
Sore itu memang hujan lebat, membuat dua insan itu masih bergumul di balik selimut. Tak ada yang bergerak, hanya ada hembusan napas saja dari keduanya.
Zee tidur dengan membelakangi Alex, sedang Alex memeluk Zee dari belakang. Tangan kekarnya melingkar sempurna di perut Zee.
Terlihat kamar itu berantakan, mengingat ulah Alex yang membuat Zee kewalahan. Lelaki itu benar-benar melampiaskan semuanya siang itu. Zee hanya bisa menuruti apa yang di lakukan oleh sang suami. Mengingat dirinya pun tak mendapatkan itu selama sepuluh tahun lamanya.
"Emmpphh,," desis Zee seraya merengangkan tangannya.
Membuka matanya secara perlahan, di lihatnya kamar itu begitu gelap tak ada cahaya sama sekali, hanya ada kilap dari luar saja. Zee membalikkan tubuhnya tuk menatap sang suami yang masih tertidur pulas di sampingnya.
Zee menyentuh hidung, mata, pipi dan bibirnya dengan sangat pelan. Senyumnya terlihat di wajah ayu nya.
Zee pun memberanikan diri mengecup bibir sang suami sekilas. Setelah itu memindahkan tangan Alex dari perutnya.
"Aku harus mandi, tubuhku begitu lengket," ucap Zee serah turun dari ranjang.
Didalam kamar mandi, Zee merendam tubuhnya di bathup. Menambahkan aroma terapi yang selalu dia bawa. Mengosok pelan tubuhnya yang putih itu, terlihat bagian dadanya penuh dengan ruam merah.
"Dia akan selalu meninggalkan jejaknya di dadaku, sungguh ini akan sangat susah tuk di hilangkan," gerutu Zee.
Alex yang merasakan keberadaan Zee, langsung membuka matanya. Benar saja, Zee sudah tak ada di atas ranjang. Alex menciba duduk dan melihat seisi kamarnya.
Terdengar gemericik air dari kamar mandi, membuat Alex sedikit lega. Dengan langkah yang malas, Alex menuju kamar mandi yang tak di kunci oleh Zee.
Keberadaan, Alex membuat Zee terkejut. Apalagi lelaki itu berjalan dengan tubuh polosnya. Membuat Zee menghela napas panjang.
"Kenapa kau mesum seperti itu?" tanya Zee.
Alex dengan setengah kesadarannya malam masuk kedalam bathup. Ikut berendam dengan Zee. Memeluk tubuh Zee dari belakang, mencoum aroma rambut Zee.
"Apa kau sudah lama berendam?" tanya Alex.
"Baru saja lima belas menit yang lalu," jawab Zee.
Zee bersender di tubuh Alex, sdngkan Alex memeluk Zee dari belakang. Memainkan tangan nakalnya di tubuh sang istri.
"Jangan mulai lagi, aku sudah sangat lelah. Aku sangat lapar," ucap Zee.
"Jika kau lelah, aku bisa memijat tubuhmu. Bagaimana, apa kau berminat?" tanya Alex.
"Oh, tidak terimakasih. Nanti bukannya aku merasa baikan, malah semakin sakit seluruh tubuhku," jawab Zee.
Alex hanya tertawa mendengar jawaban dari Zee. Setelah menghabiskan waktu beberapa menit akhirnya mereka pun keluar dari kamar tuk mengisi perut mereka.
Finlandia
Setelah acara pernikahan Zee dan Alex, semua kekuarga kembali ke finlandia. Termasuk juga Alya yang memilih tuk kembali, disana Alya akan di temani Vanya yang memang sedang berlibur.
__ADS_1
Pagi harinya Vanya sudah membuat sarapan tuk Alya, sdngkan sang adik sedang memakai seragam sekolahnya.
"Al, cepat turun. Sarapannya sudah siap!" perintah Vanya.
"Ya, kak. Al segera turun," jawab Alya sedikit berteriak.
Tak lama terdengar pintu terbuka, Wiliem ternyata sudah datang. Karena mulai sekarang dia akan menjadi supir tuk Alya, Wiliem tak tahu jika Vanya ada di rumah Zee.
Wiliem pun masuk begitu saja kerumah itu, tanpa sengaja Wili melihat kamar tamu terbuka lebar dan mihatkan sosok wanita muda yang sedang membuka kaosnya. Sampai mihatkan tubuh bagian belakangnya.
"Astaga," pekik Wiliem seraya berbalik dan menuju ruang tamu.
Napasnya naik turun, matanya berkedip cepat menghilangkan apa yang barusan dia lihat.
"Siapa, wanita itu? Kenapa begitu sembrono. Dia begitu teledor, membuka baju tanpa menutup pintu kamarnya," gumam Wiliem.
Terdengar suara langkah kaki dari tangga, ternyata Alya yang baru saja turun. Dengan segera menetralkan kembali dirinya, Wiliem memanggil sang putri.
"Al, Daddy ada disini!" teriak Wiliem denga. sengaja.
Mendengar suara Wiliem, Alya pun berlari ke ruang tamu. Dan benar saja, sudah ada Wiliem yang sedang berdiri tersenyum menantinya.
"Good morning, Daddy," sapa Alya seraya memeluk Wiliem.
"Morning, honey," sapa Wiliem seraya mencium pipi Alya.
"Kau mau apa, sepagi ini kemari?" tanya Vanya ketus.
"Kak Anya. Daddy kan selalu menjemput Al tuk sekolah. Mommy juga tahu kok," jawab Alya.
"Sudah seperti supirnya saja, ya sudah Alya kamu sarapan dulu yah!" pinta Vanya.
"Come on, Dad. Kita sarapan bersama dengan Al dna kak Anya," seru Alya.
Wiliem pun menuruti Alya ke ruang makan, disana sudah ada nasi goreng, dan juga ayam beserta telor goreng. Makanan indonesia sekali yang Vanya masak.
"Duduklah! Kau juga boleh sarapan dahulu," ucap Vanya meminta Wiliem tuk sarapan.
"Wah, serouosly. Ini nasi goreng yang kak Anya masak?" tanya Alya.
"Tentu, silakan kau rasakan sayang!" pinta Vanya.
Alya dan Wiliem pun memakan nasi goreng buat Vanya. Suapan itu baru saja masuk kedalam mulut mereka. Sedangkan Vanya merasa gugup, karena ini kali pertama dia masak tuk orang lain.
"Emm,, rasanya kok seperti...-" ucap Alya terpotong.
"Ini sangat enak. Aku baru merasakan nasi goreng, ini makanan khas Indonesia. Bukan?" tanya Wiliem.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan, makanan ku benar enak?" tanya Vanya tak percaya.
"Heem, ini sangat enak, kak. Nanti, kak Anya masakin aku nasi goreng ya tiap hari!" pinta Alya seraya menagkuo kedua tangannya.
"Hemm,, baiklah. Asal kau memakannya," balas Vanya.
"Tenang, kan ada Daddy yang ikut makan nasi gorengnya," jawab Vanya.
Vanya menatap Wiliem yang sedang lahap menghabiskan nasi gorengnya. Vanya tersenyum senang karena masakannya tak gagal.
Setelah makan siang, Wiliem mengantar Alya bersama dengan Vanya. Karena, Vanya berniat akan pergi ke rumah Sam. Akhirnya, Wiliem pun mengantarnya.
"Dadada, Daddy, kak Anya," seru Alya seraya masuk dalam sekolahnya.
Wiliem dan Vanya pun tersenyum dan melambaikan tangannya. Di dalam mobil merrka hanya diam tak ada pembicaraan.
"An, emmpph Vanya," panggil Wil ragu.
"Ya, kenapa?" tanya Vanya.
"Kau bersekolah di paris? Kenapa tak disini saja?" tanya Wili balik.
"Aku hanya ingin mandiri dan tak ingin merepotkan kak Sam saja," jawab Vanya.
"Pasti sangat sulit bukan jauh dengan keluarga, dan menjalani hidupmu sendiri di negeri orang," ucap Wiliem.
"Tidak, yang lebih sulit itu kak Zee. Dia yang membuatku semangat menjalani hari-hariku tanpa kakak dan kedua orangtua ku," balas Vanya.
"Kalian ini bukan saudara, tapi ikatan kalian begitu dekat melebihi saudara," ucap Wiliem.
"Paman dan Bibi yang selalu mengajarkan cinta dan kasih sayang pada kami. Dan kak Ara juga mengajarkan itu pada kami, dia menyayangi kami yang bukan adiknya sama seperti dia menyayangi kak Zyan dan kak Zee," jelas Vanya.
"Ya, aku melihatnya itu semalam. Kalian begitu menghormati kak Ara, menyayangi dia seperti seorang ibu," ucap Wiliem.
"Ya, dia memang ibu bagi kami semua, dan kak Ken selalu menjaga kami. Walaupun, itu dari jauh," balas Vanya.
Tanpa mereka sadari, obrolan itu membuat mereka menjadi dekat. Tak ada kata-kata sinis lagi. Yang ada keakraban seperti teman lama. Memang sebenarnya, Vanya anak yang baik, asyik tuk di ajak bicara. Cepat bergaul karena memang sifatnya yang terbuka.
"Maaf, sudah merepotkan mu. Terimakasih juga tuk tumpangannya," ucap Vanya tersenyum.
"Is ok, nanti siang aku akan menjemput Al. Apakah kau ingin sekalian aku jemput?" tanya Wiliem.
"Oh, no. Thank, aku bisa kembali nanti. Karena, Al bilang dia rindu grandma mungkin akan menghina katanya," jawab Vanya.
"Oh, baiklah. Sampai jumpa," seru Wiliem.
"Sampai jumpa," balas Vanya.
__ADS_1