Takdir Cinta

Takdir Cinta
Day 2


__ADS_3

Desa C begitu jauh dari perkotaan. Memang terlihat asri dan nyaman, tapi bukan itu yang menjadi kendala mahasiswa itu. Disana terdapat pemukiman yang bisa di bilang sangat jauh dari kata solidaritas, tak ada tutur sapa dari warga, apalagi sambutan hangat.


"Maafkan, saya ya semuanya! Semua warga disini memang seperti ini apa adanya, mereka tak suka jika ada yang memasuki lingkungan mereka," ucap Ketua RT menjelaskan.


"Tapi, tidak semuanya kok. Karena, sebagian dari mereka bersedia jika kalian wawancara dan membantu tugas kalian," imbuh Bu RT.


Semuanya mengangguk paham, Zee yang membawa kamera dengan asyik memotret tuk dokumentasi. Abigail yang sudah beberapa hari ini selalu waspada, karena hatinya merasakan akan ada sesuatu yang terjadi.


Sam, meminta dengan teman lainnya memantau rumah mana saja yang pro dan kontrak dengan kedatangan mereka.


"Baiklah, lebih baik kalian sekarang berkumpul saja dulu kerumahku! Berteduh sebentar disana!" pinta Ketua RT.


"Baiklah, Pak. Maaf, jika kedatangan kami mengganggu dan merepotkan," balas Sam.


"Sudah, sudah, tidak apa-apa. Kami, bahkan sangat senang!" seru Bu RT.


Dengan sedikit berbincang dengan Ketua RT dan istrinya, akhirnya mereka menyimpulkan sesuatu tentang desa tersebut. Dengan begitu tugas ini pun sangat cepat diselesaikan, karena tanpa mereka harus mewawancarai warga.


Rumah itu sangat besar namun sederhana. Tak memakai keramik, hanya beralas tanah. Rumah itu terbuat dari batu bata dan kayu jati. Di depan halaman, ada sebuah pendopo tuk semua orang beristirahat atau pun meriung bagi warga yang sedang membutuhkan bantuan.


"Nak, kalian ingin duduk di dalam atau diluar?" tanya Bu RT.


"Kita, disini saja Bu. Lebih nyaman dan sejuk," jawab Zee disertai senyum manisnya.


"Baiklah, tunggu sebentar ya! Ibu akan buatkan minuman dulu," ucap Bu RT.


"Jangan repot-repotnya, Bu!" seru Abigail.


Bu RT hanya diam, tapi tetap tersenyum seraya melangkah masuk kedalam rumah. Sedangkan, Ketua RT masih berbincang dengan Sam. Memberikan keterangan yang sangat di butuhkan, dengan senang hati teman tim Sam mencatat semua yang dia rasa penting.


"Baik, Pak. Saya dan teman-teman sangat berterimakasih, karena sudah di perbolehkan tuk mengunjungi desa ini," ucap Sam.


"Tidak masalah, nak! Kami akan sangat senang, siapa tahu setelah kalian mengangkat bagaimana kehidupan warga disini, membuat orang luar tahu. Dan, bisa membuat desa kami bisa maju," jelas Ketua RT.


"Pak, ajak mereka kemari! Makan dan minum cemilan dulu!" seru Bu RT sedikit berteriak.


Ketua RT dan Sam pun berjalan menghampiri Zee dan yang lainnya. Menikmati makanan yang sdah di siapkan. Zee masih asyik memoto sekeliling rumah itu, ada pohon yang sangat rindang, hijau nan besar.


"Desa ini begitu asri, sejuk, nyaman sekali. Hanya saja, kehidupan warganya yang masih sangat sederhana dan menganut adat yang kental," ucap Zee sembari memotret rumah kecil yang sangat indah menurutnya.


Rumah itu hanya sepetak saja, tapi sangat bersih, banyak bunga di depan halaman kecilnya. Saat Zee motret fokus pada rumah itu, terlihat ada gadis kecil yang bersembinyi di balik tirai jendela.


Zee pun melepas kameranya dan memandang langsung, tapi ternyata gadis itu malah bersembunyi masuk.ke dalam.


"Ada apa dengan gadis kecil itu? Raut wajahnya, seperti orang ketakutan, cemas dan seakan ingin meminta tolong" gumam Zee.


"Zee!" panggil Abigail seraya melambaikan tangannya.


"Ya, sebentar!" saut Zee berjalan kearah Abigail.


"Waktunya kita pulang! Besok, kau bisa kembali memotretnya, ok!" perintah Abigail.


"Baiklah, ayo kita pulang," balas Zee tersenyum.


Ketua RT dan istrinya ternyata diam diam selalu memperhatikan Zee, mereka akan tersenyum senang jika melihat Zee. Entah, kenapa mereka begitu menyukai Zee dari pertama bertemu.


"Pak, Bu, kami pamit. Terimakasih, sudah sudi menjamu kami disini," ucap Zee seraya menangkupkan kedua tangannya.


"Jangan bilang sepeti itu, nak! Kami senang kok, tak merasa di repotkan," balas Bu RT sambil menarik tangan Zee, dan di genggamnya.


Zee menatap tangannya, dan tersenyum manis pada Bu RT. Sam dan Abigail pun ikut tersenyum karena benar, Zee selalu membawa kebahagiaan.


Di dalam mobil, Zee langsung memejamkan matanya. Rasa kantuk benar- benar menguasainya. Sam dan Abigail hanya membiarkannya saja. Sampe terdengar getaran ponsel di tas Zee.


"Alfa, apa ku angkat saja?" tanya Abigail.


"Angkatlah! sapa tahu itu penting," jawab Sam.


Abigail pun mengangkatnya dan menberitahukan kalau Zee sudah tidur dalam mobil mereka. Alfa berniat menjemput, namun di larang Sam.

__ADS_1


"Kita bertemu saja, di persimpangan jalan! Disitu lebih dekat dengan arahmu," jelas Sam.


"Baiklah, aku tunggu kalian!" seru Alfa.


Sambungan ponsel pun terputus, Abigail melelahkan kembali ponsel Zee.


"Mereka pasti sangat merindu, terbiasa bersama, sekarang harus tak bertemu selama 24 jam," ucap Abigail.


"Emm, apa kau tahu? Aku juga selalu merindukanmu, setiap waktu. Walaupun, kau ada di sebelahku," ucap Sam lirih.


Abigail tersenyum tipis, menatap Sam sembari menggenggam tangan Sam. Abigail menyenderkan kepalanya di bahu lebar Sam.


"Aku sangat merindukanmu, Sam. Sangat, sangat rindu. Apalagi, jika kau tak mengajakku berbicara," balas Abigail.


Sam mencium pucuk kepala Abigail, membuat rasa tenang dan senang tersendiri tuk Abigail. Seperti itulah, gaya berpacaran Sam dan Abigail.


Zee membuka matanya, dan kembali menutupnya saat melihat Sam dan Abigail sedang bermadu kasih.


"Sebaiknya kau menutup matamu, Zee lebih lama lagi. Biarkan kedua sahabatmu menikmati waktu pacarannya!" ucapnya pada diri sendiri.


Selang berapa menit, mobil itu berhenti. Namun, Zee tak berniat membuka matanya. Tapi, saat pintu penumpang dibuka, Zee mencium aroma tubuh Alfa. Dan memang itu Alfa yang sedang menggendong dirinya berpindah mobil.


"Thanks, bro. Sorry bikin repot kalian!" seru Alfa.


"No problem, ya sudah. Gue balik duluan, mau antar Abi," balas Sam.


"Ok," saut Alfa.


Alfa masuk dan melihat wajah sang kekasih yang sangat dia rindukan, Alf mencium kening Zee, beralih pada pipi dan juga bibir Zee.


"Astaga, aku tak bisa lagi menahannya! Kenapa, Alfa begitu suka menciumku? Apa, ini akan jadi hobby barunya?" tanya Zee pada diri sendiri.


Merasa sudah lama mencumbu Zee, Alfa menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, membawa Zee pulang kerumahmu, bukan kerumah Zee.


"Princess, sayang bangun!" seru Alfa membelai wajah Zee.


"Emmpphh,," leguh Zee sembari meregangkan tangannya.


"Sam? Hey, coba lihat siapa yang ada di depanmu!" perintah Alfa.


Zee mengerjapkan matanya, lalu mengucek mata itu. Terlihat, Alfa di depannya.


"Al? Alfa, kenapa kau ada disini?" tanya Zee berakting terkejut.


Cup, Alfa mencium bibir Zee sembari tersenyum.


"Ayo turun! Ini sudah sangat malam," pinta Alfa.


Zee pun menurut turun, dan kaget saat melihat bukan rumahnya. " Kenapa kau membawaku, kemari?"


"Ini sudah sangat malam, sudah masuk saja!" perintah Alfa sembari menarik tangan Zee.


Di dalam Tia dan Ars sedang duduk menonton tv, mereka begitu senang saat melihat siapa yang datang. Ars langsung memeluk tubuh mungil Zee.


"Om, Zee bau keringat, lepaskan!" pinta Zee.


Ars tak menghiraukan ucapan Zee, Zee hanya bisa cemberut.


"Eh, kenapa cemberut?" tanya Tia sembari membelai rambut Zee.


"Bau, lepaskan Zee!" pintanya dengan nada manja.


"Sudah, lepaskan putrimu! Jangan menggodanya Mas!" seru Tia.


"Mau kau bau, atau tidak. Aku tak masalah! Asal masih bisa memeluk mu sayang," ucap Ars sembari mencium kening Zee.


"Ahh, Om. Love you so much," ucap Zee sembari mencium pipi Ars.


Tia dan Alfa tersenyum senang, Ars dan Zee begitu saling menyayangi.

__ADS_1


"Ya sudah cepat mandi, setelah itu kau makan malam bersama Alfa!" perintah Tia.


"Makan malam, bersama Alfa?" tanya Zee.


"Ya, tentu saja. Al belum makan malam, karena dia ingin menunggumu," jelas Tia.


Zee menatap sedih, Alfa. Namun, dengan segera Alfa tersenyum dan menariknya tuk segera mandi.


Ars menelpon Bumi, kalau Zee akan bermalam dirumahnya. Dan, seperti biasa Bumi yak bisa melarangnya. Jika, sampai terjadi dia kan bisa perang dengan Ars yang sangat keras kepala.


"Makan yang banyak sayang! Tante sudah siapkan makanan kesukaan mu," ucap Tia.


"Terimakasih, Zee memang sangat rindu makanan, tante," ucapnya sembari berdiri mencium pipi Tia.


Tia mengusap lembut lengan Zee, karena Zee memeluknya dari belakang.


"Aahh,, sepertinya kau melupakan sesuatu," sindir Alfa pada Zee.


"Apa? Aku melupakan apa, Al?" tanya Zee.


"Aihhss, dasar tak peka. Sudahlah, habiskan saja makananmu!" perintah Alfa dengan nada sewot.


Zee, dengan polosnya kembali ketempat duduknya lalu menghabiskan makanannya. Ars dan Tia tanya tertawa kecil. Karena, Alfa bisa cemburu juga pada mereka.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, Ars dan Tia pamit tuk pergi tidur.


"Kalian boleh bermain, tapi ingat jangan sampai lewat batas! Kalian tahu bukan?" tanya Ars.


"Hemm," saut Alfa singkat.


"Om, Tante," panggil Zee manja.


Ars dan Tia lun bergantian memeluk lalu mencium Zee. Tanpa menghiraukan Alfa, yang menatap tajam pada mereka.


Tinggalah Alfa dan Zee yang masih diam tak bersuara, Zee mendekati Alfa, menyusupkan tubuhnya di pelukan Alfa.


"Jangan mendiamkan aku! Apa, kau tak merindukan aku?" tanya Zee sangat manja.


Alfa mengeratkan pelukannya, mencium aroma wangi rambut dan tubuh Zee. Begitu, menenangkan bagi Alfa.


"Jangan banyak bicara, tanpa kau tanya pun. Seharusnya kau tahu, bagaimana diriku!" seru Alfa.


Zee berbalik dan memeluk Alfa, mengendus aroma tubuh Alfa yang maskulin itu.


"Besok, kau berangkat siang bukan?" tanya Alfa.


"He'emmm, karena semuanya sudah di dapatkan," jawab Zee.


"Tidur denganku! Aku ingin malam ini tidur dengan memeluk dirimu!" pinta Alfa.


Tanpa menunggu jawaban Zee, Alfa sudah menggendong tubuh Zee masuk kedalam kamarnya.


Alfa merebahkan tubuh Zee, menatap wajah sang gadis dengan tatapan penuh kasih. Namun, terlihat ada kesedihan tersendiri di mata Alfa.


"Aku sangat mencintai dirimu, aku sungguh tersiksa karena tak bisa bersama dirimu," ucap Alfa.


"Aku juga merindukanmu, apalagi kemarin tak ada kabar sama sekali darimu. Membuatku khawatir, aku begitu takut jika kau pergi," balas Zee manja.


Alfa menciumi kekasih hatinya, rasa rindu yang mereka rasakan sudah seperti berpisah satu purnama saja.


Malam yang sunyi, sepi, menjadi malam yang begitu indah tuk keduanya, sahutan cinta penuh kasih dan gairah menyelimuti mereka. Sudah tak mendengar dan berpikir lagi, karena logika mereka hanya berpaut sama satu lain yaitu saling memiliki seutuhnya.


"Akan jadikan kau, wanitaku seutuhnya! Kau, hanya milikku Zee Levina Putri," ucap Alfa dengan suara tertahan.


Sedangkan sang gadis sudah tak bisa menjawab apqpun, hanya ada air mata yang mewakili semua perasaannya saat itu. Entah, itu bahagia, sedih atau kah penyesalan.


"Jangan tinggalkan aku! Jangan pernah, kau berpaling dariku, karena sekarang aku sudah menjadi milikmu!" pinta Zee seraya memeluk tubuh kekar Alfa yang polos.


"Hanya kematian yang bisa memisahkan kita, Zee. Dan, aku pastikan jika aku akan terus bersamamu! Menua dengan dirimu, sayang!" seru Alfa memeluk tubuh sang kekasih.

__ADS_1


Semua benteng yang sudah mereka jaga dengan sangat susah, akhirnya tak bisa mengalahkan ego yang terus menerus menggoda.


Bersambung💞💞💞


__ADS_2