
" Maafkan aku Jim , ku harap kau menyetujui permintaanku. Aku merasa yakin jika kali ini Eric akan dewasa dan mengalah , bagaiman pun dari dulu Eric bukan pria egois meskipun jiwa egoisnya tetap ada namun tidak sebesar jiwa egoisnya suamiku " batin Ana lirih dan memilih berendam dalam bathup yang mengeluarkan wangi coklat strawberry tersebut.
Malam pun tiba , Rafli yang baru selesai mengurus pekerjaannya kini merasa lelah di tubuhnya . Melihat Ana yang telah terpejam dan seharian tak menyapanya membuat perasaannya merasa bersalah dan bersedih .
" Maafkan suamimu ini sayang " ucap Rafli mengecup kening Ana ..
" Mimipi indahlah " gumamnya.
" Maafkan ayah ya " ucap Rafli mengecup perut Ana. Ana merasa geli lalu menggeliat dan Rafli segera menjauh bergegas ke kamar mandi agar tubuhnya tidak berasa gerah meski hampir seharian penuh berada diruangan yang sejuk.
Ana terbangun karena merasa haus , ia merasa ada tangan kekar yang memeluknya. Di pandang wajah lelah suaminya .
" Maafkan aku mas , bukan maksudku mengabaikanmu . Jika kau hanya mengekang kebebasanku aku bisa namun jangan anak kita " gumam Ana dan segera menyingkirkan tangan Rafli dengan begitu perlahan agar empunya tak terbangun.
" Kok laper ya " gumam Ana segera membuka lemari pendingin . Buah-buahan tersusun rapi di kulkas minimalis nya. Rafli sendiri yang menyediakan buah - buahan terbaik untuk sang istri. Ana mengambil alpukat dan segera mengupas dan memotongnya.
Ana duduk di sofa seraya malahap alpukat dengan penuh penghayatan.
" Tidak.... Jangan tinggalkan aku Ana.... Ana.... Jagan tinggalkan aku Ana " teriak Rafli dialam bawah sadarnya membuat Ana begitu kaget dan segera mendekati Rafli.
" Ana , jangan tinggalkan mas " ucap Rafli.
" Ana , mas tidak bisa hidup tanpa mu Ana , kasihan anak-anak kita .... Ana "ucap Rafli .
" Mas bangunlah " ucap Ana khawatir menepuk-nepuk pipi suaminya.
" Ya ampun mas , kau panas tinggi " ucap Ana segera menelepon siapapun yang di bawah agar membawa kompres ke kamarnya.
" Nur segera bawakan kompres ke kamar ya. Gak pakai lama " ucap Ana dan menutup telepon. Ana segera meraih kotak obat dan melihat ada atau tidaknya obat penurun panas untuk suaminya .
" Mas , bangun mas " ucap Ana dengan mata berkaca-kaca. Ia tak menyangka kedatangan serta ancaman Eric begitu berdampak buruk bagi diri Rafli hingga sampai di alam tidurnya seharusnya sang suami bisa istirahat malah bermimpi buruk.
'' Ana " seru Rafli dari bangun tidurnya...
" Jangan tinggalkan mas '' lirihnya memeluk Ana....
Tok...tok....
'' Tunggu ya mas , ada Nur . Dia nganterin kompresan. Suhu badanmu panas banget mas '' ucap Ana diangguki Rafli pasrah.
Ana membawa baskom kecil berisi air hangat lalu mengompres Rafli dengan penuh kasih sayang .
'' Kenapa bisa sampai demam gini mas '' ucap Ana seraya menyodorkan Rafli obat.
'' Jika sakit bisa membuat mu peduli , maka aku ingin kan sakit " batin Rafli.
" Mas gak mau minum obat " tolak Rafli dan membuat Ana heran , sejak kapan suaminya susah minum obat.
" Ayolah mas , biar sembuh " pinta Ana dan Rafli kekeh menolaknya.
" Baiklah jika begitu " ucap Ana malas berdebat lalu meminum air serta memasukkan obat ke mulutnya. Rafli terbelalak kaget saat sang istri mentransfer obat ke mulutnya dengan cara seperti itu. Wajah Rafli bersemu merah bukan karena panas yang ia alami namun karena perasaan yang sulit ia artikan karena tindakan Ana tadi di luar dugaannya , sementara hal yang lain dirasakan Ana betapa malunya ia.
" Semoga cepat sembuh ya mas "ucap Ana memunggungi Rafli menahan rasa malu.
" Pasti sayang , mas akan segera sembuh. Besok-besok kalau mas sakit kasih minum obatnya gitu ya " goda Rafli .
" Istirahatlah mas .... Aku juga capek " elak Ana .
" Sakit tapi mesum nya gak hilang " batin Ana.
" Iya " jawab Rafli tersenyum. Ana bangkit setelah Rafli di pastikan tertidur pulas. Ana tidak bisa kembali tidur saat belahan jiwanya kini sedang sakit.
Pagi hari Rafli terbangun saat merasakan sedikit berat di tubuh nya , ternyata beban berat yang menimpanya itu adalah Ana. Ana terlihat begitu nyenyak saat Rafli membenarkan posisi tidurnya.
'' bagaimana aku tidak takut kehilanganmu karena setiap detiknya kau membuatku semakin dalam mencintaimu . Terimakasih atas semuanya sayang , mas akan menyelesaikan semua ini secepatnya. Tetaplah jadi wanita yang kuat mendampingiku hingga aku pun mampu untuk bertahan " ucap Rafli dari lubuk hatinya yang terdalam.
" Kalian jangan nakal , jagalah bunda... Jangan membuatnya susah " imbuhnya.
Rafli pun enggan untuk bangun , ia menatap lekat wanita yang begitu ia cintai. Tidak menyangka , di usia yang terbilang cukup muda untuk Ana wanita di itu akan menjadi ibu yang mempunyai anak empat . Berharap saja semoga Rafli gak minta tambah. ...
__ADS_1
" Papa dan mama punya anak tiga , mertuaku juga segitu , mbak Rina punya dua dan mbak Rani malahan hanya satu. Akhirnya aku lah yang paling unggul dari pada yang lainnya. Semoga saja lahiran nanti aman-aman saja " gumam Rafli yang merasa dirinya paling unggul dari pada yang lainnya . Meksi waktu untuknya harus di bagi dengan anaknya namun Rafli bukanlah orang yang polos , ia mempunyai berjuta cara agar tetap bisa bermanja dengan Ana seperti menitipkan anak-anaknya kepada orang tuanya dan itu bisa berhari-hari.
Ana mengerjapkan matanya saat meraba sisi sampingnya dan tidak mendapati Rafli di sampingnya . Terdengar gemerecik air dari kamar mandi dan Ana merasa kesal dan khawatir.
Brakk...brakk...
" Buka pintunya " teriak Ana.
Ceklek.
" Apa " tanya Rafli menggosok gigi.. Ana memperhatikan Rafli dari atas hingga bawah . Oh ternyata Rafli hanya membasuh wajahnya saja.
" Ku kira mas mandi " ucap Ana tersenyum lega dan segera meninggalkan Rafli untuk segera lanjut menggosok gigi.
Rafli keluar dengan melilitkan handuk di pinggangnya. Lalu berjalan menuju walk in closet dan segera di ikuti Ana.
" Mas ini bajunya " ucap Ana menyerahkan baju santai Rafli .
" Mas mau kerja Ana " ucap Rafli .
" Mas , kau semalam demam . Dirumahlah " pinta Ana berdecak kesal.
" Mas akan pulang cepat , hari ini ada meeting penting . Lagian semalam kau sudah memberi obat yang begitu manjur " goda Rafli disela ucapan seriusnya.
" Mas ini , baru sembuh sakit juga " gerutu Ana seraya menyiapkan pakaian kantor suaminya karena suaminya akan meeting dengan klien , tidak mungkin Rafli memakai pakaian santainya yang membuat para karyawannya makin terpesona.
" Iya , iya bunda ratu " ucap Rafli mengecup bibir Ana yang begitu dirindukan berhari-hari.
" Nanti malam ya " bisik Rafli seraya mengigit kecil telinga Ana membuat diri Ana merasa meremang .
Kini Ana dan Rafli beserta anak-anaknya sedang duduk di meja makan. Ana mengambilkan lauk untuk sang suami serta Dewa kemudian untuknya dan Arjuna yang akan ia suapi karena bi Jum pergi kerumah keluarga Wijaya untuk melihat anak gadisnya yang mendapat kan libur kuliah.
Dewa masih terlihat acuh kepada sang ayah , bocah itu masih kecewa karena ia masih tak bisa bersekolah padahal Rafli sudah sejak tadi berusaha bicara dengannya .
'' Ayah , jangan lupa jika di meja makan dilarang berbicara " ucap Dewa hati-hati. Rafli berusaha melanggar aturan yang ia buat untuk meluluhkan hati sang anak , namun jawaban yang tidak menyenangkan ia dapat.
'' Dewa masih kecil mas " ucap Ana memelas dan Rafli menggenggam tangan Ana erat bertanda bahwa hatinya merasa terluka .
'' Nanti kita bahas mas " ucap Ana
'' Bunda .... mam " ucap Arjuana yang dari tadi sudah membuka mulutnya dan di suapi Ana dengan penuh kasih sayang , Ana melihat wajah kembar berbeda umur itu bergantian.
" Dewa " panggil Ana dan membuat Dewa berjalan lemah kearah orang tua nya .
'' Ayah mau pergi , hormati ayahmu " ucap Ana tegas membuat Dewa menurut.
'' Maafkan ayah , ayah berjanji padamu . Kau akan mulai sekolah lagi . Ayah sungguh minta maaf " ucap Rafli lirih memeluk Dewa membuat mata Dewa berkaca'-kaca.
'' Dewa juga minta maaf sama ayah " ucap Dewa menangis dan Ana yang melihat mereka telah rukun pun ikut meneteskan air matanya , melihat bunda dan abangnya menangis membuat Arjuna juga ikut menangis.
'' Uuuhh kenapa keluarga ayah menangis semua " ucap Rafli menggendong Dewa lalu memeluk mereka semua.
'' Ayah menyebalkan" gumam Ana terkekeh.
'' Ayah mencintai kalian semua. Maaf jika terlalu keras mengekang kalian " ucap Rafli.
'' Suatu saat kau akan mengerti Dewa " imbuhnya dan di angguki Dewa .
'' Ayah pergi dulu ya " pamit Rafli dan Arjuna serta Dewa menyalami sang ayah.
'' Dewa , bawa Arjuna ke dalam dulu " titah Rafli .
'' Ayo dek , kita main " ajak Dewa dan disambut antusias Arjuna.
'' Terimakasih " ucap Ana.
'' Untuk apa " tanya Rafli.
'' Atas cinta yang kau berikan untuk keluarga ini " ucap Ana.
__ADS_1
'' Itu sudah termasuk tugasku Ana . Tapi ketahuilah , cintaku lebih besar untuk mu dari pada apapun itu " ucap Rafli mengecup bibir Ana singkat .
'' Terimakasih mas " ucap Ana.
'' Jangan terimakasih saja . Tapi manjakanlah mas '' ucap Rafli tanpa malu mengungkapkan ke inginan ya .
'' Baiklah . Cepat lah bekerja dan juga jaga kesehatan . Jangan sampai nanti malam loyo " ucap Ana .
'' Jika kau tidak hamil pasti mas akan membuatmu tak bisa bangun dari tempat tidur " gerutu Rafli .
'' Iya , iya . Pergilah " ucap Ana.
'' Ayah kerja dulu ya sayang , jangan nakal dan baik-baik aja disana " ucap Rafli mengecup perut Ana.
'' Iya ayah " jawab Ana menirukan suara anak kecil.
'' Mas pergi dulu Ana " mencium kening Ana dengan cinta dan Ana menyalami tangan Rafli.
.
.
.
Rafli kini kembali ke kantornya meski kehadirannya kali ini hanya sekedar ingin melakukan meeting.
Para karyawan pun segera menuju tempatnya masing-masing saat melihat tatapan tajam dari mata elang Rafli.
'' Jika saja kinerja kalian tidak memuaskan aku pasti telah melempar kalian ke penangkaran hiu " batin Rafli.
Jika saja ada gaji lebih tinggi dari perusahaan RA grup pasti sebagian para karyawan memilih untuk hengkang dari tempat mereka bekerja saat ini , jika dulu hanya Rafli dan Jimmy yang berwajah datar namun kini kenyataannya pengganti sang sekretaris kantor yang kini bernama Zizi membuat nyali mereka kian menciut. Zizi sangat berbeda dengan Dewi , Dewi yang masih mau bersenda gurau berbeda dengan Zizi yang tak pernah menyapa bahkan belakangan hari ini saat Zizi memimpin rapat terlihat arau tak bersahabat darinya.
" Apa yang kau lakukan " umpat Rafli saat Jimmy menariknya menuju ruang kosong seperti gudang .
" Kau jangan mesum Jim " ucap Rafli jijik saat hampir saja bibirnya menyentuh pipi Jimmy.
" Kau pikir aku tak geli " batin Jimmy.
" Ada yang tak beres dengan Zizi " ucap Jimmy membuat dahi Rafli menyerit , ada apa dengan Zizi orang kepercayaannya.
" Ini tentang Baco " cetus Jimmy.
" Zizi kekasihnya Baco , dia sangat terpukul atas kematiannya. Zizi berencana ingin bertindak sendiri membalaskan kematian Baco kepada Eric terutama kaki tangan Eric yang di kelompok mafia nya yang bernama Jerry orang pertama yang mengetahui pengintaian Baco dan melenyapkan Baco . Aku juga baru tahu kemarin saat tak sengaja melihat wanita jadi-jadian itu menangis " ucap Jimmy .
Cletak Rafli menyentil kuat kening Jimmy saat menyebut Zizi wanita jadi-jadian. Di saat serius masih juga bercanda , itulah fikiran Rafli. Bahkan Rafli kini mengira jika kehadiran Rahma dalam hidup Jimmy membuat dampak baik dan buruk secara tidak langsung , tidak baiknya disaat serius pria itu sedikit bercanda.
" Kita keruangan ku saja " ucap Rafli tak tahan dengan pengapnya gudang , jika berdua Ana tidak apa tapi ini Jimmy.
Rafli melintasi meja Zizi dan terlihat Zizi sedikit gugup saat tatapan Rafli melihatnya menyimpan sesuatu dalam lacinya.
" Pagi pak " sapa Zizi sopan dan membuat wajah setenang mungkin.
" Kau tidak baik-baik saja Zizi " batin Rafli.
" Pagi Zi " jawab Rafli.
" Ke ruangan ku sekarang " titah Rafli pada Zizi dan memberi kode pada Jimmy untuk nanti membahasnya .
.......
Zizi memberi tahu agenda rapat Rafli hari ini. Selain meeting dari klien ia akan lebih dulu meeting kepada para petinggi perusahaan .
Para petinggi perusahaan dari cabang anak perusahan milik Rafli kini tengah berkumpul di ruangan meeting membahas tentang rencana dari perusahan anak cabangnya serta keluhan atau pun tentang lainnya . Rapat berjalan cukup tegang saat para penghuni rapat melihat aura Rafli dan Zizi yang sangat dingin , namun mereka segera bernafas lega saat Rafli mengakhiri meeting tersebut dan Rafli sebenarnya cukup puas pada hasil beberapa bulan ini dari perusahan anak cabangnya karena direktur disana cukup berkompeten .
'' Zi " ucap Rafli seketika menghentikan langkah kaki Zizi.
'' Jangan lupa like dan komentar ya "
Terimakasih
__ADS_1
Selamat membaca