
Esok pagi nya, Wiliem sudah menemui Laudya terlebih dahulu di rumah sakit. Karena, Alex harus bertemu dengan Zidan dan membicarakan smeua kontrak itu sebelum malam harinya mereka kembali ke Finlandia.
Di perjalanan, Wiliem terus mengingat akan kejadian kemarin. Wil memejamkan matanya melihat Laudya yang berlumurkan darah tak sadarkan diri.
"Apakah benar itu dirimu, Lau? Kau wanita yang dulu begitu polos dan baik," gumam Wil.
Wiliem membawa plbunga lily putih di tangannya, mobil itu sudah berhenti di depan rumah sakit. Wiliem melangkah mencari ruangan Laudya. Terlihat nama Laudya di depan pintu kamar itu, jantung Wiliem berdegup kencang, tangannya terdiam saat akan menarik knop pintu itu.
"Sedang apa dia sekarang?" batin Wiliem.
Ceklek,,, Wiliem membuka pintu itu dan tak mendapatkan Laudya di sana. Ruangan itu kosong tak berpenghuni, Wiliem begitu cemas kemana wanita perginya wanita lumpuh itu.
"Lau, kau dimana?" teriak Wiliem mencari Laudya ke arah balkon.
Tak ada siapapun di sana, Wiliem mencari keluar ruangan tapi juga tak ada siapa pun.
Crasss,,, terdengar suara air yang mengalir dari dalam toilet, lalu terdengar suara wanita dari dalam.
"Suster, suster," panggilnya.
Wiliem mengerutkan keningnya tapi tetap melangkah mendekati pintu toilet.
"Sus, apakah kau masih di luar? Aku sudah selesai, bisakah aku keluar sekarang?" tanyanya kembali.
"Kau di dalam, sedang apa?" tanya Wiliem.
"Siapa kau? Mau apa, kemana suster jagaku?" teriak Laudya ketakutan.
"Jawab aku! Kau sedang apa di dalam, huh?" bentak Wiliem.
"Aa-aku, habis mandi. Ta-tapi, aku sudah memakai baju," jawabnya gugup.
Wiliem membuka pintu itu dan terlihat Laudya sedang duduk di atas closet, Wiliem melihat kakinya yang masih terbungkus perban.
"Kau di sini? Sedang apa?" tanya Laudya begitu terkejut.
Wiliem mendekati Laudya tanpa menjawab, lalu segera menggendongnya kembali keranjang. Laudya semakin terkejut dengan sikap Wiliem.
"Te-Terimakasih, Liem," ucap Laudya lirih.
Wiliem menatap tajam dirinya dan membuat Laudya menunduk takut.
"Maaf, aku salah. Wil," ucap Laudya.
Wiliem duduk di sofa, sedangkan Laudya duduk di atas ranjangnya. Lau melihat ada bunga lily di atas nakas, membuatnya tersenyum tipis.
Tak lama kemudian terlihat suster masuk dengan tergesah-gesah masuk dmegan membawa nampan di tangannya.
"Ahh, syukurlah. Maafkan aku, Nona karena telah meninggalkanmu tadi. Alu berpikir kau masih lama berada di dalam, makanya aku pergi mengambil makananmu," ucap Suster.
"Kau sungguh tak profesional dalam kerja, bagaimana kau tau dia akan lama betah di dalam? Bagaimana jika dia kedinginan di dalam, huh?" hardik Wiliem.
Suster itu menunduk takut, dia merasa semakin bersalah karena perbuatannya. Laudya menatap Wil tak percaya jika dia begitu marah pada suster tersebut karena khawatir pada dirinya.
"Maafkan, saya Tuan. Saya mengaku bersalah, tapi sungguh saya tak bermaksud seperti itu," ucap Suster gugup.
"Sudahlah, Wil. Dia sudah minta maaf, toh dia tak sengaja melakukan itu padaku," ucap Laudya.
"Terserah, apa katamu!" seru Wiliem serah pergi dari ruangan itu.
Laudya hanya bisa menghela napas panjang, membiarkan suster ituengobati kakinya yang ternyata basah terkena air. Suster itu terus menunduk malu, Laudya melihat ke arah pintu yang terbuka.
__ADS_1
"Dia marah, karena khawatir. Dia masih saja seperti dulu, terlalu baik," gumam Laudya.
"Ya, Nona. Apakah kau merasa sakit?" tanya Suster.
"Tidak, Sus. Aku tak apa, tolong berikan makanan itu padaku!" pinta Laudya.
Suster memberikan nampannya dan membiarkan Laudya makan, sedangkan dirinya masih terus membalut kaki Laudya dengan perban.
"Astaga, luka ini sangat besar. Sungguh, malang nasib nona ini. Lukanya tak akan bisa hilang, padahal kakinya sangat cantik," ucap lirih Suster.
Laudya hanya tersenyum tipis karena masih mendengar ucapan dari Suster itu. Laudya hanya bisa menelan makanan itu dalam mulutnya padahal rasanya begitu pahit.
"Sus, bisa sudah selesai bisakah kau menemaniku jalan-jalan di taman rumah sakit ini? Dan, tolong bawakan aku apel merah," pinta Laudya.
"Tentu, Nona. Kau bisa meminta apapun padaku, Tuan Zidan sudah membayarku tuk menjagamu," balas Suster.
Laudya mengangguk sembari tersenyum, setelah selesai makan mereka menuju taman, Laudya yang biasa berpenampilan glamor dan seksi. Kini, tidak lagi wanita itu hanya memakai baju piyama panjang drai rumah sakit, membiarkan rambut panjang pirangnya dikepang oleh suster itu. Wajah yang tanpa make up membuatnya semakin natural.
"Sus, siapa namamu? Aku rasa usiamu dan usiaku sama," tanya Laudya.
"Namaku, Lissa. Ya kau dan aku seumuran, Nona," jawab Lissa.
"Kalau begitu bisakah kau memanggilku dengan nama saja?" tanya Laudya.
"Tidak, aku akan tetap memanggilmu dengan sebutan Nona. Dan, aku akan sangat senang jika kau memanggilku dengan Lissa saja!" pinta Lissa.
"Kau begitu curang, Lissa," ucap Laudya.
Mereka berhenti di kursi panjang, Laudya tetap duduk di kursi rodanya dengan di tutupi selimut tebal. Lissa wanita yang banyak berbicara membuat Laudya sedikit terhibur.
"Astaga, kau melupakan apelmu. Ini silakan makanlah, aku sudah mengupasnya," ucap Lissa sembari nyodorkan satu cup apel.
Laudya menerimanya, " Terimakasih, Lissa." Laudya memakan buah apel itu dengan lahap, karena apel makanan wajib bagi Laudya yang sebagai model.
"Kakinya akan bisa berjalan sekitar empat bukan lagi, karena luka di kulitnya begitu parah. Dia akan begitu syok karena kaki cantiknya menjadi begitu buruk," ucap Dokter.
"Apakah, kalian tak bisa melakukan operasi?" tanya Wiliem.
"Tentu, kami bisa. Hanya saja, tuk sementara ini kita tak bisa melakukan operasi," jawab Dokter.
Wiliem mengusap kasar wajahnya, dia harus bagaimana? Hari ini dia akan pergi kembali ke Finlandia, tapi apakah dia bisa tega meninggalkan Laudya yang sudah menolongnya dan pergi begitu saja saat keadaannya begitu.
Wiliem keluar dari ruangan Dokter berjalan lemas menuju ruangan Laudya, tapi dia melihat Laudya sedang berada di taman bersama dengan susternya. Terdengar suara tawa dari wanita itu, namun terlihat sesekali Laudya mengusap pelan kakinya.
"Kenapa, aku harus bertemu lagi denganmu? Apa rencanamu, Laudya? Apa yang kau ingin kau lakukan dengan cara menyakiti dirimu itu," gumam Wiliem menatapnya dengan penuh tanya.
Laudya menatap langit di atasnya, entah kenapa dia merasa begitu sedih tapi ada senyuman di bibir pinknya. Tak lama, salju turun di sana, Lissa dengan cepat mendorong kursi roda Laudya. Namun, sialnya roda itu tersangkut di rerumputan sampai tak bisa berputar.
"Bagaimana ini, rodanya tak mau berputar. Saljunya semakin cepat turun," ucap Lissa cemas.
Sedangkan, Laudya malah tersenyum melihat salju-salju itu turun. Tangannya terangkat seakan menggapai butiran putih itu. Membiarkan salju itu turun di atas tubuhnya.
"Indah, sangat indah. Kenapa, kau turun di saat kakiku tak bisa menari di bawahmu?" gumam Laudya seraya menitikkan air matanya.
Lissa yang melihat Laudya menangis, berpikir dia kedinginan dan merasa sakit karena dia terus memaksa kursi rodanya tuk bergerak.
"Oh, Tuhan. Nona maafkan aku, aku tak bisa mendorong kursi roda ini," ucap Lissa yang ikut menangis.
Tak lama terlihat lengan kekar yang mendorong kursi roda itu dan bisa bergerak kembali, Laudya menengok kebelakang berpikir Lissa sudah berhasil. Namun, dia salah, Wiliem lah yang berada di belakangnya sedang mendorong kursi roda itu.
Laudya kembali menatap ke depan, menghapus air matanya. Laudya semakin merasa menyedihkan dengan keadaannya yanh seperti ini.
__ADS_1
"Kau, belum pergi?" tanya Laudya gemetaran.
Tak ada jawaban dari Wiliem, lelaki itu hanya mendorong kursi roda itu dan kembali masuk ke dalam ruangannya. Di sana, Lissa langsung menyediakan lemon tea tuk Laudya.
Saat, Wiliem mengangkat tubuhnya. Laudya menghentikannya, "Pergilah, Wil! Sudah ada Lissa yang akan menjagaku, terimakasih sudah membantuku. Aku bisa naik ke ranjang dengan bantuan Lissa".
Wiliem berhenti dan berdiri tak jauh dari kursi roda Laudya. Lissa kembali berpikir jika mereka itu sepasang kekasih yang sedang bertengkar, mungkin karena kecelakaan ini.
"Tuan, biarkan saya saja. Anda bisa duduk dan meminum lemon tea nya," ucap Lissa.
Wiliem masih tak bergeming dari sana, Lisa dengan perlahan membantu Laudya naik ke atas ranjangnya. Dengan sedikit susah payah dan menahan rasa sakitnya, akhirnya Laudya bisa kembali ke ranjangnya.
"Astaga, Nona. Tadi kita terlalu memaksakan, lihat perbanmu berdarah. Lukanya pasti terbuka kembali, biar aku ganti dulu perbannya," ujar Lissa seraya mengambil peralatan P3K.
Laudya juga memang merasakan sakit yang luar biasa saat mencoba menaikan tubuhnya tadi. Matanya tak lepas dari kakinya yang berdarah, Laudya merasakan dadanya yang sesak, air matanya menetes begitu saja. Namun dengan cepat dia hapus.
Wiliem berjalan keluar dari ruangan itu, dan bertemu dengan seorang suster. Setelah berbicara, Wiliem kembali masuk dan melihat Lissa sedang mengobati lukanya. Terlihat lukanya begitu besar, lukanya panjang dan benar terlihat buruk.
Laudya yang melihat itu hanya bisa memejamkan matanya, merasakan sedih juga sakit yang bersamaan. Bahkan, dia tak segan meremmas ujung seprei karena harus menahan perihnya.
"Sudah selesai, Nona. Kau harus bertahan dengan lukanya selama sebulan ini, setelah itu kau akan belajar berjalan kembali," ucap Lissa.
"Lukanya, apakah akan tetap seperti itu?" tanya Laudya lirih.
"Tidak, Nona. Dokter bilang, mereka akan mengoperasinya jika kakimu sudah bisa sembuh dan bisa berjalan. Namun, memang butuh waktu lama," jawab Lissa.
Laudya merebahkan tubuhnya dengan posisi miring. Lissa tetap berdiri di sampingnya, sedangakan Wiliem masih duduk di sofa.
"Lissa, bisakah kau tinggalkan kami berdua!" pinta Laudya.
"Tentu," balas Lissa pergi keluar.
Hening, ruangan itu gening seketika. Hanya ada suara detakan jam disana.
"Aku tahu, malam ini kau harus kembali ke Finlandia. Jadi, aku harap kau tak merasa bersalah dengan semua kejadian ini. Aku menolongmu, tanpa memikirkan apapun. Karena saat itu tubuhku begitu saja mendorongmu, kau pergilah! Pulanglah, karena istrimu pasti menunggumu. Apalagi, aku dengar kalian adalah pengantin baru," ucap Laudya.
Wiliem masih diam tak menjawab satu kata pun, Wiliem hanya bisa memalingkan wajahnya karena merasa benar-benar kasihan pada Laudya.
"Apa yang kau rencanakan dengan Zidan? Sampai kau rela melakukan ini, kau mercoba menolongku agar aku bisa merasakan tersiksa karena berhutang budi padamu?" tanya Wiliem.
Laudya merasa sakit hati dengan semua ucapan Wiliem, dengan menahan swmua perasaannya wanita itu tersenyum sembari bangun menatap Wiliem.
"Jadi, kau berpikir aku melakukan ini tuk menahanmu? Kau salah, Wil. Apa gunanya aku menahanmu di sini, aku bukan wanita bodoh," jawab Laudya.
"Jangan bersandiwara denganku, Lau. Aku tahu wanita seperti apa dirimu, jika kau mendapatkan misi dari Zidan tuk menggodaku atau Alex kau salah besar. Karena, aku atau pun Alex sudah sangat muak dan jijik padamu," ucap Wiliem.
"Huh, kau begitu munafik, Wiliem. Kau berkata seperti itu padaku, tapi di lubuk hatimu kau merasa sangat bersalah bukan melihatku seperti ini," balas Laudya tersenyum tipis.
"Aku jelaskan lagi padamu, aku tak tahu jika akan terjadi insiden itu. Dan kau tahu, aku ini wanita simpanan yang paling di sayang oleh Zidan, jadi mana mungkin dia merelakan tubuhku menjadi korbannya," sambung Laudya.
Wiliem merasa semakin muak karena mendengar semua kenyataan itu dari Laudya. Wiliem merasa sudah sangat tak mengenal Laudya yang sekarang.
"Wanita ja**lang sepertimu memang tak tahu diri, Laudya. Jadi, maksudmu insiden itu benar-benar real tanpa rekayasa?" tanya Wiliem dengan seringainya.
Laudya hanya bisa diam memalingkan wajahnya, sudah cukup dia merasakan sakit karena lukanya. Dan kini dia harus menahan rasa sakit dari semua ucapan Wiliem padanya.
"Terserah padamu! Kau bisa keluar sekarang, aku ingin istirahat dan aku mohon jangan pernah kau kembali lagi menemuiku!" pinta Laudya dengan penuh penekanan.
Wiliem yang semakin marah dan benci pada Laudya pergi begitu saja tanpa memikirkan akan bagaimana Laudya ke depannya. Dia akan sembuh atau bisa berjalan lagi pun Wiliem tak perduli.
Setelah mendengar suara langkah kaki yang semakin menjauh, Laudya menangis sejadi-jadinya. Wanita itu menangis begitu hebat merasakan kesedihan dan kesialan yang menimpa dirinya.
__ADS_1
Bersambung🍂🍂🍂