
Pemutaran film dibioskop pun selesai begitu juga adegan ciuman Vanya dan Wil. Terlihat napas keduanya naik turun seperti habis berlari maraton.
Vanya menunduk malu, karena tingkahnya sendiri. Sedangkan, Wil tersenyum senang melihat Vanya yang agresif seperti itu. Wil mengusap lembut bibir Vanya.
"Istri kecilku ini sudah semakin pintar yah,, membuat suaminya senang," bisik Wil menggoda Vanya.
Vanya semakin malu dibuatnya, mencubit perut Wil karena gemas. Terlihat satu persatu pengunjung itu keluar dari dalam bioskop. Wil dan Vanya pun beranjak keluar.
"Aku tidak bisa fokus menonton filmnya, bahkan aku sama sekali tak melihat adegan didalam film itu," gumam Vanya cemberut.
Wil mengusap lembut kepala Vanya yang sedang merajuk, akhirnya mereka memilih tuk pergi jalan-jalan mebeli sesuatu tuk Alya. Ya sudah beberapa bulan ini, mereka tidak bisa bertemu dengan gadis kecil mereka itu.
Alya semakin bertambah besar, gadis itu semakin cantik seperti sang Mommy nya. Alya selalu pergi kesekolah bersama dengan Rio dan Rino.
"Kau mau beli apa tuk, Alya?" tanya Wil.
"Kau, tahu tidak. Gadis kecilmu itu semakin besar, kemarin kak Zee mengirimkan foto Alya yang sangat cantik. Dan, dia sangat cantik dengan dresnya," jawab Vanya.
"Jadi, apakah kau akan membeli semua dres tuk Alya?" tanya Wil.
"Tentu, aku akan membeli dres, tas dan juga sepatu tuk dia," jawab Vanya.
"Baiklah, kita manjakan anak gadis itu. Aku begitu rindu memeluk dan menciumnya," ucap Wil.
Vanya tersenyum melihat Wil yang begitu menyayangi ponakannya itu. Begitu juga dengan Alya yang begitu menyayangi Wil. Mereka memasuki butik yang begitu besar, Wil duduk menunggu sang istri yang sedang memilih baju tuk Alya.
"Anak itu akan sangat senang, aku rasanya begitu rindu bermain dengannya. Kalau aku menginap apakah, Wil membolehkannya? Aku sangat rindu tidur dengan Alya," gumam Vanya.
Sudah ada lima dres ditangannya, Vanya pun berkeliling kembali mencari sepatu dan tas. Tanpa diduga Vanya menabrak seorang wanita yang begitu seksi dan cantik.
"Maaf, maafkan aku!" pinta Vanya menatapnya.
"Ya, maaf kembali saya juga tak melihatmu," balasnya tersenyum.
Vanya pun mengangguk ia seraya tersenyum. Mereka pun bejalan berlawanan dan kembali sibuk memilih barang-barang.
Setelah puas berputar-putar akhirnya, Vanya kembali ke tempat Wil duduk tadi. Tapi, saat sampai disana tak terlihat sang suami. Vanya menengok kesana kemari mencari keberadaan sang suami.
"Kemana, Wil? Kenapa tak ada, apa dia sedang berada di toilet?" ucap Vanya.
Akhirnya, Vanya memilih tuk membayar semua belanjaannya tanpa menunggu Wil. Dan saat akan kembali mengambil tasnya yang tertinggal, Vanya melihat Wil sedang berbicara dengan seorang wanita. Namun, wajahnya tertutup oleh tubuh Wil. Tak ada rasa curiga atau apapun dalam benak Vanya, sampai terlihat wanita itu mencium pipi Wil dan memeluknya sekilas.
"Siapa wanita itu? Kenapa begitu mesra dengan suamiku? Apakah, dia temannya Wil atau clientnya?" tanya Vanya.
Setelah mengambil tasnya dan kembali ke kasir. Vanya mencoba menelpon Wil, tapi tak diangkat olehnya. Membuat, Vanya berpikiran yang macam-macam dengan suaminya itu. Tapi, tak berapa lama Wil datang dengan berlari tersenyum manis pada Vanya. Seakan tak terjadi apapun.
"Senyuman mu, seperti menjelaskan jika tadi tak terjadi apapun," batin Vanya.
Vanya mengikuti apa yang Wil lakukan, dia akan berpura-pura tak tahu apa pun. Vanya tak ingin memikirkan negatif pada sang suami yang baru saja dia nikahi beberapa bulan.
"Apa kau sudah lama? Maaf, tadi aku bertemu dengan teman lama," ucap Wil.
"Ya, tidak apa. Aku juga baru selesai," jawab Vanya.
Vanya tak jadi membayar semua belanjaannya. Karena, Wil mengeluarkan golden card nya tuk membayar semua belanjaan Vanya. Setelah selesai mereka pun bergegas tuk pergi kerumah Zee. Terlihat wanita yang tersenyum dari dalam butik, senyumnya terlihat menandakan dirinya tak suka pada apa yang dia lihat.
"Kau bisa berpaling dan melupakan aku hanya karena gadis kecil seperti itu? Sungguh mengenaskannya diriku," ucapnya menyeringai.
"Nona, ayo kita tak banyak punya waktu. Setelah ini kau harus melakukan pemotretan," ucap asistennya.
"Ok, kita selesaikan pekerjaan tuk hari ini. Setelah itu kau harus bisa tahu siapa gadis yang bersama dengan Wiliem," ujarnya.
"Baiklah, Nona. Saya tahu itu, kau tinggal menunggu semuanya beres saja," balasnya.
Wanita itu begitu seksi dan sangatlah cantik. Dia seorang model yang sangat terkenal di luar Finlandia. Seorang model ternama yang sudah mendunia.
Diperjalanan, Vanya masih teringat akan siapa wanita itu. Kenapa juga Wil tak menolak saat wanita itu mencium dan memeluknya. Sungguh Vanya merasa penasaran, tapi apakah Wil akan marah jika Vanya tak percaya kalau itu benar temannya.
"Ada apa, kenapa kau terlihat murung?" tanya Wil.
"Tidak ada, aku hanya memikirkan sesuatu saja."
Vanya memilih tak melihat Wil, dia memilih melihat keluar mobil. Entahlah, apakah Vanya merasa cemburu atau apa. Yang dia rasakan sekarang tak ingin dekat dengan Wil.
Sesampainya di rumah Zee, Vanya langsung masuk ke dalam kamar Alya dan melepas rindu pada sang ponakannya itu. Alya begitu senang melihat Wil dan Anya datang.
Wil dan Alex berbincang di taman belakang begitu pula Alya yang terus bermanja ria dengan sang Daddy nya. Zee melihat ada yang aneh pada Vanya pun menariknya kekamar Alya.
__ADS_1
"Ada apa? Kenapa kau murung?" tanya Zee.
"Ahh, kau selalu saja tahu dan bisa menebaknya, kak. Sepertinya, aku tak bisa menutupi sedikit rahasia jika berada di depanmu," jawab Vanya.
Zee tersenyum seraya mengusap lembut surai panjang hitam Vanya. Ya, Vanya seperti Zee saat muda sangat suka menggerai rambutnya. Membiarkan rambut itu begitu saja, Zee tersenyum ternyata Vanya persis dengan dirinya.
"Katakan padaku! Ada apa?" tanya Zee.
"Kak, apakah aku salah jika menanyakan sesuatu pada Wil soal masa lalunya dan masalah pribadinya?" tanya Vanya menunduk.
"Ada apa, apakah ada yang salah pada Wil? Anh, Wil itu sudah menjadi suamimu. Kau berhak tau seperti apa dia di masa lalu atau lun sekarang, karena hubungan itu harus di dasari keterbukaan," jawab Zee.
"Aku takut dia akan marah, kak. Tadi saat aku kemari, aku melihat Wil berbicara dengan wanita mereka begitu mesra. Wanita itu pun sampai berani mencium dan memeluk Wil," ucap Vanya dengan suara di tahan karena ingin menangis.
Zee memeluk tubuh Vanya, mengusap pelan punggungnya. Menenangkan snah adik kecilnya.
"Kau harus menanyakan itu, jangan sampai kau salah paham dengan suamimu. Kau harus berani menanyakan itu, mau nanti jawabannya membuatmu sakit atau tidak," balas Zee.
Vanya yang masih berusia dua puluh tahun, memang masih sangat labil. Dia tak tahu harus bercerita pada siapa lagi, sungguh dirinya begitu kesal pada Wil dan juga dirinya sendiri. Tanpa, Vanya tahu jika dirinya itu cemburu.
"Aku kesal dengan Wil, kak. Aku tak mau dekat dengannya!" seru Vanya sembari menghapus air matanya.
"Itu tidak baik sayang! Kau tidak boleh egois karena perasaanmu saja. Kau harus selesaikan hari ini juga, jangan membuat Wil bingung dengan sikapmu itu," balas Zee.
"Kau bisa berbicara disini jika tak ingin dirumah. Kakak akan mengatakannya pada Wil," ucap Zee.
"Tapi kak, apa yang harus aku tanyakan? Aku binggung," balas Vanya.
"Banyak sekali pertanyaan dalam hatimu, kau keluarkan saja semuanya! Dan ingat, kau juga harus memberikan Wil waktu tuk menjelaskannya, agar kau bisa mendapatkan jawabannya," ucap Zee.
"Baiklah, kak. Terimakasih dan tolong katakan pada Wil," pinta Vanya.
"Tentu sayang, kau tunggulah disini. Kakak akan memanggil Wil, sebentar lagi malam kau bisa menunggu kakak memasak tuk makan malam juga," balas Zee.
"Ya kak, tentu. Aku rindu masakan kakak," ucap Vanya tersenyum.
Zee pun menutup pintu kamar Alya setelah keluar, pikirannya melayang pada ucapan Sofia dahulu. Jika ada sosok wanita yang sangat menyusahkan dirinya dan hampir saja membuat Alex dan Wil bertengkar hebat dan saling membunuh.
"Apakah wanita itu kembali?" gumam Zee.
Zee berjalan kebawah kearea tan belakang, terlihat Alex dan Wil.sedang berbicara serius. Alex terlihat sedang menahan amarahnya, tangannya mengepal kuat. Sedangkan, Wil seperti frustasi menjelaskan semuanya.
"Ya, aku bertemu dengannya di butik. Tanpa sengaja Lex, sungguh aku tak tahu jika itu dia," jelas Wil.
"Kau tak tahu? Apa maksudnya, Wil apakah dia sangat berubah sampai kau tak mengenali dia?" tanya Alex.
"Ya, dia berbeda, sangat berbeda. Wanita itu seperti bak model dengan semua yang ada pada dirinya. Penampilan menjadi cantik dan seksi," jawab Wil.
Zee terus mendengarkan kedua kakak beradik itu berbicara. Terus menangkap semua percakapan Alex dan Wil, tebakan dari Zee benar jika wanita di masa lalu mereka kembali datang.
"Wanita itu kembali datang. Bukan hanya Vanya yang akan terancam tapi juga diriku," gumam Zee.
Apalagi, Zee tahu jika wanita itu adalah wanita yang rela tidur bersama Alex dengan suka rela. Sedangkan dahulunya dia adalah kekasih dari Wil.
"Tidak, aku tak akan tinggal diam. Aku akan membereskan wanita itu," ucap Zee dengan mengepalkan tangannya.
"Apakah, Vanya tahu kau bertemu dengan wanita itu?" tanya Alex.
"Entahlah, seperti tidak. Tapi, sejak keluar dari butik Vanya terlihat diam dan murung," jawab Wil.
Zee berjalan keluar dengan senyuman paling menghampiri keduanya. Membuat Alex dan Wil tegang seketika.
"Serius sekali, kalian membicarakan apa? Aku senang melihat kalian akur," ucap Zee menyindir keduanya.
"Kami akur jika membicarakan bisnis. Kau tahu bukan, itu sangat penting," balas Wil.
Zee memicingkan matanya pada Alex yang memilih memalingkan wajahnya. Lalu menatap Wil dengan senyuman palsunya.
"Vanya ingin berbicara denganmu! Dia menunggu di kamar Alya," ucap Zee.
"Ahh, baiklah. Aku akan menemui istriku dulu," balas Wil.
Zee melihat Alya yang sedang bermain. Meminta snah putri tuk masuk dan brmian didalam rumah. Karena aura kemarahan Zee sudah terlihat oleh Alex.
"Ada apa, kenapa meminta Laya pergi?" tanya Alex dengan suara lembut.
"Tidak ada, aku hanya ingin berdua saja denganmu dan ingin menanyakan sesuatu," jawab Zew dengan senyuman manisnya.
__ADS_1
Glekkk,,,,
Alex merasa tak enak, melihat senyuman dari Vanya tapi terlihat tatapan tajam dari matanya. Alex menggenggam tangan Zee dan memintanya duduk disampingnya.
"Jangan kau lihatkan wajah yang seperti itu! Kau membuatku takut, sayang," ucap Alex seraya berjongkok di depan Zee.
"Ada apa dengan wajahku? Apakah aku tak cantik lagi, apakah wajahku seram?" tanya Zee.
Alex menggeleng dengan senyuman terbaiknya, namun wajah Zee masih tetap masam dan tatapan tajam itu masih terlihat.
"Kau sangatlah cantik sayang dan siapa yang bilang kalau kau seram? Biar aku pukul dia," jawab Alex.
"Huh, pandai sekali mulutmu berkata manis, Alexander," ucap Zee seraya berjalan pergi meninggalkan Alex begitu saja.
"Hey, sayang. Aku sungguh benar. Itu perkataan ku dari lubuk hatiku yang paling dalam," seru Alex mengejar Zee.
"Hentikan ocehanmu itu, aku geli mendengarnya!" seru Zee dengan melotot menatap Alex.
"Aish, sepertinya dia mendengar ucapanku saat mengatakan kata-kata cantik itu," gumam Alex.
Didalam kamar, Vanya menatap kearah luar jendela. Melihat Zew dan Alex yang terlihat begitu harmonis. Ada rasa iri dalam hati Vanya, apakah Wil juga mencintai dirinya seperti Alex yang begitu mencintai Zee.
"Kak Al, kau sudah sangat tepat memberikan jantungmu pada seorang lelaki seperti kak Alex. Karena, dia begitu menyayangi kak Zee dan Alya," gumam Vanya sembari menghapus air matanya.
Wil membuka pintu kamar Alya, terlihat sang istri sedang menatap keluar jendela. Wil berjalan pelan mendekatinya dan langsung memeluk tubuh Vanya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Wil seraya mencium leher Vanya.
Vanya menutup matanya membiarkan sang suami yang menciuminya. Padahal hatinya ingin sekali menolak sentuhan dari Wil.
"Apa kau sudah selesai berbicara dengan kak Alex?" tanya Vanya.
"Ya, memang kenapa? Ada apa, katakan padaku!" pinta Wil seraya membalikkan tubuh Vanya.
Terlihat wajah snah istri begitu sedih, Wil mengerutkan dahinya menatap heran pada sang istri.
"Kau kenapa? Ada apa dengan wajahmu?" tanya Wil cemas.
"Wil, apakah aku boleh tanya sesuatu? Dan kau harus menjawabnya dengan jujur!" pinta Vanya.
"Ok, katakan sayang!" balas Wil sambil menarik Vanya tuk duduk di tepi ranjang.
"Siapa teman yang kau temui tadi?" tanya Vanya lirih.
Wil menghela napasnya lalu menggenggam tangan Vanya, mengangkat wajah snah istri tuk melihat dirinya.
"Jadi kau melihatnya? Kenapa kau baru tanyakan sekarang? Dengarkan aku, Anh. Dia teman mamaku saat aku kuliah di LA dan juga mantan kekasihku," jawab Wil.
Jawaban dari Wil membuat hati Vanya semakin sakit, air matanya meleleh begitu saja. Rasanya dadanya begitu panas. Ingin rasanya dia berteriak, ya Vanya begitu cemburu.
"Mantan kekasihmu? Dan kau membiarkan dia menciummu lalu memelukmu di luar sana," ucap Vanya seraya menatap sang suami.
"An, aku mohon jangan salah paham. Dia memang menciumku dan memelukku karena aku memberitahukan jika aku sudah menikah," balas Wil.
"Jadi, maksudmu ciuman dan pelukan itu hal biasa tuk memberikan selamat?" tanya Vanya.
"Anh, bukan begitu maksudku. Kau pasti tak melihat aku menghindarinya, aku bahkan tak membalas pelukan darinya. Aku sungguh tak berbohong sayang!" jelas Wil.
"Ya mungkin aku tak melihatnya. Tapi, yang jelas aku melihat kau membiarkannnya memeluk dan menciummu," tegas Vanya.
Vanya melepas paksa tangan Wil dan beranjak pergi keluar kamar. Vanya menuruni tangga dan masuk kedalam kamar tamu lalu menguncinya. Wil memanggil Vanya dan mengejarnya, terlihat Zee dan Alex melihat adegan tersebut. Membuat Alex menunduk takut saat sang istri kembali dalam mode galaknya.
"Sayang buka pintunya, aku mohon biarkan aku menjelaskan semuanya!" pinta Wil menggedor pintu itu.
Alya melihat Vanya menangis pun menghampiri Wil dan tiba-tiba memukul lengan Wil.
"Daddy, kenapa membuat kak Anh menangis? Daddy nakal sama kak Anh yah?" tanya Alya.
Wil begitu terkejut ternyata ada Alya disana, Wil mencoba tersenyum dan berjongkok didepan sang putri.
"Tidak sayang, Daddy tak nakal dengan kak Anh. Kak Anh juga tidak menangis kok, hanya terkena debu saja," ucap Wil.
Alya yang memang anak yang pintar pun hanya menatap tajam Wil dengan mulut yang berkomat kamit tak tahu apa yang dia ucapkan.
"Al akan hukum Daddy jika membuat kak Anh menangis," ujarnya setelah itu pergi ke kamarnya.
Zee dan Alex tertawa mendengar snah putri mengancam Wil. Dan berhasil membuat Wil diam mematung tak percaya gadis kecilnya sudah berani berbicara seperti itu.
__ADS_1
**JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTAR NYA YA SAYANG-SAYANGKU.. AKU MOHON JUGA YANG BUM KASIH RATE TOLONG SEGERA BERIKAN RATE NYA!!
SEKALI LAGI TERIMAKASIH TUK SEMUANYA 😘😘**