
"Aku pergi dulu, baik-baik dirumah." Sebuah kecupan melayang di puncak kepala Azalea.
"Empp! Jangan pulang terlalu larut." Azalea mengingatkan. Dibalas dengan senyuman terbaik dari Zico, walaupun wajahnya terlihat jelas sedang menutupi kesedihannya.
Azalea kembali masuk kedalam rumah, kini rasa hampa kembali menyerang rongga dadanya. Padahal Zico tidak pergi jauh, itupun hanya setengah hari atau mungkin seharian. Tapi yang dirasakan Azalea benar-benar hampa, lalu apa jadinya Azalea jika tanpa Zico di setiap harinya.
Ditambah lagi, Mbak Ati sudah pergi berbelanja bersama suaminya. Membuat rumah itu lebih terasa hampa lagi dan sunyi.
Grrttt ...
Azalea berjalan ke arah ponselnya yang berdering. Ada panggilan dari nomor yang tidak dikenal.
Azalea mengangkat panggilan itu tanpa berucap sepatah katapun, ia hanya mendengarkan apa yang akan dikatakan orang itu.
"Apa harimu masih tenang, Lea?" Diiringi kekehan pelannya.
Azalea bisa langsung menebak siapa yang berada dibalik panggilan telpon itu. Ia hafal betul dengan suara itu.
"Jadi kau!" Raut wajah Azalea langsung menegang geram.
__ADS_1
"Bagaimana? Kau butuh yang lebih dari ini? Katakan saja padaku, akan aku berikan pertunjukan yang lebih dari ini." Sarkasnya sinis.
"Kau salah besar menunjukkan identitas mu begitu saja. Seharusnya kau tetap bersembunyi saja dipersembunyianmu itu." Balas Azalea tak gentar sedikit pun.
Suara tawa menggelegar dari balik ponsel itu. Membuat Azalea harus menjauhkan sedikit ponsel itu dari telinganya, atau ia akan pekak.
"Apa sudah puas tertawanya?" Tanya Azalea tak kalah sinis. "Nikmatilah persembunyian itu untuk beberapa hari lagi." Lanjut Azalea, setelah itu ia langsung mematikan panggilan itu, tak perduli apa yang akan dikatakan selanjutnya oleh orang yang berada dibalik panggilan itu.
Setelahnya, Azalea mencari salah satu nomor di kontak ponselnya. Lalu langsung menghubungi nomor tersebut.
"Hi, are you busy? I need your help now." (Hai, apa kau sibuk? Aku butuh bantuan mu sekarang.)
"Trace the mobile number I sent you now." (Lacak nomor ponsel yang aku kirimkan padamu sekarang.)
"Of course." (Tentu.)
Azalea kembali mematikan panggilan itu, lalu mengirimkan nomor ponsel yang tadi sempat menelpon nya.
Kini, Azalea sedikit lega. Karena sudah tahu siapa dalang dibalik semuanya.
__ADS_1
Tahu orangnya, berarti tahu cara bermainnya.
Azalea tidak mungkin hanya berdiam diri. Tidak berbuat apa-apa disaat ada yang menindasnya. Mungkin orang itu lupa, Azalea bukan lagi gadis lugu yang dapat ditindas begitu saja. Kini, ia sudah menjelma menjadi wanita tangguh. Ia hanya perlu menunjukkan siapa dirinya sekarang.
*
"Jadi selama ini Mama juga berbohong pada Zico?" Kini, justru Tante Ema yang kembali tersudut. Ketika Zico mengetahui riwayat penyakit Papanya. Yang ternyata pernah mengidap Kanker Otak.
"Mama hanya tidak ingin membuat mu khawatir, Zic."
"Lalu apa bedanya, yang Mama lakukan. Dengan apa yang telah kami lakukan. Bukankah kita sama-sama telah berbohong? Haruskah aku marah? Seperti yang Mama lakukan pada Azalea?" Tegas Zico.
"Itu dua hal yang berbeda Zico." Tante Ema masih membela diri.
"Lalu? Bagaimana jika seandainya Papa tidak dapat diselamatkan saat itu. Dan aku harus kehilangan Papa tanpa tahu apa-apa!"
"Tapi kini Papamu baik-baik saja bukan? Justru keadaannya tambah memburuk karena ulah wanita itu." Yap, Tante Ema masih menyalahkan Azalea dengan apa yang sedang terjadi.
Zico kehabisan kata-kata dibuat nya. Kini ia tambah sakit kepala, ketika Dokter menyatakan keadaan Papanya tambah memburuk.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...