
Kini keluarga besar Wijaya dan Gunawan tengah berkumpul usai makan malam. Mereka menikmati teh yang begitu berbeda dan tak pernah di temukan di tempat manapun. Beberapa kali Lia dan Laras mencari teh tersebut namun tak pernah di temukan , hanya di temukan saat Ana membuatnya.
" Sayang , kau mendapatkan teh ini dari mana nak '' tanya Lia membuat Ana menggaruk tengkuknya yang tak gatal .
" Iya , ibu mu mencarinya tidak ketemu " ucap Gunawan .
" Benar mbak , teh nya terbuat dari apa " ucap Rahma juga penasaran ...
Rafli yang dari awal penasaran juga tak menemukan jawabannya . Teh nya tak bermerek namun kualitasnya tak di ragukan .
" Yang penting mas selalu mencicipi teh ini , selagi aku yang membuatnya semua akan enak " ucap Ana yang kala itu selalu terngiang di ingatan Rafli. Bahkan ia berniat membeli perkebunan teh itu jika menemukannya , ntah untuk apa.
" Itu teh biasa ma , pak . Biasa aku memesannya dari langganan . Meski gak bermerek tapi yang penting kualitas dan rasanya. Bukankah begitu " ucap Ana enggan memberitahukan lebih detail . Mereka hanya pasrah saja mendengar jawaban dari Ana .
.
.
.
Hari keberangkatan keluarga kecil Rafli pun di mulai . Vini dan Eric sengaja datang terkahir kali untuk mengucapkan salam perpisahan terhadap Rayana . Terlihat tatapan tak suka Lia terhadap mereka berdua.
" Sudahlah ma , jangan merusak suasana" ucap Abdi .
" Mereka yang datang dan tiba-tiba merusak suasana bukan mama pa " decak Lia kesal.
" Papa selalu membela Eric . Mama jadi ragu , apa mungkin Eric itu anak papa " ucap Lia sedikit emosi membuat Abdi menatapnya tak percaya .
" Ya Allah , ya Tuhanku . Mama jangan berfikir yang macam-macam " ucap Abdi tegas.
" Ya habis papa , selalu membelanya " lirih Lia , ia sedikit takut melihat tatapan tajam suaminya .
" Kalau tidak percaya , kau bisa tes DNA Eric antara diriku dan Teguh " ucap Abdi meninggalkan Lia yang kini terkejut atas ucapan suaminya .
" Seharusnya nyonya tak berkata seperti itu terhadap tuan " ucap Joe yang mengikuti langkah Abdi .
" Kau " gumam Lia tak percaya , suaminya benar-benar marah dan kecewa padanya . Lia segera menyusul langkah suaminya , ia harus meminta maaf kali ini dan harus berhasil .
.
.
.
Kedatangan Ana , Rafli serta tiga anaknya di sambut gembira oleh penghuni mansion , terutama oleh Dewa dan Arjuna serta para pelayan yang begitu rindu dengan nyonya rumah mereka. Oleh-oleh di keluarkan oleh para bodyguard yang bertugas.
'' Akhirnya bunda pulang " ucap Arjuna yang matanya berkaca-kaca memeluk Ana.
" Maafkan kami baru bisa kembali sayang '' ucap Ana memeluk rindu Arjuna.
" Bagaimana sekolah kalian " tanya Ana .
" Hasil nya memuaskan bunda " jawab Arjuna senang .
" Tunggu , Arjun lihatin nilai ujian Arjun " ucap Arjuna begitu semangat.
" Anak tampan bunda apa kabar sayang " ucap Ana menghampiri Dewa dan memeluknya dengan hangat.
" Baik Bun . Dewa rindu bunda " ucap Dewa mencium pipi bundanya . Sehari saja tanpa bundanya membuatnya begitu merindu . Meski ia terkadang cuek namun kehadiran sang bunda begitu mempengaruhinya.
Rafli mengumpulkan para pelayan serta beberapa bodyguard yang berjaga hari itu dan tak lupa dokter Stevani beserta suamimya serta putri cantiknya yang sering menatap diam-diam Dewa . Rafli mengumumkan siapa gadis kecil yang tengah berdiri di samping Dewa itu , semua orang terharu mendengar jika gadis cilik itu Rayana , putri bungsu dari pasangan Rafli dan Ana yang telah mereka anggap tiada ternyata masih hidup .
.
.
.
Ke esokan harinya , para pelayan mengajak Rayana untuk bermain bersama mereka dan tak lupa Jelita juga harus di ajak. Jelita seperti ayahnya yang tak ingin di nomor duakan .
Terlihat Rayana begitu riang dan gembira saat bermain bersama para pelayan sementara Ana tengah berada di rapat wali murid di sekolah Dewa dan Arjuna , awalnya Rafli melarangnya datang namun Ana tak ingin di cap sombong dan sok sibuk oleh wali murid lainnya .
Kedatangan Rafli dan Ana terdengar hingga di telinga Devan membuat Devan mengajak anak semata wayangnya untuk berkunjung ke Berlin . Sepanjang perjalanan Alex menceritakan jika Rayana begitu cantik dan ia terlihat begitu mengaguminya .
Makan malam terasa lebih berwarna saat ini apalagi dengan kehadiran Rayana , Ana juga tak lupa mengajak keluarga kecil dokter Stevani untuk makan bersama di meja makan . Rayana memilih duduk di samping sang Bunda dan di sebelahnya terdapat Victoria yang terlihat begitu dekat dengan Rayana , padahal baru sehari mereka bertemu dan bermain .
'' Kak . Ini untukmu " ucap Victoria kepada Dewa.
" Arjuna , kemari " ucap Dewa dan Arjuna menurut begitu saja.
__ADS_1
" Ini , coklat dari Victoria dan dia memberikannya untukmu " ucap Dewa menatap tajam Victoria membuat gadis itu tak dapat membantahnya .
" Terimakasih cantik " ucap Arjuna tersenyum senang .
" Iya Ar, sama-sama " ucap Victoria mencoba tersenyum manis .
Air mata Victoria tak terbendung lagi dan jatuh membasahi pipi montoknya , Dewa yang melihat Victoria menangis pun tak peduli dan memilih melanjutkan belajarnya .
" Sayang , kenapa kau menangis nak " tanya Ana kaget saat masih melihat Victoria di mansionnya dan sedang menangis pula , di tangan Ana seraya membawa lima gelas susu .
" Tidak Kenapa-napa Aunty '' ucap Victoria masih tersedu-sedu.
" Jadi tidak mau menceritakannya dengan aunty mu ini '' tanya Ana dan di jawab gelengan oleh Victoria . . .
'' Apa Victoria mau tidur dikamar Jelita , disana ada Rayana juga '' ucap Ana beralih menghapus sejenak kesedihan Victoria.
'' Biar aunty yang nanti bicara dengan mama Stevani dan papa Wigo '' ucap Ana dan diangguki Victoria , kini kesedihannya berangsur berkurang .
'' Baiklah Ayo '' ucap Ana .
'' Vitoria '' ucap Rafli yang baru saja keluar dari ruang kerjanya .
'' Uncle '' sapa Victoria .
'' Victoria aku tawarkan untuk tidur malam ini di kamar Jelita mas '' ucap Ana.
'' Victoria terlihat sedih sekali '' imbuh Ana berbisik .
'' Ya tidak apa . Victoria jika merasa kesepian tidur di paviliun , Victoria bisa tidur di kamar Jelita , apalagi ada Rayana jadi biar kalian makin akrab '' ucap Rafli dan diangguki Victoria , ia begitu menghormati sosok Rafli . Sebenarnya antara hormat dan rasa takut .
'' Mas aku antar susu anak-anak dulu '' ucap Ana .
'' Baiklah , jangan lupa minuman stamina untuk mas malam ini '' ucap Rafli mengedipkan matanya , membuat Ana tersenyum geli . Meksi sudah menikah lama , sifat Rafli tak berubah malah semakin menjadi .
.
.
.
'' Bunda Anaaaa '' teriakan menggema karena panggilan dari Alex membuat heboh mansion Rafli kala itu. Ana yang berada di dapur pagi itu pun begitu terkejut mendengarnya.
'' Oh anak bunda datang '' ucap Ana merentangkan tangannya .
'' Love you bunda '' ucap Alex saat berada di pelukan Ana .
'' Love u to '' jawab Ana lirih mencium gemas Alex.
'' Mana papa Dev " tanya Ana karena Alex datang seorang diri .
''Papa Dev langsung ke kantor ayah Rafli " jawab Alex .dan Ana menganggukkan kepalanya.
'' Kak Dewa dan Arjun sedang sekolah sayang '' ucap Ana memberitahu.
'' Adanya Rava '' ucap Ana , karena Alex enggan bermain dengan Jelita yang ingin menang sendiri dan ratu drama tersebut.
'' Lalu Rayana mana Bun '' tanya Alex .
'' Oh , jadi Alex sudah tau tentang Rayana '' tanya Ana menggendong Alex dan mengacak gemas rambutnya . Langkah kakinya pun berjalan kearah dapur.
'' Yes , Bun. Adik cantik yang tidak menyebalkan '' ucap Alex girang .
'' Itu Rayana '' ucap Ana lalu mereka sedang menghampiri Rayana yang sedang asyik video call dengan keluarga Permana .
'' Dasar perusuh '' ucap Jelita ketus.
'' Ck , ratu drama '' jawab Alex dan Ana tak ambil pusing akan hal itu .
'' Ini coklat dan permen untuk mu adik '' ucap Alex membuat Rayana melongo heran , lalu ia menatap sang bunda , dijawab oleh anggukan dari Ana.
'' Thanks you '' ucap Rayana menerima coklat namun tidak dengan permennya.
'' Permennya '' tanya Alex.
'' Buat aku saja '' serobot Jelita .
'' Aku bukan memberikannya untukmu '' ucap Alex memberengut dan merampas permen di tangan Jelita , sementara Rayana kembali bervideo call.
'' Kenapa , kadang kau menumpang makan dirumah ayahku '' ucap Jelita tak terima .
__ADS_1
'' Bahkan kalau ada makanan aku mau berbagi dengan mu . Kenapa kau begitu pelit , atau kau sudah miskin jadi sekarang begitu perhitungan '' imbuhnya lalu berjalan mengadu kepada sang bunda.
'' Ini ambilah '' ucap Alex mengalah .
'' Tidak , kau tidak ikhlas . Itu pasti ada racunnya " tolak Jelita.
'' Bun....hiks...hiks.... " adu Jelita dan kali ini membuat Ana sungguh pusing , jika Jelita sudah mulai menangis ...
'' Ini '' ucap Alex .
'' Gak mau '' ucap Jelita masih terisak .
'' Ambilah permennya '' ucap Ana mengulurkan pereme nya yang kini sudah berada diatas telapak tangan Ana.
'' Makasih bunda '' ucap Jelita mengecup pipi Ana.
'' Hei , itu aku yang memberikannya " ucap Alex tak suka.
'' Kau pelit dan aku menerimanya dari tangan bunda ...wekkk" ucap Jelita membuat wajah Alex terlihat kesal.
'' Sabar ya nak , tau sendiri jelita bagaimana " ucap Ana dan diangguki Alex .
'' Alex mau main dengan kak Rava aja ya Bun " ucap Alex dan diangguki Ana.
'' Alex , ini bawa buah untuk mengemil , jangan suka makan yang manis nanti gigimu ompong " bisik Ana.
'' Siap bunda " ucap Alex menerima sepiring buah .
.
.
.
Ana kini kembali berkutat di dapur di bantu dengan beberapa pelayan karena suaminya memberi kabar jika ia akan pulang telat hari ini namun tetap menginginkan makan malam bersama keluarganya.
Tubuh Ana menegang saat merasakan ciuman di tengkuk lehernya , memutar sedikit tubuhnya dan tersenyum saat melihat pemilik lengan kekar yang kini merengkuh tubuhnya.
'' Sudah pulang mas " ucap Aan mencium sekilas pipi suaminya namun Rafli meminta lebih dan ******* bibir istrinya , Ana tersadar bahwa mereka tengah di dapur dan cukup banyak pelayan yang melihatnya. ..
'' Kemana mereka " gumam Ana saat cumbuan suaminya terlepas.
'' Mereka akan tau dimana mereka seharusnya berada '' ucap Rafli enteng , karena saat ia merengkuh tubuh ramping istrinya para pelayan segera menyingkir .
'' Mas , gantilah baju dulu , atau mau mandi " ucap Ana kembali mengaduk makanan dalam kuali .
'' Mas ingin memakanmu " ucap Rafli dengan suara sensual .
'' Besok saja , bukannya kau akan melanjutkan pekerjaan bersama Devan malam ini '' ucap Ana membuat Rafli mendengus kesal karena malam ini mungkin ia akan libur dahulu , mungkin .
'' Ayolah siapkan air mas . Mas ingin mandi '' ucap Rafli .
'' Tapi ini tanggung mas '' ucap Ana karena sedikit lagi sayurannya akan matang .
'' Ayo '' ucap Rafli menggendong paksa istrinya ...
'' Ta....tapi ... kompornya nanti... '' ucap Ana dan ucapannya terhenti karena Rafli seakan tak peduli .
Setelah kepergian mereka , para pelayan pun kembali kedapur kembali melanjutkan pekerjaan mereka dan sang koki melanjutkan kembali masakan nyonya mereka . Sesekali mereka bergosip , membicarakan jika tuan rumah mereka tak tau tempat saat ingin berbuat mesum .
'' Tolong buatkan saya capuccino '' ucap Devan dengan suara datarnya membuat mereka terkejut .
'' Ba....baik ...tu...tuan '' ucap Pelayan dan bergerak cepat membuatkan Devan cappucino kesukaannya .
'' Antar keruang depan '' ucap Devan , ia kembali ke kerumunan dimana anak-anak berada.
Ana menggerutu kesal saat baru saja keluar dari kamar mandi , acara mandi plus plus terjadi baru saja. Suaminya tak mau merugi untuk tidak menyentuh istrinya. Jika nanti malam harus menyelesaikan urusan pekerjaan bersama Devan yang akan memakan waktu lama , maka Rafli memilih lebih dulu menyentuh istrinya .
'' Sudah jangan cemberut '' ucap Rafli seraya mengeringkan rambut basah istrinya dengan hair dryer sementara Ana sibuk menggunakan foundation guna menutupi tanda merah dari suaminya . Tiap hari dirinya bagai macan tutul , karena tanda merah itu terus bertambah bukan malah berkurang di kulitnya yang tertutup pakaian... Rafli menyisir rambut istrinya dengan penuh hati-hati dan menatanya dengan baik.
'' Ini mas pakaianmu '' ucap Ana dan diangguki Rafli .
'' Aku kebawah lebih dulu ya mas '' ucap Ana .
Cup , Rafli mengecup bibir istrinya lagi yang seakan tak pernah bosan dan cukup untuk terus merasakannya.
Jangan lupa like dan komentarnya.
Selamat membaca 😊
__ADS_1