
Vanya yang sedang berada dengan Roy, tidak pernah tahu jika akan ada sesuatu yang terjadi. Vanya yang senang karena bisa melihat Roy seperti dulu lagi, sampai melupakan waktu malam itu.
Roy yang sangat senang pun tidak ingat akan waktu yang sudah dia janjikan pada Vanya, tuk mengantarnya kembali pulang sebelum makan malam datang. Lebih tepatnya sebelum Wiliem kembali ke hotel.
“Anh, terimakasih sudah mau menemaniku malam ini. Maaf karena aku, kau sampai diam-diam menemui aku,” ucap Roy merasa bersalah.
“Pertama, ya aku sangat tidak menyangka orang sepertimu bisa mengancam diriku. Kedua, aku takut kau semakin bertindak lebih dari itu dan ketiga, aku tidak mau Elina dan Laudya terluka karena aku,” balas Vanya.
Roy menunduk merasa begitu bersalah karena telah melukai Vanya dengan ucapannya, apalagi dia tahu seperti apa Vanya pada sesamanya. Bahkan pada wanita kotor seperti Laudya saja, Vanya sampai memohon padanya. Padahal, Roy tahu seperti apa Laudya dengan segala sikap dan sifatnya yang bagaikan artis terkenal.
“Roy, aku sudah menepati janjiku. Kau tidak akan menyakiti kedua temanku bukan?” tanya Vanya menatap Roy penuh harap.
Roy tersenyum tipis, setelah itu mengangguk sambil menatap Vanya. Vanya terlihat senang, mengangguk menatap Roy dengan senyum manisnya.
“Terimakasih, kau sudah menepati janjimu padaku. Aku harap pertemuan kita sekarang bisa meninggalkan kenangan yang baik tuk ku dan dirimu,” ucap Vanya.
“Tentu, mungkin setelah ini kau dan aku tidak akan bertemu kembali. Aku akan kembali ke Amerika,” balas Roy tersenyum, namun tidak dengan hatinya yang sedih.
Vanya terdiam mendengar ucapan dari Roy, wanita itu merasa sedih karena merasa tidak akan bertemu kembali dengan Roy tuk selamanya. Roy yang menyadari Vanya yang sedih, mencoba membuatnya kembali tersenyum dan tidak merasa khawatir akan dirinya.
“Jika Tuhan mengizinkan, kau dan aku akan kembali bertemu Anh. Jangan melihatkan wajah sedihmu padaku! Malam ini, aku hanya ingin melihatmu tersenyum,” pinta Roy.
Vanya tersenyum mencoba tuk tidak membuat Roy khawatir padanya. Walau pun tidak di pungkiri hatinya sangatlah sedih, namun semuanya sudah berbeda dirinya sudah bukan wanita lajang seperti dulu. Ada Wiliem di sisinya, sekarang dirinya adalah seorang istri.
“Tentu, semoga saja saat nanti kau dan kau kembali bertemu ada seorang wanita cantik yang sedang memeluk erat lenganmu,” balas Vanya tersenyum.
“Semoga saja, semoga saja saat itu tiba aku benar-benar melupakan dirimu dengan semua perasaanku ini,” batin Roy.
Roy yang melamun pun di kagetkan oleh Vanya yang menepuk lengannya sekilas, Roy tersadar dan melihat Vanya yang tersenyum padanya. Begitu juga sosok lelaki yang berada di belakang Vanya, Wiliem terlihat begitu marah menatap dirinya dan Vanya dari kejauhan.
“Anh, suamimu,” ucap Roy lirih sambil menatap Wiliem.
“Apa? Kau mengatakan apa, Roy?” tanya Vanya yang tidak mendengar ucapan dari Roy.
Roy berdiri karena terlihat Wiliem berjalan dengan sangat cepat. Terlihat tangannya sudah mengepal kuat, wajah yang sudah sangat merah padam menahan amarahnya. Vanya yang melihat Roy yang berdiri dan terus menatap ke belakangnya pun penasaran dengan apa yang dia lihat.
“Apa yang kau lihat?” tanya Vanya seraya membalikkan tubuhnya.
Matanya membulat sempurna karena kaget melihat Wiliem yang sedang berjalan ke arahnya dengan sangat marah. Wiliem terus berjalan dan melewati dirinya, Wiliem menghampiri Roy yan seketika memukul Roy sampai pemuda itu tersungkur di tanah.
“Williem, stop!” teriak Vanya yang begitu terkejut karena Wil memukul Roy.
Roy terlihat berdarah di sudut bibirnya, napasnya menderu naik turun karena amarahnya. Wiliem menatap tajam Roy seakan ingin segera membunuhnya. Vanya yang ketakutan pun mencoba mendekati Wiliem dan meraih tangannya.
__ADS_1
“Sedang apa kau bersama dengan lelaki lain malam-malam seperti ini?” tanya Wiliem dengan nada dingin tanpa menatap Vanya.
“Wil, tolong dengarkan aku terlebih dahulu! Kau sudah salah paham denganku dan Roy, kami di sini hanya makan malam saja tidak lebih dari itu,” jawab Vanya dengan gugup.
Wiliemm beralih menatap Vanya dengan tatapan yang sangat tajam, Vanya yang melihat itu seakan tertusuk sembilu karena Wiliem sepertinya tidak percaya dengannya.
“Apa kau melupakan statusmu, Vanya?” tanya Wilem.
“Statusku? Tentu tidak, aku adalah istrimu. Kenapa kau mengatakan itu,” jawab Vanya menatap Wiliem.
“Istri mana yang berani pergi dan bertemu dengan lelaki lain di belakang suaminya, huh?” teriak Wiliem pada Vanya.
Deg
Air mata Vanya mengalir mendengar ucapan Wiliem. Ya, dia memang salah karena pergi tanpa meminta ijin terlebih dahulu pada Wiliem. Namun, Vanya juga tidak mau jika Roy melakukan hal yang berbahaya pada Elina dan Laudya.
“Jangan salahkan dia! Aku yang memaksanya tuk kemari,” ucap Roy seraya berdiri.
“Jadi kau yang membuat Vanya menjadi seorang ******?” tanya Wiliem yang masih menatap Vanya dengan tajamnya.
Air mata Vanya semakin deras membasahi wajahnya, ucapan Wiliem benar-benar membuat hatinya begitu sakit. Telah merendahkan dirinya sebagai seorang wanita dan juga seorang istri.
“Huh, kau dengar Anh? Suami macam apa yang menyebut istrinya sebagai lajang. Jaga ucapanmu Tuan Wiliem! Kau tidak pantas mengatakan itu pada Vanya,” teriak Roy begitu emosi karena tidak terima Vanya di perlakukan seperti itu.
Roy yang semakin kesal dan tidak terima pun akhirnya menendang punggung Wiliem dengan keras. Lelaki itu sampai terjerembab di atas tanah. Vanya yang melihat itu hanya bisa menutup mulutnya, Roy berjalan dan membalikkan tubuh Wiliem, mengcengkeram kerah baju Wil dengan kuat.
“Akan ku bunuh jika kau masih berkata kasar pada Vanya. Dia wanita baik-baik dan tarik kembali ucapanmu tadi!” perintah Roy dengan berteriak.
“Huh, ucapan jika ternyata kau menjadikan istriku jalangmu?” tanya Wiliem.
BUGH... BUGH... BUGH...
Roy memukul wajah Williem bertubi-tubi sampai terlihat darah keluar dari bibirnya. Vanya hanya bisa menangis karena melihat Wiliem yang terus di pukuli oleh Roy. Namun di sisi lain, Vanya begitu sakit hati dengan perkataan dari Wiliem dan melihat Roy yang begitu membelanya.
“He-hentikan, Roy! Kau bisa membunuh suamiku,” isak Vanya yang terduduk lemas di dekat Roy dengan memegang ujung kemejanya.
Roy yang akan memukulkan tinju lagi pun seketika berhenti. Tangan yang mengepal itu berhenti tepat di depan wajah Wiliem yang sudah babak belur karena ulah Roy.
Wiliem yang terkapar pun tidak bisa bangun karena tenaganya habis karena menahan Roy. Roy beranjak berdiri menjauh dari tubuh Wiliem dan membantu Vanya berdiri.
Wiliem yang melihat itu semakin marah dan sangat cemburu dengan Roy, Wiliem memalingkan wajahnya seraya mencoba duduk.
“Wil,” panggil Vanya seraya melepaskan tangan Roy dan mencoba membantu Wiliem.
__ADS_1
Namun langsung di tepis dengan kasar oleh Wiliem dan membuat Vanya terkejut. Wiliem menatap tajam pada Vanya, sedangkan Vanya menatap tangannya yang telah di tepis oleh Wiliem.
“Jangan sentuh aku dengan tanganmu!” perintah Wiliem dengan nada dingin.
Untuk ke sekian kalinya, Vanya merasa hatinya begitu sakit. Mungkin hatinya sudah tertusuk-tusuk begitu banyak, Vanya begitu sesak sampai napas pun membuatnya merasa sakit.
“Wiliem!” teriak Roy begitu marah dan beranjak tuk kembali memukulnya.
Namun dengan cepat, Vanya menghentikan Roy dengan mengangkat tangannya.
“Roy sudah hentikan! Sekarang adalah masalahku dan Wiliem, bisakah kau pergi tinggalkan kami?” tanya Vanya tanpa menatap Roy.
Roy menatap tajam Wiliem yang terlihat tersenyum meledek dirinya, lalu menatap Vanya sedih karena dirinya membuat Vanya menangis bahkan sampai di rendahkan oleh suaminya sendiri.
“Aku akan terus mengawasimu, Wiliem.” Roy berjalan pergi meninggalkan keduanya dan masuk ke dalam mobilnya.
Wiliem mencoba berdiri dengan sisa tenaganya, begitu juga dengan Vanya yang ikut berdiri seraya menatap wajah sang suami.
“Dari mana kau tahu aku di sini?” tanya Vanya.
“Tidak penting aku tahu dari mana. Yang sekarang aku adalah seperti apa dirimu jika berada di belakangku,” jawab Wiliem.
“Kau masih menganggap aku ******? Dengan dasar apa kau mengatakan itu padaku? Lalu kau di sebut apa yang saat itu bersama dengan Laudya, padahal aku ada di negara lain?” tanya Vanya.
“Jangan samakan aku dengan dirimu! Aku dengan sangat tulus hanya membantunya tidak lebih. Sedangkan dirimu, lihatlah dirimu sendiri yang pergi tanpa ijinku dan diam-diam menemui lelaki lain di belakangku,” seru Wiliem dengan berteriak.
Vanya menutup matanya karena sudah berapa kali Wiliem berteriak di depannya, tidak ada yang berani berteriak di depannya selain Alfa dan Sam itu pun saat dia masih kecil.
“Baikalah, aku minta maaf padamu karena telah melakukan ini. Tapi, percayalah jika kau melakukan ini bukan semata-mata tuk diriku, tapi juga tuk Laudya dan Elina,” balas Vanya.
“Huh, sekarang kau membawa orang lain dalam kebohonganmu?” tanya Wiliem tidak percaya.
“Terserah apa katamu. Aku sudah mengatakan yang sebenarnya padamu,” jawab Vanya.
“Terserah padaku. Ya, karena kau sudah kuketahui bersama dengan lelaki lain,” ucap Wiliem dengan senyum menghina.
PLAK
Tangan Vanya mendarat di wajah Wiliem dengan sempurna, bahkan suaranya pun sampai terdengar dengan keras. Wiliem yang mendapat tamparan dari Vanya pun hanya memalingkan wajahnya.
“Aku sudah katakan padamu, aku dan Roy tidak melakukan apa pun seperti apa yang kau katakan padaku,” ucap Vanya begitu tegas.
Vanya berlari setelah menampar Wiliem dengan menangis, hatinya begitu sakit karena Wiliem benar-benar tidak mempercayai dirinya. Bahkan sampai tega mengatakan dirinya wanita ******.
__ADS_1
Bersambung🍂🍂🍂