My Little Wife

My Little Wife
41. Minta tolong


__ADS_3

"Loh? Kamu kok udah pulang, Kak?" Vanes menghampiri Kenzo yang terengah-engah di ruang tamu.


Kenzo tersenyum. "I miss you."


"Ih ngapain sih?! Alay banget deh hahaha." Kata Vanes.


Kenzo ikut tertawa. Namun, ucapan Juna masih terngiang-ngiang di otaknya. Kejadian seperti dulu, jangan sampai terulang. Dia tidak mau hal itu terulang lagi.


"Kamu jangan keluar dari rumah ya? Kalau mau keluar izin aku dulu ya? Apa perlu aku suruh Jihan sama Nesya kesini?" Cerocos Kenzo.


"Hei." Vanes memegang kedua pipi Kenzo. "Ada apa, sayang?"


Kenzo ikut memegang kedua pipi Vanes. "Nggak ada apa-apa." Jawabnya sambil mencium dahi Vanes.


"Lah? Iya. Aku bakal di rumah terus. Mungkin, nanti aku mau pergi ke supermarket. Persediaan di kulkas udah habis."


Kenzo mengangguk. Kemudian dia mengeluarkan empat lembar uang seratus ribu. "Ini."


"Buat?"


"Belanja."


"Kan uang bulanan masih ada. Masih banyak. Bahkan buat bulan depan juga bisa." Kata Vanes.


"Udah. Bawa aja."


Vanes menerimanya. "Terima kasih ya, sayang."


"Iya. Aku ke balik lagi ya? Bye sayangg."


"Bye."


Aneh. Ada yang tidak beres ini. Batin Vanes.


***


Vanes di hadang oleh Selena di depan gerbang rumahnya sehingga mobilnya tidak bisa keluar karena hadangannya.


"Sebentar, Pak, Saya mau temeui perempuan itu." Kata Vanes kepada sopir.


Vanes keluar dari mobil. Menghampiri Selena yang ada di depan mobilnya.


"Bisa minggir?" Tanya Vanes.


Mata Selena melotot. "Memangnya, siapa kau?"


"Aku?" Vanes menunjuk dirinya sendiri. "Aku adalah manusia yang tinggal di rumah ini. Aku istri dari pemilik rumah ini. Jadi, tolong minggir."


"Aku tidak akan pergi dari sini sebelum kau mencegah Juna untuk tidak menceraikan aku!" Sentak Selena.


"Bercerai?"


"Iya. Gara-gara kau, Juna menceraikan aku. Kau lah sumber masalah dalam rumah tangga kami!" Selena menuding Vanes.


"Beraninya kamu nekat kesini! Aku sudah bilang kepadamu jika Vanessa bukan masalah dalam rumah tangga kita!" Juna tiba-tiba turun dari mobilnya yang sudah di tepi trotoar rumah Vanes dan Kenzo.


"Juna?" Kaget Vanes dan Selena.


"Vanessa, tolong maafkan kelakuan Selena ya?" Vanes mengangguk.


Selena tak terima. "Aku yang harusnya kamu bela, Jun. Bukan dia."


"Kamu itu salah, Selena!" Sarkas Juna.

__ADS_1


Vanes menyelanya. "Sebaiknya, kalian selesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Jun, jangan ceraikan Selena. Ingat Ketie. Dia masih kecil."


"Hei! Kau itu masih bocah. Jangan sok bijak deh. Bisa diam kan? Ikut campur aja." Balas Selena sambil memelototkan matanya.


"SELENA!" Bentak Juna. "Jika sudah begini, keputusanku untuk menceraikanmu semakin bulat, Selena. Akan ku pastikan hak asuh Ketie jatuh di tanganku."


"Tidak bisa begitu. Aku ibunya!" Kata Selena.


"Vanessa, aku pulang dulu ya. Permisi." Kemudian Juna menarik Selena masuk ke dalam mobilnya dan langsung melesat pergi.


Sepergian Juna dan Selena, Vanes masih tak bergeming dari tempatnya. Ani sampai keluar dari mobil untuk menyusul majikannya itu.


"Nyonya Vanessa?" Panggil Ani.


"Eh." Vanes mengerjap.


"Kita jadi ke pasar?"


"Jadi kok. Ayo."


***


"Kak Kenzo!"


Kenzo mengalihkan pandangannya dari laptop. "Kenapa, sayang?"


"Ta-tadi anu."


"Anu kenapa?" Sela Kenzo.


Detik berikutnya, Vanes memutuskan untuk menggeleng. "Enggak, Kak."


Kenzo beralih sepenuhnya ke hadapan Vanes. "Ada apa, sayang? Kenapa?"


"Enggak, kak." Vanes menidurkan tubuhnya di sebelah Kenzo duduk. "Aku pingin sesuatu."


"Pancake keju." Jawab Vanes sambil nyengir.


Mata Kenzo melirik jam di dinding. Sudah pukul 23.45. Malam-malam begini, beli pancake keju dimana?.


Dengan lembut, Kenzo mengelus rambut Vanes. "Besok ya, sayang. Sekarang udah malam. Kamu tidur aja ya?"


Vanes mengangguk patuh.


"Emang kamu tadi ke pasar sama ke supermarket ngapain?" Tanya Kenzo. Kini jemarinya telah menari ria dia atas keyboard laptop.


"Ke pasar beli kangkung. Ke supermarket beli telur." Jawab Vanes.


Kenzo terbelalak. "Dua tujuan? Cuma beli itu aja?"


"Iya."


"Buat apa kamu beli cuma-cuma gitu, sayang. Buang tenaga aja." Kenzo menepuk jidatnya.


"Tadi sih udah niat gitu mau belanja apa. Tapi, tiba-tiba males gitu. Biasa, bawaan dede' mungkin." Vanes mengelus perutnya.


Kenzo ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Vanes. Tangannya di gunakan untuk ikut mengelus perut sang istri. "Dede' apa mamanya?"


Vanes nyengir. "Dua-duanya sih. Hehe."


"Kamu mau anak cowok apa cewek?" Tanya Kenzo yang masih setia mengelus perut Vanes.


"Emm. Sama saja sih. Tapi, kalau boleh sih cowok dulu aja." Vanes membayangkan jika nantinya punya anak cowok.

__ADS_1


"Namanya?"


"Masih belum kepikiran kalau buat namanya."


Kenzo tersenyum. Dia mencium puncak kepala Vanes dengan sayang. Kenzo berharap jika kehamilan Vanes selalu sehat selalu. Tak ada lagi kata keguguran. Semoga.


***


Selena menelan salivanya ketika Juna menatap nyalang dirinya.


"Aku masih tetap dengan pendirianku."


Juna tetap menggeleng. "Kita akan tetap bercerai. Setelah mengetahui sikapmu itu, keputusanku makin mantap."


Ketie turun dari tangga lantai dua dengan pelan-pelan sambil membawa boneka.


"Mama? Papa?" Ketie memanggil keduanya.


Juna langsung menggendong Ketie. "Ketie. Lihat! Kamu saja tidak bisa menidurkan Ketie. Kamu itu tidak peduli dengan Ketie!"


"Aku peduli, Jun."


"Mama. Jangan malah-malah." Suara lembut Ketie membuat badan Juna terenyak.


"Enggak, sayang. Mama nggak marah-marah kok. Ketie tidur lagi ya?" Bujuk Juna.


Ketie menggeleng gemas. "Enggak mau. Maunya sama Mama Papa."


Mau tidak mau, Juna dan Selena menidurkan anaknya berdua. Mereka berdua saling diam. Tak ada komunikasi. Sibuk dengan jalan pikirannya masing-masing.


***


Dylan dan Tasya datang ke rumah Kenzo. Ini memang secara tiba-tiba. Namun, Kenzo dan Vanes menyambut mereka dengan hangat.


"Apa kabar, Ma, Pa?" Kenzo menyalami punggung tangan Tasya dan Dylan bergilir dengan Vanes.


"Alhamdulillah, baik. Kamu dan Vanes bagaimana kabarnya?" Tanya Dylan.


"Alhamdulillah juga baik, Pa."


"Vanessa? Sini dekat Mama, Nak." Tasya tersenyum.


Vanessa menggeleng. "Aku disini aja, Ma. Deket sama Kak Kenzo."


"Vanessa." Tegur Kenzo lembut.


"Aku mau deket Kak Kenzo aja." Bisik Vanes.


Tasya tertawa. "Iya. Kamu di sebelah suami saja."


"Ada apa, Ma, Pa?" Tanya Vanes


Dylan menarik nafasnya panjang-panjang. "Begini, Kita berdua mau minta tolong ke Kenzo untuk mencari keberadaan Hana."


"Hana kenapa?" Tanya Kenzo spontan.


Vanes langsung menyikut Kenzo. "Ngapain sih peduli sama Hana. Kalau peduli, aku suruh kakak buat tidur di depan." Bisiknya.


Ternyata Dylan dapat mendengarnya. "Tolong, Ken."


"Enggak! Kak Kenzo nggak aku bolehin buat nolong Papa sama Mama, maaf." Vanes berdiri.


Namun, Kenzo menahannya. "Sayang, kamu jangan emosi."

__ADS_1


"Memangnya kenapa, Vanessa?" Tanya Tasya.


"Karena, aku benci sama Hana."


__ADS_2