
“Apa yang sedang kalian lakukan di sini?” tanya Dokter dengan menatap pada Laudya yang terlihat begitu kesakitan.
“Oh, hallo Dok. Kami ini teman dari pasien, apakah ini waktunya pemeriksaan?” tanya Elen.
“Lalu sedang apa kalian masih berada di sini? Silakan keluar, karena saya harus memeriksa pasien,” perintah Dokter.
“Ba-baiklah, Dok. Kami akan keluar sekarang, tolong sembuhkan temanku!” pinta Sesil dengan tatapan menggoda.
Suster pun menutup pintu itu, barulah Dokter itu membuka perban yang membungkus kaki dari Laudya. Dokter itu begitu terkejut karena melihat lukanya semakin memburuk, bahkan menjadi busuk, tercium bau obat yang sangat menyengat saat dia melihat luka tersebut.
“Apa ini, obat apa yang kau pakai?” tanyanya pada Laudya.
“Entahlah, aku selalu di beri obat oleh suster yang selalu membantu. Ada apa? Tunggu, kalian siapa?” tanya Laudya baru menyadari jika Dokter dan Suster yang ada di hadapannya ini bukan Dokter yang biasanya.
“Dok, aku menemukan obat ini,” bisik Suster tersebut dengan memberikan botol obat itu.
“Sus, tolong pindahkan pasien ke ruang operasi! Lukanya harus segera di bersihkan,” perintah Dokter tersebut.
Laudya semakin di buat takut dengan Dokter asing yang berada di depannya ini, namun dengan sekali suntikan Laudya sudah tak sadarkan diri. Suster itu telah menyuntikkan obat bius pada Laudya saat wanita itu lengah.
“Sangat merepotkan, kenapa aku harus mendapat tugas seperti ini. Dia sangat keterlaluan padaku,” gumam Dokter tersebut.
Suster itu hanya tersenyum dengan mendorong kursi roda Laudya keluar kamar dan segera membawanya pergi dari rumah sakit itu dengan sangat mudanya. Mobil ambulance it uterus melaju dengan cepat membelah jalanan Milan.
“Mau kita bawa kemana, wanita ini? Aku rasa pernah melihatnya di suatu tempat,” ucap Suster.
“Siapa yang tak mnengenal Laudya Joly. Dia model papan atas di Milan, kau itu kenapa hanya bisa mengingat alat-alat diruang operasi saja,huh?” tanya Dokter itu.
“Cih, kau menghinaku? Itu adalah surga tuk ku,” jawabnya.
“Kau lihat tadi bagiaman lukanya? Itu sangat mengerikan, dan wanita ini masih bisa tahan dengan luka seperti itu. Ini sungguh membuatku terkejut,” sambungnya lagi seraya melihat Laudya.
Dokter itu hanya diam dan terus focus mengetir karena dia harus segera pergi dari Milan dengan membawa wanita ini tanpa bisa diketahui oleh orang lain.
“Ada apa dengan wanita ini, kenapa setelah sekian tahun berlalu dia menghubungiku dan memintaku menculik seorang pasien. Bahkan, aku di minta tuk merawatnya,” batin Dokter itu penuh dengan pertanyaan.
Flashback
“Pergilah, ke Milan malam ini juga! Aku minta kau membawa pergi seorang pasien wanita. Dia orang yang sangat penting, kau obat dia dan tolong rawat dia sampa sembuh!” pinta Ken.
“Huh,,, kau kira kau ini siapa, enak sekali kau meminta tolong padaku dan setelah sekian lama kau mengacuhkanku?” tanya Wildan.
“Aku tak mengacuhkanmu, kau sendiri yang memilih pergi ke Amerika dan kembali ke keluargamu tanpa ingin kembali padaku dan Abi,” jawab Ken.
“Abigail, bagaimana keadaannya? Apa dengar dia sudah menikah, apakah dia sudah memiliki anak?” tanya Wildan.
__ADS_1
“Jangan tanyakan, Abi. Jika kau tak bersedia melalukan apa pun tukku, kabar dari Abi itu menjadi rahasia
keluarga kami, memangnya siapa kau menanyakan tentangnya?” sindir Ken pada Wildan.
“Shit!! Brengsekk kau, Ken. Baiklah kau bisa mengirimkan alamatnya padaku, setelah itu beritahu aku tentang ponakanku itu!” perintah Wildan.
“Kau akan dapat lebih dari itu, Wil. Aku janji akan semua itu,” balas Ken.
Flashback Off
Ya, Dokter lelaki itu adalah Wildan teman dari Ken yang kewarga negaraan Amerika. Wildan sudah menjadi seorang Dokter terkenal bukan hanya di Amerika tapi juga di Italy. Kekuasaan dari orang tuanyalah yang membuat seorang Wildan bisa mencapai semua keinginannya, bahkan kecerdasannya sangat di puja-puja oleh orang berkuasa dan orang besar dinegaranya.
“Elina kau harus mengoperasi pasien ini dan berikan penanganan yang terbaik, aku harus menemui seseorang terlebuh dahulu. Kau harus merahasiakan siapa wanita ini, berikan dia identitas palsu!” perintah Wildan.
“Baiklah, kau harus membayarku dua kali lipat karena terus menyembunyikan orang-orang penting selama in,” balas Elina.
Elina adalah rekan Dokter dari rumah sakit besar sam seperti Wildan. Namun, dia lebih di kenal sebagai Dokter pribadi dari keluarga Wildan, sebagai tangan kanan keluarganya. Karena, Elina merupakan wanita yang multitalent. Usianya yang masih muda membuat Elina tak pernah takut melakukan pekerjaan apa pun, dan ini tak hanya kali pertama kalinya dia harus merahasiakan seseorang dengan cara mengobatinya.
“El, bayaranmu sudah ku kirim, jadi lakukan pekerjaannya dengan sebaik mungkin!” pinta Wildan dengan menatap Elina.
“Jangan menatapku seperti itu! Ketampananmu akan hilang Dokter,” ledek Elina.
Wildan hanya tersenyum tipis dengan canda an dari Elina, wanita muda yang pernah mengatakan cintanya padanya. Padahal jarak usia mereka sangatlah jauh yaitu sepuluh tahun, namun itulah Elina gadis muda yang sangat terbuka bahkan dia dengan gampangnya mengatakan semua apa yang dia rasakan saat itu juga.
“Jika ketampananku telah hilang, biarkan saja. Aku juga tak terlalu menyukai wajah ini,” balas Wildan.
“Bawa wanita ini ke ruang operasi! El akan mengoperasinya, kalian harus membantunya!” perintah Wildan.
“Baik, Dok,” jawab mereka serempak.
Wildan masuk kembali dan langsung menancapkan gasnya , sampai mobil itu terlihat melaju dengan sangat cepat. Elina hanya tersenyum melihat ke pergian Wildan.
“Baiklah, waktunya bekerja. Setelah itu, kau bisa bersenang-senang kembali dengan teman-temanmu,” ucap Elina menyemangati diri sendiri.
Wildan kembali ke mansionnya yang bertempat di Venezia, terlihat semua pemandangan laut dari jendela kamarnya, Wildan masih memikirkan apa hubungannya Ken dengan Laudya itu. Karena, Wildan tahu seperti apa pekerjaan dari Laudya yang bukan saja menjadi seorang model, melainkan sebagai pemuas nafsu para orang ternama dan pejabat tinggi. Tak sembarangan orang bisa melakukan kesepakatan dengan wanita itu.
Drrttt,,, drrrttt,,, ponselnya berdering di atas nakas. Terlihat panggilan video dari nomor yang tak dia kenal, tapi tetap Wildan angkat dengan menggeser tombol berwarna hijau di layar ponselnya.
Terlihat bocah lelaki kecil memenuhi layar ponselnya, wajahnya begitu lucu dan menggemaskan. Bocah itu tersenyum menatap Wildan, membuatnya semakin gemas padanya.
“Siapa kau? Kemana orang tuamu, mengapa kau menelfonku?” tanya Wildan pada bocah itu.
“Mbu,,, mbu,,, yayah,,” ocehnya semakin membuat gemas.
“Hallo, aku Yuan. Apakah kau tak merindukan aku?” tanya suara wanita di belakangnya dengan nada di buat seperti anak kecil.
__ADS_1
“Yuan? Siapa kau, kenapa bersembunyi. Jangan membuatku penasaran,” jawab Wildan.
“Emmm,, tak mau!” ujarnya.
Wildan merasa mengenal suara itu, apalagi logat dari bicaranya yang sangat dia kenal, Wildan menahan air matanya menatap Yuan. Sungguh dia begitu bahagia melihatnya.
“Abigail,” panggil Wildan dengan suara seraknya.
Abigail menengok dan terlihat tersenyum menatap Wildan dari layar ponselnya, Wildan tak kuasa menahan air matanya saat melihat ponakan kesayangannya itu. Abigailpun menitikkan air matanya karena bahagia bisa melihat Wildan kembali.
“Aku rindu, aku rindu padamu Kak,” ucap Abigail.
Wildan mengangguk ia, menghapus air matanya melihat Abigail seraya menunjuk ke arah Yuan. Abigail pun mengangguk ia memberitahukan bahwa Yuan adalah anaknya.
“Abigail, kau sudah menjadi seorang ibu, sayang?” tanya Wildan.
“He’em,,, dia putraku Yuan. Aku sudah menikah, Kak,” jawab Abigail.
Wildan memalingkan wajahnya merasa tak enak karena tak bisa datang dan melihat langsung Abigail saat menikah dulu. Karena saat itu, Wildan sedang berada di daerah perdamaian dia menjadi sukarelawan.
“Kak, kapan kau menemuiku dan Yuan? Apa kau tak merindukan aku dan paman?” tanya Abigail.
“Rindu, aku sangat merindukan dirimu. Tapi, aku sama sekali tak merindukan pamanmu itu,” jawab Wildan.
Abigail tertawa kecil mendengar jawaban dari Wildan dan membuat seseorang yang sejak tadi mendengarkan pun muncul di depan layar ponselnya.
“Dan aku juga tak pernah merindukan lelaki gila seperti dirimu!” seru Ken.
Wildan sangat terkejut saat mendengar dan melihat Ken tiba-tiba muncul begitu saja, membuat Wildan menjauhkan ponsel itu dari wajahnya. Sedangkan, Ken begitu kesal pada Wildan yang malah mengatakan itu. Taka da kata-kata manis sejak dulu antara Ken dan Wildan.
“Dasar brengsekk, kau membuatku terkejut saja. Kenapa kau mengagetkanku, huh?” hardik Wildan.
“Dasar lelaki tua, bujang lapuk. Dasar kau kurang ajar, mengatakan tak rindu padaku. Lalu, siapa lelaki yang semalam menangis saat melihatku, huh?” sindir Ken.
“Diam kau! Pergi sana, aku ingin melihat Abigail dengan Yuan saja!” seru Wildan.
“Cih, kau akan menyesal. Karena tak merindukan aku,” ucap Ken.
Wildan terus berbicara dengan Abigail, bahkan Yuan terus saja mengoceh membuat Wildan semakin ingin bertemu dengannya. Wildan ingin seklai menggendong Yuan, menciumnya, mengajaknya bermain, ingin melakukan banyak hal dengan bocah kecil itu.
“Tunggu aku! Aku akan datang menmui kalian, jaga diri baik-baik!” pinta Wildan.
“Cepatlah kemari, Kak. Aku akan selalu menanti kedatanganmu,” balas Abigail.
Disebuah ruangan yang gelap, terlihat Alex da Wiliem sedang terduduk dengan wajah dan tubuh yang penuh dengan memar dan darah. Napas keduanya tersengal naik turun karena menahan emosi dan terlihat kelelahan setelah memukul habis anak buah dari Zidan.
__ADS_1
Bahkan Zidan pun bukan tandingan dari Alex, jika mereka tak bermain curang. Alex dan Wiliem di sekap di sebuah gedung tua yang mereka sendiri tak tahu dimana letaknya. Apalagi dengan keadaan di luar yang sangat gelap. Hanya ada satu lampu remang yang menerangi ruangan itu.
Bersambung**🍂🍂🍂**