
Melihat Alex yang pergi membuat Sofia begitu kecewa, Ara menenangkan Sofia. Sedangkan Zee masih menangis di dekapan Ken.
Wiliem yang baru sjaa datang berpaoasan dengan Alex di pintu keluar, tanpa sengaja Alex menabrak Wiliem dengan begitu keras sampai membuat Wiliem terhuyung beberapa langkah.
"Hey, boy. You Ok?" tanya Wiliem.
Alex tak menjawab, hanya berjalan begitu saja. Wiliem yang merasa tak enak pun langsung berlari keruangan sang Mommy.
Saat di depan pintu, terlihat Zee yang sedang menangis, Sofia pun sama hal nya dengan Zee.
"Mommy, you ok?" tanya Wiliem seraya menghampiri sang Mommy.
Sofia yang melihat Wiliem pun semkian menangis, membuat Wiliem begitu cemas lalu memeluk sang Mommy.
"Tenanglah, ada aku. Kau harus bisa mengendalikan emosimu, Mom!" pinta Wiliem.
Sofia pun berangsur tenang, tak ada lagi suara tangisan. Hanya ada isakan dan sesekali napas panjang yang di lakukan Sofia.
Zee di bawa pergi oleh Ara tuk menenangkan diri di ruangannya. Kini hanya ada Sofia, Ken dan Wiliem.
Ken menceritakan semuanya. Wiliem pun begitu syok mendengar itu. Dia pun sungguh tak mengerti akan takdir ini, kenapa semuanya berhubungan dengan sangat erat.
"Dok. Tolong maafkan, Alex! Mungkin sekarang dia begitu kalut. Aku berjanji akan memperbaiki semuanya," ucap Wiliem.
"Ya, aku berharap kau bisa membantu mereka tuk bisa menerima dan bersama kembali. Aku sungguh tak sanggup lagi, jika harus melihat Zee tenggelam lagi di masa lalunya," balas Ken.
"Itu tidak akan terjadi lagi, Dok. Mereka sudah di takdirkan tuk bersama. Mereka di pertemukan dalam kejadian tragis, tapi disitu pula mereka kembali di satukan," seru Wiliem.
Ken mengangguk ia, lalu tersenyum. Menepuk bahu Wiliem, dan beranjak keluar. "Tolong, bantu mereka!"
Wiliem pun mengangguk ia, Wiliem menghampiri Sofia yang termenung dengan air mata yang mengalir.
"Mommy, jangan pikirkan Alex. Semua itu aku akan membereskannya!" seru Wiliem.
"Wil, aku sudah lelah menjaganya. Aku ingin bebas dan bersama dengan San," ucap Sofia.
"Mom, no. Aku masih membutuhkan dirimu, aku masih ingin kau berada disisiku!" pinta Wiliem.
Sofia menatap wajah Wiliem, lalu tersenyum. Memeluk sang putra, dengan penuh sayang.
"Maafkan, Mommy nak. Yang selalu membedakan kau dengan Alex," ucap Sofia.
"Aku tahu, aku mengerti akan semua itu," balas Wiliem.
Setelah menemani Sofia sampai tertidur, Wiliem pergi keluar tuk menemui Alex, namun sebelum itu dia menemui Zee terlebih dahulu.
"Yakinlah dengan semua perasaamu. Percayalah jika dia memang orang yang kau cintai," ucap Wiliem.
"Aku, mencintai dia. Karena memang dia Alexander, bukan sebagai Alfa Reza," balas Zee.
Mendendengar jawaban dari Zee pun membuat Wiliem senang. Karena memang dasarnya, Zee mencintai Alex dengan tulus. Penuh dengan gejolak dan peperangan di dalam benak nya, saat memilih Alex sebagai lelaki yang dia cintai.
Alex mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, tanpa dia tahu kemana tujuannya. Yang dia tahu, tuk sementara ini Alex ingin menjauh dari Zee dan semua orang.
Sampai akhirnya mobil itu berhenti disebuah taman yang begitu luas. Di tengah taman itu terdapat danau buatan yang begitu indah.
Alex berjalan dengan tertatih menyusuri jalan batu di tengah taman. Air matanya masih saja menghiasi wajah tampannya.
"Aku harus bagaimana, kenapa setiap kebahagiaan ku menjadi luka tuk orang lain?" ucap Alex lirih.
"Tuhan, aku begitu menyukai wanita itu. Wanita itulah yang menggetarkan hatiku. Tapi, kenapa kenyataannya seperti ini?" batin Alex.
__ADS_1
Alex memejamkan matanya saat melihat danau di depannya.
"Aaahhhhhhhh,,,,!" teriaknya.
Alex melangkah mundur, napasnya naik turun seakan dia tenggelam. Wajahnya menjadi pucat dengan banyak keringat.
Alex terduduk di atas rumput, mengusap kasar wajahnya. Dia begitu merasakan ketakutan, tubuhnya bergetar menahan traumanya.
"Daddy, kecelakaan itu membuat trauma yang tak bisa ku lawan sampai saat ini juga," ucap Alex lirih.
Flashback On.
Malam itu keluarga Sander baru lah sampai dari Finlandia, mereka sengaja jauh-jauh ke Indonesia itu karena ingin menemui seseorang teman di Indonesia. Teman yang menurut Sofia dan Sander itu adalah sepasang malaikat tak bersayap.
Mereka berempat pun akhirnya bisa menginjakkan kaki di negara Indonesia dengan selamat.
"Alex dan Wil, kalian istirahatlah! Besok kita akan berkeliling di sekitar sini," perintah Sanders.
"Ok, Daddy. Kami akan pergi tidur!" seru Alex dan Wili bersamaan.
Keesokan harinya keluarga itu terus berjalan-jalan ke tempat yang sangat ingin mereka kunjungi. Alex dan Wili muda itu begitu sangat tampan karena masih begitu polos. Sander begitu bahagia melihat keluarganya bisa tersenyum bebas.
Seharian penuh itu mereka banyak mengunjungi tempat-tempat di Jakarta. Sampai akhirnya mereka kembali tuk pulang karena sudah sangat lelah, tapi apa yang hari ini mereka rasakan ternyata adalah suatu malam berdarah tuk mereka.
Malam itu Sander mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, masih berbicara dan bersenda gurau. Tiba-tiba ada sebuah mobil dari belakang dan menabraknya dengan sangat cepat dan keras. Sampai mobil itu menghantam pembatas jalan berguling ke arah danau.
Hanya Sofia yang terpental jauh dari kursi penumpang karena dapat dorongan dari Wiliem.
Dengan sekejap mata, mobil itu sudah berada di atas air danau. Sofia histeris meminta tolong, lalu lintas disana sedikit ramai sampai banyak yang menolong. Sedang mobil penambrak itu terus melaju dengan cepat tanpa menghiraukan apa yang sudah dia lakukan.
Disisi lain, Alfa dan Zee sudah di bawa kerumah sakit. Mendengar ada kecelakaan, Ari yang mendapat kabar dari Ken langsung mempersiapkan ruangan IGD tuk, Alfa. Terdmegar suara sirine Ambulance dari luar. Ken yang berlari ke dalam ruangan IGD dengan langsung memakai jubah kebesarannya.
Terlihat Alfa yang sudah berlumurkan darah, diam tak bergerak sama sekali. Ars yang masih belum percaya jika Alfa meninggal pun meminta Ken tuk melakukan apapun pada sang putra. Sedangkan Ara dengan tubuh yang gemetar, air matanya yang masih mengalir terus memeriksa keadaan sang adik.
Seorang kakak yang begitu mencintai sang adik, begitu hancur melihat keadaan Zee yang masih tak sadarkan diri.
Keadaan yang sama pun di rasakan oleh Ken, dia dan Ari terus berusaha melakukan sesuatu pada Alfa. Tapi semuanya sudah terlambat, karena memang kenyataannya, Alfa sudah tiada.
Ars masuk dan Alfa yang terbujur kaku, diam tak bereaksi. Sebagai seorang Ayah, Ars begitu histeris memeluk tubuh sang putra, Tia sudah tak sadarkan diri.
"Paman, maaf. Ken, tak bisa melakukan yang terbaik tuk Alfa," ucap Ken lirih.
Ars menatap Ken, terlihat gurat kekecewaan di wajah Ken. Ars memeluknya, Ken dan Ars saling menguatkan hati satu sama lain.
Semuanya larut dengan kematian Alfa, dan mencemaskan keadaan Zee yang masih belum membuka matanya. Sam dan Abigail tak kunjung beranjak dari sisi jasad Alfa.
"Kenapa, kenapa harus dia?" tanya Sam.
"Tak ada yang tahu, apa yang sudah direncanaakan oleh Sang Kuasa, dan ini memang sudah jalannya, Alfa," jawab Abigail.
"Kenapa, saat terakhir dengannya. Tangan ini hanya diam tak melakukan apapun. Dan kenapa malah tangan ini yang dia genggam," isak Sam sambil menunduk.
"Jangan salahkan dirimu, jangan salahkan takdir," seru Abigail.
Dari arah luar terdengar suara wanita yang berteriak meminta tolong. " Help me, please! Help me!.
Ara dan Ken yang mendengar itu pun beranjak ke arah loby terlihat seorang wanita menangis meminta tolong. Ari masuk dengan tiga sosok lelaki yang tak sadarkan diri.
"Tolong, selamatkan suami dan anak-anakku!" pinta Sofia.
Ari dan Ken membawa mereka masuk ke dalam ruang IGD. Namun mereka telat karema tak bisa menyelamatkan lelaki paruh baya tersebut. Sedangkan anak-anaknya masih di periksa.
__ADS_1
Suster memberitahukan jika sang suami telah tiada, membuat tangis Sofia semakin menjadi. Tak lama keluarlah Ken memberitahukan kabar buruk yang lain. Jika salah satu anaknya mengalami gagal jantung dan harus segera operasi.
Sungguh malang sekali hidup Sofia, dia tak bisa berpikir jernih harus bagaimana. Yang dia inginkan anaknya bisa selamat, akhirnya Sofia menyetujui melakukan operasi. Hanya saja kendalanya sang pendonor belum ada.
"Dok, tolong saya! Selamanya anak saya!" pinta Sofia sembari menangis menggoyangkan tangan Ken.
Ars yang melihat kejadian itu pun mendengarkan semua yang Ken dan Sofia bicarakan. Tanpa ada siapa pun yang tahu, Ars berbicara pada Tia tuk memberikan jantung Alfa tuk ibu tersebut.
Tia di berikan pengertian dan karena cintanya pada sang anak, Tia merelakan itu. Tanpa ada satupun orang yang tau, kecuali Ara dan Ken.
"Paman, apa kau yakin? Apakah bibi menyetujuinya?" tanya Ken.
"Biarlah anakku telah tiada. Tapi setidaknya biarkan jantung itu tetap hidup, nak! Jadi tolong lakukan yang terbaik tuk kami, tuk Alfa!" pinta Tia.
Ken menatap Ars dan Tia bersamaan. Ken memeluk Ars dan Tia bergantian.
"Kalian orangtua yang luar biasa, aku akan melakukan yang terbaik tuk kalian," balas Ken.
Operasi itu di lakukan secara diam-diam, hanya Ars dan Tia yang berharap cemas agar operasi itu bisa sukses.
"Kita masih memiliki putri yang harus kita jaga, sayang. Aku berharap di kehidupan yang akan datang, Zee bisa kembali bersama dengan Alfa," ucap Ars.
"Mas, jantung anakku akan selalu memanggil kekasih hatinya. Aku percaya akan takdir yang bisa menyatukan mereka kembali," balas Tia.
Di dalam ruang operasi, Ara terus menangis. Dia memang melakukan operasi itu dengan baik, tapi hatinya begitu sesak melihat wajah tampan Alfa yang begitu pucat pasih. Tangan Ara gemetar hebat saat memindahkan jantung itu.
Ken selalu menyemangatinya, dan selalu berkata ini demi Zee, ini semua demi Zee dan ini akan menjadi yang terbaik tuk Zee.
Setelah beberapa jam akhirnya Ken dan Ara keluar dengan lega. Ara memberitahukan pada Sofia jika operasinya berhasil. Sedangkan Ken memberitahukan pada Ars dan Tia.
"Terimakasih, Ken. Terimakasih kau telah melakukan yang terbaik," seru Tia serah menciumi pipi Ken.
Ken begitu merasa terharu, karena baru kali ini dia seakan mempunyai sosok ibu. Ars memeluk Ken menepuk punggungnya karena lega dan senang.
"Terimakasih anakku! Tolong jaga semua adik-adik mu! Dan selalu ada bersama dengan putri kami Ara dan Zee," ucap Ars.
"Ya, paman. Aku berjanji akan selalu menjaga mereka. Melindungi mereka semua tenaga ku," balas Ken.
Keseokan harinya Ars dan Tia melihat seperti apa sosok yang menerima donor jantung dari Alfa. Terlihat Alex masih belum sadarkan diri, Tia menangis dengan diam tanpa suara, di belaiannya wajah Alex.
"Sekarang kau berada di dalam pemuda ini, nak. Kau harus bisa hidup dengan baik. Agar bisa kembali bertemu dan bersama Zee kembali," ucap Tia seraya mencium kening Alex.
Ars hanya bisa memandang dada Alex dia begitu lega karena ada sebagian dari anaknya yang berada di sana. Dan akan hidup entah tuk beberapa lama.
Flashback Of.
Terlihat Wiliem berjalan menghampiri Alex yang masih terduduk. Wiliem mengulurkan tangannya di depan Alex. "Bangunlah, sedang apa duduk di atas tanah!".
Alex pun meraih tangan Wiliem, saat sudah berdiri Wiliem langsung memeluk tubuh Alex. Alex terkejut dengan sikap Wiliem.
"Jangan lagi kau merasa bimbang, karena cinta yang kau dapat itu begitu tulus, murni, kau harus percaya itu!" ucap Wiliem.
Alex melepas peluaknnya, menatap Wiliem dengan seksama.
"Jangan lagi kau menyakiti dia, karena kau sendiri juga tahu. Semakin kau membuat dirinya menangis, hatimu akan lebih merasakan sakitnya," ujar Wiliem kembali.
"Aa-aku sangat mencintai Zee. Dia wanita pertama yang membuat aku jatuh cinta dan begitu menyayangi sosok wanita lain setelah Mommy. Tapi, aku menjadi bimbang, Wil," ucap Alex.
"Lex kau mau meragukan apa lagi? Dia juga sama dengan kau, aku tak mengetahui ajan masa lalu itu. Dan aku juga percaya jika takdir yang di ucapkan orangtua Alfa benar adanya. Dan itu harus kau terima, jantung ini telah menyatukan kalian," balas Wiliem seraya menunjuk dada Alex.
Alex mendengar dan terus memikirkan apa yang Wiliem katakan. Semuanya memang takdir yang membolak balikkan semuanya. Dan itu menjadi kenyataan yang harus Alex dan Zee hadapi bersama.
__ADS_1
Selamat membaca semuanya..