
Aku udah crazy up. Ramein vote komen dong😌🤙🤙🤙
.
.
.
Happy reading♡
Waktu sudah pukul enam pagi, Ashel baru terlelap setelah melayani suaminya. Selama hampir lima belas jam lamanya Kavin terus melakukannya pada Ashel dengan jeda tiga kali berhenti untuk istirahat.
Ashel kelelahan bukan main. Selama berbelas jam itu pula ia harus mau melayani Kavin. Ia sempat meminta suaminya berhenti namun tidak didengar. Kavin seperti orang kesetanan saat melakukan itu.
Memang awalnya Kavin melakukan itu perlahan dan sangat hati hati. Ia takut menyakiti istrinya ini, apalagi setelah melihat air mata yang terus keluar dari mata istrinya ini membuat Kavin hendak berhenti namun Ashel melarangnya.
Ashel tidak habis pikir dengan suaminya ini. Entah obat apa yang sudah dimakan olehnya sehingga ia begitu kuatnya menggagahi dirinya. Semua mereka lakukan atas kehendak Kavin. Ashel hanya diam dan menuruti ucapan suaminya ini.
Sedangkan Kavin saat ini tersenyum puas melihat istrinya yang tepar karena ulahnya. Mata yang sembab, bibir bengkak, rambut acak acakan, dan jangan lupakan kissma*k yang tercetak jelas di bagian atas tubuh Ashel. Sejak tadi Kavin tidak berhenti tersenyum.
Ia sempat meringis ngilu saat istrinya ini beberapa kali menggigit leher bahkan punggung tangannya saat ia mencapai puncaknya. Ganas sekali, tapi Kavin menyukainya.
Kavin bangun dan mengambil tissue yang ada di laci meja sebelah tempat tidur. Ia menyeka darah yang mengalir dari punggung tangannya juga dari lehernya.
Ia mengambil ponselnya dan menyalakan kamera depan untuk berkaca dan melihat seberapa dalam luka itu. Ternyata cukup dalam.
"Ganas banget istri gue astaga. Tapi kok enak ya," ucapnya.
Ia melihat jam di ponselnya. Hari ini kalo tidak salah istrinya bilang akan ada kelas online melalui zoom. Tidak memungkinkan jika Kavin membangunkannya. Istrinya ini kelelahan dan pasti tidak akan fokus belajar.
Ia pun menghubungi nomor seseorang.
"Hallo?" Ucap Kavin.
"Iya Kav, ada apa? Tumben sekali menghubungi paman?" Tanyanya.
"Begini paman, hari ini jadwal kelas online istri ku kan? Aku hanya ingin memberitahu jika dia tidak bisa ikut kelas mu karena sedang tidak enak badan," ucap Kavin. Ia menghubungi dosen Ashel yang sudah ia kenal sejak beberapa tahun silam.
"Begitu rupanya. Ya sudah tidak apa apa istri mu tidak perlu ikut kelas online ku tapi aku harus memberinya beberapa soal untuk pengganti tugas. Bagaimana?" Tanyanya.
"Silahkan saja. Nanti email saja kepada ku. Terimakasih paman," ucap Kavin.
"Sama sama. Selamat juga atas pernikahan mu, maafkan paman yang tidak hadir," ucapnya.
"Tidak apa apa paman," ucap Kavin.
__ADS_1
Telepon pun terputus. Sebelum Kavin menyimpan kembali ponselnya, ia sempat mengirimi pesan pada Josh untuk mengosongkan jadwalnya hari ini.
Setelah pesan terkirim, Kavin menyimpan ponselnya dan mensilentnya. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di samping istrinya.
Ashel tertidur sangat pulas. Ia bahkan tidak terganggu saat Kavin menariknya ke dalam pelukannya. Bahkan di bawah sana, Kavin kembali menyatukan tubuh mereka. Hanya menyatukan tidak lebih.
***
Ayu berjalan mondar mandir. Perasaanya tidak tenang saat mengetahui dari dosennya hari ini jika Ashel, sahabatnya sakit.
Ia sudah mencoba menghubungi Ashel namun ponselnya tidak aktif. Ia memang bersama suaminya pasti aman. Hanya saja Ayu ingin tahu Ashel sakit apa.
Tiba tiba pintu apartementnya berbunyi. Ia pun bergegas membukanya.
Namun saat melihat siapa yang berkunjung, ia menjadi menyesal.
"Ngapain lo?" Tanya Ayu ketus.
"Ebuset. Calon suami datang tuh disambut bukannya malah di ketusin," ucap Rafello.
"Mimpi," ucap Ayu.
"Iyalah, kan semuanya berawal dari mimpi," ucap Rafello tersenyum geli.
"Hish, ngapain sih lo kesini? Lagian dari mana lo tahu alamat gue? Ashel gak mungkin kasih tahu lo," ucap Ayu.
"WOI AS* LO NGAPAIN HEH! MAEN MASUK AJE," teriak Ayu.
"Santai napa. Ngegas mulu," ucap Rafello. Ia duduk di sofa yang ada disana.
"Ya lo ngapain hah main masuk aja. Gak sopan banget," ucap Ayu.
"Ngapain? Lo bukan orang tua," ucap Rafello semakin membuat Ayu kesal.
"Maksud gue gak gitu juga."
"Gue gabut di rumah. Lagian zoom online cuma tadi doang sisanya dikasih tugas. Dari pada gue gabut ya gue kesini," ucap Rafello.
"Ya lo jangan ke rumah gue dong. Cari yang lain aja, kayak gak punya temen aja," ucap Ayu.
"Gue emang gak punya temen, tapi gue punya lo."
Ucapan Rafello membuat Ayu terdiam.
"Maksud lo?" Tanya Ayu.
__ADS_1
"Yakan lo tadi lo bilang gabutnya main ke rumah temen. Yowes gue kesini, kan lo temen gue," ucap Rafello.
"What ever," ucap Ayu. Ia pun pergi meninggalkan Rafello sendirian di ruang tamu.
***
Sekitar pukul sebelas siang Ashel baru terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.
Tubuhnya terasa remuk sekali. Rasanya tulang tulang di tubuhnya patah. Nafsu suaminya sangat gila. Ia bahkan tidak bisa membayangkan kejadian beberapa jam yang lalu.
Ashel menolehkan kepalanya ke samping. Disana ada suaminya yang masih terlelap. Tangannya terangkat untuk menyusuri wajah tampan suaminya ini.
"Ganteng banget, tapi nafsuan. Gak sanggup gue kalo tiap hari dia minta jatah. Mana ganas banget, punggung gue juga di gigit mulu," gumam Ashel.
Namun ketika pandangannya melirik ke arah dinding, dimana disana ada jam yang menempel. Ashel membulatkan matanya melihat arah jam yang menunjukan pukul berapa.
Dengan gerakan cepat ia bangun sampai membuat suaminya juga terbangun.
"Argghhhhh yang," erang Kavin. Ashel tidak menjawab ucapan suaminya sebab saat ia bangun, **** ************* terasa sangat perih dan sakit. Bahkan ia sampai mengeluarkan air mata.
"Bangunnya pelan pelan dong. Kan sakit kalo main di cabut kayak gitu," gerutu Kavin.
Tiba tiba Kavin mendengar isak tangis dari mulut istrinya. Wajah yang tadinya kesal pun kini berubah menjadi khawatir.
"Kamu kenapa, apa yang sakit?" Tanya Kavin khawatir.
"S-sakit. Kamu brutal banget. Jahat tahu gak?! Aku gak mau kayak gitu lagi. Perih mas," adu Ashel terisak pada suaminya.
Kavin menggaruk kepalanya yang gatal. Ya, ini juga salahnya karena terlalu bersemangat semalam.
"Sstttt, maafin aku ya," ucap Kavin. Ia menarik Ashel ke dalam pelukannya. Tangannya mengusap usap punggung polos Ashel, berharap istrinya itu berhenti menangis.
"Perih banget mas."
"Iya iya aku tahu. Maafin aku, aku siapin air dulu buat kamu berendam di bathup ya? Biar sakitnya berkurang," ucap Kavin.
"Tapi aku ada kelas online. Aku barus masuk kuliah masa udah absen aja," ucapnya purau.
Kavin mengecup kening Ashel, "Udah aku ijinin sama dosen kamu. Kamu tenang aja."
Tbc.
Mo nangis nulisnya, takutnya meleset dan yang baca gak dapet feellnya😔🤕
__ADS_1
Kalo typ maap y ges. Ramein.