
Happy reading♡
"Nah pinter anak mama. Fello emang sulit anaknya, jadi kamu sebagai istrinya nanti harus sabar ya," ucap Sarah membenarkan ucapan Ashel.
"Ya allah, dinistain mulu gue," gumam Fello.
"Ya udah aku pilih ini aja. Pilihan Ashel gak pernah ngecewain soalnya. Keep yang ini aja ma," ucap Ayu.
"Boleh. Nanti mama hubungin pihak WO-nya. Besok kalian berdua fitting gaun pernikahan. Ada dua gaun, satu gaun kebaya untuk ijab dan satu untuk resepsi di malam harinya. Besok kalian langsung ke butiknya Anna aja. Dia udah kasih beberapa desain sama mama, cuma mama bilang biar Ayu aja yang pilih," ucap Sarah.
"Iya ma. Makasih banyak," ucap Ayu.
"Oke dekor sama gaun udah selesai, lo hubungin kak Eji buat souvenir pernikahan termasuk buku tamu-nya minta disiapin sama dia," ucap Ashel. Eji adalah asisten manager bundanya di butik. Selain menjadi asisten manager, Eji juga selalu menyediakan souvenir pernikahan.
"Oke. Besok sekalian kayaknya," ucap Ayu.
"Soal bridesmaid gimana? Mau siapa aja biar kain yang udah lo pilih bisa dikirim besok ke orang orangnya," ucap Ashel.
"Palingan Ajeng yang udah oke. Sisanya Feli, Yuta, Yasmin, Rita. Udah lima orang aja, soalnya lo kan gak diijinin sama laki lo," ucap Ayu.
Kavin memang sudah memperingatkan Ayu untuk tidak mengikut sertakan istrinya menjadi brides maid-nya. Alasannya cukup klise, Kavin tidak mau berjauhan dengan Ashel. Prik memang.
"Yaudah mau gimana lagi. Tapi lo tenang aja, nanti gue yang anter lo ke altar ijab kabul," ucap Ashel.
"Tapi lo jangan cantik cantik nanti. Masa iya yang nganter lebih cantik dari mantennya," ucap Ayu.
"Somplak! Kagak lah, yakali," ucap Ashel.
Sejak tadi mereka berdua terus berbicara dengan logat dan nada bicara layaknya seorang sahabat. Tenang saja, karena disana hanya ada Sarah, Ashel, Ayu dan Fello. Sisanya berada di taman bermain kecil yang ada di rumah Sarah.
"Yaudah besok suruh pihak yang nanganin kain buat mereka jahit sendiri. Harus dikirim besok soalnya acara pernikahan lo udah deket," ucap Ashel.
"Iya."
"Ma, kita pake baju seragam?" Tanya Ashel.
"Iya dong. Nikahan anak bungsu mama kita harus pake baju sama. Mama udah pilih kainnya sedangkan model bajunya dipilih suami kamu. Lusa sampai ke rumah baju kita," ucap Sarah.
"Oke kalo gitu. Bentar lagi malem, Riana mau bikinin baby's makan dulu," ucap Ashel.
__ADS_1
"Iya sayang."
"Ayu juga pamit pulang dulu ya ma," ucap Ayu.
"Iya, hati hati ya. Fello anterin calon istrinya pulang," ucap Sarah.
"Iya ma."
***
Malam harinya, Ashel dan Kavin dipaksa untuk tetap tinggal di rumah orang tuanya. Karena Sarah, Faraz dan opa oma ingin bermain puas dengan cucu cucu mereka. Ashel pun mengiyakannya, ini juga jadi salah satu cara agar baby's tidak menangis minta asi dan mereka akan tertidur karena kecapean.
Ashel sendiri sedang berada di kamarnya. Ia sedang mengecek keadaan cafe miliknya. Niatnya dia ingin mengunjunginya besok. Tadi dia juga sudah ijin pada Sarah. Dan Sarah tentu saja dengan senang hati mengurus cucu cucu-nya.
Ashel mengecek pemasukan dan beberapa jenis menu makanan di cafe-nya yang selalu jadi primadona. Sebagian besarnya dari produksi masakan mathca dan green tea.
"Kayaknya harus nambahin menu baru deh. Tapi apa ya?" Gumam Ashel. Ia mengetuk ngetukan jarinya pada meja yang menjadi tumpuan laptop miliknya.
"Makanan Jepang? Mainstream sih, sasaran gue soalnya anak anak remaja sama dewasa kalangan cewek. Apa ya?"
"Mie? Soalnya gue suka banget, tapi apa mereka bakalan berselera dengan resep mie yang sering gue buat?"
"Apa tahu sutra kuah pedas aja ya? Terus di mix sama seafood plus sayuran?"
Sebenarnya tidak perlu seperti ini. Ia pemiliknya sudah pasti apa yang ia mau bisa dengan mudah terwujud. Tapi disana kan bukan hanya dirinya juga. Selama ini cafe dikelola sama manager dan beberapa orang kepercayaan Ashel dan Ardian.
Tiba tiba ada sebuah tangan yang memijat kedua bahunya. Itu adalah Kavin, suaminya.
"Baby's gak rewel?" Tanya Ashel.
"Enggak. Briella sama Kai masih main, Ling udah tidur di kamar mama sama papa. Mereka katanya mau tidur sama mereka. Gak papa?" Tanya Kavin.
"Bukan karena permintaan kamu kan?" Tanya Ashel.
"Enggak sayang. Suudzon mulu sama suami," ucap Kavin.
"Kamu emang patut dicurigai mas," ucap Ashel. Ia kembali fokus pada laptopnya dan melanjutkan pekerjaannya.
"Yang, udah dong kerjanya. Sini kelon," ucap Kavin. Pria itu sudah tertidur diatas kasur.
__ADS_1
"Bentar sayang. Dikit lagi ini, nanggung," ucap Ashel. Ia pun segera menyelesaikan pekerjaannya dan mengambil ponselnya.
"Hallo om," ucap Ashel saat sambungan telepon terhubung.
"Widih, bos can. Ada apa malem malem telepon?" Tanya Sergio.
Ya, orang yang ditelepon Ashel adalah manager cafe-nya. Sergio. Yang tidak lain tidak bukan adalah orang kepercayaan Ardian.
"Besok Riana mau ke cafe. Mau ketemu sama beberapa orang disana. Meeting," ucap Ashel.
"Oke siap. Besok saya hubungi mereka untuk kumpul," ucap Sergio.
"Gak usah sama investor. Om, kak Angel, sama beberapa koki aja. Oh iya, minta manager cafe yang di Bandung ke Jakarta besok ya? Biar sekalian aja," ucap Ashel.
"Oke oke. Tapi ini ada apa? Tumben banget," ucap Sergio.
"Ada hal yang mau Riana bahas besok. Mumpung Riana ada di Indonesia juga," ucap Ashel.
"Oke deh."
Tut.
Panggilan telepon pun mati. Ashel menutup laptop dan menyimpan ponselnya disana. Ia bangun dan berjalan naik ke atas kasur. Untung tadi sudah cuci muka dan kaki juga gosok gigi. Jadi ia tidak perlu ke toilet lagi. Jika tidak kebelet pipis.
Ashel memeluk tubuh suaminya yang langsung diterima hangat oleh Kavin.
"Ada apa emangnya? Kok nelepon Sergio?" Tanya Kavin.
"Aku mau bicara soal menu baru sekalian kasih sampel makanan ke mereka semua. Kalo fiks ya menu itu bakalan launching di cafe aku," ucap Ashel.
"Pinter banget sih istrinya Kavin. Jadi pengen di anu deh," ucap Kavin.
"Libur dulu gak papa? Aku cape mas," ucap Ashel.
"Ya udah boleh. Tapi boleh nen kan?" Tanya Kavin.
"Nen aja. Lagian asi punya aku belum dikeluarin," ucap Ashel. Ia membuka kancing daster teratasnya dan mengeluarkan asinya yang langsung dilahap suaminya.
"Kalo asinya belum keluar ini kamu gede banget. Mana keras lagi," ucap Kavin.
__ADS_1
"Ya udah sedot."
Tbc.