
SALTOOO🤸♀️🤸♀️🤸♀️
.
.
.
Happy reading♡
Ayu dan Rafello saling tukar pandang saat Kavin menyerahkan sebuah map pada Ashel. Ayu sudah menebaknya jika itu adalah map berisi sertifikat mansion ini sedangkan Rafello tidak tahu, ia jadi kepo sendiri dan mendekat ke arah Ashel. Ia merebut map itu begitu saja. Dan membukanya.
"Awas sobek," peringat Kavin. Rafello tidak peduli dan kembali melihat map yang sudah dia buka. Matanya melotot tak percaya melihat tulisan yang tertera disana.
"Bang, gue jadi adek lo udah dua puluh dua tahun tapi lo gak pernah kasih barang gedean kayak gini. Giliran sama Ashel lo kasih," ucap Rafello dengan mimik wajah sedih. Sedangkan Kavin hanya menatapnya jengah. Drama dimulai.
Bukk...
"Ya jelas beda anjir. Dia statusnya istri gue jelas gue harus bahagiain dia. Kejayaan suami terletak di doa istri," ucap Kavin. Setelah melayangkan bantal ke arah adiknya.
"Lah, kan gue punya aliran darah yang sama kayak lo," ucap Rafello.
"Kalo lo mau, tanda tangan aja sertifikatnya dari pada lo iri," ucap Ashel.
"Gak gitu maksudnya Shel. Gue becanda astaga," ucap Rafello.
Kavin pun merebut map itu dan kembali memberikannya pada istrinya.
"Jangan dengerin dedemit itu. Tanda tangan aja yang," ucap Kavin.
"Enggak mas. Aku emang gak pantes terima ini dari kamu. Ini kemahalan," ucap Ashel. Entah kenapa rasanya cukup sakit saat Rafello iri padanya. Apalagi saat ia mengatakan memiliki aliran darah yang sama dengan Kavin.
Mungkin itu terdengar biasa saja namun tidak bagi Ashel. Hatinya tiba tiba merasa sakit. Padahal sejak dulu ia dan Rafello sering bertengkar.
"Yaelah kakak ipar, serius gue becanda. Jangan diambil hati gitu dong," ucap Rafello.
__ADS_1
"Enggak Fell, yang lo bilang emang bener. Gue cuma istri dia dan itu cuma status aja. Suatu saat status bisa berubah kan?" Tanya Ashel tertawa. Padahal jelas di pelupuk matanya sudah menggenang air mata.
Kavin melemparkan tatapan tajam ke arah Rafello. Ia benar benar ingin menggeplak adiknya saat ini juga.
"Shel, bener yang dibilang laki lo. Jangan dengerin demit ini. Dia suka ngawur, kan lo tahu sendiri dia kalo ngomong suka gak jelas," ucap Ayu. Ia sudah menyadari situasinya saat ini. Tadinya masih biasa saja namun akibat ucapan Rafello tadi semuanya berubah.
"Gak usah menyangkal Yu, itu faktanya. Rafello bener," ucap Ashel.
"Yang," panggil Kavin.
"Enggak usah mas. Kita mending tinggal di rumah lama aja. Atau kalo enggak biar aku tinggal di mansion ayah aja, kamu disini," ucap Ashel membuat Kavin melotot. Yang benar saja sepasang suami istri tinggal terpisah?
"Jangan dengerin dia. Sekarang kamu mau apa hm? Makan buah? Atau jalan jalan?" Tanya Kavin.
"Pulang ke mansion ayah. Tapi mau makan dulu, laper," ucap Ashel. Ia pun bangun dari duduknya dan menarik Ayu untuk ikut makan bersama. Ayu hanya menurut saja karena jika ia menolak takut membuat perasaan sahabatnya semakin buruk.
"Jangan kayak gitu lagi Fell. Kamu hargain dia, gimana pun dia kakak ipar kamu. Becanda boleh tapi tolong lihat situasinya. Akhir akhir ini dia berbeda," ucap Kavin. Ia pun pergi menyusul istrinya yang berjalan ke meja makan.
Rafello sendiri menggaruk kepalanya. Apa ia terlalu keterlaluan tadi? Padahal ia hanya becanda dan Ashel sudah terbiasa dengan candaan itu. Biasanya.
"Bang. Sorry, gue gak maksud kayak gitu," ucap Rafello.
"Udah lupain. Sekarang kamu pulang dulu sekalian bawa Ayu biar abang yang urus Ashel," ucap Kavin. Rafello pun mengagguk patuh ia kemudian mengkode pada Ayu untuk pergi dari sana.
Sedangkan Ashel karena melamun, ia sampai tidak sadar Ayu sudah pergi dari sana. Entah mengapa ia jadi seperti ini. Rasanya ini bukan dirinya.
Saat Ashel akan memakan kembali makanannya, tiba tiba bau sayur itu sangat menyengat menurutnya. Ia pun menjauhkan piring miliknya. Kavin yang sejak tadi sudah duduk di sebelah Ashel pun hanya diam memperhatikan gerak gerik istrinya.
Ashel menolehkan kepalanya ke arah Kavin. Tatapannya berubah jadi sendu. "Laper. Tapi ini jadi gak enak mas."
"Kamu mau makan apa? Biar mas pesenin," ucap Kavin. Tangannya terangkat untuk mengelus kepala istrinya.
"Gatau. Semua makanan di meja ini kan makanan kesukaan aku tapi kenapa semuanya jadi eneg kayak gini," ucap Ashel.
"Buah gak mau?" Tanya Kavin. Pasalnya setahu ia, istrinya ini adalah maniak buah.
__ADS_1
"Enggak," ucap Ashel. Ia pun terdiam. Memikirkan makanan apa yang enak namun pikirannya tidak bisa diajak berkompromi. Ia pun berjalan menuju kulkas, siapa tahu ada makanan yang bisa ia makan. Namun nihil.
"Mass," rengek Ashel. Ia langsung memeluk suaminya dan menangis begitu saja. Rasanya sakit hati sekali saat tidak menemukan makanan yang ia mau.
"Yaudah kita keluar aja gimana? Cari makanan yang kamu mau," ucap Kavin. Ia sebenarnya ingin sekali membahas soal sertifikat itu pada istrinya. Namun saat melihat tingkah istrinya yang seperti ini, ia jadi mengurungkan niatnya.
Ashel pun mengangguk dan mengikuti suaminya. Entah akan kemana Kavin akan membawanya. Semoga saja makanan itu bisa masuk ke perutnya.
Ashel naik ke dalam mobil, entah kenapa perasaannya jadi tidak enak. Saat mobil menyala dan akan melaju, tiba tiba ia menutup mulutnya.
"Kenapa?" Tanya Kavin.
"Mobilnya bau. Aku mual. Berhenti om Josh, Ashel gak kuat mau muntah," ucap Ashel. Josh pun mematuhi ucapan Ashel. Ia menghentikan mobilnya.
Ashel keluar begitu saja dari dalam mobil dan muntah di pinggir jalan yang ada di rumahnya. Kavin tentu saja keluar untuk mengecek keadaan istrinya.
"Kamu sakit yang? Kita periksa ke dokter aja yuk," ajak Kavin. Ashel menggeleng lemah.
"Mau bobo aja mas. Kepala aku pusing," ucap Ashel. Kavin pun mengangguk dan menggendong istrinya.
"Tuan, satu jam lagi kita akan rapat," ucap Josh mengingatkan. Kavin hanya mengangguk sekilas dan membawa istrinya masuk ke dalam rumah itu lagi.
Kavin tidak perlu cape cape berjalan ke lantai dua sebab di rumahnya dilengkapi lift.
Saat sampai di kamar, Kavin merebahkan tubuh istrinya perlahan. "Kamu belum makan yang. Makan dulu ya?"
Ashel menggelengkan kepalanya. Tangannya terulur untuk menarik kepala suaminya. Kavin terkejut karena istrinya menciumnya tiba tiba. Ia terus memperhatikan mimik wajah istrinya saat ciuman itu terlepas.
"Kenapa? Ada yang kamu mau?" Tanya Kavin. Ashel bukannya menjawab tapi ia malah kembali menyatukan kembali bibir mereka. Kavin sudah menduga apa keinginan istrinya ini. Terpaksa ia harus kembali absen di meetingnya kali ini.
Sesekali asel yang duluan minta kan gak papa. Sama suami sendiri y
Tbc.
__ADS_1
Ramein guys. Kalo typ maapin.