakinya bergerak untuk menarik selimutnya kemudian ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut itu.


Kavin mengepalkan tangannya. Dengan cepat ia bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Ia tidak buta. Ia bahkan melihat jika istrinya akan menangis karena sikapnya.

__ADS_1


Kavin mengguyur tubuhnya dibawah dinginnya air shower. Ia sengaja mandi air dingin untuk meredakan emosinya. Ia tidak peduli jika besok ia akan flu atau demam.


Sedangkan di dalam kamar, setelah mendengar suaminya pergi ke kamar mandi. Ashel melepaskan tangisnya. Ia tidak tahu, mengapa rasanya sesakit ini saat diabaikan oleh suaminya sendiri.


Bisa dibilang kesalahannya itu kecil. Tapi ternyata efeknya akan sebesar ini. Jika saja saat ini Ashel tidak ingin membuktikan pada Dona bahwa Liam masih hidup, mungkin ia dan suaminya akan tetap baik baik saja.


Ashel terbatuk batuk karena dadanya tiba tiba sesak. Ia menyingkapkan selimutnya dan menghirup udara sebanyak mungkin, namun batuknya masih tetap berlanjut.


Ia bahkan memukul mukul dadanya saking sesaknya. Adegan itu tak luput dari pandangan Kavin. Ia sudah selesai mandi.


Kavin bergegas mendekati istrinya itu dan menahan tangannya agar Ashel tidak terus terusan memukul mukul dadanya.


Setelah Ashel tenang, baru Kavin memberikannya air. Namun ternyata istrinya ini menolaknya dan kembali merebahkan tubuhnya.


"Setidaknya minum air ini agar sakitnya berkurang," ucap Kavin.


"Sakitnya gak akan pernah berkurang kalo kamu terus kayak gini," ucap Ashel pelan. Ucapan Ashel tadi sukses membuat Kavin terdiam.


***


Ashel terbangun lebih dulu dari pada suaminya. Sebelum ia beranjak dari tempat tidur, ia sempat memperhatikan wajah damai suaminya ketika tertidur.


Rasanya sangat hambar sekali. Sikap Kavin yang berubah drastis ini cukup membuat Ashel bingung. Bingung karena harus seperti apa lagi ia meminta maaf padanya.


Ashel menghela nafas panjang. Ia kemudian beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi.


Ashel merasa lemas sekali. Tubuhnya juga agak panas. Sepertinya ia demam. Perutnya juga sangat lapar, namun entah mengapa tidak ada sedikit pun seleranya untuk makan.


Setelah selesai mandi, Ashel pun mengenakan pakaiannya. Celana levis panjang berwarna hitam dan kemeja crop yang ia gunakan hari ini. Ia juga sudah memakai jas almamaternya.


Setelah siap, ia pun mengambil tas miliknya. Ini memang masih terlalu pagi untuk berangkat, namun Ashel rasa ini waktu yang tepat. Hubungan dengan suaminya belum membaik. Mungkin ia perlu jeda waktu untuk kembali bersama.


Ashel turun ke bawah, tepatnya ke meja makan. Disana bi Sati sedang sibuk memasak. Menyiapkan makanan untuk tuan rumahnya.


"Bi, aku mau masak buat mas Kavin," ucap Ashel. Ia menyimpan tasnya kemudian mengambil celemek dan memakainya.


"Jangan nyonya, nanti tangan anda rusak," ucap bi Sati namun Ashel tidak mendengarkannya. Beruntung bi Sati belum banyak memasak. Hanya baru memotong beberapa bahan saja.


Ashel mulai memasak. Hari ini ia membuatkan sop iga dan nasi putih untuk suaminya.


Satu jam lamanya Ashel habiskan waktu untuk memasak. Setelah selesai, ia menata semua makanannya. Bi Sati yang sedari tadi melihat gerakan lincah dari tangan istri muda tuannya ini berdecak kagum. Ternyata beliau mahir memasak juga.

__ADS_1


"Bi, nanti jangan bilang kalo aku yang masak ya," ucap Ashel. Ia pun meminum segelas air dan mengambil tas miliknya.


"Ashel berangkat dulu bi," ucapnya.


"Ny, makan dulu. Dari kemarin Ny. belum makan sama sekali," ucap bi Sati namun Ashel menggelengkan kepalanya dan pergi dari sana.


Di depan, Ashel bertemu dengan Josh. Josh menundukan kepalanya memberi hormat.


"Selamat pagi nyonya," ucap Josh.


"Pagi," ucap Ashel. Ia pun pergi berlalu melewati Josh begitu saja.


"Nyonya, biarkan saya mengantar anda," ucap Josh.


"Kau bekerja pada Kavin, bukan pada ku," ucap Ashel.


"Tapi tuan juga suami nyonya," ucap Josh. Ashel tidak mendengarkannya dan meneruskan jalan kakinya.


Beruntung jarak dari depan rumah menuju gerbang tidak jauh. Jadi Ashel bisa cepat pergi dari kawasan penthouse ini.


Di depan gerbang, dua bodyguard memberi hormat dan menawari majikan mereka tumpangan namun lagi lagi Ashel menolaknya.


Tak berselang lama setelah Ashel pergi, sekitar empat puluh menit berlalu. Kavin muncul dari dalam rumahnya.


Ia terkejut saat bangun tadi tidak menemukan istrinya. Ia pun bergegas mandi dan menanyakan pada bi Sati. Ternyata istrinya sudah pergi ke kampus.


Kavin terpaksa sarapan sendiri. Padahal niatnya hari ini, ia ingin memperbaiki hubungannya dengan istrinya.


Saat makan tadi, Kavin terlihat sangat lahap. Bi Sati memberitahu jika Ashel yang memasaknya dan bukan dia.


Padahal tanpa bi Sati beritahu pun, Kavin sudah bisa menebaknya.


Setelah selesai makan, Kavin pun hendak pergi ke kantor. Saat sudah sampai di depan, ia pun langsung masuk ke dalam mobilnya.


"Tuan, tadi nyonya berangkat jalan kaki. Saya sudah menawarkan diri untuk mengantarnya bahkan dua bodyguard di depan, namun nyonta menolaknya," ucap Josh.


Kavin mendadak terdiam. Tadi Ashel juga tidak makan bahkan sejak sore kemarin dan pagi ini ia berangkat jalan kaki?


"Antarkan aku ke tempat istriku sekarang," ucap Kavin. Josh mengangguk patuh dan melajukan mobilnya.


Tbc.

__ADS_1


Kalo typ mapp yyy guys. Ramein komentarnya dungg🤙🤙


__ADS_2