Takdir Cinta

Takdir Cinta
Menolak Rencana Perjodohan.


__ADS_3

Maaf banget baru up . Hampir empat ribu kata lebih sudah saya tulis dan mendadak hilang . Padahal episode terakhir . Sedih banget rasanya capek mikir dan ngetik... Maaf bila di bab ini kurang menarik karena sungguh lupa sebagian cerita di bab ini .


Keluarga yang begitu hangat dan saling menyayangi kini tinggallah kenangan untuk Mayang , sosok Ana yang begitu ia impikan selama ini mampu membuatnya merasa mempunyai seroang ibu meski hanya untuk satu hari namun begitu sangat berharga , kepribadian Ana begitu berkesan baginya , dan sosok seorang ayah ia dapatkan dari diri Rafli serta Jimmy meski mereka kurang menampakkan senyum tentu saja Mayang merasa mempunyai seorang ayah karena ia merasa perhatian yang di berikan Rafli begitu ia rindukan selama ini menjadi anak yatim piatu tidaklah mudah baginya . Jangankan foto orang tua kandungnya , makam orang tuanya saja Mayang tak tau bahkan mirisnya Mayang tidak mengetahui nama orang tua kandungnya yang membuat nya terlahir ke dunia ini . Ia hanya mengenal kakeknya karena sedari kecil hanya kakeknya saja yang mengurus.


Kini tiba waktunya kelurga Wijaya dan Gunawan akan segera kembali ke mansion Rafli di kota J karena lusa mereka harus segera kembali ke Berlin.. Kepulangan mereka membuat Mayang merasakan kesedihan yang begitu mendalam meski ada dua sosok baru yang menganggapnya sebagai cucu.


" Mayang , ambilah coklat ini untukmu dan kau jangan menangis lagi " ucap Arjuna menghapus air mata Mayang membuat Mayang sangat terkejut atas perlakuan Arjuna .


" Aku menganggapmu sebagai adikku meski kita seumuran sich " ucap Arjuna tertawa karena salah tingkah.


" Jangan menangis . Suatu saat kita akan bertemu lagi.... da.... Mayang " ucap Arjuna dan sebuah kecupan singkat mendarat di pucuk kepala Mayang . Arjuna segera berlari saat tangan kecil Mayang hampir memukulnya , beruntung tak ada yang melihatnya apalagi jika sang bunda yang melihat tingkah Arjuna , mungkin ia akan di ceramahi tujuh hari tujuh malam.


" Mayang " ucap Dewa saat baru menuruni tangga dan membuat Mayang menoleh seketika , Mayang tersenyum manis namun sungguh sangat di sayangkan karena Dewa tetap berekspresi seperti sebelumnya , tak ada senyum untuknya .


Dewa segera menyingkirkan beberapa kenangan yang pasti pemberian dari adik-adiknya yang berada di dekapan Mayang , mulai dari boneka beruang dari Jelita , bando dari Rayana , ada juga coklat yang Dewa tau pasti itu dari Arjuna dan puding dari Rava . Dewa terkadang berdecak kesal saat melihat Rava jika makan tak memikirkan bobot badannya dan sang bunda yang seakan membiarkan nya saja.


Tiba-tiba tanpa kata Dewa menarik tangan Mayang yang sebelah kiri dan memasangkan sesuatu di pergelangan kurus tersebut.


" Perbanyaklah makan . Tanganmu begitu kurus. Lihat , tinggal tulang " ujar Dewa tanpa dosa membuat Mayang cemberut .


" Jaga gelang ini baik-baik " ujar Dewa lalu melangkah begitu saja segera menyusul dimana keluarganya berada.


'' Mayang ingin ikut.... hiks.... hiks.... " ucap Mayang menangis terisak namun tangisan itu sama sekali tak di dengar karena mobil sudah melaju .


" Bunda .... Mayang ingin ikut " jerit Mayang dalam dekapan sang kakek .


Sesungguhnya Ana ingin membawa Mayang ikut bersamanya , mengingat jika Mayang tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu dan ayah sedari kecil , berpisah dengan Mayang juga membuat kesedihan yang dalam di hati Ana. Mengingat gadis kecil itu tiba-tiba ingin tidur disisinya berada di antara Rafli dan juga Ana. Malam itu Rafli juga tak protes karena ada pembahasan kerja yang cukup serius dan mengerti keinginan Mayang malam itu.


Ana ingin membawanya namun sang suami tak mengizinkan dengan alasan , Mayang masih mempunyai seorang kakek yang adalah keluarga asli Mayang membuat Ana menurut begitu saja .


" Mas , sungguh tidak mengajak Mayang ikut dengan kita " tanya Ana sekali lagi dengan mata berkaca -kaca , terlihat dari bilik kaca mobil jika Mayang tengah menangis .


" Sayang , Mayang punya keluarga . Jika ia sebatang kara Mas pasti mengizinkanmu untuk membawa Mayang . Namun ia mempunyai kakek yang selama ini merawatnya dan Mayang pasti akan mendapatkan teman di sekolah yang akan segera mas bangun secepatnya " ucap Rafli memeluk sang istri dalam dekapannya . Ana yang begitu menyukai anak-anak membuat hatinya mudah mengiba .


.


.


.


Rafli sudah kembali bekerja seperti biasa. Sebelum keberangkatannya untuk berbulan madu selama setahun tersebut , ia harus mengurus perusahaan selama tiga bulan lamanya membuat seluruh pegawai di kantor merasa lari maraton terutama Bianca dan anak paman Joe juga terkena imbasnya . Sebagian kelapa divisi di buat harus segera kejar target secepat mungkin . Kehadiran Rafli yang selalu mempesona di mata pegawainya namun perintah Rafli dalam melakukan segala hal membuat otak mereka terasa berdenyut nyeri .


Abdi terkekeh dan juga terkadang kasihan melihat para pegawainya terutama yang berada di kantor pusat .


'' Lihatlah Joe , anak itu benar-benar ingin pergi berbulan madu . Apa ada berbulan madu selama setahun lamanya " ucap Abdi melihat beberapa CCTV yang terlihat pegawainya super sangat rajin.


'' Dan setelah itu kita akan bersiap untuk mengurus kantor setahun lamanya " ucap Joe .


'' Kau benar sekali , anak itu akan kembali mengorbankan kita untuk kebahagiaanya " ujar Abdi namun hatinya tersenyum bahagia.


'' Tapi tidak apa-apa , selama ini keluarga kecilnya cukup mendapat banyak masalah dan ku harap tak ada masalah apapun lagi nantinya '' imbuhnya .


'' Aamiin '' jawab Joe.


.


.


.


'' Victoria. Beraninya kau mengambil barang milikku " sentak Dewa kasar saat matanya melihat barang yang selama tiga hari ini di carinya .


" A...aku menemukan ini disana " ucap Victoria takut seraya menunjuk ujung tangga dimana barang tersebut di temukan. Tubuhnya terlihat gemetar.


" Kau itu pembohong , maling mana ada yang mau mengaku " Ucap Dewa merebut kasar jam tangannya yang ada di tangan Victoria , jam tangan sederhana pemberian dari kakek Gunawan , kakek kesayangannya.


" Aku tidak mencuri " ucap Victoria tak kalah kuatnya dengan suara Dewa membuat Dewa menatap nya tajam . Seumur-umur baru sekali ia di bentak oleh seorang yang umurnya berada dibawahnya batinnya.


" Sekali pencuri tetaplah pencuri Victoria . Berhenti lah menganggu milikku . Melihatmu membuat mataku sakit . Aku tidak suka wanita yang suka mencuri perhatian. Kau itu genit , mirip sekali dengan Arjuna . Kalian itu begitu cocok " ucap Dewa membuat perasaan Victoria begitu terluka . Kenapa Dewa selalu galak padanya jika dirumah bahkan kini semakin menjadi , namun saat di sekolah Dewa begitu menjaganya . Dan pada kenyataannya memang Victoria kerap memberikan perhatian lebih untuk Dewa namun ia tak menduga jika Dewa menganggapnya genit.


'' Aku membenci mu " bentak Dewa . Ana segera menghentikan aktivitas yang sedang mengajari Arjuna karena mendengar suara keras Dewa di siang bolong seperti ini .


'' Juna tetaplah disini , jangan ribut dengan kakakmu " ujar Ana terlihat wajah Arjuna memerah karena sang kakak membawa namanya .


'' Baiklah bun " ujar Arjuna pasrah meski hatinya masih sedikit kesal.


'' Dewa apa yang kau katakan '' bentak Ana membuat Dewa menunduk lesu. Sementara Ana segera memeluk Victoria yang menangis tersedu .


'' Kenapa Victoria menangis . Dewa menyakiti Victoria lagi " tanya Ana lembut namun di jawab gelengan oleh Victoria .


" Jangan takut , bunda sudah tau semuanya " ucap Ana karena ia bukan pertama kali melihat pertengkaran dua anak ini yang pada akhirnya Victoria selalu menangis . Ana menatap tajam anak kesayangannya saat ini .


" Dewa apa yang kau lakukan " tanya Ana seraya berusaha menenangkan Victoria.


" Vic , mencuri jam tangan milikku bunda . Selama ini aku mencarinya Bun " ucap Dewa melunak . Ditatap seperti itu oleh bundanya membuat hati Dewa merasa sedih , apalagi sang bunda membentaknya tadi sungguh nyalinya langsung menciut .


" Apa benar yang di katakan Dewa " tanya Ana pada Victoria .


" Gak Bun . Victoria tidak mencuri jam tangan milik Dewa. Vic menemukannya di sudut tangga ... hiks...hiks... " ucap Victoria menangis.


" Ck , kau dengarkan Dewa. Victoria tidak mencurinya " ucap Ana berusaha menahan emosinya pada Dewa.


" Victoria berbohong bunda " ucap Dewa yakin.


" Begini saja , dirumah terpasang CCTV disetiap sudut ruang . Bunda tak ingin kalian selalu bertengkar dan Dewa menuduh Victoria tanpa bukti Seperti ini , bunda tidak suka . Lebih baik kita cek melalui CCTV di ruang kerja ayah . Ayo Dewa " ucap Ana segera berjalan menuju ruang kerja suaminya .


" Kau puas . Kau lihat. Karena mu , bunda memarahi ku . Aku sungguh membencimu Victoria . Sangat membenci mu " maki Dewa . Ia tak terima sang bunda memarahinya . Tangis Victoria yang semula sudah tenang kini pecah kembali , membuat Victoria berlari menuju paviliun dimana ia tinggal selama ini . Semua pelayan menatap iba pada Victoria. Selama ini Victoria selalu berbagi susu rasa moca yang setiap pagi selalu Dewa nikmati . Bahkan Dewa sering uring-uringan jika tak mendapat susu rasa kesukaannya tersebut. Susu itu sendiri di racik oleh Victoria dan Victoria membuat nya khusus untuk Dewa juga dirinya .


Dewa berbalik ke kamar , ia tak sanggup menghadapi kemarahan sang bunda saat ini. Ia tak tau kenapa setiap melihat Victoria menyentuh barang miliknya emosinya selalu meluap apalagi ini bukan pertama kalinya , namun jika Victoria di ganggu di sekolah ia selalu menjadi tameng Victoria . Apa karena rasa seorang kakak dan pria yang membuatnya selalu melindungi Victoria selama ini , seperti ia melindungi kedua adik perempuannya .


" Dewa jahat.... " teriak Victoria menghancurkan foto Dewa yang berada di dalam kamarnya . Dokter Stevani yang baru saja pulang kerja pun begitu terkejut mendengar teriakan puterinya yang histeris.


" Vic , apa boleh mama masuk nak " tanya Stevani karena pintu kamar anaknya terkunci dari dalam.


Ceklek .


" Ya ampun Victoria , apa yang terjadi nak " ucap Stevani begitu syok melihat isi kamar anaknya yang kacau balau . Ia menghembuskan nafasnya dengan kasar saat melihat bingkai foto Dewa yang tengah hancur.


" Dewa lagi " tanya Stevani dan diangguki oleh Victoria seraya air mata deras terus mengalir .


" Apa Victoria ingin kita pindah dari sini . Jika ingin , kita akan pindah . Kita akan bicara dengan om Rafli " ucap Stevani yang sudah tak tahan melihat air mata Victoria hanya karena Dewa . Stevani tak akan diam saja jika ini terus terjadi .


" Tapi bagaimana dengan kerjaan mama dan papa disini " ucap Victoria .


" Kita akan pindah ke Inggris , kita punya rumah sederhana disana . Disana papa dan mama akan bekerja " ucap Stevani .


" Tidak ma . Vic akan merasa kesepian disana . Kita disini saja ya ma. Vic tidak ingin berpisah dengan Rayana dan Jelita . Mereka begitu menyayangi Vic begitu juga Vic , ma " ujar Victoria membuat hati Stevani mencelos .


" Maaf , mama tidak bisa memberikan Vic seorang adik " ucap Stevani lirih , ia mengetahui betapa sayangnya Victoria terhadap Jelita dan Rayana karena Victoria begitu menginginkan seorang adik.


" Ini bukan salah mama . Semua ini takdir ma ....hiks....hiks.... " ucap Victoria kembali menangis.


'' Apa Vic mau pindah dari sini " tanya Stevani sekali lagi .


" Tidak perlu ma . Vic akan menjauh dari Dewa mulai detik ini " ucap Victoria membuat hati Stevani semakin bersalah .


" Baiklah . Yang penting Victoria tidak boleh menangis lagi . Apalagi hanya karena Dewa " ucap Stevani .


" Baiklah ma " ucap Victoria memeluk sang mama .


" Aku harus bicara pada tuan Rafli . Ini tidak harus terjadi . Perjodohan antara Victoria dan Dewa tak boleh terjadi. Belum apa-apa saja , anakku di buat menangis dan rata-rata tangisan Victoria karena sikap Dewa . Aku tak ingin anakku tersakiti " batin Stevani .

__ADS_1


Tok....tok...tok....


" Victoria .... '' panggil Ana sementara sebelah tangannya mencekal pergelangan tangan Dewa . Wajah Dewa tampak muram , karena sang bunda menarik nya paksa untuk meminta maaf pada Victoria .


" Nyonya Ana , Dewa " ucap Stevani berusaha menutupi kesedihannya.


'' Maaf dokter Stevani jika kedatangan kami menganggu . Apa boleh , kami bertemu dengan Victoria " ucap Ana sopan.


" Tidak menganggu nyonya , ini paviliun milik tuan Rafli suami anda " ucap Stevani tersenyum .


" Victoria ada di kamar . Ayo masuklah , akan saya panggilkan " ucap Stevani sopan dan diangguki Ana .


Dewa terlihat duduk tenang di ruang tamu minimalis tersebut meski hatinya mengumpat atas apa yang terjadi . Minta maaf , hal yang paling ia benci .


" Se umur hidupku baru kali ini namanya meminta maaf pada orang lain. Hanya pada bunda dan ayah aku mau meminta maaf. Dan sekarang karena bunda aku meminta maaf , jika bukan karena bunda maka aku tak sudi . Sungguh memalukan " batin Dewa .


" Ingat jika bertemu Victoria , minta maaf dengan ikhlas . Akui kesalahan mu Dewa . Minta maaf bukan hal memalukan , dari pada merasa benar namun kenyataannya salah " ucapan Ana yang selalu terngiang di kepala Dewa.


" Lama sekali si Vic ini " batin Dewa menggerutu.


.


.


.


Rafli melirik tiga kursi kosong di meja makannya dan ia menatap sang istri .


'' Nanti akan bunda ceritakan " ucap Ana dan diangguki Rafli.


'' Kemana keluarga Victoria . Apa ini ada hubungannya dengan dokter Stevani yang ingin berbicara sesuatu yang penting malam ini " batin Rafli , selera makannya mendadak hilang namun demi menjaga perasaan istrinya yang sudah repot mempersiapkan makan malam membuat Rafli tak sampai hati untuk menghentikan suapannya.


Sesampainya di dalam kamar Rafli segera meminta penjelasan kepada sang istri dan Ana menceritakan kejadian yang terjadi siang tadi. Terlihat kilatan amarah di manik mata suaminya .


" Jangan memarahi Dewa mas " ucap Ana mencekal tangan suaminya yang hendak pergi.


" Tapi Dewa sudah keterlaluan sayang . Mulutnya begitu pedas . Seharusnya ia tak seperti itu kepada Victoria " ucap Rafli berusaha meredahkan amarah dalam dirinya.


" Kau lihatlah . Keluarga dokter Stevani tak ikut bergabung makan malam bersama kita. Pasti mereka merasakan sakit hati. Sungguh mas tidak enak hati kepada mereka " imbuhnya mengusap kasar wajahnya.


" Aku pun merasa tak enak hati mas . Tapi ku mohon jangan kasar pada Dewa mas '' ucap Ana dengan mata berkaca-kaca.


" Baiklah , sekarang sudah malam lebih baik dirimu tidur sayang " ucap Rafli karena ia pun banyak pekerjaan kantor saat ini .


" Mas beneran gak akan marah apalagi kasar dengan Dewa kan " tanya Ana memastikan.


" Mas tidak pernah kasar pada anak sendiri kecuali marah aja " ucap Rafli .


" Tidurlah , mas tak akan marah pada anak kesayangan mu itu dan semua akan baik-baik saja " ucap Rafli , Dewa adalah saingan terberatnya untuk memperebutkan kasih sayang seorang Ana.


" Baiklah '' ucap Ana menurut dan seketika tubuhnya melayang karena di gendong sang suami menuju ranjang empuk mereka .


" Tidurlah , dan mimpi indah " ucap Rafli mencium kening serta bibir sang istri.


" Mas tidurnya juga jangan terlalu malam " ucap Ana dan diangguki Rafli.


Rafli kini berada di ruang kerjanya tatapannya begitu fokus pada tulisan dan angka yang berada di layar laptopnya hingga sebuah ketukan pintu mengusik konsentrasinya. Pintu otomatis terbuka setelah melihat layar CCTV yang ternyata dokter Stevani yang mengetuk pintu ruang kerjanya ...


" Maaf tuan . Saya menganggu kesibukkan anda " ucap dokter Stevani tidak enak hati.


" Tidak apa-apa. Masuklah " ujar Rafli tersenyum ramah .


" Mohon maaf jika sayang lancang atau tidak tau berterima kasih . Namun saya langsung to the point saja. Saya dan suami menolak rencana perjodohan Victoria dan Dewa '' ucap Stevani tegas. Terlihat rasa kecewa dalam diri Rafli atas keputusan yang diambil sepasang dokter tersebut.


'' Dokter Stevani. Saya pribadi mengucapkan permohonan maaf atas sifat Dewa. Sungguh saya baru mengetahui nya malam ini melalui istri saya . Tapi apa tidak bisa di fikirkan lagi keputusan anda '' ucap Rafli .


'' Maaf tuan , kami tidak bisa meneruskan perjodohan ini . kami tidak ingin kedepannya terjadi hal lebih menyakitkan lagi " ucap Stevani seraya meremat jemarinya . Ia tak mampu melihat wajah Rafli saat ini .


" Jika untuk janji , saya tidak mempermasalahkannya jika di batalkan , semua demi anak-anak " ucapan Stevani terhenti .


" Tapi saya yang menanggung beban janji tersebut " ucap Rafli .


" Maafkan kami sekali lagi . Kami menolak rencana perjodohan Victoria dan Dewa " ucap Stevani tak ingin di bantah .


" Baiklah , tapi izinkan perjodohan ini tetap terjadi . Victoria bisa berjodoh dengan Arjuna " ucap Rafli .


" Hah... " dokter Stevani terlihat syok.


" Saya permisi tuan " ujar Stevani segera pergi dari ruang kerja Rafli . Kepala Stevani berdenyut nyeri atas keputusan Rafli yang seenak jidatnya saja. Ia tak pernah menyangka jika suatu saat Arjuna akan menjadi menantunya.


" Apa yang terjadi jika Arjuna menjadi mantu ku . Ganteng mirip orang Korea tapi dari cerita Victoria mengatakan jika Arjuna begitu suka tebar pesona dan terlihat jika sejak sekarang saja bocah itu mendapat jiwa playboy . Padahal Ayah dan bundanya tidak seperti itu " batin Stevani .


.


.


.


Pagi pun menjelang , hari ini Dewa terlihat uring-uringan saat tak menemukan susu yang menjadi favoritnya membuat Ana segera menuju dapur dimana Dewa berada.


" Dewa ada apa " tanya Ana .


" Bun susu yang biasa Dewa minum tidak ada di kulkas " ujar Dewa .


" Bukankah tadi Saparan Dewa sudah minum susu " ujar Ana heran .


" Bi susu yang mana yang dimaksud Dewa " tanya Ana .


" Susu kotak nyah " ujar seorang pelayan.


" Besok bunda belikan , setelah bunda pulang dari kantor ayah " ujar Ana .


" Dan sekarang Dewa harus segera kesekolah , kasihan Arjuna menunggu dari tadi " ujar Ana dan diangguki Dewa .


" Bun , susu nya rasa moca ya " ujar Dewa dan di iya kan oleh Ana.


" Haduh susunya merek apa " gumam Ana sejenak saat melihat Dewa yang tidak terlihat dari pandangannya lagi


" Terserah dech yang penting rasa moca " imbuhnya .


" Sayang , mas menunggumu sedari tadi " ujar Rafli yang terlihat masih berpakaian santai saat dirumah.


" Mas pergi ke kantor jam berapa nanti " tanya Ana duduk disamping sang suami ...


" Lepas tengah hari nanti mas berangkat ke kantor. Nanti malam mas akan pulang telat ada rapat dengan beberapa klien " ujar Rafli dan diangguki Ana. Suaminya memang begitu sibuk akhir-akhir ini ...


" Oh sebentar mas. Aku mau ambil salad dulu " ucap Ana segera beranjak meninggalkan suaminya sejenak.


" Apa itu " tanya Rafli pada dirinya sendiri saat melihat isi di dalam gelas tersebut .


" Seperti jamu dan bau nya tidak enak . Tapi Ana hobi sekali minum jamu ini " gumam Rafli melihat isi gelas yang kini ada di genggamannya menatapnya penuh tanya dan rasa penasaran.


" Jamu biar kuat kali ya " ujar Rafli terkekeh geli.


" Tak ada salahnya di coba . Kan tidak akan mati juga " gumam Rafli dan segera meneguk jamu di dalam gelas itu tak tersisa.


" Gak enak " ujar Rafli saat seluruh jamu dalam gelas telah melewati tenggorokannya rasa mual bergejolak di perutnya.


" Loh . Jamu ku siapa yang minum mas " tanya Ana heran saat tiba melihat isi gelasnya telah kosong.


" Mas yang meminumnya tadi . Penasaran soalnya . Buat lagi aja sayang " ujar Rafli yang tengah fokus pada benda pipihnya .

__ADS_1


" Mas tau itu yang mas minum apa " tanya Ana kesal .


" Itu jamu sayang " ujar Rafli .


" Mas tau jamu apa itu " tanya Ana.


" Jamu kuat kan " jawab Rafli sekilas melirik istrinya .


" Itu jamu untuk kaum wanita , apalagi wanita setelah menikah " ujar Ana .


" Dan memiliki suami super buas seperti mu " batin Ana.


'' Lalu apa masalahnya " tanya Rafli.


'' Itu khusus untuk wanita. Untuk Wanita " ujar Ana menekankan ucapannya .


'' Jamu itu mengandung ekstrak manjakani , rempah lainnya dan rebusan daun sirih " ujar Ana .


" Apa itu manjakani " tanya Rafli dengan dahi yang berkerut.


Ana membisikkan sesuatu vulgar kepada suaminya , seketika mata Rafli terbelalak sempurna dengan rahang yang hampir jatuh .


'' Yang benar saja , kenapa tidak bilang " ucap Rafli tak terima .


'' Apa akan berpengaruh dengan benda pusaka milik mas " tanya Rafli seraya memegang miliknya .


'' Bisa jadi " ucap Ana tersenyum jahil. Rafli segera menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya jika bisa . Ia ingin memastikan miliknya ada perubahan bentuk atau tidak . Jika tidak , kasihan Ana tidak mendapatkan kepuasan batinnya .


'' Bunda kenapa tertawa . Kelihatannya senang sekali " ujar Rava duduk di sisi bundanya membuat Ana memeluknya dengan gemas . Gemas sekali .


'' Rava ayo makan salad sayur dan buah ini " ujar Ana membuat Rava cemberut.


'' Tidak baik jika makanan manis terus , makan ini ya sayang " ujar Ana seperti perintah baginya .


'' Baiklah Bun " ucap Rava , menyesal ia menghampiri bundanya tadi . Jika tau ada salad buah dan sayur ia tidak akan mendekat. Rava memakannya dengan gerakan lambat karena tidak suka makanan yang harus ia makan saat ini.


'' Habiskan , itu sehat dan baik untuk tubuh " ujar Ana membuat bocah bertubuh montok itu hanya bisa pasrah.


'' Bunda , ayo bantu ayah bersiap kerja " ujar Rafli dengan wajah penuh kekesalannya.


'' Rava , bunda tinggal dulu ya. Bunda harus mengurus ayah " ujar Ana dan diangguki semangat oleh Rava.


.


.


.


Tiba di dalam kamar saat Ana akan berjalan menuju walk in closet tubuhnya didorong oleh suaminya dan membuatnya terlentang di atas sofa empuk yang berada di dekatnya.


'' Mas kau kenapa " ucap Ana terkejut...


'' Kau harus bertanggung jawab " ujar Rafli membuat Ana bingung .


'' Tanggung jawab apa . Apa salahku mas " ucap Ana hendak terbangun namun Rafli segera menghimpit tubuhnya dengan membuka pakaian Ana dengan tidak sabaran .


'' Mas katamu akan pergi kerja " ucap Ana mengingatkan.


'' Dan saat ini lebih penting dari pada bekerja demi masa depan kita terutama untuk mu " ujar Rafli .


'' Apa ini karena jamu itu " tanya Ana menebak.


'' Iya , memang karena jamu ajaib milikmu itu . Memang milik mas tak berubah bentuk tapi hanya membuktikan lebih lanjut saja " ujar Rafli membuat Ana menatapnya tak percaya . Kenapa suaminya mendadak bodoh saat ini dan ia pun menyesal mengerjai suaminya dengan ucapannya tadi . Ana mencoba menjelaskan hal yang sesungguhnya namun sang suami tak mempercayai nya begitu saja apalagi ini aset berharga baginya .


'' Mas perlu bukti bukan hanya ucapan sayang " ujar Rafli segera membungkam bibir istrinya dan memberikan sentuhan yang dengan segera meruntuhkan pertahanan Ana , sensasi yang Ana rasakan begitu membakar bir*hinya .


Rafli tersenyum senang saat ternyata jamu yang ia minum tak berpengaruh kepada perkasaanya sementara Ana sudah tertidur karena lelah , meski dalam hati Ana mengumpat suaminya namun tubuhnya tidak bisa menolak .


'' Bunda ..... " teriak Jelita dan juga Rayana saat mencari sang bunda karena sudah waktunya untuk makan siang. Rafli segera menyelimuti Ana dengan selimut tebal dan secepat mungkin ia mengenakan pakaiannya.


ceklek .


'' Ayah tidak kerja " tanya Jelita heran.


'' Tidak , hari ini ayah libur " ucap Rafli tersenyum.


'' Bunda mana ayah " tanya Rayana.


'' Bunda kalian lelah biarkan bunda kalian tidur ya " ucap Rafli segera merengkuh tubuh Jelita dan Rayana yang hendak masuk.


'' Ayo kita makan duluan , jangan ganggu bunda kalian " ujar Rafli membuat kedua anak perempuannya mengangguk.


Terlihat ketiga jagoannya tengah menunggu dirinya dimeja makan .


'' Mana bunda yah " tanya Dewa .


'' Bunda kalian istirahat di kamar , jangan di ganggu biarkan tidur " ucap Rafli membuat Arjuna dan Rava heran , tumben bundanya siang bolong seperti ini sudah tidur namun mereka menurut saja.


'' Ayo kita makan dulu " ucap Rafli ia mengambilkan nasi serta lauk pauk untuk dirinya dan juga kedua puteri kesayangannya.


Dewa menatap piringnya yang masih kosong , biasanya sang bunda yang selalu mengambilkan makanan untuknya.


'' Rava ambilkan ya kak " ujar Rava membuyarkan lamunan Dewa , Dewa mengangguk menurut. Rava mengambilkan Dewa dengan porsi seperti puncak gunung membuat Dewa berdecak kesal sendiri .


'' Dewa , biasakan dirimu untuk mengambil porsi makananmu sendiri " ucap Rafli dan diangguki Dewa.


'' Ini salahku , kenapa mengizinkan Rava mengambilkan makanan untukku. Mana habis jika sebanyak ini " batin Dewa.


" Ayah , kenapa kaos ayah terbalik " ucap Arjuna tiba-tiba membuat Rafli tersedak karena kecerobohannya membuat semua anaknya melihat apa yang di katakan Arjuna ternyata benar.


Rafli segera menengguk air yang di berikan oleh Jelita .


" Jika dimeja makan , jangan berbicara " ujar Rafli membuat Arjuna tak lagi melanjutkan ocehannya .


" Malunya , selalu Arjuna yang membuat ku terasa malu " batin Rafli .


.


.


.


Tok....tok....tok....


Pintu ruang kerja Rafli terbuka otomatis membuat sang tamu masuk begitu saja dengan senyum yang mengembang .


'' Ku dengar kau akan berbulan madu Minggu depan '' ujar Eric tersenyum senang.


''Buang senyum jelekmu itu . Ada apa katakan " ujar Rafli , menatap Eric dengan jengah . Ia yang akan berbulan madu namun Eric yang tersenyum senang .


Hubungan mereka mulai membaik karena Eric pernah menolong dirinya saat terkena bius dan hampir merusak nama baiknya.


'' Ada apa cepat katakan , aku sibuk " ucap Rafli ketus , meski hubungan mereka sudah membaik namun tak mengubah nada bicara pria di hadapannya ini .


'' Izinkan aku merawat Rayana selama kalian berbulan madu " ujar Eric membuat Rafli menatapnya tajam.


'' Selamat membaca 😊 "


Minal aidzin walfaizin , mohon maaf lahir dan batin.


Tinggal satu episode lagi ya menuju tamat .

__ADS_1


__ADS_2