My Little Wife

My Little Wife
Bab 158 : Service ala Kavin


__ADS_3

Happy reading♡


"Ikut aku, biar kamu gak salah paham lagi," ucap Kavin. Tanpa menunggu persetujuan dari Ashel, Kavin langsung membawanya pergi dari sana.


"Astaga pah, persis kamu dia. Riana selama ini kayaknya sering dipaksa paksa kayak gitu deh sama Kavin," ucap Sarah saat melihaymt Ashel yang ditarik paksa oleh Kavin.


"Dia kan anak aku, jelaslah sikapnya akan seperti ku," ucap Faraz.


"Dasar, anak sama papa gak ada bedanya. Udah ah, aku mau nyamperin calon besan dulu," ucap Sarah. Ia hendak menyambut kedatangan Anna dan yang lainnya.


"Bareng sama aku ma. Kamu istri aku," ucap Faraz. Sarah menurut dan menerima uluran tangan suaminya.


Sedangkan di lain ruangan, Kavin sudah membawa paksa Ashel. Ia mengambil satu kamar kosong untuk ia tempati bersama Ashel. Ia sengaja memilih kamar sebagai tempatnya bicara dengan Ashel, jaga jaga supaya anak itu tidak kabur.


"Apa lagi sih? Kamu bisa gak lembut dikit? Merah tangan aku. Dikira tangan kamu gak keras," dumel Ashel. Mereka saat ini sudah berada di dalam kamar.


"Salah sendiri gak nurut sama calon suami," ucap Kavin tak mau kalah.


"Calon suami? Ada gitu calon suami yang gak kasih kabar berhari hari? Terus pas di samperin sibuknya ngalahin pejabat pejabat tinggi. Ditambah ada acara keluarganya bukannya dateng jemput ini malah kedapatan ngobrol sama wanita lain. Dan sialnya wanita itu adalah orang yang suka sama kamu. Inget Kav, orang ketiga gak bakalan hadir kalo gak kamu undang masuk ke kehidupan kita," ucap Ashel panjang lebar.


"Disana tidak hanya ada Nadine. Disana juga ada teman teman ku," ucap Kavin.


"Oh, reuni masa kuliah ya?" Ucap Ashel terkekeh. Entah kenapa ia sangat muak sekali.


"Kamu kenapa sih yang? Suka tiba tiba marah marah gini. Kamu lagi dapet?" Tanya Kavin.

__ADS_1


"Iya aku lagi dapet. Dapet pemikiran buat batalin acara pernikahan kita. Untung aja undangan belum disebar," ucap Ashel tanpa berpikir.


"Ulangi kata kata mu," ucap Kavin. Saat ini matanya kembali menajam setelah mendengar ucapan Ashel.


"Pendengaran kamu masih bagus kan?" Tanya Ashel. Ia berdiri cukup jauh dari Kavin. Rasanya sangat malas jika harus berdekatan meskipun saat ini ia sangat merindukan hal seperti ini dengan Kavin.


Kemarin kemarin, Ashel juga sengaja menyibukan dirinya. Agar ia tidak terlalu memikirkan Kavin. Ashel sangat kecewa dengan Kavin. Ia bilang jika Ashel adalah calon istrinya, tapi untuk sekedar menjemputnya Kavin bahkan tidak datang.


"Kamu kalo kurang kiss sama pelukan dari aku bilang sayang. Jangan ngelantur kayak gini," ucap Kavin.


"Gak ada aku bilang gitu. Diem disana jangan mendekat. Atau aku bakalan marah ya sama kamu," ucap Ashel. Ia was was sekali karena saat ini Kavin tengah mendekat ke arahnya apalagi senyum iblis sejak tadi muncul di bibirnya.


"Aku gak denger yang kamu ngomong apa. Jawab, mau berdiri atau di ranjang?" Tanya Kavin to the point.


"Apaan sih. Dikira aku mau apa? Gak awas aku mau keluar," ucap Ashel. Ia berusaha untuk pergi dari sana namun Kavin menahannya.


"Apaan sih, lepas gak. Aku gak mau," ucap Ashel.


"Oke," ucap Kavin. Ia yang memutuskan sendiri. Sebenarnya Kavin ingin sekali membanting Ashel ke tempat tidur. Tangannya juga sangat gatal ingin merobek gaun yang saat ini dipakai oleh Ashel. Karena gaun ini, beberapa area yang menjadi favorit Kavin di tubuh Ashel terekspos.


Kavin menarik Ashel dan memaksanya untuk berbaring di ranjang. Ashel tentu saja berontak. Namun sayangnya, karena ia terus bergerak dan berontak, membuat gaun bagian bawahnya semakin terangkat. Ditambah gaun di bagian kakinya memiliki potongan yang cukup tinggi.


"Ngegoda aku? Gak perlu. Tanpa kamu goda aku udah tertarik ngelakuin hal itu," bisik Kavin sensual di telinga Ashel. Bulu kunduk Ashel berdiri. Tubuhnya meremang saat Kavin mulai meraba titik titik sensitifnya.


Bibir Kavin sudah membungkam bibir Ashel. Ciumannya diawali dengan cukup brutal dan tergesa gesa. Biasanya Kavin akan memulainya dengan lembut dan penuh kenyamanan.

__ADS_1


Ashel berusaha melepaskan ciuman itu. Ia terus berontak agar ciumannya lepas. Namun apa dayanya, tenaga Kavin lebih kuat.


Tangan Kavin menahan kedua tangan Ashel diatas kepalanya. Sedangkan sebelah tangannya lagi ia gunakan untuk merem*s boba milik Ashel. Namun sialnya terhalang gaun sialan ini.


Kavin mencari resleting gaun yang digunakan Ashel. Tangannya tak kalah aktif dari bibirnya yang sejak tadi bermain bersama bibir Ashel.


Setelah menyusuri bagian gaun Ashel, akhirnya ia menemukannya. Perlahan ia membuka resleting itu. Kavin sudah tidak peduli dengan permohonan Ashel. Ia harus menghukum gadisnya.


Resleting telah berhasil dibuka. Ia menarik sedikit gaun Ashel dan terpampanglah dua gundukan kenyal yang menjadi favoritnya.


"JANGAN KAV. SADAR, KITA LAGI DI PESTA," teriak Ashel. Ia sejak tadi terus berbicara berusaha menyadarkan Kavin yang sudah gelap mata.


"Hanya service sayang. Aku tahu kamu uring uringan gak jelas kayak tadi karena kamu pikir aku melupakan mu ya? Padahal tidak. Aku memang sibuk di kantor," ucap Kavin sebelum bermain dengan boba milik Ashel.


Desah*n lolos dari bibir Ashel saat Kavin merem*snya. Tangan Kavin bergerak sensual disana. Ashel sudah berusaha menahannya agar tidak mengeluarkan suara seperti itu. Namun tubuhnya merespon hal lain. Seperi memang ia sangat merindukan sentuhan tangan Kavin.


"Aku gak jemput kamu karena kepala ku mendadak sakit. Rasanya sangat pusing sekali. Mama menyarankan untuk tidak menjemput kamu dan membiarkan Josh yang datang. Tadi aku sempat tertidur sebelum pesta," ucap Kavin menjelaskan selagi Ashel tidak mampu berbicara karena sejak tadi ia berusaha menutup mulutnya.


"Jangan berpikiran aneh lagi. Apalagi mengucapkan kalimat yang tidak aku sukai. Membatalkan pernikahan sama saja dengan kamu menantang ku," ucap Kavin. Ia terus merem*s kedua boba itu. Sesekali ia mengul*mnya bahkan seperti seorang bayi yang sedang meny*su pada ibunya.


"C-cukup. Ini s-sakit," ucap Ashel. Tangannya berusaha menahan tangan Kavin agar tidak terus menerus merem*snya. Rasanya cukup sakit.


"Aku belum puas sayang. Sebelum pucak acara dimulai, jangan harap kamu bisa lepas dari aku," ucap Kavin. Ia terus menerus melancarkan aksinya. Siapa yang pikir jika Kavin selama berhari hari ini tidak merindukan gadisnya? Ia sangat merindukannya. Bahkan kemarin ketika Ashel datang ke kantornya, Kavin langsung menciumnya tanpa aba aba di depan semua karyawannya.


"Mendes*hlah sayang. Aku sangat merindukan suara merdu itu," gumam Kavin. Ia tidak pernah memberikan jeda untuk Ashel. Bibir Ashel saat ini sudah membengkak. Apalagi tanda tanda merah itu sudah cukup banyak tercetak di leher dan dada Ashel.

__ADS_1


Tbc.


Kurang kasih sayang \= kurang service bagi Kavin. Solimehhhh emng😭✋️ anak orng di *****"😭🙏


__ADS_2