
Roy masuk kedalam mobilnya, dengan perasaan yang campur aduk lelaki itu menjalankan mobilnya begitu kencang. Roy memukul stir mobilnya dengan kuat, hatinya begitu sakit. Dia merasa menjadi lelaki yang begitu bodoh, kenapa Roy tak bisa menyadari semuanya.
"Tuhan, apakah memang ini sudah takdirku? Apakah aku harus merelakan dirinya? Lelaki yang dia cintai sekarang berada dekat dengannya, apakah aku harus merelakannya? Kuatkah hatiku, tuk semua itu?" ucap Roy.
Sungguh hatinya begitu remuk, semuanya hancur dengan sekali panah yang telah melukainya. Kelak yang sampai menangis adalah lelaki yang benar-benar mempunyai rasa yang amat dalam. Dan seperti itu lah, Roy. Kelak yang selama beberapa tahun ini selalu ada, setia bersama dengan Vanya.
"An, hatiku begitu remuk. Rasanya tak terbentuk, aku tak bisa merasa baik-baik saja. Maafkan aku, An. Aku sungguh mencintaimu," ucap Roy mengusap wajahnya kasar.
Vanya masih termenung dengan semuanya, sungguh dia merasa jika Wil sama saja dengan lelaki lain. Dia berucap apa tapi ternyataannya berbeda, sungguh Vanya merasa sakit hati sebelum waktunya. Apalagi sekarang dia sedang hamil membuatmu semakin sensitif.
"Tidak, An. Kau harus pergi jauh, jangan dekati Wil kembali. Jangan mendekatinya!" ucap Vanya pada dirinya sendiri.
Vanya benar-benar bodoh jika memang memikirkan tuk pergi menjauh dari Wil. Vanya tak percaya dengan semua yang Roy katakan. Karena, memang Vanya pikir jika Wil mempunyai kekasih.
Di kamar, Wil terlihat Zee, Alex dan Sam masih tertidur pulas karena kelelahan. Waktunya Wil terbangun dan begitu terkejut melihat mereka sedang tidur.
"Astaga, kapan mereka datang?" tanya Wil.
Tak beberapa menit, Suster datang dan melihat Wil yang sudah bangun. Susuter pun memberikathukan jika hari ini, Wil bisa melepas seorang infusnya. Wil begitu senang mendnegarnya.
Setelah memeriksa, suster itu pun kembali keluar. Sedangkan, Wil memilih tuk mandi karena disana terdapat shower dengan biar hangat. Fasilitas rumah sakit itu bak hotel bintang lima.
Sam terbangun, meregangkan tubuhnya yang begitu lelah. Saat melihat ranjang tak terdapat Wil dia begitu terkejut hingga membuat Alex dan Zee terbangun.
"Kemana, Wil?" teriak Sam.
"Kemana apanya, tentunya dia sedang tidur diranjangnya," jawab Alex dengan mata yang tertutup.
Zee menepuk lengan Alex tuk membuka matanya dan menunjukkan bahwa Wil tak ada disana. Alex dengan malas membuka matanya, tak terlihat Wil disana. Dengan santainya, Alex berjalan ke pintu kamar mandi. Setelah itu membuka pintu tersebut.
"Shitt,,!!!" umpat Wil, ketika pintu terbuka.
"Astaga, Alex! Kau sungguh keterlaluan," pekik Zee begitu marah.
"Dasar gila!" hardik Sam merasa aneh dengan Alex.
"Sudah jangan panik! Wil sedang mandi," ucap Alex santai dan kembali menuju sofa.
Zee mencubit pinggang Alex yang malah membuat Alex tertawa. Sedangkan, Sam hanya menggeleng kepala karena tingkah konyol Alex. Tak lama kemudian, Wil keluar dengan tubuh yang sudah segar lalu menghampiri semuanya.
"Kau, selalu saja seperti itu, Lex!" seru Wil.
"Kebiasaan burukmu, masih tetap sama Wil," balas Alex.
"Apa kau sudah lebih baik, Wil? Kenapa kau mandi?" tanya Zee.
"See, aku sudah lebih baik tanpa selang infus itu," jawab Wil.
"Sam, sorry aku masih belum bisa menemukan Vanya. Adikmu selalu berpindah-pindah setiap minggunya," ucap Wil.
"Is ok, kita disini. Kita akan mencari anak itu secepat mungkin. Setelah ketemu, aku akan langsung menikahkan kalian!" seru Sam dingin.
Wil begitu terkejut mendengar itu, dia begitu canggung. Sedangkan, Alex dan Zee menatapnya penuh penekanan.
"Ok, itu semua salahku. Aku akan mempertanggung jawabkan semuanya," balas Wil.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan kekantin sebentar. Apakah kalian ingin sesuatu?" tanya Zee.
"Jika kau melihat stobery tolong belikan aku satu! Dan juga roti gandum," pinta Wil.
Zee mengangguk ia, Sam dan Alex memesan makanan yang sama. Zee bergegas keluar berjalan ke arah kantin. Saat melangkah tepat di depan kamar Vanya, Zee terdiam mematung karena merasa mendengar suara Vanya.
"Suara itu, seperti tak asing? Suara perempuan," ucap Zee seraya menengok kanan kiri.
Namun tak dia temukan siapa itu, Zee menggelengkan kepalanya lalu kembali berjalan ke arah kantin. Disana, Zee membeli semua yang sudah menjadi pesanan.
"Ini pesanan kalian," ucap Zee seraya masuk kedalam.
Wil dengan cepat, mengambil satu cup stobery yang berada ditangan Zee. Dengan cepat, Wil duduk di panjangnya memakan dengan lahap buah tersebut.
"Ada apa dengannya? Wil, kau memakan buah stobery?" tanya Alex begitu terkejut.
"Ya, sudah beberapa hari ini aku begitu menyukai buah ini," jawab Wil.
Zee menatap aneh, Wil. Begitu juga dengan Alex yang merasa geli melihat stobery itu. Alex bahkan ingin muntah saat melihat, Wil begitu lah memakan buah tersebut.
"Memang ada dengan buah itu? Keluargaku begitu menyukai buah itu. Termasuk, Vanya dia penggila stobery," ucap Sam.
Zee menatap Sam, lalu kembali mengingat akan kebiasaan keluarga Sam, yang begitu menyukai stobery. Bahkan, Intan selalu membuat olahan cemilan dari buah tersebut.
"Wil, aku rasa jika Vanya memang sedang hamil," ucap Zee.
Mendengar ucapan dari Zee, membuat Wil dan Sam memuncratkan makanan yang berada didalam mulut mereka.
"Aahh, kenapa kalian begitu jorok!" hardik Alex semakin merasa jijik pada Wil dan Sam.
"Zee, kau jika berbicara itu selalu membuat orang jantung saja," ucap Sam.
"Sam, adikmu itu sudah melakukan itu dengan Wil. Bagaimana jika dia hamil?" tanya Zee.
"Zee, aku pikir jika sekali saja belum tengu membuatnya hamil," ucap Wil dengan menunduk.
"Hey, apa yang kau bicarakan? Jadi, kau mau menodai lagi adikku. Huh?" sewot Sam menatap tajam Wil.
"Aish, bukan itu maksudku," balas Wil sulit menjelaskannya.
"Wil yang sedang kau lakukan itu, namanya kau sedang menyimdam. Kau memakan buah yang tak kau sukai, kau juga tak bisa memakan makanan lain selain itu, bukan?" tanya Zee.
"Ya, kau benar. Hanya buah ini yang bisa masuk kedalam mulutku. Maka dari itu, aku sampai dirawat," jawab Wil.
"Wil, kau sungguh ingin ku bunuh. Kau membuat, Vanya hamil diusianya yang masih muda," ucap Sam geram.
Namun dengan cepat, Alex menahan tubuh Sam. Tak membiarkannya menyentuh sang adik.
"Jangan menyentuhnya! Kau bahkan akan mati dibunuh adikmu sendiri, karena mencoba membunuh ayah dari anaknya," ucap Alex.
Sam menatap ke arah Alex lalu kembali menatap Wil. Sam melepas paksa tangan Alex. Lalu kembali duduk dengan mengusap kasar wajahnya.
"Aahh, sial. Kau membuatnya menjadi ruyam. Begitu pula gadis yang bernama Erika itu. Akan ku bunuh dia sesampainya aku kembali ke Finlandia," ucap Sam begitu geram.
Wil memikirkan ucapan dari Zee, Wil menatap buah stobery yang berada di tangannya. Dilihatnya buah itu, memang benar dulu dia begitu jijik hanya dengan melihat saja. Tapi, kenapa sekarang dia begitu menyukai buah itu.
__ADS_1
"Lex, aku mohon temukan Vanya dan juga anakku! Aku ingin mereka berdua berada disampingku," pinta Wil pada Alex dengan menangis menunduk.
Alex begitu iba, melihat sang adik yang begitu sedih karena kehilangan Vanya. Alex menelpon seseorang dan memintanya segera menyebar di Paris. Zee memikirkan Vanya yang sendirian dengan keadaannya yang sedang mengandung.
"Aku mohon, Tuhan. Jagalah Vanya, jangan sampai dia melakukan hal yang tidak-tidak pada anaknya," batin Zee.
Sam keluar kamar, dia begitu mencemaskan sang adik. Sam tak ingin, Vanya seperti Zee yang kesusahan saat mengandung Alya. Sam ingin Vanya kembali padanya.
"An, kembalilah sayang. Kenapa kau pergi dan menjauh dari kakak," gumam Sam.
Sam duduk di area taman, teringat akan lada sang ayah dan ibunya. Sam merasa gagal menjadi seorang kakak. Teringat kembali dua gadis kecil yang dulu snagat dia cintai dan sayangi.
"Kenapa, kenapa hidupku begitu menyedihkan. Menjaga keluargaku saja aku tak bisa. Aku telah meninggalkannya dan sekarang aku juga tak bisa menjaga Vanya dengan benar. Hukuman apa yang kau berikan padaku, Tuhan?" ucap lirih Sam.
Terlihat sosok Dokter muda yang berdiri di dekat tembok menatap Sam dengan air mata yang mengalir deras membasahi wajahnya.
"Kak, kau disini?" ucapnya lirih.
Hatinya begitu bahagia hanya dengan menatap sang kakak dari jauh. Dia begitu rindu padanya, sungguh dia ingin sekali berlari memeluk tubuh sang kakak yang sangat dia sayangi. Tapi, rasa takutnya mengalahkan keberaniannya tuk mendekat, rasa bersalahanya pun seakan merantai kakinya tuk tetap diam.
"Kak, aku sangat merindukanmu," isaknya. Tangan lentik itu menjulur ke arah Sam, seakan sedang mengapai sang kakak.
Tak lama, terlihat Zee keluar dari satu kamar, membuat dokter itu segera bersembunyi dan berlari cepat kembali keruangannya.
Zee mencari Sam yang pergi keluar, tanpa sengaja Zee menabrak seorang pasien hampir saja dia terjatuh. Jika tangan, Zee tak menariknya.
"Maaf, maafkan aku!" pinta Zee.
Begitu pula dengan pasien yang berambut panjang itu, yang masih menunduk karena merasakan sakit di kakinya.
"Maaf, Nona. Maafkan saya," ucapnya.
Zee menatap wajah pasien itu, serasa mengenal siapa suara itu. Zee menyibak rambut panjang itu, namun di tepis oleh Vanya yang merasa terkejut.
"Ahh, maaf," ucapnya.
"Vanya, kau Vanyakan?" tanya Zee.
Vanya yang merasa kenal dengan suara Zee pun menatap Zee dengan mata yang begitu lebar. Karena tak percaya bahwa, Zee berada disini.
"Kak Zee," panggil Vanya lirih.
Zee meluk erat tubuh Vanya, dia begitu senang karena telah menemukan Vanya disini. Vanya yang berniat akan pergi pun menjadi lemah karena dia begitu membutuhkan pelukan dari keluarganya. Akhirnya, Vanya menangis dengan membalas pelukan dari Zee.
"Kakak,hiks... hiks..." Vanya menangis memeluk erat tubuh Zee.
Zee memahami apa yang sekarang Vanya rasakan. Sungguh berat rasanya saat kau tahu hamil dan saat itu kau belum menikah, apalagi sekarang Vanya masih begitu muda dan labil.
"Menangis, sayang! Keluarkan semuanya, ada kak Zee disini," bisik Zee.
Tangisan Vanya semakin menjadi, terlihat air mata dari sosok dokter muda itu.
"Kau beruntung, Vanya. Kau masih bisa merasakan pelukan dari semuanya, mendapatkan kasih sayang melimpah dari semuanya, dan lagi kau selalu bisa dekat dengan kak Sam," lirihnya begitu iri dengan pemandangan itu.
Dadanya begitu sesak, karena tak bisa merasakan semua itu. Sungguh dia hidup sebatang kara setelah kepergian kedua orang tuanya. Menjalani hidupnya yang begitu berat, begitu menyakitkan tuknya selama sepuluh tahun ini.
__ADS_1