
Sudah seminggu Zee dan Alfa tak bersama sama, Zee tak bermaksud menjauh dari Alfa. Tapi sidang skripsi sebentar lagi dan Zee harus bisa mendapatkan nilai yang memuaskan. Karena perusahaan sang ayah harus bisa dia kelolah. Karena, Zyan sudah tak ada otomatis Zee lah yang akan melakukannya.
Pemikiran yang berbeda pada Alfa, dia merasa Zee sudah keterlaluan dan sangat membuatnya marah. Seminggu ini Alfa selalu menunggu Zee, berbicara padanya. Namun, nihil Zee semakin jauh dan sibuk dengan dunianya sendiri.
"Apa yang ku harapkan dengan semua ini? Kau semakin menjauh Zee, ada apa? Kenapa kau tak marah dan menanyakan sesuatu padaku?" gumam Alfa yang melihat Zee dari kejauhan.
"Apakah cinta kalian akan berakhir sampai disini? Dan hubungan itu akan musnah" ucap Zyvia.
Zyvia selalu memperhatikan Zee dan Alfa, hatinya sedikit bahagia melihat Alfa dan Zee berjauhan.
Di dalam perpustakaan ternyata ada teman lelaki Zee yang mendekatinya, dan Zee membolehaknnya tuk menemani dirinya. Karena memang mereka satu kelompok.
"Maaf ya Zee, kalau aku mengganggu" ucap Tio.
"Menganggu apa, tentu tidak. Aku malah senang karena ada temannya, dan pastinya kau bisa membantuku," balas Zee dengan senyum manisnya.
"Aku akan dengan senang hati, membantumu" ucap Tio tersenyum pula.
Alfa begitu tak suka melihat kejadian itu pun mengepalkan tangannya dengan kencang, Alfa begitu tak suka melihat Zee tersenyum seperti itu pada lelaki lain.
Zee dan Tio pun mencari buku untuk materi mereka, dan ternyata buku itu berada di rak bagian atas.
"Coba kau ambil buku itu!" perintah Zee.
Tio mencari kursi untuk pijakannya, namun tak ada. Sedangkan mereka harus segera mendapatkan buku itu, sebelum ada anak lain yang memakainya.
"Bagaimana kalau kau aku gendong untuk mengambilnya? Tak ada kursi disini" jelas Tio.
Zee pun mencari sesuatu, dan terdapat kursi kecil di ujung lorong. Dengan cepat Zee mengambilnya.
"Aku temukan ini, kau pegang yah! Aku akan naik" ucap Zee.
Tio mengangguk mengerti, dan membiarkan Zee menaiki kursi kecil itu. Zee berhasil mengambil buku itu namun naas kaki kursi itu patah, dan Tio menangkap tubuh Zee yang hampir terjatuh.
"Aww" pekik Zee sambil menutup matanya.
"Kau tidak apa apa?" tanya Tio cemas.
"Aku, aku tidak apa apa. Terimakasih," jawab Zee seraya turun dari gendongan Tio.
Dari arah belakang terdengar suara langkah kaki yang begitu cepat, dan langsung menerjang tubuh Tio dengan tinjunya.
Bugghhh,,,
Alfa meninju dagu Tio, hingga tubuhnya terjatuh di lantai, terlihat darah segar dari sudut bibirnya.
"ALFA," teriak Zee menarik tangan Alfa tuk menjauh dari Tio.
Zee mendorong tubuh Alfa, berterima tepat di depan wajahnya, Zee begitu marah dengan sikap Alfa.
"Apa yang kau lakukan, kenapa kau memukulnya, hah? Apa salah Tio padamu?" teriak Zee.
Alfa begitu kecewa dengan Zee yang lebih memilih Tio dari pada dirinya.
__ADS_1
"Apa yang aku lakukan itu, pantas buat dia yang berani sentuh kamu," jawab Alfa begitu dingin.
"Hah, menyentuh apa yang kau maksud? Tio hanya menolongku yang akan terjatuh tadi," jelas Zee.
"Terserah apapun itu, aku tak suka kamu bersentuhan dengan lelaki lain," balas Alfa.
"Jadi hanya dirimu yang boleh menyentuh gadis lain, selain diriku?" tanya Zee sinis.
Alfa melototkan matanya pada Zee, sungguh Alfa tak suka dengan ucapan Zee. Tangan Alfa mengepal kuat menahan amarahnya.
"Coba katakan, apa kau mau seperti itu? Apa kau lihat kursi kecil itu patah. Dan Tio menolongku, dia terbaik hati padaku, Al. Dan kau malah memukulnya hanya karena cemburu buta?" tanya Zee sinis.
"Jangan terus memancing amarahku Zee, aku sudah bilang padamu jangan terlalu dekat dengan lelaki lain, dan seminggu ini apa ini yang kau lakukan di belakangku, hah?" teriak Alfa pada Zee.
Plakkk,
Tangan kanan Zee mendarat di pipi Alfa, ucapan Alfa benar benar sudah keterlaluan. Air mata Zee sudah mengalir deras.
"Kau, kau sudah keterlaluan Alfa. Jadi, seperti itu aku di dalam pikiranmu hah" hardik Zee penuh amarah.
Alfa masih memalingkan wajahnya, tamparan Zee begitu kuat. Terasa panas di pipinya, namun lebih panas hatinya begitu sakit Alfa rasakan.
Zee pergi berlari, setelah apa yang terjadi padanya dan Alfa menjadi tontonan mahasiswa lainnya.
"Kau sudah salah paham, Alfa. Aku benar benar hanya menolongnya tak lebih dari itu," ucap Tio.
Alfa masih mematung dengan begitu menyesal telah mengatakan yang tidak tidak pada Zee, air matanya menetes, hatinya begitu sakit.
Zee terus berlari sampai langkahnya terhenti karena menabrak seseorang didepannya. Dan itu Sam bersama Abigail.
"Zee, princess maafkan aku," ucap lirih Alfa yang berjalan mendekat.
Sam menatap tajam penuh amarah pada Alfa, tangannya sudah mengepal penuh.
"Stop! Sekali lagi kau melangkah. Akan ki habisi kau sekarang juga" tegas Sam.
"Sam, please. Aku harus berbicara dengan Zee, aku mohon Sam" pinta Alfa memohon.
"Kali ini kau sudah keterlaluan Al. Kau akan habis detik ini juga jika ada Zyan disini," balas Sam.
Langkah Alfa terhenti, mengingat bagaimana dulu Zyan menitipkan Zee padanya. Menjaganya dan juga menyayangi dirinya. Namun, sekarang Alfa sendirilah yang melukai Zee.
Sam berbalik dan memapah Zee pergi dari sana, meninggalkan Alfa dengan segala pikirannya. Abigail membawa mobil Zee, sedangkan Zee satu mobil dengan Sam.
Didalam mobil Zee masih menangis dengan melihat tangannya yang masih merah bekas menampar Alfa.
Sam mengepal keras memegang kemudi mobil, di rumah Bumi sedang ada Tia dan Ars yang kebetulan sedang mampir.
Zee pulang dengan Sam dan Abigail di belakangnya, Azura berdiri menghampiri sang putri yang terlihat kacau. Zee menangis memeluk sang bunda.
Azura dan Abigail membawa Zee kekamarnya, sedangkan Sam berada di ruang tamu. Para tetua menatapnya dengan penuh tanya.
"Sam, ada apa?" tanya Bumi.
__ADS_1
"Itu, itu. Mereka bertengkar paman, mereka sudah seminggu perang dingin. Dan ini puncaknya mereka bertengkar" jelas Sam.
"Apa yang di lakukan anak kurang ajar itu?" tanya Ars.
"Lebih baik, paman tanyakan saja pada Alfa. Saya tak berhak menjawabnya," jawab Sam.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil Alfa memasuki rumah Zee, Alfa berlari masuk dan mendapati kedua orangtuamu disana.
"Ayah, Ibu," panggil Alfa lirih.
Ars langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri sang anak, dengan tatapan penuh amarah.
"Apa yang kau lakukan Alfa Reza?" teriak lantang Ars penuh emosi.
Tia sudah gemetar melihat Ars yang murka seperti itu, Ars begitu sayang pada Zee. Karena dia sudah seperti putri kandungnya sendiri.
"Mas, sudah stop! Kita bicarakan baik baik yah. Biarkan Alfa menjelaskan semuanya," pinta Tia dengan menarik tangan sang suami.
Bumi menghampiri Alfa, dan menyuruhnya tuk duduk. Sedangkan Sam memilih berdiri di dekat Ars. Alfa menunduk, air matanya tak hentinya menetes.
"Apa yang terjadi? Kalian kenapa bisa seperti ini?" tanya Bumi.
"Paman, maafkan aku! Aku memang salah, aku sudah menyakiti Zee dengan semua ucapanku" jawab Alfa.
Ars masih memandang tajam pada anaknya itu, anak lelakinya yang begitu dia banggakan, yang selalu dia percaya menjaga Zee putrinya.
Alfa menceritakan dari awal sampai seminggu ini mereka bisa perang dingin. Dan berakhir dengan pertengkaran.
Azura yang baru saja turun, mendengar semua ucapan Alfa, dan melihat jika pipi Alfa merah membawakan air untuk mengkompres memarnya.
"Kalian ini, kenapa begitu bodoh? Ini sudah tahun yang kedua kalian berpacaran, dan masih saja tak mengenal satu sama lain, hah?" hardik Ars.
Azura datang dengan membawa baskom, lalu duduk di samping Alfa. Alfa menunduk malu serta merasa bersalah.
"Apa Zee yang melakukannya?" tanya Azura lembut.
Alfa hanya diam, Azura memegang pipi Ars lalu mengompresnya dengan pelan.
"Jangan bibi, biarkan saja pipiku!" pinta Alfa.
"Sudah, diamlah! Pipimu sangat memar, sepertinya Zee menamparnya dengan sangat kuat," ucap Azura seraya memengang pipi Alfa.
"Seharusnya, kau bisa mendapatkan lebih dari itu Al. Karena lidahmu yang tajam itu, benar benar membuat putriku sakit hati" tegas Ars.
"Maafkan aku, ayah" ucap lirih Alfa.
Tia mendekati sang putra, mengusap lembut rambutnya dengan penuh kasih sayang.
"Anak nakal, kau bahkan membuat gadismu sakit hati, membuatnya menangis, benar benar membuatnya kecewa padamu, Alfa" ucap Tia.
"Ibu, tolong maafkan aku. Aku begitu mencintai Zee, aku sayang padanya, aku tak mau dia pergi dariku," ucap Alfa sembari menangis di pelukan Tia.
Zee menangis sembari menutup mulutnya, mendengar apa yang di katakan Alfa pada Tia, hati Zee begitu bahagia, namun disana pun sudah ada rasa kecewa yang tertinggal.
__ADS_1
Abiagil merasakan sesuatu, tubuhnya berkeringat dingin, wajahnya memucat, namun dengan sekuat tenaga Abigail menahannya.
Bersambung💞💞💞