Takdir Cinta

Takdir Cinta
Tigabelas


__ADS_3

Wil sudah menunggu di tempat pernikahan, duduk dengan gugup. Sam dan Ken sudah duduk di depan Wiliem, sedangkan Alex duduk di samping Wil.


Terlihat pengantin wanita keluar dengan iringan perempuan cantik di sampingnya. Jiso dan Alya membawa keranjang bunga di tangannya.


"Wanitamu begitu cantik, Wil," bisik Alex.


Wiliem mendengar fisika dari Alex pun langsung menengok kebelakang dan benar saja Vanya begitu cantik dengan gaunnya. Sam menarik napas panjangnya tuk menenangkan hatinya. Ken menepuk tangannya memberi semangat.


"Gadis kecil itu kenapa begitu cepat dewasa, kak? Rasanya baru kemarin aku menggendongnya dan selalu menemaninya tidur dalam pelukkan ku," bisik Sam.


"Kau sudah berhasil menjadi seorang kakak Sam. Kau menjaganya dengan baik, orang tua mu pasti bangga," balas Ken.


Deg...


"Kakak yang baik, berhasil? Tidak, aku bukan kakak yang baik. Aku masih belum bisa menjaga adik-adikku dengan baik," batin Sam.


Ara mendudukan Vanya di samping Wil, terlihat gadis itu tersipu malu saat Wil menatapnya terus tanpa berkedip. Ken dan Alex hanya tertawa kecil melihat tingkah Wiliem.


"Jangan terus memandangnya! Kau membuat adikku malu, Wiliem," seru Ken.


"Aah,, maaf. Dia begitu cantik hari ini, jadi mataku tak bisa mengontrolnya," jawab Wil dengan sangat jujur.


Membuat semua orang disana tertawa mendengar jawaban jujur dari Wiliem, Sofia sampai tertawa sangat senang. Sedangkan, Vanya semakin di buat malu dan terus menunduk.


"An, lihatlah kemari!" pinta Sam.


Vanya pun mengangkat wajahnya menatap ke arah sang kakak dan mungkin saja kebetulan Zyvia berdiri sangat jauh di belakang Sam. Tapi, mereka dalam satu garis lurus.


Membuat Vanya tersenyum bahagia, namun air mata itu tetap mengalir di wajahnya. Zyvia menatap Vanya dengan senyumannya, dan mengisyaratkan pada Vanya tuk tidak menangis, membiarkannya tetap bersembunyi.


"Wil, kau sudah siap?" tanya Sam.


"Ya, aku siap," jawab Wil tegas.


Pengucapan ikrar Wil pun begitu lancar dengan satu tarikan napas, Wil membaca janji pernikahan itu. Sam menjadi wali dari Vanya, terlihat tangan Sam gemetaran.


Ken menekan tangan Sam dan Wil agar semakin erat. Sentuhan dari Ken membuat Sam menjadi sedikit tenang. Sam menatap haru pada Ken, Ken mengangguk sembari tersenyum menyemangatinya.


Dan setelah percobaan itu bisa dilakukan, sekarang pengucapan yang sesungguhnya. Sam dan Wil sama-sama menarik napas panjang dan kita pernikahan itu bisa Wil ucapkan dengan sekali tarikan napas.


"SAH,,,,, !!!" teriak semua orang, terasa begitu hikmat tempat itu dengan sangat damai.


Zyvia menangis haru telah menyaksikan pernikahan dari Vanya. Sungguh, dirinya ingin sekali memeluk Vanya tuk mengucapkan selamat dan betapa dia juga ikut berbahagia.


"Selamat, An. Berbahagialah, semoga kalian selalu bersama sampai maut memisahkan kalian," ucap Zyvia.


Setelah melihat pernikahan itu, Zyvia berjalan kesamping villa disana terdapat taman kecil yang penuh dengan bunga.


Wil menyematkan cincin di jari manis Vanya, mencium kening Vanya begitu lama. Sam menitikkan air matanya melihat Vanya bisa menikah. Ken merangkul Sam tuk menyemangatinya, Sam memeluk tubuh Ken.


"Terimakasih, kak. Terimakasih sudah selalu bersama kami," ucap Sam dengan isak tangisnya.


Ken menepuk punggung Sam dengan pelan, menengankan Sam yang terbawa suasana.


"Ya, ini sudah tugasku. Kalian adalah tanggung jawabku, kalian itu keluargaku, kalian kehidupanku," balas Ken.


Abigail pun tak kalah terharunya, wanita yang terlihat tegar itu juga pun menangis melihat sang suami yang menangis memeluk Ken.


"Paman, kau sudah menjadi panutan tuk kita semua, paman aku sangat menyayangi dirimu," batin Abigail menatap Ken.

__ADS_1


Setelah selesai, Vanya dan Wil bergantian memeluk semua keluarganya. Menyambut semua orang yang ingin memberikan selamat pada mereka.


Acara pun langsung berlanjut dengan acara resepsi, Wil dan Vanya pun berkeliling menemui tamu, menyalami satu persatu tamu yang datang.


Semua keluarga berpencar, karena melihat semuanya baik-baik saja tak ada yang perlu di curigai. Alex bersama dengan Zee dan Alya sedang bersenda gurau. Sam bersama dengan Abigail dan Yuan, begitu pula Zyan dan Kiara yang sedang melihat putri mereka Jiso.


Ken dan Ara masih terus meladeni tamu yang memberikan selamat. Ya, mereka sudah seperti orang tua tuk Vanya.


Tak ada yang mencurigai siapa pun karena semuanya terlihat baik dan juga tenang. Sampai akhirnya, Vanya dan Wil melihat Diago dan Deasy menghampiri mereka.


Vanya yang memang yang tak tahu mereka itu siapa hanya melihatnya senyum manisnya. Berbeda dengan Wil yang menampakan wajah dinginnya. Wil benar-benar masih kesal dan sakit hati pada Erika yang telah membuatnya menodai Vanya.


"Selamat Tuan dan Nyonya Sander," ucap Diago mengulurkan tangannya.


Dengan cepat Wil menyambut tangan tersebut dan mengangguk ia. Vanya juga menyalami Diago dan Deasy. Tanpa dia tahu, Deasy sudah terlihat sangat kesal padanya dan ingin melakukan hal yang buruk.


"Selamat, Tuan. Kau mendapatkan gadis yang cantik seperti Nona Vanya," ucap Deasy.


"Tentu, istriku sangat cantik. Tapi, bukan hanya penampilannya saja yang cantik tapi hatinya pun begitu cantik," balas Wil denga nada menyindir.


Deasy begitu geram mendengar ucapan dari Wil. Dia menjadi teringat akan anak gadisnya yang sekarang dalam keadaan tak benar, penuh dengan penekanan.


"Ya, anda benar. Tidak salah telah memilih Nona Vanya," ujar Diago dengan menyeringai menatap Vanya.


Vanya yang merasakan aneh pada Diago pun semakin mengeratkan tangannya pada lengan Wil. Wil yang merasakan ketakutan Vanya pun menggenggam tangan Vanya.


"Baiklah, Tuan Diago kami permisi dahulu karena harus menyapa tamu lainnya," ucap Wil.


"Ya, silakan," jawab Diago.


Wil merangkul pinggang Vanya, berharap sang istri tak merasa takut lagi. Dan merasa nyaman.


"Apa kau takut?" tanya Wil.


"Tuan Diago itu orang tua dari Erika," ucap Wil.


"Erika? Gadis yang menyukai dirimu?" tanya Vanya.


"Ya, gadis yang telah membuat malam itu terjadi," jawab Wil.


"Astaga, lalu Nona Erika?" tanya Vanya.


"Sudahlah, jangan pikirkan dia. Ini hari bahagia kita sayang," jawab Wil seraya mencium kepala Vanya.


Vanya mengangguk ia, menuruti sang suami. Mereka selalu menebarkan senyum kebahagian pada semua orang yang mereka temui.


"Tidak, aku tidak rela melihat kebahagian kalian. Sedangkan, anakku menderita karena ulah kalian," gumam Deasy.


Tanpa sepengatahuan sang suami, Deasy pergi ke stand makanan disana. Disana ada ada pisau kecil yang disediakan tuk memotong buah. Deasy dengan cepat mengantonginya.


"Kalian harus merasakan apa yang Erika rasakan. Darah harus di bayar dengan darah kembali," ucap Deasy begitu lirih.


Disaat semuanya sibuk dan sedang bersenang-senang. Wil merasakan tubuhnya lemas, ya dia masih sedikit pusing karena nyidamnya. Vanya melihat, Wil sehari ini belum memakan stobery pun berinisiatif mengambilkan stobery tuk suaminya.


"Kau duduklah, dulu! Mau aku ambilkan stobery?" tanya Vanya.


"Tidak, tetaplah di dekatku! Sebentar lagi juga tidak apa-apa," jawab Wil.


Namun, Vanya tetap memaksa tuk pergi. Membuat Wil hanya mengangguk ia, membiarkan Vanya pergi.

__ADS_1


Tak pernah Vanya tahu, jika dirinya sudah di incar oleh seseorang. Langkahnya yang pelan karena gaunnya yang panjang. Membuat seseorang itu tak sabar tuk segera melakukan aksinya.


"Kenapa kau begitu lambat seperti siput?" ucapnya dengan dingin, menatap tajam Vanya.


"Ahh,, kenapa tempat buah ini, begitu jauh dari tempat Wil. Pantas saja, dia tak membolehkanku," ucap Vanya yang sudah berada di depan buah-buahan.


Vanya melihat buah segar disana, dengan cepat mengambil tempat tuk membawa stobery dan juga anggur tuk dirinya. Vanya juga menyicipi buah lain disana, dan itu sangat segar.


"Wah, segar sekali buah ini. Sangat nikmat dan manis," ucap Vanya seraya memasukkan buah apel ke dalam mulutnya.


Setelah puas menyicipi, Vanya pun berniat tuk segera pergi. Dirinya takut, Wil mencwmaskan dirinya. Tapi, langkahnya terhenti saat melihat Deasy berjalan ke arahnya.


Vanya mengangguk dengan tersenyum. Tapi, berbeda dengan Deasy yang terlihat marah menatap Vanya. Vanya terlihat aneh melihat tingkah Deasy.


"Hay, Nyonya Deasy. Apakah kau ingin mengambil buah ju ...-?"


Ucapan Vanya terhenti saat dia merasakan sesuatu di perutnya. Vanya menatap kearah perutnya yang terasa sakit, terlihat darah dari sana. Air mata Vanya mengalir mengingat bayi yang berada di dalam perutnya.


"Kau tak pantas bahagia. Karena kau dan Wil, anakku menderita dan sekarang Erika harus mendekam dirumah sakit jiwa," ucap Deasy dengan sangat marah.


Vanya memegang pisau yang masih tetancap di perutnya. Tak lama, saat Zyvia berniat tuk kembali pulang ke Paris dia tak sengaja melihat Vanya yang sedang memegang pisau dan terlihat Deasy yang berbicara padanya.


"Vanya, perutnya?" ucap Zyvia.


"Vanya,, !!!" teriak Zyvia.


Membuat Deasy begitu terkejut dan semua orang menatap ke arah suara Zyvia. Semuanya begitu terkejut karena Vanya sudah berlumurkan darah. Deasy berlari entah kemana. Sedangkan, Zyvia berlari ke arah Vanya yang hampir terjatuh.


"An, bertahanlah!" isak Zyvia memegang perut Vanya.


"Anakku, Via. Anakku!" ucap Vanya terbata.


Semua orang panik, terlihat Sam berlari dengan cepat ke arah Vanya. Begitu pula dengan yang lainnya, Wil menangis melihat keadaan Vanya. Zyan berlari mengejar Deasy yang keluar dari Villa.


"An, bertahanlah! Tetap buka matamu!" seru Sam.


Wil menarik tubuh Vanya ke pangkuannya, tapi tangannya begitu erat memegang tangan Zyvia. Sam melihat itu menjadi murka dan begitu geram. Sam menarik tubuh Zyvia dengan sangat kasar, membuat tubuh Zyvia terjatuh di atas rumput.


"Kakak," panggil Zyvia lirih.


"Kenapa kau ada disini? Siapa yang mengijinkanmu disini? Dan, apa ya sudah kau lakukan pada Vanya, huh?" teriak Sam begitu marah pada Zyvia.


Zyvia hanya menggeleng dengan menangis, sungguh Sam telah salah paham padanya.


"Kenapa setiap ada dirimu, kesialan akan menghampiri keluargaku? Kau telah membunuh Alfa, dan sekarang kau juga mau membunuh Vanya, huh?" teriak Sam kembali.


"Samudera!!" teriak Ara yang tak menyangka jika Sam bisa berkata seperti itu.


"Apa kak? Kau lihat adikku ditusuk olehnya," jawab Sam sembari menatap marah Ara.


Zee membungkam mulutnya dengan tangannya sendiri. Menggeleng tak percaya dengan ucapan Sam.


"Kak, tolong percaya padaku! Bukan aku, aku hanya membantu Vanya. Kak, cepat bawa Anya pergi. Anaknya, tolong selamatkan anaknya!" pinta Zyvia dengan terbata.


Wil semakin lemas saat mendengar ucapan anak, tubuhnya tak bisa bergerak. Alex menyingkirkan tangan Wil dan dengan sigap mengendong Vanya pergi dari sana.


Semua orang merasa begitu kasihan dengan Vanya, pernikahan yang semua tenang, penuh tawa menjadi hening dan penuh kesedihan. Semuanya berlari mengejar Alex, tinggallah Zyvia yang masih menangis di atas rumput.


"Bukan, bukan aku yang melakukannya," ucapnya menatap darah Vanya yang tertinggal di tangannya.

__ADS_1


Ara dan Ken pun hanya bisa diam tak ingin mendekati Zyvia atau pun menanyakannya pada Zyvia. Ken dan Ara pun pergi.


Bersambung 🍂🍂🍂


__ADS_2