
Eric terasa berat meninggalkan kota J untuk kembali ke Italia . Meninggalkan wanita pemilik hatinya terbaring tak berdaya dan Dewa yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri , sementara Sasa dan Teguh tetap berada di kota J , mengurus bisnis sesekali mengunjungi Ana dan Rafli yang keadaanya tak ada kemajuan malah keadaan Ana semakin memburuk.
.
.
.
Gunawan memasuki kawasan rumah sakit pukul empat subuh , terlihat para petugas rumah sakit berlalu lalang. Gunawan segera mempercepat langkahnya untuk menemui anak , mantu serta Dewa yang kini tertidur di rumah sakit...
Terlihat para bodyguard sebagian ada yang tertidur dan berjaga dengan senjata lengkap siap ditangan .
'' Silahkan masuk tuan '' ucap bodyguard ramah namun tak ada senyum balasan yang biasa Gunawan pancarkan . Tiara dan Ines sedang tertidur memeluk Dewa yang berada di tengah mereka , sedangkan para suster tertidur di kursi jaga mereka dan ada dua orang suster asyik mengobrol ringan agar rasa kantuk tak menderanya .
'' Tuan Gunawan '' cicit mereka pelan saat Gunawan memberikan isyarat agar tak berisik . Yang pertama kali Gunawan lihat adalah Dewa yang tertidur memeluk Tiara yang bagaikan guling saat ini di sofa luas cukup mewah disana , sementara Ines tangan dan kakinya membentang kemana-mana.
'' Istirahatlah cucuku '' gumam Gunawan.
Langkah Gunawan memelan dan kakinya mendadak lumpuh saat melihat kondisi putri pertamanya . Gunawan berusaha menahan tangisnya saat melihat Ana terlihat begitu lemas dan memucat , bahkan ada luka memar masih tampak jelas .
'' Siapa yang melakukan ini nak . Apa suami gagal menjagamu . Apa bapak salah memilihkan suami yang bisa menjagamu ... Maafkan bapak nak . Cepatlah sadar , ada Dewa dan anak-anakmu yang menanti kesadaranmu . Ketahuilah ibu mu saat ini sakit , jika ia tahu keadaanmu bagaimana dengan sakitnya nanti '' ucap Gunawan pelan mengusap surai sang anak .
'' Bapak disini akan menjagamu . Kau tau banyak yang merindukan mu agar segera terbangun. Lihatlah Ines dan Tiara mereka disini , bahkan si Dewa memilih tidur disini . Kau ingin melihat Dewa hancur jika kau tak bangun . Anakmu menangis begitu sedih bapak mendengarnya . Bangunlah nak , demi kami semua . Bayi kecilmu pasti di jaga bidadari di surga sana.
Langkah kaki Gunawan berjalan menuju brankar sang menantu yang tak kalah memperihatinkan . Terlihat luka perban yang membalut bahu sang menantu bahkan darah masih terlihat , wajah yang memucat bahkan tak ada senyum disana. Terlihat menikmati tidur panjangnya.
'' Bapak harap kau segera sadarlah . Ingat anak - anak dan keluarga mu . Jika kau sadar lebih dulu , berilah semangat untuk anakku yang adalah istrimu . Istrimu tak punya rahim lagi kini , ia bukan wanita yang sempurna karena milik wanita yang begitu berharga terangkat sudah. Jika suatu saat kau tak menginginkannya lagi , jangan pandang ia sebelah mata , jangan menyakitinya , lebih baik kembalikan Ana kepada kami orang tuanya , biar kami tahu seberapa besar cintamu pada putriku '' ucap Gunawan lirih , ia memikirkan bagaimana reaksi Rafli nanti jika mengetahui keadaan istrinya nanti. Pria yang sempurna seperti Rafli , apa akan memberikan cinta yang sangat besar kepada putrinya nanti seperti yang biasa Rafli berikan .
'' Bapak berdoa yang terbaik untuk kalian " ucap Gunawan segera menuju sebuah ruang yang biasa ia gunakan sholat dirumah sakit ini .
.
.
.
Sesampainya di Italia Eric segera menemui keluarga kecil Tio , Eric menceritakan tentang maksud kedatangannya tersebut. Awalnya Tio dan sang istri menentang namun begitu banyak sanggahan dari Eric membuat Tio dan istrinya pasrah.
'' Ingat Eric , dia ini cucu Wijaya . Jika suatu saat mereka tau kau membawa cucunya pergi . Jangan melibatkan aku dan keluargaku. Jangan bilang , jika kami tak pernah menasehatimu " ucap Tio tegas dan diangguki Angga mendukung ucapan Tio.
'' Aku tidak akan melibatkan kalian " ucap Eric.
'' Aku membawa Vini kemari untuk membantu istrimu menjaga anak-anak '' imbuh Eric , karena Tio juga memiliki seorang jagoan kecil yang berusia dua tahun .
'' Vini , jangan mengecewakanku . Jika kau ceroboh sedikit saja atau Ericana terluka secuil saja , nyawamu taruhannya '' ancam Eric tak main - main membuat Vini menelan ludahnya kasar.
'' Aku akan menemui anakku selepas pulang kerja dan setiap libur saja '' ucap Eric , Eric tak mau keberadaan Ericana di curigai oleh Lolita dan sang mama jika membawanya pulang.
'' Lalu bagaimana jika mamamu menanyakan tentang pernikahanku '' tanya Angga .
'' Itu urusanmu '' ucap Eric membuat Angga menghela nafasnya kasar. Jika saja ilmu bela dirinya lebih tinggi , mungkin ia akan memasukkan Eric kedalam botol saat ini.
Eric dan yang lainnya sedang menikmati makan malam dirumah mewah Tio dan memilih tidur bersama Ericana di kamar tamu rumah Tio tersebut , sedangkan Angga kembali keapartemen mewahnya...
Pagi harinya Eric berangkat kerja dengan begitu semangat bersama Tio karena Eric menginap disana semalam.
'' Lalu bagaimana dengan wanita yang menculik baby Erica itu " tanya Tio saat di perjalanan.
'' Nanti sore aku akan menemuinya lebih dahulu . Ingin rasanya aku rusak wajahnya " ucap Eric geram sendiri.
'' Sungguh banyak musuh bisnis keluarga Wijaya '' gumam Tio menghembuskan nafasnya.
'' Maka dari itu , niat lainku melindungi anak Ana yang satu ini . Paling tidak , biarkan aku memiliki satu diantara mereka " ucap Eric .
'' Asal kau tak serakah saja dan menjadikan Ericana sebagai alat agar Ana menjadi milikmu '' ucap Tio ingin tahu alasan Eric sebenarnya , ia tak cukup puas dengan alasan Eric , apalagi cinta sahabatnya itu tak pernah luntur kepada wanita yang dahulunya menjadi primadona di kampus.
'' Aku tak selicik itu . Meski aku mencintainya , aku tahu Ana bahagia bukan bersamaku . Namun jika Rafli kembali gagal menjaganya maka aku tak segan merebut Ana meski Ana menolak . Aku harap ini kecerobohan terakhir keluarga Wijaya '' ucap Eric.
'' Baiklah , terserah bapak sedunia aja '' ucap Tio.
__ADS_1
'' Bapak sedunia . Apa maksudmu '' tanya Eric .
'' Kau mempunyai tiga anak nantinya termasuk anak Lolita . Tapi diantara tiga anak tersebut , tak ada darah daging mu satupun , kau mengurusnya dan membiayai seperti anak kandungmu bahkan kau begitu menyayangi Excel bukan . Maka dari itu aku menjulukimu bapak sedunia atau ayah sedunia saja '' ucap Tio mengulum senyum , sementara Eric tertawa getir membenarkan ucapan Tio , apa ada lelaki sepertinya .
'' Kalau uang mu berlebih , boleh jadikan aku anak angkat ayah atau dirimu , Daddy '' ucap Tio tergelak melihat Eric kesal melihatnya.
'' He . Mimpi apa aku punya anak sepertimu '' umpat Eric .
'' Tapi aku yakin Ric , Ericana yang akan menjadi anak kesayanganmu. Secara anak Lolita cowok sama seperti Excel dan hanya Ericana yang cewek dan .... '' ucapan Tio sengaja menggantung .
'' Ericana lahir dari rahim wanita yang aku cintai. Itu kan maksudmu '' ucap Eric .
'' Yeah benar sekali '' ucap Tio tertawa.
'' Ya itu memang benar tak dapat di pungkiri . Aku akan menjadi Ericana pewaris kekayaanku nantinya 80% , sementara Excel aku berikan 20% saja sudah cukup , ayah kandung Excel cukup kaya . Sementara anak Lolita tak mendapatkan apapun , karena ibunya sungguh membuat harga diriku rendah saja '' gerutu Eric.
'' Itu salah mu juga '' ucap Tio keceplosan .
'' Kau membelanya '' umpat Eric tak suka.
'' Bu...bukan begitu Ric. Intinya jagalah Ericana , duniamu cukup kejam seperti dunia Rafli '' ucap Tio mengelak.
'' Sudah sampai . Ayo turun '' ucap Tio .
'' Bukakan aku pintu '' titah Eric.
'' Dasar manja '' cibir Tio namun tetap melakukannya .
Selepas pulang dari kantor , Eric segera menyambangi markas anak buahnya yang terlihat seorang gadis tergeletak tak berdaya dengan tubuh tanpa busana.
'' Lepaskan aku '' rengek Atlata.
'' Aku belum puas menghukummu '' cibir Eric , hal biasa baginya melihat tubuh wanita tanpa benang sehelaipun , meskipun ia bukan seorang pemain .
'' Pekerjakan dia club milikku biar jadi wanita penghibur disana '' ucap Eric...
'' Ku mohon jangan '' Isak Atlata.
'' Aku akan membalas setiap orang yang menyakitimu Ana '' gumam Eric.
.
.
.
Eric kini menjalani harinya dengan begitu bahagia . Kecuali saat bertemu dengan Lolita yang seolah tanpa dosa meminta aneh-aneh padanya. . .
Pagi harinya Eric sedang sibuk berkutat dengan pekerjaannya tanpa sengaja benda pipih nya berdering . Melihat nomor yang meneleponnya dengan malas berulang kali dari tadi.
'' Ada apa '' tanya Eric membuat nyali maid dimansionnya menciut.
'' Tu...tuan... Nyonya Loli ingin melahirkan '' ucap Maid pelan namun mampu di dengar baik oleh Eric.
'' Kenapa kau meneleponku. Cepat suruh supir ke rumah sakit . Nanti aku akan menyusul '' ucap Eric .
'' Tapi tu...tuan '' ucapan maid terhenti karena Lolita merebut telepon rumah tersebut.
'' Aku tidak akan kerumah sakit jika kau tak mengantarkan ku '' ucap Lolita marah.
'' Kau memang wanita gila . Kau bisa tak tahan merasakan sakit jika menungguku , kau bisa mati bodoh '' umpat Eric.
'' Jika aku mati . Aku akan menjadi kuntilanak dirumah mu . Cepatlah pulang , aku bisa benar-benar mati Eric '' sentak Lolita.
'' Dasar kau wanita gila. Aku akan segera pulang , karena aku tak ingin memelihara seorang kuntilanak sepertimu . Hidup saja menyusahkan . Pergilah , aku segera menyusul '' ucap Eric .
'' Aku janji segera kesana saat ini '' imbuhnya saat Lolita tak percaya padanya .
'' Baik lah . Awas jika kau berbohong '' ancam Lolita .
__ADS_1
'' Gila '' teriak Eric lalu mengakhiri panggilan tersebut.
'' Kenapa aku harus punya istri tukang selingkuh. Tidak Laurent dan Lolita sama saja , bahkan aku membiayai anak pria lain '' ucap Eric mengacak rambutnya kasar dan segera bergegas kerumah sakit dimana Lolita akan melahirkan nantinya .
Terlihat mertuanya telah tiba lebih dahulu dirumah sakit swasta terbesar di Italia , dan ada juga Tasya yang sedang menggendong bidadari kecilnya...
'' Keponakan uncle apa kabar '' ucap Eric mencium pipi sang keponakan.
'' Masuklah kedalam , istrimu sedari tadi menunggu '' ucap Tasya membuat Eric membelalakkan matanya . Seumur hidup tak pernah menemani wanita ingin melahirkan , namun kini ia harus menemani wanita yang akan melahirkan yang berstatus istrinya tersebut.
'' Aku tidak mau . Suruh suamimu saja '' ucap Eric.
'' Aku tidak pernah poligami adik ipar '' cibir David.
'' Eric kemari nak '' ucap Wilson membuat Eric terdiam dan berjalan lemah kesana.
'' Tolong papa . Temani Lolita '' ucap Wilson mengiba .
'' Iya nak . Tolong putri ibu sedari tadi menunggumu '' ucap Wiwid memohon membuat Eric menurutinya .
'' Jika kau tak kuat , kau boleh keluar '' imbuhnya dan hanya di dengar Eric..
'' Habis sudah nanti rambut dan kulit ku . Awas saja , jika ia berani mencakarku " batin Eric.
Eric menghampiri seorang suster dan berbicara cukup penting disana .
" Baik tuan . Saya pastikan tak akan ada yang mengetahuinya dan hasilnya akan 100% akurat.
" Baiklah , lakukan tugasmu " ucap Eric.
" Eric , ini sakit sekali . Aku tak kuat " rinti Lolita.
" Itu hukumanmu karena mengandung anak pria lain bukan anak suamimu " batin Eric , ingin sekali ia berkata seperti itu jika hanya berdua dengan Lolita. Lolita pun seolah cukup kebal akan perkataan kasar Eric yang cukup menorehkan luka padanya dan Eric pun harus menahan emosi di hatinya yang tak bisa lepas dari jeratan Lolita begitu saja.
" Kau tahanlah , jangan taunya mengandungnya saja " ucap Eric pelan.
" Sialan kau " bisik Lolita dan menjerit saat merasakan perutnya merasa sakit karena pembukaan kembali serta Eric menarik sedikit rambutnya.
" Nyonya , tahan ya . Tinggal dua bukaan lagi " ucap dokter pria disana.
" Aku bisa mati dokter jika begini " rintih Lolita .
" Nyonya . Jangan bicara seperti itu " ucap seorang suster mengusap peluh Lolita.
" Tuan , sebaiknya anda memberikan semangat untuk istri anda " timpal suster lainnya.
" Aku mual sekali sus , aku tak pernah berada di situasi seperti ini " ucap Eric apa adanya.
Lolita mengejan sekuat tenang saat pembukaan telah sempurna . Dalam beberapa kali mengejan Lolita berhasil melahirkan sosok bayi tampan yang masih berlumur darah. Sementara Eric segera pergi karena mual melihat hal itu dan memilih keluar dari ruang tersebut ..
'' Aku tak tahan lagi...huek " ucap Eric segera mencari toilet terdekat.
'' Lebih baik aku disini lama . Aku tidak ingin mengadzankan anaknya . Itu bukan darah dagingku " imbuhnya memilih merapikan penampilannya yang begitu berantakan. Kulitnya pun terlihat bekas cakaran Lolita , ia telah menyiapkan bantal namun istrinya itu tetap memilih meraih tubuhnya.
'' Lihatlah . Dasar wanita kurang ajar " umpat Eric melihat rambut ikalnya cukup banyak rontok.
'' Apa David dan Rafli mengalami hal seperti ini saat Tasya dan Ana melahirkan " gumam Eric.
'' Seharusnya aku yang menemani mu Ana " imbuhnya lirih.
Siang ini Eric mendapatkan kabar dari anak buahnya yang mengatakan jika Ana dan Rafli akan di rujuk ke Berlin dimana rumah sakit yang pernah menangani Rafli waktu koma disana. Eric juga memerintahkan anak buahnya untuk ikut kemanapun Rafli dan Ana berada .
'' Aku berdoa yang terbaik untukmu Ana " gumam Eric tanpa di pinta air matanya mengalir membasahi pipinya .
'' Kau harus hidup Ana , ada putri kecilmu yang suatu saat ingin melihat dirimu " lirih Eric.
Wilson terpaksa mengadzankan cucunya yang baru lahir karena Eric sedari tadi tak keluar dari toilet , sementara Lolita berusaha menahan kemarahannya saat ini pada Eric , apalagi sang mertua telah datang ia harus memasang wajah memelas mungkin.
Jangan lupa like dan komentarnya ya.
__ADS_1
Next episode ada yang siuman kok .