Takdir Cinta

Takdir Cinta
252


__ADS_3

Langkah kaki itu terus berjalan menapaki rerumputan disana. Tangannya terus di genggam erat oleh tangan kekar di sebelahnya. Terdengar suara gadis kecil yang terus berceloteh memanggil-manggil mereka dengan melambaikan tangannya.


"Hallo, Daddy. Alya rindu Daddy, Alya kembali menemui Daddy," ucap Alya seraya mengusap nisan sang Ayah.


Zee dan Alex masih berjalan di belakangnya. Senyuman mereka terlihat bahagia. Alex dan Zee berdiri menatap pusaran Alfa.


Alex dan Zee pun duduk di samping Alya, mereka berdoa tuk Alfa. Setelah itu tak ada percakapan, yang ada hanya ungkapan hati masing-masing.


"Hay, Al. Aku kembali, aku kembali dengan anak kita dan juga calon suamiku. Al, aku harap kau kini bisa tenang disana, semoga kau merestui ku dan Alex. Dan ya, dia lelaki yang telah kau selamatkan, kau telah memberinya kehidupan kedua," batin Zee.


"Hallo, aku Alexander. Calon suami dari kekasihmimu. Maaf, aku baru bisa menemui dirimu setelah sekian lama. Alfa, kau lelaki terhebat untuk Zee dan Alya. Kau juga lelaki hebat tuk ku. Terimakasih sudah memberikan ku jantung ini, dan mempertemukan dengan Zee. Aku berjanji, akan menjaga Zee dan Alya, akan menyayangi dan mencintai mereka dengan sepenuh hatiku," batin Alex.


"Daddy, kau lihat Mommy datang dengan Uncle Alex. Kau tahu, Dad? Mereka akan menikah, dan Uncle akan menjadi Daddy baru Al. Daddy, Alya sayang Daddy, dan Al juga harus menyayangi Uncle Alex. Ahh... tidak, Al harus memanggilnya Daddy Al mulai sekarang!" batin Alya.


Suasana sore itu begitu damai, angin yang semilir seakan menyambut semua ungkapan hafi mereka pada Alfa. Dedauanan dan bunga kamboja berjatuhan di pusaran Alfa.


Setelah puas mengungkapkan semuanya, mereka memilih tuk kembali. Zee dan Alya terus tersenyum setelah berziarah ke pusaran Alfa. Alex merasa sangat senang, dia begitu beruntung dan ini adalah kehidupan yang sangat indah tuk dirinya.


Di perjalanan pulang, Alya berhenti tepat di gerbang pemakaman. Zee dan Alex pun berbalik dan menatap sang putri.


"Ada apa? Ayo kita pulang!" pinta Zee.


Alya menatap ke arah Alex dan Zee, bibir mungilnya tersenyum manis. Membuat anak kecil itu semakin cantik.


"Daddy, Al boleh gendong?" tanya Alya seraya menatap Alex.


"Daddy?" ucap Alex seraya menengok kanan kiri seakan mencari keberadaan Wiliem.


"Daddy? Apa yang kau cari, Al mau gendong sama Daddy Alex!" seru Alya.


Mendengar itu mata Alex melotot tak percaya, menatap Alya, sedangkan Alya hanya tersenyum manis padanya.


"Daddy, kau memanggil aku Daddy, Al?" tanya Alex.


"He'em, Daddy itu kan sebentar lagi jadi Daddy nya Alya," jawab Alya polos.


Alex langsung berjalan cepat dan menggendong tubuh Alya. Mengayunkannya dan berputar, membuat teriakan Alya begitu keras. Namun diselangi dengan tawa yang begitu lepas.


"Ya aku adalah Daddy mu mulai sekarang! I love you Princess," ucap Alex seraya memeluk tubuh Alya.


Zee tersenyum bahagia, sampai dia menangis karena begitu senang. Melihat Alya yang sudah menerima keberadaan Alex.


Malam hari sebuah rumah tua putih sudah begitu ramai dengan berkumpulnya sebuah keluarga besar. Rumah tua itu tak lagi sepi seperti sepuluh tahun lalu, rumah putih yang menyimpan banyak kenangan, kisah kasih sayang, perjuangan sosok anak adam hawa yang kisahnya masih saja di dengarkan di kalangan orang tua jama dulu.


Ya, rumah keluarga Putra yang telah tua itu kini di sulap kembali menjadi istana putih seperti dahulu. Rumah peninggalan dari Bumi dan Azura akan menjadi saksi suatu peristiwa sakral dari putri kecil mereka, yaitu pernikahan Zee Levina Putri dan Wiliem Alenlxander.


Sudah banyak bunga dan lampu yang berkelap-kelip disana, semuanya sudah di hias sedemikian rupa indah oleh Ara anak sulung Bumi dan Azura. Kini dialah yang menjadi ibu dari semua adik-adiknya, paras Ara begitu serius dengan Azura sang ibu.


"Ayah, bunda, coba lihatlah! Princess kecil kita akan segera menikah, senyuman di wajah Zee begitu cantik. Aku harap kalian ada disini, bisa menyaksikan acara itu, bisa melihat pengucapan janji Alex tuk Zee," batin Zyan.

__ADS_1


Matanya sudah berkaca-kaca menahan kerinduan pada sang Ayah dan Bundanya. Semua kenangan itu kembali terlihat di setiap kedipan matanya.


Zyan menatap Ara dan Ken yang sedang mengatur segalanya. Melihat wujud sang kakak membuat air mata Zyan mengalir deras.


"Bun, lihatlah kak Ara persis seperti dengan dirimu. Aku seakan melihat dirimu ada pada kak Ara, kasih sayangnya terus mengalir, begitu luas seperti lautan," batin Zyan kembali, hatinya begitu merindu akan semuanya.


"Apa yang kau pikirkan? Air mata apa ini?" tanya Zee seraya menghapus air mata Zyan.


Zyan begitu terkejut melihat ada Zee di depannya, dengan cepat Zyan menciba tersenyum menatap sang adik.


"Ini air mata kebahagiaan, air mata seorang kakak yang melihat mu tersenyum kembali dan berbahagia karena bisa menemukan kekasih hidupmu," jawab Zyan.


Zee menatap sendu mata Zyan, sesungguhnya Zee pun sudah tak bisa lagi menahan rasa sesak di dadanya.


"Aa-aku, aku merindukan mereka," ucap lirih Zee menunduk menyembunyikan air matanya.


Hati Zyan semakin sesak, ternyata bukan hanya dirinya yang merasakan kesedihan itu. Zyan memeluk tubuh Zee, mencium pucuk kepala Zee dengan begitu sayang.


Zee menangis tanpa suara, menyembunyikan wajahnya pada dada bidang sang kembaran. Dua anak itu menangis tersedu mengingat kedua orang tua mereka yang sudah tiada.


"Menangislah! Dengan begitu kau akan merasa baik. Anggap saja, Ayah sedang memeluk dirimu princess!" pinta Zyan.


"Aa-ayah, Zee sangat rindu Ayah. Zee sangat merindukan Ayah dan Bunda, Zee merindukan pelukan Ayah," isaknya sambil terus mengeratkan pelukannya pada Zyan.


Hati Zyan semakin tersayat, mendengar ucapan dari Zee. Ternyata sosok princess masih melekat pada diri Zee. Zyan bisa merasakan betapa di sangat membutuhkan sosok sang Ayah.


"Ayah, Bunda mencintai dirimu, begitu sangat menyayangi dirimu, Zee. Ku yakin, mereka melihat kita darimana sana, mereka pastinya begitu bahagia bisa melihat kau bisa menikah," ujar Zyan seraya mengusap rambut Zee.


"Princess ku sudah dewasa, sekarang dia menjadi wanita yang kuat, hebat dan menjadi sosok Mommy yang sangat membanggakan," ucap Zyan.


"Berbahagialah! Karena air mata kesedihanmu harus segera berlalu, dan berganti dengan air mata kebahagiaan," imbuh Zyan.


Zee tersenyum mengangguk ia, walaupun air mata itu masih terus mengalir di pipi mulusnya.


Sosok wanita hebat lainnya tengah bersembunyi dari kedua adiknya. Tangisan nya memang tak bisa terdengar, namun terlihat begitu pilu. Putri pertama keluarga Putra.


Anak kebanggaan dari Bumi dan Azura, Aurora Kenzia Putri tengah menangis menyaksikan kedua adiknya.


"Lihatlah mereka, Ayah, Bunda. Anak-anak itu sudah tumbuh dewasa. Zyan terus melindungi Zee, aku sudah menepati semua ucapanku pada kalian. Janji ku pada Ayah dan Bunda selalu aku lakukan," gumam Ara. Seraya menghapus air matanya.


"Kau seorang kakak yang sangat hebat, sangat sempurna Ara. Kau menjadi ibu tuk mereka di kala keluh kesah, menjadi sosok sahabat saat mereka sedang butuh teman bicara, kau pun menjadi sosok kakak bagi mereka saat terjadi masalah," seru Ken.


Ara menatap sang suami dengan linangan air mata, Kenzio Liu sosok lelaki yang menjadi suaminya kini adalah lelaki yang begitu hebat menurut Ara, dia segalanya bagi Ara. Sosok lelaki yang mengembang semua tentang keluarganya. Mendapat amanat dari Bumi, Azura, Ars, Tia, Aldo dan juga Intan.


Oleh karena itu, sosok Ken begitu sangat berarti tuk semuanya. Karena, Ken sudah sepet sosok Ayah bagi mereka. Lelaki asing yang masuk dalam keluarga mereka dulu, kini menjadi sebuah tiang menyanggah kehidupan mereka semua.


"Hapuslah air matamu, dan peluklah adik-adikmu dengan sebuah senyuman!" pinta Ken.


Ara pun mengangguk ia, menghapus air matanya lalu berjalan mendekati Zyan dan Zee yang masih berpelukan dan tenggelam dalam suasana rindu.

__ADS_1


"Kalian begitu akur? Dan sepertinya melupakan kakak?" tanya Ara berjalan di belakang mereka.


Zyan dan Zee pun menengok melihat sang kakak berjalan menghampiri mereka. Zyan dan Zee dengan bersamaan langsung memeluk Ara.


"Malaikat ku, bidadari ku," ucap Zyan dan Zee bersamaan.


Ara tersenyum memeluk sang adik kembarnya dengan penuh cinta.


"Pangeran dan putri ku," balas Ara.


Zee dan Zyan melepas pelukan mereka, menatap wajah Ara yang begitu mirip dengan sang Bunda membuat Zee tak kuat menahan air matanya.


"Jangan menangis, princess! Ada kak Ara disini!" pinta Ara seraya menghapus air mata Zee.


"Maaf, Zee begitu rindu Bunda. Semua yang ada pada kak Ara sama persis dengan Bunda," balas Zee.


Ara membelai wajah ayu sang adik, menatap wajah Zee dan Zyan bergantian.


"Kak, terimakasih selalu sabar dengan kami. Selalu menjaga kami, menyayangi kami dengan begitu banyak cinta," ucap Zyan.


"Tuk apa berterimakasih? Kasih sayangku tak akan pernah habis tuk kalian sampai akhir hayatku. Kalian kebahagiaan ku, kalian adalah kekuatanku, Zyan dan Zee adalah bulan dan matahari tuk kakak," ujar Ara seraya tersenyum.


Zyan mencium tangan Ara, Zee memeluk tubuh Ara dari samping. Ketiga bersaudara itu begitu tenggelam dalam ruang kerinduan.


"Tetaplah menjadi ibu tuk kami semua, jangan kau hentikan kasih sayangmu tuk kami semua kak Ara. Kami tak bisa membalas segala usaha yang telah kau lalui selama menjaga kami. Yang kami punya hanyalah rasa sayang kami dan hormat kami padamu," seru Sam yang berdiri dengan Vanya.


Ara yang mendengar itu terisak hebat, air matanya mengalir deras. Melihat smeua adik-adiknya berdiri melingkari dirinya. Senyuman mereka membuat Ara terharu. Semuanya tersenyum serah mengucapkan.


"We love you Aurora Kenzia Putra, kau malaikat tuk kami semua".


Zyan dan Zee memeluk Ara, Ara sangat-snavat terharu pada mereka semua. Ungkapan hati mereka merupakan suatu kekuatan dan kebahagiaan tersendiri bagi Ara.


Ara masih menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dia lihat dan dengarkan.


"Tetap menjadi Ara yang baik hati, penyayang, berbudi luhur dan terimakasih sudah menjadi istri dan ibu yang baik tuk anak-anakku. Selamat hari jadi Aurora istriku yang hebat, pujaan hatiku," ucap Ken sembari berjalan ke arah Ara membawa sebuah buket bunga.


"Ken," ucap Ara seraya menghampiri suaminya.


Ken berjongkok di depan Ara, seraya memberikan bunga tersebut, Ara menerimanya dan melihat di tengahnya terdapat foto keluarga besarnya.


"Hiks,,, hiks,, hiks,,, kau selalu saja membuat aku menangis dan bahagia dalam bersamaan. Terimakasih suamiku," ucap Ara seraya memeluk tubuh Ken.


Malam itu adalah hari lahir Aurora, karena semua orang sibuk melakukan persiapan dari Zee. Membuat Ara dan yang lainnya melupakan hari spesial tersebut.


Malam ini seperti malam kejujuran tuk mereka semua, ada air mata tapi semua itu air mata kebahagian. Senyuman dan tangisan bersanding bersama malam itu, menguatkan lagi kasih sayang cinta dalam kebersamaan mereka.


Ikatan dari orangtua mereka membuat suatu jalinan yang tak bisa di putuskan begitu saja. Suatu hubungan tanpa darah tapi menjadi begitu kental dan tak bisa di pisahkan.


"Senyuman, tawa itu dulu aku juga pernah merasakannya. Dekapan dari sosok kakak, kasih sayang yang melimpah darinya, tapi kini semuanya tinggal kenangan. Menjadi masa lalu yang kelam yang menjauhkan aku," ucapnya.

__ADS_1


Sosok cantik itu berdiri sangat jauh dari sana, hanya bisa bersembunyi dari dunia luar.


__ADS_2