My Little Wife

My Little Wife
Ep. 135 > Next


__ADS_3

Biandra kembali keruang kerjanya setelah rapat selesai. Dan didalam sana didapati Queen yang sudah tertidur di atas sofa sambil memeluk lututnya.


Biandra berjalan mendekat. "Maafkan Papa sayang." Lirihnya. "Kita tidak mungkin selamanya seperti ini!" Biandra membopong Queen, lalu membawanya kemobil.


Sepanjang perjalanan pulang, Biandra kembali memikirkan ucapan Mamanya tadi siang. Haruskah ia melakukan itu? Menikah lagi, agar ada yang merawat Queen dirumah.


"Tunggu!" Biandra menghentikan mobil dibahu jalan. Merogoh ponselnya dan langsung menelpon Mamanya. Ada sesuatu yang harus ia pastikan.


"Hallo, Ma!"


"Apa kau setuju dengan perkataan Mama tadi siang?" Tante Yuanita memastikan.


"Bukan itu! Bian hanya mau tanya, dimana Mama sesaat sebelum pesta Tante Ema berakhir?"


"Pertanyaan macam apa itu? Apa itu penting? Jadi kau menelpon Mama malam-malam seperti ini hanya untuk pertanyaan konyol itu?"


"Mama jawab saja pertanyaan ku!"

__ADS_1


"Ah baiklah-baiklah. Pesta itu terlalu boring. Jadi Mama pergi bersama teman-teman Mama sebelum pesta itu berakhir. Ada apa memang nya?"


Biandra menghela nafas lega, pantas saja. Mamanya terlihat begitu tenang dan tidak heboh sama sekali tentang rahasia yang terbongkar di acara ulang tahun Tante Ema itu. Ternyata Mamanya belum tahu rahasia itu.


"Ada apa Bian?" Tanya Tante Yuanita kemudian.


"Tidak Ma, Bian cuma memastikan saja. Bye Ma, selamat malam." Biandra langsung mematikan panggilan telpon itu.


Namun, ia belum bisa tenang begitu saja. Hanya butuh waktu sampai Tante Yuanita tahu yang sebenarnya. Entah apa yang akan terjadi, jika sampai dia tahu cerita yang sebenarnya.


Biandra kembali melajukan mobilnya. Dengan perasaan yang mulai gelisah.


Biandra meremas rambutnya dengan kasar. Dia bingung dengan apa yang harus ia lakukan.


*


Seakan tidak puas hanya sampai disana, kini Azalea mulai menerima ancaman-ancaman melalui pesan diponselnya.

__ADS_1


"Pesan dari siapa?" Tanya Zico, saat melihat Azalea hanya termenung didepan layar ponselnya sesaat setelah notifikasi masuk.


"Hah.. Tidak, hanya spam." Azalea berbohong. Setelahnya ia langsung mematikan ponselnya, setelah itu kembali melanjutkan sarapannya. "Kau akan kerumah sakit lagi hari ini?" Tanya Azalea kemudian.


"Iya, apa tidak apa-apa jika aku meninggalkan mu lagi hari ini? Aku hanya ingin memastikan keadaan Papa." Tanya Zico penuh hati-hati.


"Tentu saja." Azalea mencoba tersenyum. Senyum yang dipaksakan. "Apa aku boleh ikut?" Ucap Azalea ragu-ragu.


"Jangan hari ini, mungkin lain kali." Ucap Zico menyesal. Waktunya belum tepat, mungkin Azalea masih harus bersabar sampai amarah Tante Ema mereda.


Dan Azalea sudah menduga jawaban Zico tersebut. "Baiklah." Dengan senyuman canggungnya. Azalea menunduk. Mengaduk-aduk makanan yang berada di hadapannya. Tiba-tiba saja selera makannya menghilang.


"Kau harus habiskan sarapan mu, walaupun tidak berselera!" Seakan tahu, Zico memastikan Azalea menghabiskan sarapannya. Dan itu terdengar seperti perintah.


"Empp!" Azalea kembali melahap suapan demi suapan. Walaupun dengan terpaksa, ia tahu itu bukan hanya untuk dirinya. Tapi juga demi dua nyawa yang berada didalam perutnya. Yang kini menjadi tanggung jawab besar untuknya.


Kini ia tak boleh egois hanya mementingkan diri sendiri. Ada prioritas lain yang harus di utamakan nya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2