
Jimmy masuk kedalam ruangan bos yang sok super sibuk itu.
'' Ketuk dulu Jim " ucap Rafli berdecak kesal.
'' Ups lupa '' gumam Jimmy...
.tok....tok....
Ceklek pintu terbuka
'' Semenjak kau semakin dekat dengan Rahma kenapa kelakuanmu ikutan minus '' sindir Rafli.
'' Lebih baik kau jangan terlalu dekat dengannya '' imbuh Rafli membuat Jimmy berhenti ingin menjawab.
'' Jangan takut ku pastikan Rahma jodohmu '' imbuhnya tanpa melihat.
'' Ada apa '' tanya Rafli.
Jimmy menjelaskan proyek-proyek mereka yang begitu penting mengenai beberapa warga yang menolak menjual lahan mereka kepada perusahaannya , padahal sebelumnya warga tersebut telah sepakat dengan harga yang di tawarkan perusahaan Rafli yang cukup tinggi 30% dari harga jual.
'' Siapa perusahaan yang berani naik dengan harga segitu ''di tanya Rafli terlihat raut kesal di wajah.
'' Perusahaan Permana '' jelas Jimmy mantap.
'' Teguh Permana '' ucap Rafli .
'' Bukan tuan , Eric Permana . Ia di tugaskan Teguh untuk mengurus urusan sementara di Indonesia '' jawab Jimmy membuat Rafli terlonjak kaget.
'' Apa-apaan ini , kenapa dia selalu saja muncul untuk menganggu . Dulu wanita ku , kini lahan untuk proyekku '' geram Rafli .
'' Apa ia ada tujuan lain di balik semua ini '' tanya Rafli menahan gejolak di hatinya , Jika Eric nekat mendekati istrinya ia pastikan peti mati telah siap menampung rival bebuyutannya itu.
'' Ku rasa tidak tuan , ia tidak mengingat hal yang berkaitan dengan nona Ana , untuk saat ini aman tuan '' jawab Jimmy.
'' Atur janji temuku dengan Eric Permana '' ucap Rafli dingin menyebut namanya saja membuatnya emosi setengah mati.
'' Dan ada lagi suatu berita tuan '' ujar Jim .
'' Apa ''tanya Rafli.
'' Pelaku pembunuhan Gladis telah tertangkap dan dia adalah Sofi '' ucap Jimmy namun Rafli menghela nafas panjang.
'' Sudah ku duga '' ucap Rafli.
Rafli sudah menebak bahwa Sofi bisa terlibat dalam pembunuhan Gladis namun Rafli tidak peduli yang bersangkutan dengan Gladis meski Mario begitu membencinya atas tuduhan Gladis bunuh diri karenanya...
'' Jika sudah selesai keluarlah '' ucap Rafli .
'' Baik tuan , Permisi '' ucap Jimmy...
Rafli tak menyangka jika orang masa lalu kembali masuk dalam hidupnya .
'' Mau apa ia kemari , semoga tidak mencuri Nanaku '' gumamnya..
.
.
.
Di kota lain Eric sedang di sibukkan dengan pekerjaannya , ia tinggal bersama Tasya sang kakak sementara Laurent tinggal di apartemen bersama anak semata wayangnya. Eric kini menjaga jarak dengan Laurent , ia sudah bertekad akan menceraikan Laurent jika waktu nya tiba dan Laurent tak bisa berbuat apapun , Eric sudah berusaha mencintai Luarent selama setahun ini namun perasaan cinta tak sedikit pun muncul . Eric tidak mau menyiksa Laurent dengan terus bersama nya namun tak di cintainya , untuk urusan anak Laurent akan menyerahkan Excel pada Eric karena Excel begitu dekat dengan Eric.
'' Apa kau akan keluar kota besok '' tanya Tasya .
'' Semakin cepat semakin baik , aku tidak mau mengulur waktu lagi . Aku rindu papa dan mama serta galeriku. Aku akan menugaskan Angga untuk menggarap proyek ini . Lagian semua telah deal '' jawab Eric.
'' Eric , apa kau serius akan menceraikan Laurent '' tanya Tasya hati-hati.
'' Ya , aku tidak bisa menyiksa hatiku dan hatinya. Aku biarkan Laurent lepas dariku agar menemukan pria yang benar mencintainya . Aku sudah belajar mencintainya namun rasa itu tidak ada '' ucap Eric.
'' Lalu bagaimana dengan mama ''tanya Tasya lirih.
'' Mama hanya butuh Excel bukan Laurent , aku harap begitu '' jawab Eric.
'' Bagaimana hubunganmu dengan David '' tanya Eric menajam.
'' He... aku berencana enam bulan lagi akan bertunangan dengannya '' jawab Taysa tersenyum malu.
'' Ingatlah , yakinkan hatimu jika memang ingin berhubungan dengannya . Kau di Italia dekat dengan pria ini dan itu dan kini pacaran satu tahun lebih di Indonesia pacaran dengan David dan itu sepupu Laurent pula '' ceramah Eric panjang lebar.
'' Ya bagiamana jika itu jodohnya , David pria yang baik Eric '' jawab Tasya dan Eric mengangguk karena ia sendiri telah menyelidiki di lebih dalam tentang David.
'' Lalu kau kapan akan menyusul '' goda Tasya.
'' Nanti , aku belum tertarik '' jawab Eric singkat .
'' Kau tidak berniat serius dengan teman wanitamu yang dari Francis itu '' goda Tasya.
'' Tidak , aku tidak suka . Dia terlalu berani terhadap pria '' jawab Eric jengah .
'' Pergilah sana tidak usah urus kehidupanku. Aku seorang pria , buat apa juga penting harus cepat menikah '' usir Eric , ia bosan jika Tasya berusaha menjodohkannya.
.
__ADS_1
.
.
Semenjak kepulangan suaminya dari kantor Ana menatap curiga , Rafli sedikit lebih diam .
'' Ayah , ini teh hijau untukmu '' ucap Ana duduk di samping Rafli sambil memangku Dewa yang belum terlelap.
'' Kenapa kalian gak ke kamar tidur '' tanya Rafli tetap fokus kepada kerjaannya.
'' Dewa belum mau tidur mas dan aku ajak aja kesini , Sam...'' ucapan Ana terhenti ...
'' Bunda , ini ruangan kerja bukan tempat bermain '' ucap Rafli sedikit meninggi dan membuat Dewa langsung menangis karena selama ini ia tak pernah mendengarkan suara yang begitu meninggi.
'' Bunda tidak suka , ayah bicara dengan nada tinggi di hadapan Dewa. Jika kehadiran kami terasa menganggu , kami permisi '' ucap Ana dingin .
''Ayo sayang kita ke kamar saja , mungkin ayahmu lagi sibuk '' imbuhnya ketus .
'' Ini semua karena kau Eric '' geram Rafli , kehadiran Eric kembali membuatnya merasa takut jika kehilangan Ana.
'' Apa yang telah aku lakukan '' imbuhnya menyesal dan segera mengakhiri kerjaannya untuk menyusul istri dan anaknya .
Ceklek ....
Ana terlihat sedang menyusui Dewa yang kini tangannya tengah bermain dengan wajah bundanya .
'' Bunda maafin ayah ya '' ucap Rafli lirih.
'' Bunda gak apa , cuma jangan bicara dengan nada tinggi seperti itu di hadapan anak mu ayah . Jika ada masalah kantor kerjakanlah dulu yah '' jawab Ana mulai menepuk lembut bokong Dewa agar tertidur pulas.
Setelah baby Dewa tertidur Ana segera mengunakan cream wajahnya untuk malam hari . Tubuh Ana kini telah kembali langsing seperti semula hanya bagian payu**ra saja ukurannya sedikit lebih membesar , Ana begitu menjaga tubuhnya untuk sang suami meski Rafli tak pernah menuntut apapun.
'' Kemarilah mas '' ucap Ana yang kini bersandar di ranjang mereka , Rafli segera mendaratkan kepalanya di pangkuan Ana , kini saatnya Ana memanjakan bayi besarnya .
'' Ada apa '' kata Ana lembut seraya memijat lembut pelipis Rafli agar lebih rileks.
'' Proyekku ada masalah sedikit '' ucap Rafli dan membuka tentang masalah tanah itu namun tidak tentang Eric .
'' Berarti itu bukan rezeki mu mas , ikhlaskan saja ya. Aku yakin pasti ada rezeki di tempat lain '' ucap Ana mengecup kening suaminya.
'' Tetaplah berada disisi mas apapun yang terjadi '' ucap Rafli menatap Ana dalam.
'' Aku akan selalu di sisi mu mas , apapun yang terjadi '' ucap Ana tulus.
'' Ya sudah tidur yuk mas , aku ngantuk banget '' imbuhnya dan di turuti oleh Rafli meski setelah Ana tertidur ia akan melanjutkan tugasnya , karena pagi nanti ia akan bertemu dengan Devan serta hadiah yang di nantinya selama setahun ini .
Pagi ini menjadi pagi yang menyibukkan bagi Ana , karena kedua bayi sedang membutuhkannya yang satu ingin makanan dan yang satu ingin di pakaikan baju , alhasil bayi besar nan egois itu membuatkan susu formula untuk bayi yang sesungguhnya membuat Ana menganga tak percaya sikap bayi besarnya .
'' Ma..mas '' oceh Dewa.
'' Ya ampun aku lupa '' bisik Ana pelan..
'' Dewa tunggu sebentar ya sayang , bunda mau urus ayah sebentar '' ucap Ana dan Dewa mengerti perintah mamanya agar jangan kemana-mana .
Setelah di rasa selesai dan Rafli rapi kini Ana memandikan baby Dewa dan segera turun kebawah bersama Rafli untuk sarapan , beruntung Ana sudah mandi saat itu .
Keluarga kecil yang bahagia itu segera duduk di meja makan di mana si kecil sudah di pesankan kursi khusus untuk dirinya agar setara tinggi duduknya bersama ayah dan bundanya , Dewa selalu menjadi orang ketiga di tengah mereka membuat Rafli terkadang memilih duduk di hadapan Ana , anak itu tidak mau jika ibunya terlalu dekat dengan ayahnya .
'' Kita cari baby sitter aja ya Bunda '' protes Rafli .
'' Gak Ayah , bunda masih ada waktu untuk urus kalian berdua '' tolak Ana .
'' Ya bunda ada waktu tapi itu (menunjuk Dewa yang asyik mengunyah itu ) dia selalu saja nempel denganmu '' gerutu Ralfi.
'' Namanya aja anak bunda, iya kan sayang '' tanya Ana dan Dewa mengangguk senang.
'' Ya sudah ayah berangkat dulu ya '' ucap Rafli mencium pipi Ana dan Dewa dengan gemas .
'' Bi tolong jaga Dewa sebentar '' pinta Ana karena akan mengantarkan suaminya kedepan pintu agar berangkat kerja .
'' Sayang , nanti mas pulang akan malam banget , kamu makan aja dan tidur aja langsung gak usah nunggu mas '' ucap Rafli .
'' Ya mas kerja hati-hati ya '' ucap Ana menyalami tangan suaminya dengan takzim.
'' Multivitamin ya dulu '' ucap Rafli langsung melu***bibir istri yang menjadi candunya , menyesapi rasa manis yang tiada duanya.
'' Hati-hati ya mas '' ucap Ana.
'' Ya sayang'' jawab Rafli mencium kening Ana dan berlalu pergi tanpa supir namun di dampingi mobil para bodyguard di depan dan belakangnya...
.
.
.
Deru langkah Rafli menggema saat memasuki ruangan penyiksaan itu , tempat yang terdahulunya telah di ubah menjadi markas anak buahnya saja karena Ana terlanjur mengetahuinya waktu itu
Senyum smirik Rafli tersungging menatap dua wanita buronannya selama ini.
'' Takut huh '' ucap Rafli mengejek .
Luna hanya mampu menangis dan meminta maaf begitu mendalam untuk Ana dalam hatinya , meski ia tau nyawanya tak akan Rafli lepas untuk ke dua kalinya.
__ADS_1
Plakk. tamparan keras mendarat sempurna di pipi Luna , perempuan yang paling ia benci di muka bumi ini membuat tubuh perempuan satunya yaitu Agnes gemetaran. Ia masih mengingat jelas saat Devan dan anak buah nya menangkap ia dan Luna , tanpa belas kasih Devan membunuh orang-orangnya dan membakar tempat itu tanpa peduli makhluk yang masih bernafas , Devan pun turut kesal dengan kejadian satu tahun yang lalu itu.
'' Kalian fikir bisa lolos dengan ku begitu mudah '' ucap Rafli dingin.
'' Vietnam , India , Amerika , Inggris , dan Singapura '' ujar Rafli menyebut negara pelarian Agnes dan Luna secara berurut ,ia sempat kecolongan di empat negara itu namun dengan yang terkahir setelah Devan mengerahkan seluruh anak buahnya , baru dua hari saja di Singapura Agnes dan Luna tertangkap.
'' Luna Luna , kau menjual dirimu untuk memenuhi hidupmu selama pelarian , hingga kau masuk jebakan ku . Jika tau begini ayahmu sudah melakukan tahlilan seratus hari kematian mu.
'' Rafli ku mohon , maafkan aku '' ujar Agnes buka suara.
'' Devan tampar dia tiga kali dengan begitu keras , tapi jangan sampai ia mati dengan begitu mudahnya '' perintah Rafli dan Devan menurutinya dengan senang.
Plaakk tamparan pertama membuat pipi Agnes berdarah.
Pplakk. tamparan kedua membuat Agnes yang terikat bersama kursi besi itu terjungkal kebelakang.
Plakk tamparan ketiga membuat darah keluar dari telinga Agnes membuat Agnes tak sadarkan diri seketika karena sakit yang luar biasa.
'' Kenapa kau buatnya pingsan '' ucap Rafli berdecak kesal.
" Dia ini monster milik Rafli yang sesungguhnya , Ana maafkan aku. Semoga kau bahagia selamanya... Ku mohon Ana . Aku sungguh ku berdoa untuk maafku padamu "di batin Luna .
'' Kau tau Luna , Ana itu sahabatmu , ia pernah menyelamatkan nyawamu dari ku saat itu namun tidak untuk saat ini . Ia juga yang memintaku memindahkan nama restaurant menjadi milikmu yang diambil ibu tirimu. Kau membalas kasih sayangnya padamu menjadi racun untuknya. Aku hampir kehilangan nya Luna , akibat pemikiran bodohmu '' ucap Rafli membuat Luna menangis begitu dalam.
'' Menyesalpun tak ada guna Luna , aku Rafli bukan Ana. Bahkan aku tau malam itu kau di jebak oleh jalang itu '' ucap Rafli melirik Agnes membuat Luna menoleh , Rafli segera membuka video penjebakan Luna yang di lakukan oleh Agnes . Terlihat Agnes yang mencampur obat dalam minuman Luna dan Agnes pula yang membayar lelaki lain untuk menodai Luna dan kemudian Agnes mengancam Luna akan menyebarkan video panasnya , Luna yang tak ingin malu masuk kedalam perangkap Agnes yang begitu membenci Rafli terutama Ana makhluk yang paling Agnes benci .
'' Kau terkejut melihat kenyataannya '' ucap Rafli geram dan kemudian menampar Luna begitu kuat.
'' Aku sebenarnya jijik menyakiti wanita , tapi karena kalian berdua , aku menyakiti Ana . Maka dengan tangan ini juga , aku akan membunuh kalian '' ucap Rafli serius membuat tubuh Luna bergetar hebat saat pistol berada di tangan kanan Rafli dan belati di sebelah kiri Rafli yang di ujung belati terdapat racun yang membunuh seseorang perlahan dengan sakit luar biasa.
'' Seharusnya kau cerita kepada Ana , maka Ana pasti akan menolongmu dan semuanya akan baik-baik saja. Namun benar , Ana tidak baik mempunyai teman sepertimu dan kau memilih jalan kematian mu bukan '' sarkas Rafli.
'' Rafli tolong sampaikan maafku pada Ana '' lirih Luna yang sedari tadi menangis .
'' Maaf ,namun aku juga minta maaf , aku tak akan menyampaikan maaf mu pada Ana '' jawab Rafli mengejek.
'' Bunuh saja aku Rafli ...hiks....hiksss... '' ucap Luna .
'' Enak saja , malam itu istriku begitu tersiksa '' ujar Rafli membuang pistol itu dan mendekati Luna dengan belati di tangannya..
Srett ...
'' Aauuwww '' pekik Luna saat tangannya di gores dalam oleh Rafli.
...'' Untuk tanganmu yang dengan lancang mengambil gaun isteriku '' desis Rafli....
'' Auuuwww sakit '' pekik Luna saat pipinya terdapat sayatan dari Rafli .
Ssreeettt
'' Aauwww , ku mohon Rafli ampuni aku ... '' ucap Luna tak tahan begitu perihnya saat luka itu di siram dengan air garam oleh Devan.
Ssreeettt
perut Ana di gores oleh Rafli membuat Luna merasakan sakit luar biasa hingga wajahnya memucat.
'' Kau payah , itu baru goresan Luna '' ejek Rafli.
Tuks.
Belati itu menusuk organ tuhuh hati Luna dan seketika jeritan Luna tak tertahan.
Rafli berdiri..
'' Untukmu selesai hari ini Luna '' ucap Rafli .
'' Kau bisa menikmati tubuh Agnes , ku dengar ia masih suci. Jika kau ingin mencobanya , jika tidak berikan saja dengan anak buah mu . Tapi ingat , dua hari lagi aku datang untuk melenyapkannya '' ucap Rafli sempat di dengar oleh Luna yang merintih sakit .
'' Maaf tuan , tapi aku tidak tertarik oleh tubuh wanita seperti itu '' jawab Devan karena ia bukan orang bejad meski banyak nyawa yang ia ambil secara paksa.
'' Aku pergi '' ucap Rafli dan di angguki para anak buahnya.
'' Bagi kalian yang ingin , nikmatilah tubuh wanita yang bergaun Hitam itu '' membuat anak buah Devan menganga tak percaya .
'' Dia masih bersegel '' imbuhnya membuat sepuluh orang itu bersemangat menghampiri Agnes yang tak sadarkan diri dan sebagiannya memilih duduk atau hanya ingin menonton saja , mereka mengikat kaki dan tangan Agnes hingga berbentuk X dan tanpa sabar mereka meraba tubuh Agnes dan memasukinya dengan kasar , Agens terbangun karena perih yang ia rasa , ia hanya menangis saat pria dia atas menikmatinya , sumpah serapah keluar begitu saja dari mulut Agnes namun malah membuat anak buah Devan yang haus wanita itu menjadi-jadi menikmatinya .
Ikatan Agnes di buka satu pria terlentang menunggunya dan masuklah sudah benda berdiri itu seluruhnya , melihat temannya bermain begitu lama membuat pria yang lain menembus Agnes dari lobang sempit milik lain membuat Agnes membulatkan matanya menahan sakit luar biasa ,bibir Agnes belum ada yang mencicipi membuatnya mencium dengan rakus hingga ia merasa puas dengan bibir itu.
'' Jalang ayo punyaku '' ucap orang kelima memaksa Agnes memasukkan permen lolipop itu untuknya...
'' Aku lebih baik mati bila begini ....hiks...hiks ...." batin Agnes menikmati sakit luar biasa saat ini . Saat orang pertama memasukinya ia merasakan sakit namun bercampur nikmat tapi tidak saat ini saat bagian depan dan belakangnya harus serentak bermain belum lagi saat ini mulut nya.
" Akan ku kejar kau hingga keneraka Ana " batin Agnes , kini tubuhnya pasrah berharap segera berakhir , meski nyatanya tidak akan mudah ia lewati hingga malam nanti.
Luna yang sekarat merasa miris melihat tontonan di depannya , ia tak menyangka Rafli yang tidak sebejat itu memerintahkan anak buahnya melakukan itu pada Agnes.
Perlahan mata Luna tertutup.
Sedangkan Devan dan lima anak buahnya mengurus pemakaman Luna.
Jangan lupa like dan komentarnya.
Maaf begitu kejam siksaan Agnes.
__ADS_1