
Happy reading♡
Ashel perlahan membuka matanya untuk melihat jam. Sudah pukul sepuluh pagi, beruntung hari ini ia tidak ada jadwal ke kampus.
Ashel menggerakan tubuhnya agar tidur menyamping. Samar samar telinganya mendengar dengkuran halus dari arah sampingnya.
Tunggu dulu,
Bukannya ia tidur di sofa depan tv? Kenapa tiba tiba ia ada di kamar? Siapa yang memindahkannya? Bi Sati? Tidak mungkin.
Muncul banyak pertanyaan di otaknya. Ia pun mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang tidur dengannya. Namun tiba tiba ada sebuah tangan yang menahan kepalanya agar kembali ke posisi semula.
Ashel tidak dapat bergerak sebab tubuhnya di kunci dibawah kuasa orang di sebelahnya. Kaki orang itu terangkat ke atas tubuhnya.
"Diem yang, mas masih ngantuk," gumam Kavin.
Suara Kavin? Apa Ashel tidak salah dengar? Suaminya sudah kembali.
"Mas kapan pulang?" Tanya Ashel.
"Subuh tadi. Diem yang, kangen pengen peluk," ucapnya.
"Aku kira yang peluk aku suami kedua aku," ucap Ashel membuat mata Kavin terbuka lebar.
Ia menurunkan pandangannya melihat ke arah istrinya yang sedang menguap.
"Siapa? Kamu punya suami lagi? Emang bisa?" Tanya Kavin beruntun.
"Bisa lah. Aku kan nyonya Kavinder. Yakali cuma punya laki satu. Gak cukup," ucap Ashel tanpa sadar mengundang sinyal bahaya.
"Siapa? Mana orangnya? Kamu kok berani beraninya main api dibelakang aku," ucap Kavin. Ia bangun dan mengukung tubuh istrinya.
"Ada deh. Yang jelas dia juga sama tampannya sama kamu, dia juga kaya raya tapi lebih kaya kamu. Makanya aku jadiin kamu suami pertama aku," ucap Ashel.
"Jangan buat aku kesel deh yang. Apalagi emosi, kamu tahu kan ujungnya kayak apa? Atau emang kamu sengaja mancing aku?" Tanya Kavin.
Ashel menghela nafasnya. Ia mengalungkan kedua tangannya pada leher suaminya.
"Mas ku, zaman sekarang itu gak cukup kalo cuma sama satu cowok. Kan kamu kemarin pergi, ya aku sama dia," ucap Ashel menahan senyumnya.
Suaminya ini nampak sangat kiyowo saat marah karena cemburu.
"Siapa cowoknya?! Biar aku bun*h dia," ucap Kavin.
"Sini aku bisikin," ucap Ashel.
Dan anehnya Kavin menurut pada istrinya itu. Ia mendengatkan telinganya pada bibir istrinya.
"Manu Rios. Bias aku," bisiknya.
"YANGGGGG," erang Kavin.
__ADS_1
Ashel tertawa mendengar erangan suaminya itu. Ternyata suaminya ini gampang sekali dikibuli.
"Awas ya kamu," ucap Kavin. Ia menyembunyikan wajah kesalnya di ceruk leher sang istri. Bisa bisanya istri kecilnya ini mempermainkannya.
Padahal tadi Kavin sudah was was takutnya istrinya ini bermain api di belakangnya. Ternyata itu cuma bualannya saja.
Manu Rios memang sudah lama menjadi idola istrinya. Tak tanggung tanggu, istrinya ini mengoleksi satu album foto yang isinya hanya Manu Rios saja.
"Jangan dimainin, nanti kamu teg*ng," ucap Ashel menahan tangan suaminya yang bermain di area dadanya.
"Bahkan dari semenjak aku dateng kesini terus lihat kamu, ini udah tegang. Boleh ya?" Tanya Kavin meminta ijin.
"Gimana yah?" Ucap Ashel nampak berpikir.
"Ah, ayolah sayang. Dua minggu loh aku nahan itu dan cuma main solo," ucap Kavin.
"Tapi jangan bilang bilang sama Manu ya? Nanti dia cemburu," ucap Ashel.
"BODO YANG BODO," ucap Kavin. Ia bangun dari tidurannya dan melepas kemeja yang melekat di tubuhnya.
Ya, kalian tahu sendiri seperti apa kelanjutannya. Empat belas hari lebih tidak bertemu dan tidak tidur bersama. Mungkin ini cara mereka melepas rindu.
***
Nando berjalan menuju ke satu rumah yang ada di salah satu tempat yang cukup jauh dari rumahnya disini.
Setelah cukup lama mencari, akhirnya ia menemukannya.
Kemarin ia mendengar ucapan Ayu dan Ashel yang berbicara soal Liam. Tadi pagi, ia sudah mendatangi perusahaan itu namun ia tidak berani masuk. Ia sudah bertanya pada satpam disana jika sudah lama Liam tidak datang ke perusahaan.
Nando menatap rumah besar yang ada di hadapannya. Rumah itu ditumbuhi beberapa pohon kecil dari bagian gerbang depan sampai ke pintu utama.
Nando mendekati gerbang yang di jaga ketat oleh dua bodyguard.
"Cari siapa?" Tanyanya.
"Liam. Apa benar ini rumahnya?" Tanya Nando.
"Lebih baik anda pergi. Ini bukan rumah Liam," ucapnya.
"Apa benar seperti itu? Ini bukan rumah Liam Anggana?" Tanya Nando lagi.
"Saya peringatkan anda untuk pergi. Jika tidak kami sendiri yang akan menyeret anda pergi dari sini," ancamnya.
"Baiklah."
Nando pun mengalah dan pergi. Sepertinya memang para bodyguard itu tidak mau memberi tahunya.
Nando pun masuk kembali ke dalam mobilnya. Ia hanya menjalankan mobilnya beberapa meter dari sana agar tidak terlihat.
Nando memperhatikan gerak gerik orang orang di sekitaran rumah itu. Cukup lama Nando memperhatikan sampai matanya menangkap sosok yang ia kenal.
__ADS_1
Sudah cukup lama Nando mencari keberadaan Liam. Namun ternyata Liam berada satu kota dengannya.
"Gue gak nyangka aja ternyata selama ini kita berdekatan," ucap Nando. Ia pun pergi dari sana setelah mengetahui satu fakta.
***
Ashel terbangun dari tidur ketiganya setelah melayani suaminya. Lagi dan lagi ia terbangun karena lapar.
Ashel menolehkan kepalanya ke samping dimana suaminya masih tertidur lelap. Perlahan ia memindahkan tangan suaminya yang melingkar di perutnya. Kavin sedikit terusik dan hampir bangun namun dengan cepat Ashel menarik bantal guling untuk menggantikan posisinya agar dipeluk suaminya.
Ashel menyambar kemeja hitam milik suaminya dan memakainya. Ia mencepol rambutnya dan berjalan ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi.
Mandi? Nanti saja setelah ia selesai makan. Perutnya saat ini tidak bisa diajak kompromi.
Di dapur, bi Sati menyiapkan makanan untuk majikannya. Sedangkan Ashel duduk diam menunggu sembari memakan buah anggur.
Buah ini dibelikan oleh Rafello dari korea langsung.
"Bi, gak kepengen pulang ke Indonesia? Bukannya bibi orang Indo?" Tanya Ashel memecah keheningan.
"Bibi udah gak punya keluarga non. Jadi untuk apa pulang juga," ucapnya.
"Maaf bi, Ashel gatau," ucap Ashel.
"Gak papa non, santai saja." Ucap bi Sati. Ia menghidangkan nasi goreng sesuai keinginan majikannya.
Perut Ashel semakin berontak meminta diisi saat hidungnya mencium bau harum masakan bi Sati.
"Dimakan ya non. Bibi seneng lihat non yang akhir akhir ini banyak makan," ucap bi Sati.
"Aku aja sampe heran bi kenapa sering banget laper," ucap Ashel.
"Mungkin itu hormon non. Kalo gitu bibi ke belakang dulu," ucapnya. Ashel menganggukan kepalanya.
Hormon? Maksudnya apa? Apa ini hormon ibu hamil?
"Gak mungkin gue hamil. Ini guenya aja kali yang sering kelaperan," gumam Ashel.
...Situkang laper...
Tbc.
Kalo ada typ maapin.
Manu rios, sesepuh dunia fiksi🙏😌👇
Ajdbsjsbdhanab CAKEP BANGET HUSBU GUEEEHHH😃
__ADS_1