
"Nyonya? Ada apa?" Tanya Sari saat melihat raut wajah Vanes yang pucat.
"Sari, cepat bayar. Kita harus segera pulang. Aku tunggu di mobil." Kata Vanes kemudian dia keluar dari minimarket.
Ketakutan yang di rasakan dulu telah kembali. Vanes rasa hidupnya akan berjalan mulus seperti jalan tol. Tapi nyatanya tidak. Bayangan hitam itu datang kembali. Yang pastinya tidak akan membuat hidupnya tenang.
Juna. Kenapa dia datang kembali ke kehidupannya?. Vanes benci ini. Mengira jika hidupnya telah sempurna adalah hal salah.
"Aku harus bagaimana?"
***
Vanes melihat Kenzo sedang sibuk dengan beberapa dokumen dan berkas yang menumpuk. Mungkin, dia tidak harus bercerita tentang Juna kepada Kenzo. Dia takut jika Kenzo kenapa-kenapa.
Vanes masuk ke dalam kamar saja Kenzo tidak tahu atau lebih tepatnya tidak menyadari. Terbukti jika Kenzo sangat fokus dengan pekerjaannya.
Vanes memilih merebahkan tubuhnya di kasur. Badannya terasa pegal dan letih. Kepalanya pusing. Dia tidur menghadap Kenzo yang duduk di sofa.
Wajah Kenzo semakin hari semakin tampan. Rahangnya keras. Tatapan elangnya menghiasi wajahnya. Selain itu, Kenzo juga memiliki wajah yang bersih. Vanes mencintai Kenzo sepenuh hatinya. Walaupun jarak mereka cukup jauh, tidak jadi masalah. Cinta tidak memandang hal itu.
Merasa sedang di awasi, Kenzo mendongakkan kepalanya. Dia terkejut ketika melihat Vanes.
"Sayang? Sudah pulang? Kapan? Kok aku nggak denger kamu buka pintu." Kata Kenzo. Dia meletakkan laptop di meja kemudian menghampiri sang istri tercintanya.
"Tadi. Kak Kenzo terlalu serius jadi tidak menyadari jika aku sudah masuk ke kamar." Vanes tersenyum.
Kenzo menggenggam tangan Vanes sambil menatapnya lekat-lekat. "Maafin aku ya."
"Kenapa, Kak?" Tanya Vanes sambil mengernyitkan dahinya.
Kenzo melepaskan tangannya dari Vanes kemudian dia menggelengkan kepalanya. Vanes menyentuh bahu Kenzo. "Kenapa, Kak?" Tanyanya mengulangi pertanyaan sebelumnya.
Kenzo menatap iba Vanes. Dia mencium kening Vanes. Setelah itu, dia keluar dari kamarnya.
Dalam benak pikiran Vanes, banyak pertanyaan. Kenapa sikap Kenzo seperti itu. Ada apa dengan Kenzo?.
***
Hana tersenyum sumringah ketika Dylan memberi kado ulang tahunnya sebuah mobil. Untuk kesekian kalinya, Hana merasa sangat bahagia dan beruntung telah diangkat menjadi anak Dylan dan Tasya.
"Selamat ulang tahun ya, anakku." Kata Dylan sambil memberikan kunci mobil ke Hana
"Terima kasih, Pa." Hana menerima kunci mobil.
Tasya memberikannya boneka beruang besar bewarna putih. "Happy Birthday!" Serunya.
"Thanks, Mam." Jawab Hana.
__ADS_1
Hana sangat bahagia. Dia merasa paling bahagia. Diantara kebahagian mereka, ada Sinta yang menetap mereka dengan tatapan sedih.
Sinta rindy dengan Vanes. Rindu dengan keharmonisan keluarga Dylan yang dulu.
***
Pagi-pagi, Vanes tidak menemukan Kenzo di sampingnya. Dia mencari Kenzo di penjuru ruangan rumah. Tetap saja tidak ada.
Frustasi. Kepala Vanes langsung pusing. Aneh. Suaminya itu tidak pernah seperti ini. Helaan nafas kecil terdengar. Ucapan Kenzo semalam terlalu bermakna hingga dia tidak tahu apa artinya.
Para pelayan yang sudah bangun lebih awal, di sibukkan dengan tugas mereka masing-masing. Sari dengan pekanya membuatkan teh hangat untung majikannya.
"Kau tahu kemana suamiku?" Tanya Vanes ketika Sari menaruh teh buatannya di meja tamu.
Sari menunduk. "Tidak, Nyonya. Mustahil jika pagi-pagi buta Tuan Kenzo pulang atau pergi."
"Lalu? Dimana dia?" Nadanya mulai naik satu oktaf.
Sari semakin menundukkan kepalanya. "Kami para pelayan, tidak tahu keberadaan Tuan Kenzo."
Vanes berdiri dari duduknya. Tatapan tajam di layangkan kepada Sari. "Dasar! Tidak berguna!"
"Vanessa? Marahmu terlalu berlebihan untuk pagi buta ini.
Keduanya langsung menoleh ke asal suara. Kenzo sedang berjalan ke arahnya sambil tersenyum tenang. Vanes menghembuskan mafasnya. Badannya lemas jatuh di kursi.
Kenzo tersenyum. "Ada apa denganmu?"
"Seharusnya aku yang bilang begitu! Ada apa denganmu? Kemana saja kamu, Kak?"
Kenzo memeluk Vanes ketika Vanes menangis. Kenzo juga ikut menangis. Ada hal yang di sembunyikan olehnya. Tapi, dia tidak tega untuk mengatakannya. Dia terlalu menyayangi Vanes hingga tak kuat hanya untuk melihatnya menangis karena ulahnya.
"Maaf. Maafkan aku."
***
07. 48
Juna mengawasi gerak gerik mangsanya yang sedang berjalan di apit dengan empat orang berseragam hitam. Juna tahu jika itu adalah bodyguard yang menjaga Vanes.
Senyum jahatnya terukir. Juna akan menculik Vanes. Baginya, hal inilah yang harus di lakukan sejak dulu.
Juna turun dari mobilnya. Sebuah pistol sudah ada di balik jaket hitamnya. Saat kawasan sepi orang, Juna menempatkan sasaran peluru kepada keempat orang itu.
Dan..Tepat mengenai sasaran.
Vanes terlampau terkejut. Matanya menjelalat nakal kesana kemari. Feelingnya mengatakan jika situasi ini sedang kacau. Dia melirik para bodyguardnya yang bersimbah darah.
__ADS_1
"Jika aku harus membunuh orang demi keselamatanku, akan ku lakukan." Kata Vanes. Kemudian dia mengambil empat pistol sekaligus yang di bawa para bodyguardnya yang sudah kehilangan nyawa itu.
Vanes berlari masuk ke dalam mobilnya. Juna mengejarnya di belakang. Kepala Vanes menoleh ke belakang. Lantas, dia langsung berhenti berlari sambil menatap Juna yang ikut berhenti berlari juga.
Vanes menodongkan dua pistolnya.
Juna menatapnya tenang. "Lihat. Kita bertemu lagi."
"Shut up! Jun! Aku benci hal ini. Tapi, jika kamu masih berbuat nekat, akan ku tarik pelatuk ini dan peluru akan mengenaimu." Kata Vanes. "Kamu dengar?"
"Bermain santai saja, Nona Vanessa. Ini akan menjadi kejutan jika kamu berani membunuhku."
"Akan ku buat kamu tidak bisa berjalan!" Kemudian Vanes menarik pelatuknya. Mengarahkan pistol ke kaki Juna.
"ARGH! SIALAN!" Maki Juna kesakitan.
Hal ini di gunakan Vanes untuk berlari. Sekuat tenaga dia berlari masuk ke dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan. Nafasnya masih terengah-engah. Dia menaruh pistol di samping jok kemudi. Tangannya di tatap.
"Apa yang telah ku lakukan? Ampunilah aku."
***
Mobil hitam itu masuk ke dalam garasi. Vanes keluar dari mobil. Dia menatap mobil itu. Demon srt. Mobil kesayangannya.
Kenzo tiba-tiba masuk ke dalam garasi. "Untuk apa kamu disini?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin membenahi mesin mobilku."
"Tidak ku perbolehkan untuk hal itu. Aku takut kamu menjadi liar. Balapan liar. Anak jalanan, tidak bisa kubayangkan hal itu." Kata Kenzo.
Vanes berdecak. "Ini bukan fast and furious, kak!"
"Aku tahu. Tapi, apa salah jika aku mencegahnya?"
"Keempat bodyguardmu telah meninggal." Kata Vanes langsung membuat Kenzo terperangah. Kemudian dia mengeluarkan pistolnya. "Aku hampir saja membunuh Juna."
"Juna? Apa maksudmu dengan Juna?"
"Dia kembali, Kak. Keempat bodyguardmu meninggal di tangan Juna." Kata Vanes.
Kenzo memasang wajah yang serius. Jika sudah seperti ini, dia harus segera bertindak. Dia menatap Vanes yang masih setia memegang benda berbahaya itu.
"Taruh di tempatnya, Vanes." Suruh Kenzo.
Vanes menggeleng. "Tidak. Benda ini yang melindungiku, Kak." Kemudian Vanes pergi.
Kenzo mengerutkan dahinya. Kenapa dengan Vanes? Sekarang, istrinya itu sudah berani membantah ucapannya.
__ADS_1