Takdir Cinta

Takdir Cinta
Episode 324


__ADS_3

Wildan dan semua anak buahnya pergi ke sebuah gudang yang sangat besar. Terlihat anak buahnya mendatanginya dan mengatakan sesuatu yang membuat senyum di wajah Wildan mengembang. Wildan pun beranjak masuk, ada dua lelaki yang terikat di kursi dengan keadaan lemas dengan banyak luka di wajahnya. Salah satu mereka bahkan terlihat berdarah di kakinya.


“Apa mereka mengatakan sesuatu pada kalian?” tanya Wildan.


“Tidak, Tuan. Mereka masih bungkam walaupun kami paksa.”


Wildan mendekati kdeuanya dengan duduk di depan mereka, ternyata anak buahnya lebih menyiksa mereka dengan menusuk salah satu dari mereka di bagian perut. Wildan memicingkan matanya menganalisa semua luka pada mereka berdua.


“Kalian tidak ingin mengatakan sesuatu padaku? Jika begitu biarkan aku yang mengatakan sesuatu padamu. Luka yang kaudapat semakin lama akan membuatmu kehabisan darah, aku bisa melihat tubuh kalian yang mulai berkeringat dan gemetaran,” ucap Wildan.


“Jika kau mengatakan semuanya padaku, aku akan membiarkan kalian hidup bahkan aku akan menyembuhkan luka-luka kalian,  asal katakan padaku siapa yang memerintah kalian,” sambung Wildan seraya berdiri mengelilingi keduanya.


“Mau kau memberikan penawaran yang menggiurkan pun, kami tak akan mengataka apa pun. Apalagi menghianati Tuan kami,” serunya dengan senyuman licik.


Wildan tersenyum dengan apa yang di katakan kedua lelaki tersebut, lalu dengan tangan yang diangkat Wildan memerintahkan anak buahnya tuk membunuhnya. Terlihat anak buah, Wildan mengeluarkan pistol di balik bajunya membuat kedua lelaki itu melototkan matanya tak menyangka.


“Baiklah, itu kalian yang mau. Setelah aku bisa membunuh kalian, aku akan mengirimkan mayat kalian ke depan anak dan istri kalian. Dan memberikan tanda jika kalian adalah pembunuh bayaran,” ucap Wildan.


Sontak perkataan dari Wildan membuat mereka merasa takut, tapi mereka tetap berpikir kembali. Jika membongkar siapa dalangnya mereka akan mati di tangan atasannya. Jika mengatakannya, Wildan pun mungkin saja akan tetap membunuhnya.


“Kami akan tetap terbunuh, jadi lebih baik kita mati sekarang juga. Tanpa harus mengalami penghianatan.”


“Kalian sangatlah setia, namun kalian telah salah setia pada atasan kalian yang tidak memiliki rasa kasihan atau simpati pada itu. Bahkan, jika kalian bisa bebas dengan selamat akan membuat atasan kalian curiga dan segera membunuh kalian berdua,” balas Wildan.


Kedua lelaki itu menelan saliva nya mengingat jika memang atasannya tak mempunyai rasa kasihan pada bawahannya. Apalagi dengan mereka yang sudah tertangkap seperti ini, terlihat gurat kecemasan di keduanya. Membuat Wildan tersenyum tipis.


“Baiklah, saya sudah memberkan penawaran yang menurutku sangatlah menguntungkan kalian. Tapi, karena kalian berdua menolaknya jadi tuk apa saya masih membiarkan kalian hidup. Selamat tinggal,” ucap Wildan dengan membalikkan tubuhnya.


Keduanya , menjadi tegang seraya melotot menatap Wildan dan bawahannya yang sudah mengarahkan pistolnya pada mereka.


“Tu-tunggu! Jangan bunuh kami, kami akan memberitahukannya. Tapi dengan satu syarat, tolong lepaskan kami dan keluarga kami setelah ini!” pinta dari salah satu lelaki itu.


Wildan mengkode bawahannya dan melepaskan ikatan itu dan akhirnya mereka pun mengatakannya, terlihat ada dua suster yang datang tuk mengobati luka mereka.


“Urusan kami itu bukan kau atau pun keluargamu. Tapi, Laudya wanita yang bersama dengan bawahanmu itu. Wanita itu milik dari Tuan kami, Tuan Zidan sudah mencarinya lebih dari sebulan.”


“Jadi kalian bawahan dari Zidan, sedang mencari keberadaan Laudya? Namun sayang, dia sudah menjadi orangku, aku yang menemukannya dan membawanya pergi. Bahkan aku yang membuatnya sembuh,” ucap Wildan.


HOTEL


Vanya masih diam seribu bahasa, bahkan dia tak ingin satu kamar dengan Wiliem. Wiliem mengerti akan itu dan membiarkan Zee menemaninya, Alex dan Wiliem satu kamar dengan Ken.


“Ada apa dengan Vanya? Kenapa anak itu sampai mennagis hebat seperti itu,” gumam Ken sembari meminum anggurnya.

__ADS_1


Alex menatap Ke arah Wiliem yang diam sembari merebahkan tubuhnya, menatap Ken yang melihat pemandangan langit malam. Tanpa permisi, Alex menuju ke kamar Zee tuk melihat keadaan dari Vanya.


Zee membukakan pintu kamarnya saat melihat sang sumai yang datang, Alex melihat Vanya yang sedang meringkuk di atas ranjang. Perlahan, Alex mendekatinya membelai lembut rambut Vanya dengan sangat pelan karena ternyata dia sudah tertidur.


“Selamat malan, Anh.” Alex mencium kening sang adik sekilas, lalu melihat sang istri yang terlihat cemas pada Vanya. Alex memeluknya menenangkan Zee dalam dekapannya.


Vanya yan ternyata belum tidur pun hanya bisa menghembuskan napas panjang dan menangis dalam diam. Malam itu hatinya sangat ber kecambuk dengan ulah Wil yang menolong Laudya, begitu pula dengan kejadian dirinya dan Wildan. Sampai saat ini pun, jantung Vanya terus berdetak kencang jika terbayang ciuman itu.


Malam semakin larut, semua orng sudah dalam mimpi indahnya. Tapi tidak dengan Vanya yang memilih keluar berjalan-jalan di dekat kolam renang. Gadis muda itu terus melamun dengan berjalan, Wildan yang baru saja pulang melihat Vanya yang berjalan-jalan sendirian di tengah malam.


“Sedang apa dia di sana, kemana Wiliem?” tanya Wildan berjalan mendekati namun tetap menjaga jarak.


Vanya berjalan mendekati kolam, duduk di sana dan membiarkan kakinya berada di dalam air. Wajahnya terlihat sangat sedih. Wildan merasa jika kejadian itu pasti membuatnya bersalah pada Wiliem.


“Kenapa kalian begitu dekat? Membuatku merasacemburu saja,” ucap Vanya sembari menatap bintang bulan.


Wildan menatap ke atas, ternyata di atas sana ada bulan bintang yang berdekatan. Wildan tersenyum mendengar sisi polos dari Vanya itu yang bisa takjub hanya dengan hal-hal biasa saja.


“Bulan, bintang, apa kalian tahu. Malam ini, aku merasa cemburu bukan hanya pada kalian saja, tapi juga pada mantan kekasih dari suamiku, dan aku juga merasa dadku sangat sesak jika mengingat kejadian saat berciuman dengan Kak Wildan. Apa aku berkhianat pada suamiku, tapi sungguh itu hanya sebuah kesalahan,” gumam Vanya dengan wajah sendu.


Wildan mendengarkan dengan seksama semua ucapan dari Vanya, lelaki itu sampai bersender di dinding tuk mengetahui semua perasaan dari Vanya. Vanya malam itu mengeluarkan semua perasaannya, wanita muda itu terus berbicara pada bulan bintang.


“Aku sangat mencintai Wil, aku sungguh sangat mencintainya,” ucap Vanya lirih dengan menangis.


“Sadarlah! Dia itu begitu mencintai suaminya. Kau itu lelaki tak tahu diri, Wil. Menyukai istri orang lain, kau juga berharap padanya,” ucap Wildan dengan lirih.


Wildan berjalan ke ruang bar, di sana lelaki itu meminum banyak beer sampai membuatnya mabuk Wildan akan menjadi sangat agresif jika sedang mabuk, lelaki itu terus berbicara sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya.


“Aku harus mencari wanita tuk menjadi istriku. Aku tak mau jatuh cinta padanya, selama ini banyak wanita yang jauh cinta padaku, tapi kenapa aku harus mencinta dia yang sudah menjadi milik orang lain, huh!!” teriak Wildan dengan begitu keras.


Beer yang berada di gelasnya sudah kosong, membuatnya langsung meminumnya langsung dari botol. Wildan yang sebenarnya sangat kuat minum pun menjadi mabuk karena malam itu dia merasakan patah hati sebelum mengungkapnya.


“Kenapa kau datang setelah bersamanya? Kenapa, Tuhan begitu tak adil memberikan rasa ini hanya padaku, tapi tidak dengannya?” gumam Wildan.


Pelayan pun sampai iba pada Wildan yang notaben nya seorang pangeran di Amerika dan memiliki banyak kekayaan, sangat tampan dan cerdas, seorang dakter terkenal yang sangat di segani. Namun bisa lemah hanya karena rasa cintanya pada seorang wanita.


“Kenapa aku harus terpikat oleh gadis itu, kenapa aku terpesona dengan kepolosannya, senyumannya dan wajah ayu  nya membuatku terhenti dalam beberapa saat. Jantung sialan, kenapa kau terus berdetak kencang jika aku sedang memikirnya, huh?” umpat Wildan seraya memukul dadanya.


Wendy yang satu kamar dengan Wildan pun merasa cemas saat tak melihat sang adik yang belum juga kembali. Akhirnya memutuskan tuk keluar mencarinya dan  mendengar sesuatu dari dalam ruangan Bar. Saat masuk dia begitu terkejut melihat Wildan yang sedang mabuk dengan segala umpatannya.


“Nona Wendy,” panggil pelayan.


Wendy memberikan isyarat tuk pergi pada pelayan tersebut, lalu mendekati sang adik yang sedang memeluk botol beer di tangannya. Dengan paksa, Wendy mengambilnya dan membuat Wildan marah dengan mengumpat pada sang kakak.

__ADS_1


“Kembalikan itu, dasar kurang ajar! Berani sekali mengganggu diriku, huh!” hardik Wildan menatap ke arah Wendy.


Wendy memukul kepala Wildan sampai membuat lelaki itu meringis karena merasakan sakit, Wildan yang terkena pukul pun hanya bisa memegangi kepalanya seraya menatap sang kakak dengan wajah memelas. Wendy menatap Wildan dengan tatapan dingin.


“Aku mau minum, berikan itu padaku Wendy!” pinta Wildan seraya mengambil botol tersebut.


“Jika kau berani meminumnya lagi, aku akan menyeretmu ke kolam renang dan menenggelamkanmu di dasarnya!” seru Wendy.


“Wendy, biarkan aku tuk malam ini saja! Aku ingin mabuk dan melupakan segalanya, apa kau tak lihat hatiku berdarah?” tanya Wildan seraya membusungkan dadanya.


Namun dengan cepat, Wendy mendorongnya dan membuat Wildan menangis. Lelaki itu terjatuh di bawah lantai hanya karena dorongan pelan dari Wendy, Wendy merasa semakin aneh pada tingkah Wildan pun akhirnya mendekatinya dan memegang wajahnya.


“Wild, are you ok?” tanya Wendy menjadi cemas.


“Sudah ku bilang, aku terluka. Lihat hatiku tercabik-cabik dan berdarah,” jawab Wildan dengan menangis seperti anak kecil.


Wendy yang tak percaya jika sang adik akan menjadi agresif saat mabuk pun hanya menggeleng. Wendy membantu Wildan tuk duduk di sofa, sedangkan Wildan masih menangis.


“Kenapa dengan hatimu, coba kau ceritakan padaku!” pinta Wendy.


“Wend, aku menyukai wanita milik orang lain,” balas Wildan lirih dengan memegang dadanya.


“Dasar bodoh, sudah tahu milik orang lain, kenapa kau masih menyukainya, huh?” umpat Wendy memukul lengan Wildan.


“Entahlah, aku terpesona padanya saat pertama bertemu. Dia gadis yang sangat polos, periang dan aku paling menyukai suara tawanya. Senyumannya dan juga aku mencintai dirinya,” jawab Wildan sembari tersenyum.


Wendy menganga tak percaya ternyata seorang Wildan bisa menyukai sesuatu. Bahkan dia mengatakan mencintai seorang gadis, sungguh ini sebuah perkembangan yang lebih baik.


“Siapa pula gadis itu, sampai membuat kau seperti orang gila? Apa dia tahu kau menyukainya?” tanya Wendy.


“No, jangan sampai dia tahu! Dia akan sedih, dia akan semakin merasa bersalah. Wend, kau sudah berjanji padaku tak akan bercerita pada siapa pun, jika aku mencintai istri dari Wiliem itu,” jawab Wildan.


Wendy menutup mulutnya karena begitu terkejut dengan pernyataan dari sang adik. Jantungnya berdetak cepat karena tak menyangka gadis muda itu adalah Vanya, Wendy melihat jika memang Vanya sangatlah berbeda, gadis itu sangat polos dan sangat riang.


Plakk


“Apa yang sadar apa yang kau katakan, huh? Dia itu sudah menjadi istri orang lain dan kau malah menyukainya. Jangan macam-macam kau Wildan, atau aku bunuh kau sekarang juga!” seru Wendy.


Wildan bergidik ngeri karena ucapan dari Wendy, bahkan lelaki itu beringsut ke belakang sofa. Padahal, Wendy tak melakukan apa pun padanya. Tanpa mereka tahu, di balik pintu terdapat sepasang mata yang melihat itu dan mendengar semua itu.


**Bersambung...,🍂🍂🍂


Selamat membaca sayang-sayangnya aku 😘😍**

__ADS_1


__ADS_2