Takdir Cinta

Takdir Cinta
Episode 318


__ADS_3

BERCINTA


Malam bersalju itu membuat suasana di dalam menjadi syahdu, seperti pasangan  Alex dan Wil yang sedang menghabiskan waktu mereka di dalam kamar. Begitu pula dengan Arga dan Laudya yang terbawa akan suasana romantic turunya salju itu.


Diruang tengah, terlihat cerobong asap mengepulkan uapnya, ada Ken, Wildan dan Messi yang sedang menikmati kopi panas, Elina masuk dengan membawa cemilan dan ikut bergabung dengan mereka.


“Kau menjaganya dengan baik,El. Terimakasih, sudah membuat mereka bertiga nyaman,” ucap Wildan seraya menyeruput kopinya.


“Bukankah, itu sudah menjadi tugasku. Jadi, aku bisa kan mendapat hadiahku akhir pekan ini?” tanya Elina.


“Kau masih mengingat itu? Baiklah, kau dan kedua adikmu bisa bebas tugas akhir pekan nanti. Aku akan memberikan sepuluh hari tuk kalian,” jawab Wildan.


Messi tersenyum menatap Elina, begitu juga dengan Elina yang sangat terlihat bahagia. Ken yang menyimak itu hanya diam mendengarkan percakapan itu.


“El, kau masih ingin menemui Dokter yang pernah aku ceritakan padamu?” tanya Wildan.


“Dokter Zio itu, tentu jika aku mempunyai kesempatan aku sangat senang sekali. Bertemu dengan Dokter hebat itu, Arga juga pasti sangat senang,” jawab Elina dengan nada sedih sembari menunduk.


“Jika kau bertemu dengannya, apa yang ingin kau lakukan padanya? Ahh,, maksudku apa yang ingin kau ucapkan padanya?” tanya Wildan sembari tersenyum menatap Ken.


“Aku ingin berbicara banyak dengannya, aku dan Arga ingin sekali berjabat tangan dengannya dan mungkin berfoto dengannya,” jawab Elina antusias.


Ken yang mendengar itu hanya bisa tersenyum, tak menyangka jika ada yang begitu menyukainya. Ken menatap Elina yang sedang menceritakan keinginannya jika bertemu dengan dirinya itu, mengingatkan dirinya pada Vanya yang selalu berkata jujur dan spontan.


“Ekhem,, Elina. Apa aku boleh bertanya padamu?” tanya Ken.


“Apa itu, Tuan?” tanya Elina.


“Apa kau sangat menyukai Dokter Zio itu? Apa yag sangat kau sukai darinya?” tanya Ken.


“Kau tahu, Tuan. Aku bisa bersekolah menjadi Dokter itu karena melihat riwayat hidupnya, tentang ceritanya yang menyelamatkan keluarganya dengan sang kekasih. Dan yang paling aku suka, Dokter Zio itu sangat terkenal dengan kecerdasannya dan juga kebaikannya,” jawab Elina.


“Apa itu menurutmu adalah kebenaran dari kisah hidupnya? Bagaimana, jika ternyata semua itu hanya sebuah opini public yang dibuat-buat?” tanya Ken.


Elina mencermati apa yang Ken ucapkan, terlihat gadis muda itu sedang berpikir. Ken memperhatikan Elina yang terlihat kritis dalam menanggapi sesuatu. Wildan hanya tersenyum melihat Ken yang sedang mengetes Elina, memang seperti itulah Ken tuk melihat setiap orang yang menyukai dirinya.

__ADS_1


“Entahlah, Tuan. Asal kau tahu saja, aku dan Arga adikku tidak pernah tahu akan seperti apa Dokter Ken. Yang kami dengar adalah Dokter Zio seperti apa yang aku ceritakan, aku membaca semua artikelnya saja tanpa bisa melihat wajahnya,” jawab Elina.


“Ahh, tidak. Aku pernah dia menelpon Wildan saat itu, aku mendengar semua percakapannya dengan Wildan. Saat itu, Dokter Zio membicarakan sang adik yang sedang koma, terdengar sangat santai walaupun pembicaraannya yang sangat serius.


“Jadi kau mendengarkan semuanya, El?” tanya Wildan.


“Ya, aku mendengarkan semuanya saat aku bekerja,” jawab Elina dengan tersenyum.


“Sudahlah, Ken. Jangan meragukan lagi kemampuan dari Elina! Aku sendiri yang turun tangan mengajarinya, bahkan aku bisa debat dengannya karena Elina selalu memakai cara kedokteran dari Dokter hebatnya itu,” ucap Wildan.


“Hahhaa, berapa usiamu, El?” tanya Ken.


“Usiaku dua puluh satu tahun,” jawab Elina.


“Dimana adikmu itu, apa aku juga bisa bertemu dengannya?” tanya Ken.


“Dia sedang merawat pasiennya, Tuan,” jawab Messi.


Arga masih menemani Laudya di kamarnya, sedangkan Alex dan Wiliem sedang asyik bercengkrama dengan istri mereka masing-masing di dalam kamar. Tak pernah terpikirkan oleh Alex atau Wil jika Zee dan Vanya akan kemari menemui mereka, sedangkan merka sama sekali tak bisa keluar dari tempat itu tanpa pertujuan Wildan.


“Kau tahu dari mana, aku dan Laudya menjadi akrab, huh?” tanya Alex balik mengalihkan pembicaraan.


“Kau jangan becanda, Lex. Aku bisa melihatnya, kau dan Wil kembali bertema dengannya?” tanya Zee.


“Hemm, jika seperti baiklah. Aku akan mencoba menerimanya,” sambung Zee menatap sang suami.


Alex tersenyum memeluk tubuh Zee, merasaakn detak jantung Zee da merasakan kehangatan tubuhnya yang selama beberapa hari ini sangat dia rindukan. Aroma tubuh Alex selalu membuat Zee merasa nyaman, apalagi jika sudah melihat tattoo yang terlukis indah di dadanya.


“Aku sangat merindukanmu, Alya juga selalu mencarimu dan juga Wil,” ucap Zee lirih.


“Maafkan aku, sudah membuatmu khawatir dan mungkin merasa kesal saat melihatku dengan Laudya,” balas Alex seraya mencium kening Zee.


Zee mendongak menatap wajah sang suami, tatapan Zee dan Alex mengisyaratkan betapa mereka sangat merindu hanya dengan terpisah beberapa hari. Zee sangatlah trauma dengan perpisahan, kejadian kepergian Alfa membuat wanita itu mempunyai luka yang sangat dalam dan trauma yang begitu besar akan sebuah perpisahan.


Alex mencium bibir ranum sang istri, melummatnya dengan sangat lembut memberikan sensasi nyaman tuk Zee sebuah rasa yang mengalir ke dalam tubuhnya. Memberikan reaksi pada keduanya tuk melepas semua gairah yang tertunda karena jarak yang memisahkan.

__ADS_1


“Aku berjanji, akan terus bersamamu dan tak akan pernah meninggalkanmu lagi,” ucap Alex dengan suara yang berat karena menahan gairahnya.


“Kau tak boleh lagi pergi dari sisiku atau pun hidupku, kau harus menepati janjimu sekarang! Jangan kau ingkari lagi, Al!” pinta Zee denga suara sangat lirih.


Alex mengangguk dengan sangat pelan, Zee tersenyum menatap sang suami. Keduanya kembali bercumbu di dinginnya badai salju. Hangatnya selimut tak lebih hangat dari pelukan sang kekasih hati.


“Kenapa mantan kekasihmu berada di sini, Wil?” tanya Vanya dengan mengerucutkan bibirnya.


“Aku pun tak tahu, karena saat aku di bawa kemari ternyata dia sudah lebih dahulu ada di sini,” jawab Wiliem.


“Kau sudah berbaikan dengannya? Atau memang kalian tetap berteman sejak dulu?” sindir Vanya seraya duduk di tepi ranjang.


Wiliem menghampiri sang istri, berjongkok di depan Vanya. Menggenggam tangannya dengan mengadahkan wajahnya tuk menatap istri kecilnya.


“Katakanlah jika kau marah padaku! Pukullah aku, jika kau merasa kesal padaku, tapi harus kau tahu Anh. Aku sama sekali tak pernah berpikir tentang bagaimana dulu rasaku padanya, selama aku di sini hanya kau yang selalu berada di dalam otakku,” ucap Wiliem dengan bersungguh-sungguh.


Melihat tak ada respon dari Vanya, membuat Wiliem hanya menunduk dengan mencium tangan sang istri. Wiliem sudah menduganya jika dia dan Vanya akan kembali salah paham karena Laudya, sama halnya saat bertemu di dalam butik tempo hari.


“Apa hanya seperti itu saja pikiranmu tentang aku, Wil? Apa karena aku yang masih anak-anak dan karena pikiranku yang masih sangat labil, membuatmu berpikir jika aku tak mengerti akan situasimu di sini?” tanya Vanya mentap sendu Wiliem.


“Anh, maafkan aku! Bukan seperti itu sayang. Aku hanya tak ingin kau berpikir yang tidak-tidak tentangku dengan Laudya, karena aku sungguh mencintaimu dan sangat menyayangimu Anya,” jawab Wiliem seraya memeluk tubuh istri kecilnya.


Vanya memeluk erat tubuh Wiliem, entah kenapa wanita muda itu sangat menyukai aroma tubuh Wiliem yang menurutnya membuatnya melupakan segalanya. Wiliem membaringkan Vanya dengan sangat pelan di ranjang yang super size itu, mengurung tubuh kecil Vanya dalam kungkungan tubuh besarnya. Wiliem melihat dengan seksama wajah Anya yang beberapa hari tidak dia temui, Vanya hanya bisa tersenyum menatap sang suami tercinta.


Wiliem mencium kening, turun pada kedua mata, mengirup aroma wangi dari pipinya yang merona, berhenti menatap Vanya kembali sebelum Wil melummat habis bibir Vanya. Permainan itu tak memberikan Vanya ruang gerak, karena Wil yang memimpin semuanya, Vanya hanya bisa diam menikmati apa yang sang suami lakukan padanya. Rasanya, semua rindu dan waktu saat menunggunya kembali sudah terbalaskan dengan bertemu dan bisa melepaskan segalanya.


“Cepatlah, bersemayam kembali di rahim mommy mu sayang! Daddy selalu menunggu keberadaanmu,” ucap Wiliem dengan berbisik pada perut rata Vanya.


Vanya hanya tersenyum jika Wil mengatakan itu pada perutnya, dan itu selalu terjadi setelah mereka bercinta. Wil akan tidur dengan memeluk perut polos Vanya, seakan itu adalah sebuah bayi mungil.


“Semoga Tuhan segera memberikan kita lagi amanahnya, aku ingin merasakan gerakan bayi di dalam perutku, semoga saja doa kita segera di kabulkan,” batin Vanya seraya mencium kening Wiliem.


Bersambung,,,🍂🍂🍂


Jangan lupa tuk terus tinggalkan jejaknya, jadikan novel ini Fav yah sayang-sayangku… Terimakasih bagi ynag sudah memberi Like, komen, rate dan votenya,,, Salam hangat dari ku.

__ADS_1


__ADS_2