Takdir Cinta

Takdir Cinta
Keputusan Ana


__ADS_3

Hingga ......


Ceklek . suara pintu terbuka dan membuat senyum Rafli dan Ana menyusut seketika dan Rafli melepaskan pelukannya....


" Beraninya kau memeluk anakku , setelah apa yang kau lakukan padanya " ucap Gunawan geram..


" Dan kau Ana , kenapa menjadi lembek begini " imbuhnya lirih.


" Pak " ucap Rahma menenangkan ayahnya.


" Pak hikss....hikss , aku tidak bisa bercerai dengan suamiku... bagaimana juga anak ini membutuhkannya pak " jawab Ana terisak..


Gunawan berjalan mendekat , sementara Rafli diam tak bergeming namun tetap menutupi tubuh Ana dengan tubuhnya.


Bugghh


Satu pukulan mendarat di wajah tampan Rafli membuat Ana makin menangis dan Rahma segera memeluk mbak kesayangannya.


" Lawan aku , jangan jadi pecundang . Aku kau hanya beraninya pada wanita huh " sarkas Gunawan.


" Pak kasian kak Rafli dan cucu bapak sedang tidur. Jangan buat keributan pak. Bukannya bapak juga berjanji dengan ibu kalau hanya menemaniku tanpa buat keributan " ucap Rahma beruntun.


" Apa bapak tidak kasian kepada mbak Ana yang menangis begini . Turunkanlah ego bapak " cicit Rahma , nyalinya pun menciut saat di tatap Gunawan dengan sinis.


" Kita buat perhitungan di luar " ucap Gunawan hendak menyeret Rafli namun pergelangan tangan Rafli di cekal oleh Ana.


" Jangan mas " lirih Ana takut.


" Mas pasti baik-baik saja , jagalah dirimu dan anak kita " bisik Rafli di telinga Ana dan mengecup tipis pipi Ana karena Gunawan menarik tangan Rafli dengan kasar.


" Rahma , ikuti bapak bawa mas Rafli dan bawa beberapa bodyguard untuk melerai mereka " ucap Ana seraya menangis..


" OK ..... mbak tenang ya , lagian dimana para dokter dan perawat sihhh " gerutu Rahma.


" Mbak gak papa sendiri....cepat kejar mereka " pinta Ana.


" Iya ya ya ya " gugup Rahma segera mengejar langkah kaki dimana ayahnya dan Rafli..


Ana sangat cemas dengan kemarahan Gunawan , apalagi Rafli tak mungkin untuk melawan mertuanya , meskipun ia sangat mampu membalasnya.


" Ya Tuhan , lindungi suamiku " ucap Ana dan berdoa demi kebaikan mereka semua. Anak tidak mau jika Gunawan mengirim Rafli ke ranjang rumah sakit untuk mendapatkan perawatan seperti yang terjadi pada tetangga Ana dulu yang ingin mencium paksa Ana saat itu dan berujung di hajar Gunawan membabi buta.


Disini , di ruang kosong dan luas rumah sakit berada Rafli dan Gunawan. Gunawan kembali melayangkan pukulannya kepada suami anaknya , sementara bodyguard Rafli di larang olehnya untuk masuk menahan kemarahan Gunawan , baginya ia pantas mendapat amukan Gunawan.


" Kau tau , aku sungguh kecewa padamu Rafli. Seharusnya aku tak merestuimu saat itu " ucap Gunawan sarkas , sementara nafas Rafli agak tersengal.


" Lebih baik kau ceraikan Ana sekarang karena kau akan terus menyakitinya. Aku membencimu , karena aku hampir kehilangan putri yang paling ku sayangi karena ulah pria tidak punya otak sepertimu " ucap Gunawan kembali menghajar Rafli.


" Jika pun bapak membunuhku , aku tak akan menuntut masalah ini , dan bapak harus tau satu hal , Aku tidak akan melepaskan Ana apapun yang terjadi " ucap Rafli.


" Apa kau ingin membuatnya menderita huh ., aku menjaga putriku dengan mati-matian lalu kau mencoba mencelakainya " ucap Gunawan , emosinya menguasai dirinya karena baginya tak ada ampun bila menyakiti anak-anaknya. Rafli kembali mendapat pukulan dari Gunawan membuat mulutnya mengeluarkan darah, Rafli tak memikirkan nyawanya lagi .


" Bunuhlah aku pak , asal itu membuat dirimu puas " lirih Rafli menahan sakit di perut dan wajahnya.


Diluar ruangan terlihat para bodyguard mendobrak pintu yang amat kuat itu dan Rahma berteriak agar ayahnya melepaskan Rafli.


Brakkk.


Ruangan itu terbuka , memperlihatkan Rafli yang terluka parah para bodygaurd segera memapah Rafli sementara Rahma berusaha meredam emosi ayahnya.


" Mas " pekik Ana tiba- tiba datang melihat kondisi Rafli yang hampir hilang kesadarannya.


" Ana saat ini kau pilih , ceraikan Rafli yang telah menyakitimu atau kau tak menjadi lagi putriku " ucap Gunawan membuat Ana terkejut teramat sangat dan Rahma pun sama halnya.


" Aku tidak ingin bercerai denganmu Ana , aku lebih baik mati. Ingat anak kita ana " lirih Rafli kini air mata membanjiri pipinya.

__ADS_1


" Maaf " ucap Ana.


" Aku memilih memberi Rafli kesempatan pak , aku tidak ingin anakku kurang mendapatkan kasih sayang dan juga aku mencintai suamiku dan aku juga tetaplah putri bapak " jawab Ana terisak , ia menatap Gunawan tak percaya dan terlihat Gunawan begitu serius akan ucapannya.


Gunawaan berjalan keluar begitu saja tanpa melihat Ana sedikitpun , bahkan Gunawan tidak percaya jika ia telah di nomor duakan . Gunawan butuh waktu untuk menenangkan fikirannya.


Rafli kini di bawa kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan , ia di tempatkan diruang yang sama bersama Ana.


" Maafkan bapak , mas , lirih Ana.


" Mas tidak apa-apa , mas baik-baik saja karena masih bernafas dan melihat mu " ucap Rafli lemah dan mengacak pelan surai indah Ana.


" Terima kasih , telah memilih mas " ujar Rafli tersenyum . Sungguh di luar dugaannya jika Ana memilihnya karena saat Gunawan memberi pilihan sungguh Rafli tak bersemangat untuk hidup. Namun kini cintanya menyadarkan Ana untuk memilihnya... Rafli semakin bertambah untuk mencintai Ana dan di pastikan rencana gila Rafli batal....


....


Lia yang mendapat kabar jika Rafli di pukuli oleh Gunawan merasa geram , namun amarahnya hilang begitu saja saat mengetahui keputusan Ana.


" Ayo pah , kita kerumah sakit " ajak Lia dengan senyum berbinar , bulu mata lentik Lia berkedip menyilaukan hatinya.


" Ada apa dengannya , kenapa mendengar anak kesayangannya dirawat malah tersenyum bahagia begini " batin Abdi tak mengerti.


" Lama " sahut Lia lalu meninggalkan Abdi yang diam mematung..


Sementara Jimmy tersenyum saat mendapat kabar dari anak buahnya tentang donor jantung untuk ibu Laras. Ia bisa bernafas lega untuk hal ini. Siang ini ia berencana menjenguk pasangan suami istri itu dirumah sakit meninggalkan Dewi yang cemberut melihat tumpukan lembaran diatas mejanya.


Dirumah sakit sendiri Ana tengah kelimpungan mengurus dua bayi sekaligus , bayi yang besar ingin di manja sedangkan yang kecil butuh nutrisi.


" Sayang ayo suapi mas " pinta Rafli memelas.


" Sabar mas , Dewa baru saja tidur " ucap Ana kesal.


" Ada apa " sahut Ayu yang tiba-tiba masuk bersama dokter Smith dan Neti. Rafli menatap tajam dokter Smith yang tersenyum manis tapi bagi Rafli senyum itu menjengkelkan. Rafli segera merubah posisinya dari yang tadi lemah tak berdaya kini duduk dengan tegap , Ana sendiri sudah mengetahui tingakah Rafli seperti itu sedari dulu.


" Gak dok , gak terasa sakit. Saat tertawa saja sedikit ngilu " jawab Ana


" Itu hal wajar nona " jawab dokter Neti.


" Ayo berbaring , kita cek jahitannya " imbuhnya dan Ana menurut.


Dokter Smith tersenyum saat melihat bayi tampan yang pernah di adzankannya tanpa peduli singa di ranjang yang tengah menggoyangkan ekornya. Dokter Smith mengunjungi ruang Ana hanya ingin melihat bayi tampan itu.


" Hasilnya sangat memuaskan nona , jadi besok nona sudah boleh pulang " ucap doker Neti tersenyum.


" He... apa kau yakin istriku keadaannya sudah 1000% baik -baik saja " tanya Rafli serius.


" Sudah tuan " jawab dokter Neti sabar.


" Nanti setelah satu bulan anda kemari lagi ya untuk cekup " ucap dokter Neti kepada Ana.


" Tidak , kau yang datang kerumah ku untuk memeriksa istriku " sahut Rafli tak suka.


" Mas , kan di rumah kita alatnya gak lengkap " sahut Ana ikut emosi mendengar ucapan Rafli.


" Mas bisa menyiapkan dari segi apapun seperti alat dan obat-obatan medis dirumah kita jika kau mau " jawab Rafli dan panjang lebar ia menjelaskan.


" Hufftt " hanya helaan nafas panjang Ana yang terdengar sementara Ayu dan Smith bingung melihat sepasang suami istri itu apalagi Rafli yang pagi itu begitu cerewet.


" Baiklah nona , saya akan kerumah nona satu bulan lagi untuk melakukan cekup " ucap dokter Neti mengalah.


" Pergilah kalian , mengganggu waktu kami saja " ucap Rafli tak suka dan ia penasaran siapa dokter laki-laki ini yang sedari tadi mengulum senyum.


" Siapa dokter kurang ajar ini , beraninya ia meledekku " batin Rafli saat melihat dokter Smith mengulum senyum.


" Baiklah tuan dan nona kalau gitu kami permisi " ucap dokter Neti mewakili semuanya dan hanya di jawab Ana dengan senyum hangatnya tapi Rafli membalasnya dengan wajar datarnya yang meminta mereka cepatlah pergi.

__ADS_1


" Sayang suapi mas " ucap Rafli manja dan membenamkan kepalanya pada dada Ana.... Mau tidak mau Ana harus menurutinya karena bayi besarnya ini begitu memaksa. Senyum mengembang di wajah Rafli karena pada akhirnya Ana peduli juga padanya .


" Akhirnya Ana peduli juga padaku " batin Rafli.


" Ayahmu ini juga perlu di perhatikan sayang bukan hanya kau saja , tidurlah yang nyenyak anak ayah karena sekarang giliran ayah " imbuhnya tersenyum saat melihat baby Dewa tidur namun sang anak menunjukkan ekspresi hendak menangis saat tidurnya.


" Di ledek sedikit saja kau mau menangis " batin Rafli tak menyangka ekpresi anaknya.


Kini bayi besar itu berpindah tidur disisi Ana di ranjang yang sama , bahkan ia memeluk Ana erat seakan tidak peduli terhadap luka memarnya karena pukulan Gunawan.


" Mas geser sedkit , sempit " ucap Ana yang terasa sesak di peluk Rafli.


" Jangan usil mas , aku mau tidur " gerutu Ana karena Rafli terus mencium wajahnya.


" Baiklah , tidurlah . Tapi hadaplah kemari " jawab Rafli dan membalikkan badan Ana membuat Ana membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya dan dalam sekjap saja Ana tengah berlayar kealam mimpinya , Rafli pun masih setia mengusap lembut surai indah Ana agar istrinya benar-benar terlelap. Tanpa terasa rasa ngantuk juga mengahampiri Rafli namun pandangannya tertuju pada bibir sang istrinya yang begitu menggemaskan saat tertidur. Rafli mendekatkan bibirnya secara perlahan dan


Ceklek... Pintu di buka oleh Jimmy yang membuat Rafli berdecak kesal.


" Apa kau lupa sopan santun , ketuk pintunya lebih dulu " umpat Rafli.


" Ada apa " imbuhnya kesal kedatangan Jimmy membuat rasa kantuknya lenyap begitu saja.


" Sudah lima kali aku mengetuk pintu ini namun tak ada jawaban , ternyata kau selalu mesum tak tau tempat dan sekarang mengumpatku. Dasar Rafli " batin Jimmy.


" Kemarilah , aku ada berita tentang bu Laras " jawab Jimmy pelan beranjak kesofa agar Ana tak mendengar pembicaraan mereka dan Rafli bergerak pelan agar Ana tak terganggu dan mencium bibir Ana sekilas tanpa Jimmy sadari.


" Katakan " ucap Rafli seraya melirik Ana yang tengah tertidur.


Jimmy segera memberitahu Rafli tentang kabar gembira ini dan Jimmy tersenyum senang saat melihat wajah Rafli begitu bahagia , bukan hanya kembalinya Ana pada Rafli namun Jimmy juga merasa senang karena menolong bu Laras yang statusnya juga orang tua dari Rahma gadis yang ia cintai , meski Jimmy terkesan menggantung perasaan Rahma. Jimmy menunggu moment yang pas untuk melamar Rahma namun bukan sekarang karena belum saatnya , memastikan Rafli dan Ana benar-benar bahagia maka ia akan membahagiakan Rahma sepenuhnya , itulah komitmen Jimmy.


" Aku percayakan padamu Jim , tolong urus semuanya dan pastikan mertuaku tidak mengetahui bahwa kita yang mendapatkan donor itu " ucap Rafli lirih karena ia tak mau Gunawan mengetahuinya.


" Baiklah " jawab Jimmy mengerti.


" Apa aku boleh lihat keponakanku " imbuh Jimmy penuh harap karena ia tak pernah melihatnya sama sekali dan diangguki Rafli.


Jimmy terlihat begitu gemas melihat baby Dewa tertidur dan ia juga melihat jelas bahwa baby Dewa begitu mirip dengan pria disampingnya yang selalu mengawasi gerakannya.


" Apa kau masih ragu jika ini anakmu " sindir Jimmy.


" Jangan bahas kebodanku Jim " jawab Rafli tak suka mengingat akan hal itu.


" Jangan kau ulangi lagi " ucap Jimmy memperingati , Jimmy merasa sedih sekaligus ngeri saat Rafli begitu frustasi bahkan lebih menyeramkan dari pada orang gila.


" Itu tak akan terjadi , jika dulu aku akan berusaha membuatnya bahagia namun kini aku berjanji akan membuatnya selalu bahagia , meski tak di pungkiri perdebatan kecil akan terjadi , aku akan berusaha mengalah untuk Ana , aku akan menghindari pertengkaran dengannya " ucap Rafli.


" Jika kau ingakar janji segeralah minta maaf pada Ana , bahwa kesempurnaan yang sempurna bukan milik kita Rafli " ucap Jimmy menasehati.


" Ya aku tau itu " jawab Rafli.


Mereka asyik mengobrol bahkan Ana dan baby Dewa sama sekali tak terusik dengan percakapan mereka seolah dua manusia itu tengah berada di mimpi begitu indah.


" Baiklah , aku harus keruang dokter yang merawat bu Laras " ujar Jimmy mengakhiri obrolannya dengan Rafli yang selalu pintar melempar ucapan tersebut .


" Benar-benar ibu rumpi kompleks " batin Jimmy.


" Pergilah dan ingat jika kemari ketukalah pintu " ucap Rafli.


.


.


.


Jangan lupa like dan komentarnya

__ADS_1


__ADS_2