My Little Wife

My Little Wife
Bab 178 : Body Shaming


__ADS_3

Happy reading♡


Ashel menyembunyikan wajahnya pada bahu Kavin. Ia sangat sangat malu sekali dengan kejadian beberapa menit yang lalu. Riuh tepuk tangan masih terdengar. Ashel bisa mendengar kekehan kecil dari mulut suaminya.


"Bawa aku pergi, aku sangat malu," ucap Ashel teredam karena ia masih mendekatkan wajahnya pada bahu Kavin.


"Kamu tidak bisa pergi dan tidak akan pernah bisa sayang karena aku tidak akan pernah melakukan hal itu," bisik Kavin.


"Siap siap ya malam ini, sebentar lagi acaranya akan selesai," ucap Kavin tersenyum devil.


Ia pun mengangkat Ashel pergi menuju kembali ke tempat duduk mereka. Ternyata apa yang diucapkan Kavin benar, mc pun menutup acaranya karena ini memang sudah larut malam.


Ashel dan Kavin belum beranjak dari sana meskipun semua tamu undangan sudah mulai pergi keluar gedung.


Mama mertuanya dan bundanya datang menghampiri mereka berdua.


"Riana, Kavin mama pulang dulu ya. Kalian nginep di hotelnya papa aja. Mama udah reservasi jadi kalian tinggal berangkat," ucap Sarah.


"Baju kamu sama Kavin juga sudah ada disana sayang," ucap Anna lebih dulu saat Ashel akan menyela.


"Iya ma, bun." Jawab Kavin.


"Tapi kenapa harus di hotel? Kan aku punya rumah bun. Emang kalo udah nikah gak boleh ya tidur di rumah bunda lagi?" Tanya Ashel polos.


Anna tersenyum dan menggeleng, "Gak kitu maksudnya sayang. Kamu boleh kok tinggal di rumah lagi, tapi kan kamu harus punya ijin suami. Ingat, sekarang kamu sudah punya suami. Kamu harus berbakti sama dia," jelas Anna.


Ashel pun menganggukan kepalanya. Tapi kenapa harus hotel?


Ashel menoleh ke arah Kavin. Pria itu tengah tersenyum penuh arti menatap ke arahnya. Entah apa yang ada adi pikirannya. Yang jelas Ashel merasa sedikit takut.


"Yaudah kalo gitu mama sama papa pulang dulu ya, kalian hati hati di jalannya," ucap Sarah. Ia pun memberikan pelukannya pada anak dan menantunya kemudian pergi.


Begitu juga dengan Anna. Ia pamitan pada anak perempuannya yang kini sudah menjadi milik Kavin.


"Inget ucapan bunda. Patuhi semua apa yang Kavin mau karena sekarang kamu istrinya. Kamu wajib mengikuti apapun yang dia katakan," ucap Anna. Ia pun memeluk erat putrinya kemudian pamit dari sana.


Area gedung sudah cukup sepi. Hanya ada beberapa orang saja disana. Josh masuk dan memberitahu jika mobil sudah siap.


Kavin membantu Ashel berjalan karena anak itu sudah sangat kesusahan dengan gaun yang dipakainya.

__ADS_1


"Badan kamu itu pendek, kecil lagi kenapa juga masih mau pake gaun segede gaban gini sih yang. Mempersulit hidup kamu aja," dumel Kavin.


"Kalo gak mau bantuin ya gak usah. Pake acara ngedumel segala," ucap Ashel sewot.


"Ya enggak gitu yang. Aku kan cuma kasih saran aja," ucap Kavin.


"Saran kamu terselip kata kata body shaming. Baru  juga jadi istri kamu beberapa jam yang lalu udah di bully aja aku. Seumur umur baru kamu yang bilang aku kayak gitu," ucap Ashel. Kavin jadi gelagapan. Memang s ynagalah dia karena mengucapkan kata kata seperti itu pada istrinya. Tapi itu kan kenyataan.


"Iya maaf sayang aku yang salah. Jangan marah dong," ucap Kavin namun Ashel menghiraukannya. Ia menarik gaunnya yang sedang dipegang oleh Kavin. Dengan perasaan kesal ia pun berjalan sendiri menuju ke mobil.


"Loh yang, sayang kok ditinggalin sih," gerutu Kavin.


"Alamat gak dapet jatah nih gue. Gak bisa dong, ini kan malam pertama gue," ucapnya lagi kemudian berlari mengejar istrinya.


Kavin kalah cepat dengan Ashel karena istrinya itu sudah masuk lebih dulu ke dalam mobil. Padahal tadi Kavin ingin membantunya agar Ashel tidak marah lagi padanya.


Kavin pun ikut masuk ke dalam mobil karena Josh sudah membuka kan pintu mobil. Di dalam mobil, Ashel hanya diam. Menatap lurus ke arah depan.


"Yang, kamu marah ya? Maafin dong," ucap Kavin.


"Emang kamu salah apa sampe minta maaf?" Tanya Ashel.


Ashel tertawa keras seolah apa yang dikatakan oleh Kavin itu lucu. "Iya aku pendek, badan aku kecil. Emang bener apa yang kamu bilang. Gak ada yang perlu di banggain."


Astaga! Salah lagi.


Kavin jadi bingung harus apa. Sekarang Ashel sepertinya marah sekali padanya.


"Yang, jangan diem dong," ucap Kavin.


Josh yang sedang menyetir pun hanya diam meskipun ia mendengar jelas ucapan kedua pasutri baru itu.


"Yang," panggil Kavin namun Ashel tetap diam.


Ashel sebenarnya tidak terlalu sakit hati dengan ucapan Kavin. Itu memang benar dan kenyataan namun bayangkan saja, dikatai seperti itu oleh suami sendiri.


Bayangkan seperti apa perasaan Ashel saat ini. Selain marah ia juga sangat kesal. Untuk itu ia memilih diam.


Mobil yang mereka tumpangi sampai di lobby hotel. Ashel keluar lebih dulu daripada Kavin. Padahal Kavin ingin membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


"Selamat malam nyonya muda," ucap manager hotel.


"Malam," jawab Ashel.


"Silahkan nyonya, tuan," ucap Manager hotel mempersilahkan Ashel dan Kavin masuk.


Tadinya Ashel ingin berjalan sendiri tanpa harus menggandeng tangan Kavin. Namun Kavin lebih dulu menarik tangannya dan menautkannya. Sehingga mereka bergandengan.


"Kamar anda ada di lantai paling atas. Nyonya Faraz yang memintanya. Silahkan ini liftnya," ucapnya.


"Terimakasih," ucap Ashel ramah.


Mereka berdua pun memasuki lift. Lantai yang mereka tuju adalah lantai dua puluh. Lantai paling tinggi yang ada di hotel ini.


Di dalam lift, Kavin terus berucap maaf pada Ashel. Namun Ashel tidak meladeninya.


"Sekali lagi kamu bilang maaf jangan harap kita satu ranjang," ucap Ashel karena ia sudah jengah dengan ucapan Kavin.


Kavin sendiri langsung menutup mulutnya dan kembali menggandeng Ashel. Bahkan ia sudah merangkul Ashel.


Pintu lift terbuka. Kedua pasutri itu langsung keluar dan masuk ke satu pintu. Karena di ruangan ini hanya ada satu pintu.


Ashel mendorong pintu coklat yang ada di depannya. Sebuah ruangan luas yang sudah ditata sedemikian rupa langsung terlihat oleh penglihatannya.


"Mama sengaja kayaknya pesenin lantai paling atas. Setahu aku, tataan kamar ini sebelumnya tidak seperti ini," ucap Kavin.


"Ya sudah terima saja yang penting bisa tidur," ucap Ashel. Ia melepaskan hells yang ia pakai sejak tadi.


Rasanya sangat nikmat sekali.


Setelah melepas hells, ia pun melepaskan semua aksesoris yang dia pakai, tak lupa juga dengan make up yang ada di wajahnya, ia hapus bersih.


"Yang aku mandi duluan gak papa?" Tanya Kavin.


"Ga papa," ucap Ashel.


Tbc.


Welcome dunia pasutri gaje

__ADS_1


Selamat menempuh hidup baru Apin


__ADS_2