Takdir Cinta

Takdir Cinta
Empatbelas


__ADS_3

Zyvia masih menangis sendiri disana. Pesta pernikahan itu berantakan, semua orang pergi membubarkan diri meninggalkan Zyvia disana. Tatapan dari semua tamu seakan membenci Zyvia dan mungkin saja salah paham padanya.


Zyvia menangis tersedu dengan menatap tangannya, terlihat darah di gaun putihnya. Semua perkataan dari Sam sungguh membuatnya sakit hati. Sebegitu bencong Sam pada dirinya sampai tak lagi bisa mempercayai perkataannya.


"Bukan aku! Sungguh, bukan aku!" isak Zyvia menutup wajahnya dengan tangan.


Penekanan itu yang sering kali membuat kesadaran Zyvia melemah, ketidak percayaan membuat dirinya acap kali depresi dan memilih bersembunyi.


Terdengar suara langkah orang berlari ke arahnya, dan orang tersebut berdiri tepat di depan Zyvia. Terlihat sepatu lelaki disana, lelaki itu berjongkok di depan Zyvia.


"Jangan menangis, ayo kau harus ikut bersamaku!" ucapnya dengan nada lembut.


"Tolong jangan bawa aku! Itu bukan salahku, bukan aku yang menusuknya," jawab Zyvia beringsut kebelakang.


"Zyvia, sadarlah!!!" serunya dengan memegang pundak Zyvia.


Zyvia membuka matanya dan menatap siapa lelaki itu, terlihat Zyan didepannya. Tak terlihat kebencian di matanya, Zyan tersenyum sembari membantu Zyvia berdiri.


"Zy-Zyan,," ucap Zyvia terbata.


"Ya, ini aku. Ayo aku mohon ikutlah denganku, karena kau saksi dari semuanya," balas Zyan.


Zyvia mencoba berdiri namun karena masih syok Zyvia gemetaran dan hampir saja terjatuh.


"Hey, kau tak apa? Tenangkan dirimu!" pinta Zyan.


Zyvia menarik napas panjang dan menenangkan dirinya. Zyan masih memegang lengan Zyvia.


"Kau tak menyalahkan ku? Kau percaya padaku?" tanya Zyvia.


"Tentu, aku percaya padamu. Karena, Rio dan Rino juga melihatnya. Aku percaya padamu," jawab Zyan.


Zyvia menangis tersedu mendengar ucapan dari Zyan. Zyan mengerti bagaimana rasanya berada di posisi Zyvia.


"Maafkan mereka yang sudah salah paham padamu!" pinta Zyan memeluk Zyvia.


Zyvia membalas pelukan dari Zyan, sungguh saat itu dirinya membutuhkan sebuah sandaran. Zyvia menangis memeluk Zyan.


"Sam, sungguh kasihan sekali adikmu ini. Dia gadis yang baik Sam, hanya saja dulu dia terlalu naif dan dibutakan oleh cinta," batin Zyan.


Zyan dengan penuh kasih sayang membelai Zyvia memenaminya dengan setia. Membiarkan Zyvia menangis sepuasnya di dalam pelukannya.


"Lepaskanlah! Ada aku disini," ucap Zyan.


"Terimakasih, teriamakasih sudah percaya padaku, Zyan."


Di rumah sakit, Alex kembali mengendong tubuh Vanya masuk ke dalam UGD. Tak lama, suster membawanya ke ruang operasi. Wil yang menjadi suaminya tak berdaya karena melihat istrinya tak sadarkan diri. Ken dan Ara segera memakai jubah operasinya.


Zee menenangkan Sofia yang tak sadarkan diri. Sedangkan, Wil hanya diam membisu di depan pintu ruang operasi itu.


Kiara dan Abigail menenangkan Jiso dan Alya yang menangisi Vanya. Sedangkan, Sam masih terlihat murka karena Zyvia.


"Akan ku bunuh dia, jika terjadi sesuatu pada Vanya. Aku berjanji itu, aku akan mengirimnya membusuk dalam penjara," gumam Sam.


Operasi itu sungguh memakan waktu yang lama. Karena Dokter harus menyelamatkan bayi dan sang ibu. Tapi, takdir telah berkata lain, bayinya tak bisa di selamatkan. Dikarenakan, usianya yang baru menginjak satu bulan. Sedangkan tusukan dari pisau itu begitu dalam.


Ken dan Ara menangis melihat apa yang terjadi pada Vanya. Apalagi banyak sekali darah yang keluar, membuatnya harus melakukan transfusi darah.


Brakk,,,


Terlihat Ara keluar dari dalam dengan wajah yang panik. Membuat Sam dan Wil terkejut.


"Kak, ada apa?" tanya Sam.


"Vanya membutuhkan darah, karena dia sudah banyak kehilangan darah. Dan, maaf anaknya tak bisa di selamatkan," jawab Ara menatap Wil.


Brugh,,


Tubuh Wil terjatuh ke lantai, air matanya mengalir deras. Alex yang baru saja datang sehabis melihat Sofia pun terkejut melihat kondisi dari Wil.


"Ada apa?" tanya Alex.


"Lex, tolong carikan darah AB sekarang! Karena, Vanya butuh banyak darah," perintah Ara.


Alex mengangguk ia, tapi sebelum pergi jauh. Terlihat Zyan datang dengan Zyvia. Dan itu membuat Sam begitu geram dan kesal, tangannya sudah mengepal kuat dengan menatap tajam Vanya.


"Mau apa kau kemari, huh?" teriak Sam berjalan cepat ke arah Zyan dan Zyvia.


Zyvia beringsut kebelakang Zyan karena takut melihat Sam yang seakan membunuhnya. Namun, sebelum Sam menyentuh Zyvia. Zyan sudah melayangkan dahulu tinjunya dan membuat Sam tersungkur menjauh.


"Zyan,,!!!" teriak Ara tak percaya apa yang dilakukan oleh Zyan.


"Diam disitu! Jangan ada yang berani menyentuhnya, Zyvia ini saksi dari penusukan Vanya," ucap Zyan dengan nada dingin.


Glek,,, Ara terdiam melihat wajah Zyan begitu serius, sedangkan Kiara langsung beranjak bangun menghampiri sang suami. Kiara menyentuh lengan Zyan.


Abigail membantu Sam tuk bangun, Alex terlihat bingung harus melakukan apa.


"Kak, darah AB itu sangat susah di cari," ucap Wil tiba-tiba.


"Darah, AB. Kak apakah, Vanya membutuhkan darah AB?" tanya Zyvia terbata dan sangat lirih.


"Siapa yang membolehkanmu, berbicara? Diam kau!!" hardik Sam.


"Samudera,,!!! Diamlah, di seorang Dokter. Siapa tahu saja, Zyvia bisa membantu," ucap Ara.

__ADS_1


"Membantu? Dia yang telah menusuk Vanya, kak. Dia juga yang membunuh Alfa, dia bukan Dokter," seru Sam penuh emosi.


Zyvia semakin ketakutan, tanpa sadar Zyvia bersembunyi di balik Zyan dan Kiara. Tangan nya memegang tangan mereka dengan gemetar.


"Sam, kau menakutinya!" seru Kiara.


Kiara menatap Zyvia yang terus menunduk, Kiara memegang tangan Zyvia. Zyvia menatap Kiara dengan rasa takut dan juga bimbang.


"Jangan takut!! Ada aku dan Zyan, apakah kau bisa membantu Vanya?" tanya Kiara.


"Darahku, darahku AB," jawab Zyvia.


"Zia cepat! Apakah kau sudah mendapatkan darahnya?" tanya Ken yang keluar dari dalam.


"Ya, ada kak. Zyvia akan melakukan transfusi darah pada Vanya," jawab Kiara.


Sam menatap tajam ke arah Kiara, dengan cepat dia menggeleng dengan tersenyum meledek.


"Jangan bercanda. Aku tak mau darah pembunuh seperti dia berada di dalam tubuh Vanya," ucap Sam.


"Kau jangan egois, Sam. Adikmu sedang sekarat dan hanya Zyvia yang bisa menolongnya. Biarkan adikmu mengobati adikmu yang lain," ucap Zee berada di belakang Zyvia.


Zyvia menengok kearah Zee. Tapi, Zee tak menatapnya, matanya lurus menatap Sam. Sam menatap Zee tak percaya, sungguh dia tak menyangka jika Zee akan berkata seperti itu.


"Pergi! Pergi masuk dan selamanya Vanya," ucap Zee.


Zyvia menatap ke arah Ken dan Ara, lalu menatap ke arah Wil yang juga menatapnya penuh permohonan.


"Kak, biarkan aku masuk! Setelah itu, aku berjanji tak akan pernah lagi menemui Vanya atau kalian," pinta Zyvia lirih.


Sam memalingkan wajahnya, sungguh dia tak bisa berbuat apa-apa tuk menolong Vanya. Darahnya berbeda dengan Vanya. Dengan sangat berat Sam akhirnya membolehkan Zyvia tuk masuk.


"Via, cepat! Kita tak banyak waktu," ucap Ken.


Zyvia menghapus air matanya dan berjalan masuk melewati Sam. Hatinya bahagia hanya karena Sam sudah membolehkan dirinya tuk ikut membantu.


Zyvia sudah telah menggunakan jubah operasi, dia menidurkan tubuhnya di ranjang sebelah Vanya. Melihat selang darah dari tubuhnya ke tubuh Vanya. Zyvia meminta dirinya tuk tetap sadar agar bisa melihat operasi Vanya.


Operasi itu memakan waktu lima jam lamanya. Ken dan Ara membantu Dokter bedah disana, Zyvia terus mendengarkan semua diagnosa dari Dokter.


"Bayimu, An. Bayimu telah tiada," batin Zyvia. Air mata terus mengalir dari matanya. Sungguh hatinya begitu sesak mendengarkan bahwa anak dari Vanya tidak bisa di selamatkan.


"Ya Tuhan. Kenapa, kau memberikan cobaan yang begitu berat tuk Vanya dan Tuan Wil?" batin Zyvia.


Ara melihat ke arah Zyvia sekilas dan melihat Zyvia menangis pun merasa heran.


"Zyvia menangis? Apakah benar dia yang telah menusuk Vanya? Tidak, aku harus mencari kebenaran," batin Ara.


Setelah perjuangan panjang, akhirnya operasi itu telah selesai dan sukses. Ara mencabut selang pada tangan Zyvia. Membantunya tuk berduduk.


"Kau tidak apa?" tanya Ara.


"Ya, kak. Aku baik-baik saja," jawab Zyvia.


"Istirahatlah sebentar, baru kau bisa keluar!" pinta Ara.


Zyvia mengangguk, Ara dan yang lainnya pun keluar tuk memberitahukan jika operasi berjalan lancar dan sukses.


Wil menatap ke arah Ara dan Ken yang baru saja keluar. Ken menghampiri Wil, menepuk bahu Wil tuk tetap bersabar.


"Kau harus bisa kuat dan bersabar! Karena, Vanya akan merasakan guncangan yang begitu kuat dalam dirinya," ucap Ken.


"Apakah, dia akan baik-baik saja?" tanya Wil.


"Ya, dia sudah dikatakan baik. Kita tinggal menunggunya sadar dan mengobati lukanya dan juga psikisnya," jawab Ken.


Ara menghampiri Zyan dan memintanya tuk ikut dengan dirinya. Kiara dan Zyan mengikuti Ara.


"Bagaimana bisa mau membawanya kemari? Kenapa tak membawanya ke kantor polisi?" tanya Ara.


"Astaga, kak. Jadi, aku juga berpikir jika Zyvia yang menusuk Vanya? Sungguh, kalian sudah salah paham," jawab Zyan.


"Apa maksudmu? Bukannya, Sam mengatakan jika Via lah yang telah menusuk Vanya," balas Ara.


"Sungguh kasihan anak itu. Pantas saja, dia sampai berterima kasih padaku. Saat, aku menemuinya dan berbicara padanya," ucap Zyan.


Zyan pun menceritakan kejadian yang sesungguhnya pada Ara dan Kiara. Sungguh mereka sudah merasa bersalah begitu jahat pada Zyvia yang tak salah apapun.


Flashback.


Di dalam kantor polisi, Rio dan Rion sedang duduk menunggu kedatangan dari Zyan dan Zyvia. Merekalah yang menangkap Deasy, Rio lah yang mengetahui gerak-gerik dari Deasy.


Saat itu, Rio baru saja berkeliling dari samping Villa. Dan tak sengaja melihat Deasy yang menyelipkan pisau ke dalam tasnya. Saat, Rio memperhatikan semua itu, ternyata Deasy berencana akan menusuk Vanya. Karena, banyak orang Rio tak berhasil menyelamatkan Vanya.


Barulah, dari situ terlihat Zyvia berada disana dan berlari ke arah Vanya. Sedangkan, Rio berlari mengejar Deasy yang menviba kabur. Setelah menangkap Deasy bersama dengan Rion dan Zyan.


Dua kembar itu dibantu oleh security membawa Deasy ke kantor polisi. Sedangkan, Zyan kembali ke dalam mencari Zyvia.


Flashback Off.


"Aku dan Zyvia sudah kekantor polisi, kak. Dan, Deasy akan di hukum berat karena mencoba membunuh Vanya. Dia itu saksi dan kian sudah menuduhnya, terutama Sam kakaknya sendiri," ucap Zyan begitu kesana seraya menatap Sam.


"Kau tahu sendiri bukan, masa lalu itu yang membuat kita semua tak bisa percaya pada Zyvia. Dan, itu juga yang membuat Sam bisa menuduhnya," balas Ara.


"Kalian egois. Hanya bisa melihat kesalahannya saja, tanpa memberikan dia kesempatan tuk berbicara dan membela diri," ujar Zyan tak suka dengan jawaban dari Ara.

__ADS_1


Ara merasa bersalah dan benar apa yang dikatakan oleh Zyan. Terlihat suster keluar mendorong ranjang Vanya ke ruang isolasi. Semuanya berjalan mengikuti Vanya.


Tapi, tidak dengan Zyan dan Kiara. Yang merasa khawatir dengan Zyvia yang masih belum juga keluar.


"Kemana, Zyvia?" tanya Kiara.


Zyan bergegas masuk ke dalam dan melihat Zyvia pingsan di atas ranjangnya. Kiara begitu panik dan berteriak memanggil Dokter.


"Please, help me!!" teriak Kiara.


Terlihat Dokter muda berlari menghampiri Kiara dan ikut kedalam. Langsung memeriksa keadaan Zyvia.


"Don't be afraid, he is okay. he just suffocated," ucap Dokter.


"Ahh, Thank God, thank you very much," balas Kiara.


Zyan pun meminta suster tuk memindahkan Zyvia ke ruang inap. Tuk membiarkan Zyvia istirahat sebentar sampai tubuhnya sedikit membaik.


Zyan pergi menemui semua orang di depan ruang VVIP Vanya. Sedangkan, Kiara menemani Zyvia di ruangannya.


"Bersyukurlah, adikmu bisa selamat. Dan, dia sudah membayar semua kesalahannya di masa lalu demi menyelamatkan adikmu," ucap Zyan.


"Jangan konyol, dia itu hanya sedang bersandiwara saja, Zyan. Dan kau mempercayainya?" tanya Sam dengan senyum menyindir.


Zyan begitu kesal mendapat respon yang begitu tak enak dari Sam. Alex berjaga agar tak sampai ada keributan disini.


"Dasar manusia batu, kau tak tahu diri dan tak punya perasaan, Samudera Andero. Adikmu bisa selamat karena di tolong oleh adikmu yang lain. Tapi, lihat kau sebagai kakak sungguh tak berguna sama sekali. Coba kau lihat, kau tak bisa melakukan apapun disaat adikmu sekarat. Dan, ya hanya si pembunub itu yang bisa menyelamatkan Anya," ucap Zyan.


Semua orang tertegun mendengar ucapan dari Zyan. Mereka merasa bersalah pada Zyvia. Zyan sudah menceritakan semuanya pada yang terjadi sebenarnya.


Zee dan Abigail sungguh tak percaya mendengar itu. Mereka menangis, merasa sangat jahat pada Zyvia. Dimana hati mereka yang sesama wanita tapi begitu kejam.


"Zyan, dimana Zyvia?" tanya Wil begitu lirih.


"Via sedang di rawat karena kelelahan dan juga karena proses transfusi darah itu sendiri," jawab Zyan.


Wil berjalan menghampiri Zyan, menatapnya dengan penuh penyesalan karena sudah percaya begitu saja dengan apa yang mereka lihat.


"Aku ingin bertemu dengan Zyvia. Tolong, antarkan aku padanya!" pinta Wil.


Zyan mengangguk dan mereka berjalan peegi dari sana. Alex dan Zee mengikuti mereka. Terlihat Zyvia masih tak sadarkan die, wajahnya sangat pucat.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Wil.


"Dokter bilang, Via kelelahan dan sejak semalam dia tak makan apapun. Mungkin itu yang membuatmu tak sadar," jawab Kiara.


Wiliem menatap wajah Zyvia. Dia teringat akan kejadian saat di Paris. Mereka berpelukan dan tersenyum bersama.


"Wanita ini pernah berbicara dengan Anya sebelum kembali ke Finlandia. Dia seorang Dokter di Paris, dia adik Sam juga kan?" tanya Wil.


"Ya, dia adalah adik angkat dari Sam. Dan dia juga yang dulu telah menabrak Alfa," jawab Zyan.


"Alfa? Maksudnya kekasih dari Zee?" tanya Wil.


"Ya, kau benar," jawab Zyan singkat.


Wil mengangguk mengerti akan bagaimana situasi yang sekarang terjadi. Memang sangat rumit, Zyvia menciba berubah tapi semua keluarganya masih belum bisa memaafkannnya bahkan tuk percaya saja tidak bisa lagi.


"Semoga dia cepat sadar. Aku sangat berterima kasih padanya," ucap Wil.


"Ya, semoga saja. Zyvia bisa sadar tak kenapa-napa," balas Kiara.


Wil pamit tuk kembali ke ruangan Vanya. Terlihat Zee dan Alex berada di luar. Wil menatap ke arah Zee yang sedang menatap Zyvia tanpa berkedip. Alex mengangguk ia sembari menatap Wil.


"Kau ingin masuk dan melihatnya?" tanya Alex.


"Apakah aku bisa menahan semua perasaannya, jika aku masuk kedalam Lex?" tanya Zee kembali.


"Bukannya kau sudah memaafkannya? Seharusnya, kau bisa melakukan itu. Berikan dia kesempatan," jawab Alex.


Zee menatap Alex dan mengangguk ia. Zee melangkah masuk ke dalam, Zyan dan Kiara menengok siapa yang masuk.


"Zee, kau disini? Bagaimana keadaan Vanya?" tanya Kiara.


"Anya sudah baik-baik saja. Kita tinggal menunggunya sadar saja," jawab Zee.


"Via, apakah dia tak apa?" tanya Zee.


"Ya, dia tak apa. Kau tak perlu khawatir," jawab Kiara.


Terlihat mata Zyvia terbuka, Zyvia menatap Zee dan yang lainnya. Tiba-tiba dia langsung duduk. Biar dengan cepat untuk membantunya.


"Kau tak apa? Jangan banyak bergerak!" seru Kiara.


"Aku, aku harus pergi. Akunsudah berjanji pada kak Sam," balas Zyvia.


Kiara dan Zew begitu miris mendengar itu. Ternyata Zyvia begitu tertekan dan begitu takut pada Sam. Zyan semakin geram akan sikap Sam yang membuat Zyvia takut.


"Jangan takut, kau bersama denganku. Jangan hiraukan Sam!" ucap Zyan.


"Tidak, aku tak mau kalian mendapat masalah lagi karena aku. Jadi, biarkan aku pergi," pinta Zyvia.


Zee menatap Zyvia dia begitu iba dengan nya. Sungguh, kejiwaan Zyvia acap kali terganggu dan tertekan.


"Maafkan kami, yang sudah membuatmu emnajdi seperti ini, Via. Kami sudah terlalu keterlaluan padamu, sampai kau menderita seperti ini," batin Zee.

__ADS_1


Bersambung🍂🍂🍂


__ADS_2