
YOROBUN!!!
Kayaknya novel ini bakalan end bulan ini deh✊️
.
.
.
Happy reading♡
Beberapa hari berlalu, akhirnya Kavin sembuh dari sakitnya. Selama dua hari lamanya Kavin demam tinggi menyebabkan Ashel tidak bisa selalu mengurus anak anaknya. Karena ada bayi besar yang harus ia urus. Bahkan Kavin akan marah dan uring uringan ketika Ashel meninggalkannya ketika tidur. Padahal saat itu Ashel sedang memberikan asi pada anak anaknya juga. Belum lagi Ashel harus mempompa asinya untuk stok.
Kemarin benar benar Ashel kelelahan. Ia harus mengurus suaminya ditambah Ling juga ikutan rewel. Entah kenapa. Sepertinya Kavin dan Ling memiliki ikatan batin yang berbeda dengan Kai dan Briella. Mau tak mau Ashel pun keluar masuk kamarnya dan juga kamar bayi bayinya.
Untungnya sekarang Kavin sudah sembuh. Namun Kavin belum diijinkan Ashel ke kantor. Tubuhnya masih lemah, bahkan Kavin selalu malas keluar kamar karena lemas.
Kamar Ashel sudah dibersihkan. Jadi bayi bayinya bisa masuk. Ashel juga membuka jendela kamarnya cukup lebar. Membiarkan udara segar masuk.
"Mau makan lagi? Atau mau nyemil?" Tanya Ashel.
"Enggak, sama kamu sama baby's aja disini. Itu udah cukup," ucap Kavin. Pria itu menyandarkan bahunya pada kasurnya. Mereka berlima duduk lesehan diatas karpet bulu. Kai dan Briella sibuk bermain lego sementara Ling menempel pada papinya.
"Mas, Ling kayaknya punya ikatan batin yang kuat deh sama kamu. Buktinya kemarin pas kamu sakit, Ling ikutan rewel gak jelas. Dikasih asi gak mau makan juga gak mau mau. Aku sampe stres rasanya kemarin," ucap Ashel. Kavin tersenyum dan merangkul bahu istrinya.
"Maafin aku ya, gak bantu kamu jaga baby's," ucap Kavin.
"Gak papa. Aku gak masalah, cuma aku mau ngomong itu aja ke kamu. Seenggaknya aku punya kamu sebagai teman cerita," ucap Ashel.
Ling, bayi itu hanya diam. Sesekali menatap papi dan maminya yang sedang berbicara. Ia memperhatikan maminya, entah apa yang dipikirkan Ling saat menatap maminya.
"Pi," ucap Ling membuat Ashel yang sedang berbicara berhenti. Ia pun melihat ke arah Ling begitu juga Kavin.
"Ling, kamu bicara apa?" Tanya Ashel. Ia mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala anaknya.
"Piii," ucap Ling.
"Iya Ling, kenapa? Mau duit? Mau saham?" Tanya Kavin. Refleks Ashel mencubit paha suaminya.
__ADS_1
"Ngawur ih, bayi yang belum dua tahun udah ditawarin begituan. Dia mana ngerti mas," ucap Ashel.
"Becanda cinta ku," ucap Kavin.
Ling terus saja memanggil manggil papinya. Padahal jelas jelas saat ini bayi itu sedang berada di pangkuannya. Kini Briella dan Kai yang mendekat ke arah mereka. Kai duduk di pangkuan Ashel sedangkan Briella duduk di pangkuan papinya bersama dengan Ling. Iya, mereka duduk bersebelahan.
"Pi," ucap Ling. Membuat Kai dan Briella mengikutinya.
"Curang ya kalian, kan udah mami bilang harus nurut mami. Coba bilang mami," ucap Ashel.
"Piiii."
"Mami sayang, mami. Ayo bisa dong, kalian bertiga kan udah pinter," ucap Ashel. Kini Kai juga ikut ke gendongan papinya. Ia duduk di tengah. Ling di sisi kiri, Briella di sisi kanan.
"Piiii."
"Terserah," ucap Ashel. Wanita itu pun pergi dari sana meninggalkan suaminya dan juga anak anaknya.
"Lihat, mami ngambek tuh kayaknya. Kenapa kalian gak mau manggil mami? Kan sama mudahnya tinggal panggil," ucap Kavin. Ketiga bayinya melihat ke arahnya.
"Ma-mi," ucap Kavin menganjarkan anak anaknya.
"Astaga, kalian ini," ucap Kavin tertawa. Ia pun mengambil ponselnya dan menekan tombol kamera. Ponselnya disimpan di depan mereka. Kavin menggunakan timer jadi ia tidak perlu susah susah untuk mengambil fotonya bersama anak anaknya.
"Sini deketan kalian. Jarang jarang papi mau foto," ucap Kavin.
Cekrek.
Satu jepretan foto berhasil diambil oleh kamera ponselnya. Kavin pun melihat hasilnya. Tidak ada yang tersenyum, wajahnya dan juga ketiga anaknya sama sama flat alias datar. Kavin terkikik geli melihatnya. Ia pun menyimpan ponselnya dan membawa anak anaknya ke maminya. Mereka harus membujuk maminya agar tidak ngambek lagi.
Kavin dibantu suster Lizz dan Lee untuk turun ke lantai satu. Ternyata Ashel sedang menonton tv sembari nyemil anggur kesukaannya.
"Kalian bisa kembali," ucap Kavin.
"Baik tuan," ucap Lee dan Lizz.
Ling berjalan ke arah maminya. Ia merentangkan tangannya seolah olah ingin digendong. Ashel yang melihatnya pun menyimpan anggurnya di meja. Namun bukannya memangku anaknya, Ashel justru menatapnya.
"Bilang mami dulu," ucap Ashel.
__ADS_1
"Neh," ucap Ling. Bayi ini memang sudah bisa mengatakan beberapa kata namun tidak jelas. Kadang juga berbicara tidak jelas. Sama halnya seperti Kai juga Briella.
"Miii, neehh," ucap Ling merengek.
"Gitu dong, jangan bandel kalo diminta sama mami," ucap Ashel terkekeh. Ia kemudian memangku Ling dan memberikannya Asi. Sedangkan Briella tiba tiba tertidur diatas pangkuan papinya. Kai sendiri juga minta asi, mau tak mau Ashel harus mengeluarkan kedua asinya sekaligus.
Beberapa menit berlalu, Kavin memanggil Magi untuk menidurkan Briella. Setelah Briella dibawa, kini Kavin menahan tubuh Ling karena Ashel kesusahan. Bagaimana tidak susah, Kai dan Ling menyusu dengan posisi saling membelakangi. Mereka menggunakan punggung mereka sebagai sandaran masing masing. Kai melepaskan asi maminya dan tertidur.
"Mas, udah dilepas sama Kai. Ambil dia pelan pelan," bisik Ashel.
Kavin mengangguk dan beralih pada Kai. Perlahan ia memangku tubuh Kai. Masih belum nyenyak Kai tertidur jadi Kavin menimang nimangnya. Untungnya Kai selalu tidur ketika ditimang oleh papinya.
Ashel melepaskan asinya dari mulut Ling kemudian membalikan posisi tubuhnya. Bagaimana pun Ling harus menyusu dengan posisi yang benar. Ling sempat terganggu dan akan menangis namun Ashel buru buru memberikan asinya. Ling pun kembali tertidur.
Lizz tanpa diperintah mendekat dan menerima Kai untuk ia bawa ke kamar. Menyusul Briella. Sementara Ling masih saja anteng menyusu.
Kavin duduk di sebelah istrinya. Ia melihat Ling yang dengan kuatnya meminum asi maminya. Ashel sendiri dengan enjoy menikmati tayangan di depannya.
"Sisain papi dong Ling, jangan diabisin sendiri," ucap Kavin pelan.
Seolah mendengar ucapan papinya. Ling berhenti menyusu dan tertidur pulas. Ashel yang keheranan pun melihat ke arah suaminya.
"Kayaknya dia bakalan jadi copy-an kamu deh," ucap Ashel.
"Harus," ucap Kavin tersenyum. Ia mengecup pipi sang istri kemudian memanggil suster Lee untuk membawa Ling menyusul Kai dan Briella.
Setelah Ling dibawa, Ashel merentangkan otot ototnya. Ia bahkan menggeliat, kedua lengannya pegal pegal.
"Sini aku pijitin," ucap Kavin. Ashel memberikan tangannya.
"Cape gak jadi seorang mami?" Tanya Kavin.
"Enggak, kan kewajiban," ucap Ashel.
"Makasih ya, makasih udah bertahan sama sikap aku. Makasih juga udah kasih aku tiga jagoan. Kamu hebat."
Tbc.
__ADS_1