
Happy reading♡
Dor... dor... dor
Tiga kali bunyi tembakan terdengar dari arah depan mobil yang ditumpangi itu. Dengan cepat Kavin membanting stir mobilnya saat melihat mobil truk yang melaju ke arah mobilnya. Kejadian itu sangat cepat sehingga mobil truk tadi menyenggol bagian belakang mobil Kavin sampai penyok. Kavin pun mengerem mobilnya cukup jauh dari mobio truk itu.
Terdengar bunyi nyaring yang bertubrukan antara truk dengan sebuah pohon besar disana. Membuat Ashel menutup telinganya saking kuatnya suara tubrukan itu. Tak berselang lama terdengar bunyi ledakan dari mobil truk itu. Ya, karena menghantam pohon yang besar menyembabkan tangki bensin mobil itu terbuka sendirinya. Keadaan mobil yang masih menyala membuat hawa panas keluar sehingga munculah percikan api yang langsung melahap ke arah tangki bensin.
Ashel menjerit saat mendengar suara ledakan itu dan Kavin dengan sigap langsung menarik istrinya ke dalam pelukannya. Tubuh Ashel bergetar ketakutan saat mengalami kejadian hari ini. Ia tidak menyangka jalan jalan sorenya akan berakhir seperti ini.
"Its okay mami, kamu dan baby's aman," bisik Kavin. Ashel semakin mengeratkan pelukannya pada suaminya. Ia sangat takut sekali saat ini.
Pintu mobi Kavin diketuk. Itu Ardian. Ia adalah orang yang tadi menembakan peluru ke ban mobil truk itu agar cepat menubruk pohon besar. Kavin langsung membuka kunci pintu mobilnya. Ia melepaskan pelukannya dan keluar dari dalam mobil, sedangkan Ashel dibantu Ardian untuk keluar.
"Aku takut bang," gumam Ashel.
"Masa maminya si kembar penakut sih. Udah tenang, abang udah beresin semuanya. Tuh lihat mobilnya kebakar," ucap Ardian menunjuk ke arah mobil truk tadi.
Ashel melihat kobaran api yang sangat besar karena api itu sedang membakar mobil truk beserta pohon besar itu. Ia lantas memeluk Ardian dan menyembunyikan wajahnya agar tidak melihat api itu. Para bodyguard langsung bergerak ke dekat mobik truk itu untuk mengecek keadaan sopir. Karena api terlalu besar, mereka cukup kesulitan.
"Yang," panggil Kavin. Ashel lantas melepaskan pelukannya dan beralih memeluk suaminya.
"Lo pulang aja, biar gue yang beresin ini semua. Jaga adik gue," ucap Ardian. Kavin mengangguk dan berjalan ke arah mobil Max.
Saat berada dalam mobil, Ashel tidak melepaskan pelukannya pada Kavin. Jujur saja ia sangat takut saat ini. Sebenarnya siapa lagi yang mengincarnya setelah Dona dan Nadine?
"Are you oke mami?" Tanya Kavin. Ia mengelus elus punggung istrinya agar Ashel lebih tenang meskipun ia merasakan jika tubuh istrinya ini masih bergetar.
__ADS_1
"Takut. Kenapa mereka mau celakain kita mas? Ini bukan murni kecelakaan kan? Ini pasti suruhan seseorang," ucap Ashel.
"Ssttt, jangan terlalu dipikirkan ya? Kasian baby's," ucap Kavin. Ia tidak mungkin memberitahu yang sebenarnya pada Ashel. Kavin takut jika istrinya akan memikirkan hal itu dan akan mempengaruhi janinnya.
Ashel terdiam. Pikirannya masih terbayang bayang kejadian tadi. Kejadian yang sungguh membuat dirinya takut akan keselamatan anak anaknya ini.
"Argghhh," ringis Ashel memegangi perutnya. Entah mengapa tiba tiba perutnya terasa sakit.
"Ada apa-,"
Mata Kavin melotot melihat aliran darah yang keluar melewati kaki istrinya.
"MAX, KE RUMAH SAKIT SEKARANG, CEPAT!!" ucap Kavin.
"Baik tuan." Max pun langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit. Sedangkan Kavin mencoba menenangkan istrinya meskipun dirinya juga tidak tenang. Melihat aliran darah yang keliar begitu saja pada kaki sang istri membuatnya kalut. Ia tidak ingin kehilangan anaknya begitu juga dengan istrinya.
Kavin termenung menatap pintu ruang rawat istrinya yang masih tertutup rapat. Di dalam sana, dokter kandungan yang selalu mengurus cek up istrinya sedang menanganinya. Sebenarnya tadi Kavin memaksa ingin ikut masuk namun suster menahannya. Kavin pun terdiam saat mendengar ucapan suster tadi. Ia tidak boleh masuk karena ini semua demi keselamatan istri dan anaknya.
Ardian baru sampai. Ia langsung menuju ke rumah sakit setelah diberitahu Max. Urusan di lokasi kecelakaan tadi sudah tuntas. Ia juga meminta polisi agar tutup mulut saja. Ia juga meminta pada bawahannya agar membersihkan sisanya agar tidak ada media yang meliput kejadian ini.
"Gimana?" Tanya Ardian. Ia duduk di samping Kavin.
Kavin menggelengkan kepalanya. Ia juga belum mengetahui bagaimana keadaan istri dan anaknya. Apakah mereka selamat atau tidak.
"Gue harus bunuh bocah sialan itu Ar. Gue gak bisa terus diem kayak gini dan liat dia bertingkah mulu," ucap Kavin.
"Gue tahu apa yang lo rasain saat ini. Istri lo juga adek gue dan gue juga gak terima hal ini. Lo tenang aja, biar gue yang urus semuanya buat serang balik dia. Anak buah yang kita suruh buat menyelinap masuk ke anggota dia udah berhasil dan tinggal sisanya saja," ucap Ardian.
__ADS_1
"Gue takut kalo mereka gak bisa bertahan Ar," ucap Kavin.
"Riana kuat. Lo tahu itu kan? Penyekapan yang dilakukan Dona beberapa tahun yang lalu yang buat Riana gak makan sama minum tiga hari itu. Buktinya dia masih kuat. Apalagi sekarang dia sama si kembar, mereka semua pasti kuat. Lo harus yakin sama Riana," ucap Ardian.
Memang benar adanya Ashel cukup kuat. Tapi kali ini berbeda. Ia membawa dua nyawa sekaligus. Kavin hanya berharap jika istrinya itu selamat bersama anak anaknya.
Satu jam berlalu, pintu ruang rawat Ashel terbuka. Kavin dan Ardian kompak berdiri kemudian mendekat ke arah dokter yang menangani Ashel.
"Bagaimana dok? Apa istri saya baik baik saja? Si kembar juga?" Tanya Kavin.
"Bersyukurlah tuan Kavin. Nyonya Kavinder sangat kuat, pendarahan tadi terjadi akibat benturan pada perutnya. Kondisinya saat ini masih belum stabil. Tapi keadaan nyonya dan bayi bayinya baik baik saja," ucap Dokter itu.
Hati Kavin menghangat. Ia bernafas lega saat mendengar kabar baik ini. Apa yang dikatakan Ardian memang benar. Istrinya itu sangat kuat.
"Saya bisa masuk untuk melihat istri saya dok?" Tanya Kavin.
"Silahkan. Tapi jangan banyak orang dulu yang masuk, kalian bergantian saja. Nyonya Kavinder masih belum siuman. Mungkin beberapa jam lagi ia akan bangun," ucapnya. Kavin pun melenggang masuk begitu saja tanpa mengucapkan terimakasih. Ia lupa karena terlalu bersemangat untuk melihat istrinya.
"Terimakasih dok," ucap Ardian.
"Sama sama pak," ucapnya tersenyum dan pergi dari hadapan Ardian. Ardian terdiam beberapa saat, saat melihat senyum yang terpatri indah dari bibir sang dokter. Sangat cantik.
Ardian pun kembali duduk dan menunggu Kavin. Ia juga ingin melihat keadaan adiknya. Bocah ingusan itu benar benar semakin menjadi jadi. Kavin dan Ardian tidak akan tinggal diam. Dia sudah menyalakan kobaran api pertikaian dan Ardian tidak akan membiarkannya lolos. Ia harus mati.
Tbc.
__ADS_1
Liam berulah😒😔