
Zee Levina Putri
Semenjak kepergianmu, dunia ku bagikan neraka, setiap napasku bagikan hunusan pedang yang menancap di hatiku, buliran bening yang selalu menetes ini menghancurkan dunia ku mengingat kau tak lagi di sisiku.
Kau pergi tak hanya meninggalkan kesedihan bagiku, tapi juga kesakitan, kesepian, kerinduan pada sosok yang selalu mencintaiku, menyayangiku.
Aku, ingin sekali membenci dirimu, karena kau telah berbohong, mengkhianati kepercayaan ku, dengan cara pergi membawa semua duniaku.
Aku ingin sekali, membenci dirimu, sangat membenci dirimu, tapi semakin aku ingin membencimu, saat itu pula cintaku semakin bertambah, rinduku semakin berlipat ganda.
Kau bagaikan mayat hidup yang terbelenggu oleh bayangan dirimu, terdiam di tempat dengan semua kenanganmu, menyiksa diri hanya berharap kau yang mengobati.
Kau tak hanya membuatku menjadi beban orang lain, tapi menjadi beban semua orang. Dan, kini aku tahu siapa sosok yang selalu menina bobo kan diriku, Zyan menjadi penggantimu setiap malam, meninggalkan istrinya demi aku.
Sampai satu purnama berlalu, tidurku terganggu akan sesuatu. Kau pergi, meninggalkan dirinya dalam rahimku, sebuah anugrah yang saat itu tak aku harapkan. Karena, akan selalu mengingatkan ku padamu, tak ku sangka malam itu akan membuat diriku menjadi ibu dari anakmu.
Sejak, saat itu aku memutuskan akan peegi jauh melupakan semua kenangan dirimu. Hidup dan berjalan bersama dengan anakku. Memberikannya cintan dan kasih dariku.
Apakah, kau tahu bagaimana nantinya saat dia lahir tanpa seorang ayah? Aku, pun tak tahu. Karena, aku selalu di limpahkan cinta dan kasih sayang dari semuanya.
"Aku telah melahirkan anakmu, dia tumbuh dengan sehat, penuh cinta dan kasih dariku. Jangan bertanya apa ada yang menemaniku? Jawabnya tak ada, karena di hatiku masih ada dirimu," ucap Zee saat melihat foto nya dengan Alfa.
Finlandia, 9 tahun kemudian
"Alyandra," panggil sang ibu.
"Yes, Mom," sahutnya dari dalam kamar.
"Cepat turun! Kau jangan sampai membuatnya menunggu, lagi!" perintah sang ibu.
Dengan langkah yang tergesa-gesa Alyandra turun dengan cepat melewati anak tangga.
"Aahh," teriaknya saat tubuh kecil itu hampir jatuh tersungkur di lantai.
"Jangan seperti itu, kau akan celaka, dan selalu saja membuat bibi cemas!" perintah Rio.
Alyandra hanya bisa tersenyum kuda, bukannya turun dia malah asyik bergelayut di tubuh Rio.
"Al, kau selalu seperti itu pada Rio!" sewot sang ibu.
"Kak Rio, saja tak keberatan dengan Al, Mom," balas Alyandra.
"Pagi, bibi," sapa Rio.
"Pagi, sayang," sambut Zee sembari memeluk tubuh sang ponakan.
Ya, sekarang Zee sudah mempunyai seorang anak gadis yang sangat cantik. Dia bernama Alyandra Zevara anak semata wayangnya bersama dengan Alfa.
Setelah kematian Alfa, Zee tak pernah keluar rumah. Tuk sekedar bertemu temannya saja dia tak mau, satu ketika malam itu Zee muntah parah tubuhnya sangat lemas, akhirnya Azura dan Bumi memerintahkan Ara tuk memeriksanya. Ara dan Ken begitu terkejut karena Zee sedang mengandung.
"Zee, kau sedang hamil nak?" tanya Azura.
Zee hanya diam sembari mengusap perut ratanya, air matanya mengalir deras karena mengingat dirinya pernah melakukan perbuatan terlarang itu bersama Alfa.
__ADS_1
Ken mendekati Zee, menggenggam tangan Zee menatap sang adik ipar dengan penuh tanya.
"Princess, apakah ini anak-?"
"Ini anak, Alfa. Bukan anak, Sam. Kak," ucap Zee menatap Ken.
Semua orang menatap terkejut pada Zee, Ken memeluk tubuh Zee dengan erat. Zee menangis hebat di pelukan Ken.
"Sudah, sudah, berhenti menangis! Kami, akan menjaga dirimu dan anakmu. Jangan, khawatir sayang!" pinta Ken.
"Biarkan, aku pergi kak! Aku ingin terbebas dari semua ini, biarkan aku menata hidupku lagi bersama anakku!" pinta Zee.
Sejak malam itu, Zee memutuskan pergi menjauh dari keluarganya. Zee menyendiri di negri asing, menjalani hidupnya dengan sang putri. Dan, kini dia berada di Finlandia.
Ken dan Ara mengikuti sang adik pindah ke Finlandia, sedangkan Zyan dan Kiara mereka kembali ke Korea. Sam dan Abigail mereka hidup dengan baik dan sudah memiliki seorang gadis cantik.
"Al, jangan membuat susah Rio. Kasihanilah, Rio dan Rino yang selalu kau repotkan!" seru Zee.
"Ok, Mom. Alya, harus berangkat sekarang," ucap Alyandra sembari mencium pipi sang Mommy.
Setelah itu, Alya berdiri menatap foto sang Ayah yang begitu gagah nan tampan. Ya, itu foto Alfa bersama dengan Zee saat muda dulu.
"Dad, Al berangkat sekolah dulu. Alya sayang Daddy," ucap gadis kecil itu.
Zee hanya tersenyum melihat tingkah sang anak yang selalu berpamitan pada sang ayah.
"Kau bisa lihat, Al. Anakmu sudah besar sekarang. Dia sudah sembilan tahun, sifatnya tak sama denganmu, dia begitu riang, dan cerewet seperti diriku. Tapi, wajahnya sangat mirip denganmu," ucap Zee sembari menatap foto sang kekasih hati.
Alyandra sudah tahu jika sang Ayah telah tiada, maka dari itu dia tak pernah menanyakan tentang sang Ayah. Apalagi, di dalam rumahnya penuh dengan foto sang Ayah dan Ibunya saat muda dulu.
"Al, kau sudah bisa menangis! Jangan, di tahan lagi, nanti dadamu sesak lagi!" perintah Rio.
Alya pun menghentikan langkah kakinya, menatap ke atas, memandang awan biru di atas langit.
"Al, harus kuat seperti Mommy! Al, tak ingin membuat Mommy menangis, Daddy pasti kuga sedih, kalau Al membuat Mommy menangis," ucapnya begitu polos.
Seperti itu lah pemikiran gadis kecil itu, dia begitu menyayangi sang Mommy. Tak ingin membuat Mommy nya menangis atau pun cemas.
"Al, kau menangis di hadapanku! Kau, bisa melakukan apa pun asal bisa membuatmu merasa lega!" pinta Rio.
"Kakak, terimakasih sudah selalu berada di dekatku," balas Alya tersenyum.
Rio dan Rino akan berganti menjaga Alya, mengantar dan menjemputnya saat sekolah. Karena, itu sudah mereka lakukan sejak kecil, orangtua mereka selalu mengajarkan tuk saling menyayangi dan melindungi.
"Baiklah, kakak bisa kembali kekelas! Aku sudah berada di kelasku," pinta Alya.
Rio mencium pucuk kepala Alya, setelah itu dia beranjak pergi dari sana dan kembali ke kelasnya.
"Lihatlah, anak tanpa ayah itu! Lagi-lagi di antarkan kakak senior, ke kelas"
Alya yang memang terkenal cuek jika di luar rumah memang persis seperti sang Daddy nya.
"Tanpa Ayah? Hem,, mereka tak tahu saja, jika Daddy ki sangat tampan dan juga pintar," gumam Alya.
__ADS_1
Sedari kecil Alya memang sudah di lahiran di negara asing. Sudah sangat mengenal akan seperti apa bersikap dengan sekelilingnya.
"Al, are you Ok?" tanya Gwen.
"Ya, i'm fine. Tenanglah, aku sudah terbiasa sejak bayi selalu di bilang anak tanpa Ayah," jawab Alya dengan santainya.
Gwen adalah anak orang kaya di Finlandia, perusahaan orang tuanya lah yang mengerjakan Zee di sana. Sejak, saat itu mereka menjadi berteman. Orangtua Gwen begitu simpati pada Zee, di tambah lagi Zee sosok wanita yang cantik, pintar dan bekerja keras.
"Ada aku, kau bisa mengandalkan aku! Jika, ada yang terus mengganggumu!" perintah Gwen.
Alya hanya tersenyum dan memeluk tubuh gembul temannya itu. Memang Alya beruntung bisa berteman dengan Gwen yang begitu baik pada dirinya dan sang Mommy.
Tak berapa lama, guru pun masuk dan hari itu adalah pembagian hasil ujian minggu lalu, Alya dan Gwen selalu bersaing ketat di dalam kelas. Mereka selalu mendapat nilai yang bagus.
"Baiklah, anak-anak hari ini aku akan membagikan hasil ujian kalian. Dan, lagi-lagi Alya mendapat nilai terbaik didalam kelas!" seru sang guru.
"Yeyyyy," teriak Gwen begitu heboh.
Membuat sang guru tersenyum, tapi tidak dengan semua temannya yang berada dalam kelas. Mereka, tak suka pada Alya yang notabenya bukan orang Finlandia begitu pintar di negara asing.
"Ok, selanjutnya kau Gwen! Kau mendapat nilai yang hampir sempurna seperti Alya," ucap sang guru tersenyum.
"Thank you Miss," balas Gwen seraya membungkuk.
"Dan untuk yang lainnya, ada apa dengan kalian? Nilai, kalian begitu buruk. Bukankah, aku sudah mengingatkan kalian tuk belajar dan bersikap tuk ujian?" tanya Miss Eliz.
Semua siswa hanya menunduk malu dan kesal, karena selalu saja mereka kena ocehan dari sang guru. Sedangkan, Alya dan Gwen selalu aman tertawa di atas penderitaan mereka.
Jam istirahat pun tiba, Gwen memilih tuk pergi ke kantin. Sedangkan Al memilih duduk di taman dengan membaca buku.
"Lihat, anak tanpa ayah itu senang sekali sendiri. Apa kau tahu Ibu ku bilang dia datang ke kemari hanya dengan Ibu nya saja. Ayah nya tak ada," gunjing kakak seniornya.
Alya tetaplah, anak kecil yang terkadang sedih. Jika ada yang terus-terusan mengejeknya. Sebisa mungkin, dia tak mau membuat Rio dan Rino cemas dengan selalu terlihat senang, tersenyum.
"Daddy, aku ingin bertemu Daddy," isaknya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Hatinya begitu sakit, saat mendengar kalau dirinya di juluki anak tanpa Ayah. Padahal, yang sebenarnya tidak seperti itu Alya mempunyai Ayah yaitu Alfa. Ayah yang sudah tiada.
Dengan masih menunduk menangis, Kontak tahu jika Rino sedari tadi emmeperhatikannya. Rino mempunyai sifat seperti Ara, dia begitu lembut.
"Dia menangis lagi, paman Al kau lihat bukan? Alya selalu menangis, jika menyangkut akan dirimu. Tuhan, berikanlah bibi dan Alya sosok lelaki yang bisa menjaga mereka!" pinta Rino.
Gadis kecil itu mempunyai kekuatan tersendiri jika seusai menangis. Alya akan selalu menggenggam kalung yang selalu dia pakai. Itu adalah kalung yang selalu di pakai Alfa selama dia hidup.
"Daddy, im sorry. Hari ini, aku menangis lagi!" ujarnya seraya menghapus air matanya.
Itu lah kata-kata yang akan keluar dari bibir munggilnya jika seusai menangis, meminta maaf pada sang Daddy.
Rio berjalan mendekati Rino, ikut menatap adik kecil mereka yang sedang menghapus air matanya dan mencoba kuat kembali.
"Dia sudah dewasa di usianya yang masih kecil, dia sudah menjadi gadis tangguh di usianya yang masih kecil, bahkan dia selalu terlihat tegar di depan semua orang. Tapi, kita tahu dia begitu rapuh dan sangat merindukan sosok seorang Ayah," ucap Rio begitu iba pada Alya.
Rino menatap wajah sang kakak, dia begitu bersyukur karena ada sosok kakak, Ibu dan Ayah hidupnya.
__ADS_1
"Aku masih ingat, kata-kata terakhir nenek dan kakek. Saat, meminta kita harus bisa menjaga adik-adik kita. Terutama Al, yang sudah tak memiliki Ayah," balas Rino.
Bersambung💞💞💞