My Little Wife

My Little Wife
28. Paris


__ADS_3

"Loh? Baju kamu kenapa, sayang?" Tanya Kenzo saat melihat baju Vanes basah di bagian pundak


Vanes menggeleng sambil tersenyum. "Nggak kenapa-kenapa. Tadi ada turis yang nabrak aku terus air minumnya tumpah."


"Perlu ganti baju?" Tanya Kenzo.


Vanes duduk di hadapan Kenzo sambil menaruh piring yang berisi makanan khas prancis. "Nggak usah, Kak."


"Ya udah kamu sarapan!" Suruh Kenzo.


Vanes mengangguk. "Iya."


Mereka berdua makan dalam keheningan. Hanya ada suara orang-orang berbicara dengan bahasanya masing-masing. Kenzo menatap istrinya yang lahap memakan makanan khas prancis itu. Dia tersenyum. Kenzo bahagia bisa menikah sah dengan Vanes. Ditambah lagi tak ada Juna yang selama dua tahun ini tak menganggu kehidupannya.


"Vanessa, kamu mau jalan-jalan kemana?" Tanya Kenzo sambil meminum orange juice.


"Terserah deh, Kak. Em, kalau ke menara eifel gimana?"


"Usul yang bagus, sayang."


***


Vanes dan Kenzo berfoto berdua. Senyum Vanes selalu tercetak. Dia memang pernah kesini, tapi paris lebih indah. Dia takjub dengan keindahan dengan negara ini.


Tapi, kecintaanya dengan Indonesia tak tergoyahkan. Indonesia banyak kenangan. Selain itu, disana adalah tempat kelahirannya.


"Aku ingin melahirkan disini nantinya, Kak." Kata Vanes sambil memeluk Kenzo.


"Kamu mau tinggal disini?" Tanya Kenzo.


Vanes menggeleng. "Aku mencintai Indonesia, Kak. Seperti aku mencintaimu."


Kenzo mencium dahi Vanes. "Kalau kamu ingin melahirkan disini nantinya, aku akan menurutinya."


"Terima kasih sudah menjadi suamiku yang pengertian, Kak." Kata Vanes.


Kenzo mengangguk. Senyum dan wajah tenangnya itu menghias. Vanes begitu mencintai dan menyayangi Kenzo. Hidupnya bahagia dengan Kenzo. Walaupun dia sudah di lupakan oleh kedua orang tuanya, tidak apa. Kenzo selalu setia di sampingnya.


Sifat sabar Kenzo layaknya Tasya. Kemudian, Sifat tegas dan penyabar Kenzo mampu menggantikan Dylan. Jika rindu, dia bisa memeluk Kenzo. Lebih bahagia lagi, saat Juna sudah tidak pernah menampakkan batang hidungnya. Entah kemana perginya.


"Ayo, Kak. Kesana! Liat burung merpati. Banyak banget." Ajak Vanes antusias.

__ADS_1


Kenzo mengangguk. Tangannya digunakan untuk menggandeng tangan mungil Vanes. Keduanya merasa bahagia. Vanes selalu berharap seperti ini dengan Kenzo. Selalu bahagia. Tidak ada halangan apapun dalam hidupnya.


Merpati berwarna putih bersih itu menyambut kedatangan Vanes dan Kenzo dengan cara bertengger di pundak Vanes. Kenzo tersenyum. Segera dia mengabadikan momen itu.


"Lihat. Bagus kan?" Kenzo menyodorkan handphonenya ke Vanes.


"Wah iya. Simpan ya, Kak?"


"Pasti!"


Vanes lebih asyik bermain dengan ribuan burung merpati itu. Dia memberinya roti yang di beli di sebuah kedai. Kenzo bersyukur istrinya itu melupakan beban masalah yang di hadapinya. Hal yang di takutkan oleh Kenzo adalah saat tiba-tiba Vanes rindu dengan orang tuanya. Jika sampai itu terjadi, dia tidak tahu harus melakukan apa.


Vanes terlalu bahagia dengan merpati-merpati yang berterbangan kesana-kesini. Begitu juga dengan Kenzo yang terlampau bahagia melihat sang istri. Mereka berdua tidak sadar jika ada yang tertegun melihat mereka. Tatapan penuh kerinduan.


"Vanessa! Kenzo!" Panggil salah satu dari mereka bertiga.


Kenzo dan Vanes menoleh. Mata Vanes melebar. Begitu juga dengan Kenzo yang terkejut. Ada Tasya, Dylan dan pastinya Hana.


"Ma-Mama?" Vanes tergagap. Dia langsung berjalan ke arah Kenzo. Hatinya masih sakit mengingat hal itu. "Apa yang kalian berdua lakukan disini?"


"Koreksi! Bertiga." Kata Dylan. "Kami bertiga sedang liburan."


Hati Vanes merasa tertohok. "Oh."


Kali ini Kenzo yang menjawab. "Bulan madu."


Tasya dan Dylan tersenyum bahagia. "Sebentar lagi kita pasti akan punya cucu, sayang." Kata Dylan.


"Aku belum hamil." Jawab Vanes singkat.


Tasya mendekat ke arah Vanes. "Kamu sudah lebih tinggi dari sebelumnya." Vanes hanya tersenyum canggung. Walau yang ada di hadapannya ini adalah ibunya sendiri, tetap saja Vanes merasa canggung dan berbeda.


"Vanessa. Halo?" Sapa Hana sambil tersenyum ramah.


Vanes menatapnya dengan aura kebencian yang mendalam. Bagi Vanes, Hana adalah sumber penyebab kejauhannya dengan mama papanya.


Kenzo menggenggam erat tangan Vanes. Seolah-olah Kenzo tahu jika Vanes akan meluapkan amarahnya. Dia tidak ingin Vanes marah-marah.


"Di jawab sapaan kakakmu dong, sayang." Ucap Dylan sambil membelai rambut Vanes.


Tasya tersenyum ke arah Vanes. Ada tatapan haru melihat Vanes. Dia tidak bisa mengawasi tumbuh kembang Vanes. Tasya terharu melihat Vanes yang sudah tumbuh besar dan kian beranjak dewasa.

__ADS_1


Vanes mendongak menatap ke arah Kenzo yang tersenyum sambil mengangguk. Menandakan dia harus menyapa balik Hana. Tapi, dia kuat dengan pendiriannya. Dia hanya mengangkat bahunya acuh.


"Kenapa aku harus menyapa orang yang telah membuat hubunganku dengan kedua orang tuaku renggang?" Cetus Vanes. Dylan terenyak. Sementara Hana langsung menundukkan kepalanya.


"Vanessa." Tegur Kenzo lembut. "Jangan seperti itu."


Vanes kembali mengangkat bahunya acuh. Tanda tidak peduli dengan kehadiran Hana. Kakak? Dia ini anak tunggal. Tidak ada namanya kakak atau adik di dalam hidupnya.


"Kamu kenapa jarang ke rumah, Nak?" Tanya Dylan mengalihkan topik pembicaraan.


"Aku takut di tampar lagi." Jawab Vanes yang langsung mengenai sasaran. Dylan langsung diam seribu bahasa.


"Kami berdua rindu sama kamu, sayang." Kata Tasya.


"Kan bisa datang ke rumah Vanes sama Kak Kenzo. Lagian rumah itu alamatnya tidak pindah. Kalian berdua kan tahu." Balas Vanes sambil memendam rasa marahnya.


"Kamu nggak rindu sama Sinta?" Tanya Tasya lagi.


"Tentu saja rindu. Aku harap kamarku masih sama. Tidak di tempati oleh orang asing itu, Ma."


Tasya mengangguk. "Kamarmu masih sama, sayang. Kapan-kapan kamu datang ke rumah ya?"


"Iya. Kalau aku sama Kak Kenzo ada waktu." Kata Vanes kemudian pergi begitu saja.


Kenzo menatap kepergian Vanes. Dia harus mengejarnya.


"Ma, Pa, Maafkan Vanessa ya? Kemungkinan Vanessa masih emosi." Kata Kenzo sambil mencium punggung tangan Tasya dan Dylan.


"Iya, Kenzo. Maaf telah mengacaukan kebahagian kalian berdua." Kata Tasya sendu.


"Kenzo, tolong jaga Vanes ya? Kapan-kapan bawa dia ke rumah kami. Pintu rumah kami selalu terbuka untuk kalian berdua." Timpal Dylan.


"Iya, Ma, Pa. Permisi ya, aku harus mengejar Vanes."


Tasya dan Dylan di landa rasa kehilangan. Putri semata wayangnya begitu membencinya. Dylan jadi merasa bersalah dengan mengangkat Hana sebagai anaknya. Namun, mau bagaimana lagi? Semuanya sudah terjadi.


Vanes menjauh dari hidupnya. Kebahagian Vanes sekarang bersama Kenzo. Bukan bersamanya lagi. Dylan dan Tasya sangat teramat rindu dengan Vanes. Dylan ingin sekali memperlakukan Vanes seperti anak kecil. Sedangkan Tasya, dia sangat rindu dengan celotehan ria Vanes.


Di lain sisi, Vanes menangis di pelukan Kenzo. Dia tidak tega melihat ekspresi kedua orang tuanya.


Kenzo mengelus sayang punggung Vanes. Tak peduli jika Bajunya basah karena terkena air mata istrinya.

__ADS_1


"Jangan menangis lagi. Saat nanti kita pulang ke Indonesia, kita akan selalu mengunjunginya." Kata Kenzo menenangkan.


"Aku benci Hana, Kak. Aku harus menyingkirkannya."


__ADS_2