
Langkah kaki Rafli dan Devan terhalang oleh beberapa anak buah Jero yang beranjak turun dari atas .
Sementara Ana segera menginjak tangan Viona yang akan mengambil senjata yang akan di gunakan oleh Viona .
'' Auuaauuwww sakittt " jerit Viona saat ia merasa punggung tangannya di tembus oleh high heels milik Ana yang mempunyai sudut lancip di bawahnya . Sungguh begitu nyeri apalagi Viona merasa jika tulang telapak tangannya berbunyi.
'' Mana lebih sakit saat kau berada diposisiku kehilangan anakku , mana sakit saat kau mengirim Bunga untuk merusak rumah tanggaku '' sarkas Ana.
'' Aku tak punya masalah denganmu Viona , tapi kau begitu ingin menghancurkan hidup ku " bentak Ana .
'' Jangan ada yang mendekat , atau akan ke tembak kepala kalian " ucap Ana dengan segera meraih pistol yang hendak di ambil Viona tadi . Tangan Ana sungguh gemetar menggunakan benda seperti itu dan anak buah Jero terkekeh melihatnya .
'' Tolong jangan macam-macam , suamiku akan segera naik " ucap Ana melangkah mundur , jantungnya mulai berdetak kencang.
'' Sebelum suamimu naik , kau akan mati lebih dahulu nona " ucap seseorang anak buah Jero .
'' Ana memejamkan matanya saat melihat jurang di bawah sana . Ia tak akan selamat jika terjatuh kesana . Ana berusaha berlari ke arah bawah namun sayang langkahnya tertangkap oleh anak buah Jero yang begitu bergairah sedari tadi menatap Ana sementara Viona menyeringai membayangkan hancurnya Ana dan perasaan Rafli saat melihatnya .
'' Rafli awas " teriak Eric mendorong Rafli cukup kuat hingga Rafli terpental kedinding dan Dor Eric terkena tembakan tepat di lengannya.
Dor.... Rafli menembak pria yang hendak menembaknya tadi. Hutang Budi Rafli rasakan saat ini , jika tadi mengenai kepalanya maka tamatlah sudah riwayatnya.
Rafli dan Devan segera naik ke atas saat musuh dilantai tiga tersisa sedikit .
'' Ana '' teriak Rafli saat pakaian istrinya mulai berantakan .
'' Mas . Tolong aku mas " ucap Ana mulai terisak .
'' Kenapa Rafli , lihatlah istri mu segera ternoda . Lebih baik menontonnya saja lalu kau ceraikan dia " ucap Viona masih mencekal tangan Ana bersama salah seorang anak buah Jero yang ingin melecehkan Ana.
'' Sampai matipun aku tak akan pernah menceraikannya '' tegas Rafli .
'' Kau begitu keras kepala '' ucap Viona .
'' Kalian bunuh pria itu aku tak peduli , termasuk kau juga '' ucap Viona menghentikan kegiatan pria yang ingin melecehkan Ana.
'' Dia bebas kau nikmati jika kalian bisa membunuh suaminya '' ucap Viona dan kini mulai mencengkram kuat pipi Ana .
'' Sakit Vio '' ucap Ana dengan sebelah tangannya karena tangan satunya menutupi bagian atas tubuhnya.
Devan melemparkan kepala Jero membuat langkah kaki anak buah Jero membelalak sempurna .
'' Tidak '' ucap Ana memejamkan matanya saat kepala Jero menggelinding dan berhenti tepat di ujung jari kakinya . Sementara Viona mual melihat keadaan kepala Jero sekutu satu-satunya telah tiada.
'' Menyerahlah , maka nasib kalian tak akan seperti ini '' tegas Devan
'' Kak segeralah '' gumam Devan dan Rafli mengerti langkah yang harus ia ambil.
'' Ayo Devan '' ucap Jimmy dan diangguki Devan .
Melihat Rafli yang mulai mendekati Ana dan lolos dari tembakan anak buah Jero membuat Viona segera mungkin mendekati Ana , Viona juga menendang kepala Devan hingga terjatuh kebawah jurang .
'' Berhenti disitu Rafli , atau Ana dan aku akan terjun kebawah jurang '' bentak Viona dengan wajah memucat , ia pun tak berani jatuh saat ini .
'' Berhenti ku bilang '' bentak Viona .
'' Viona lepaskan aku , ku mohon Viona '' Isak Ana .
'' Aku janji akan membujuk mereka untuk melepaskanmu tapi berjanjilah untuk berubah lebih baik '' ucap Ana dan Viona tertawa mendengarnya .
'' Kau pikir aku akan percaya pada ucapanmu '' ucap Viona .
'' Jika aku tak bisa memiliki Rafli maka sama denganmu Ana '' bisik Viona , ia menatap Rafli melihat gerakan pujaan hatinya itu tenang.
'' Viona kau hanya terobsesi dengan suamiku . Rafli sudah beristri '' ucap Ana mencoba mengulur waktu.
'' Kau pikir aku bodoh '' ucap Viona yang terus melangkah mundur memaksa tubuh Ana juga mundur .
'' Viona hentikan langkah kakimu '' ucap Rafli .
'' Katakan selamat tinggal untuk suami mu Ana '' ucap Viona .
'' ANA TIDAKKKKK... '' teriak Rafli dan segera meraih tangan Ana yang masih sempat berpegangan pilar besar , Ana bergelantungan di sana sedangkan Viona mencengkram kaki Ana begitu kuat bahkan jari kukunya terasa menusuk di pergelangan kaki Ana.
__ADS_1
'' Ayo Ana , raih tangan mas yang satunya . Biarlah itu terlihat sayang '' ucap Rafli lirih dan Ana berusaha meraih tangan suaminya, tangan Ana yang berada di genggaman Rafli saat ini hampir terlepas .
Rafli mulai meraih tangan Ana dengan kedua tangannya yang mencengkram pergelangan tangan Ana , tak peduli jika dirinya akan terseret untuk terjun bebas dan beruntung Jimmy dan Devan memegang kaki Rafli yang hampir saja Rafli ikut tertarik.
'' Ayo kita mati bersama Ana dan kau juga Rafli '' ucap Viona masih memegang kuat kaki Ana .
'' Aakkhhh sakit Viona '' ucap Ana saat Viona menggigit kuat kaki Ana.
'' Tuan , kita harus segera turun . Gedung ini akan meledak '' ucap bodyguard milik Jimmy .
'' Devan '' ucap Jimmy dan Devan mengerti segera menarik pelatuknya .
Dor , Kepala Viona hancur saat Devan membidiknya dengan cepat dan tepat sasaran .
Mereka pun akhirnya berhasil menyelamatkan Ana . Rafli memeluk tubuh Ana yang bergetar hebat tersebut .
'' Mas tidak ingin kau pergi seperti ini lagi sayang . Mas tidak ingin. Jangan buat mas takut ...hiks.. '' Isak Rafli memeluk tubuh Ana erat .
'' Kakak ipar , kita harus segera turun . Gedung ini akan runtuh '' ucap Jimmy dan Rafli dengan segera menggendong Ana ala bridal style , setelah Ana menarik dress menutupi tubuh bagian atasnya yang tanpa ia sadari paha mulusnya yang sedikit lebam itu terlihat .
'' Mas mencintai mu Ana '' ucap Rafli dan di sambut senyum sayu Ana.
'' Kita akan segera kerumah sakit ya '' ucap Rafli dan Ana mengangguk .
'' Seharusnya kau mati dengan takdirku Viona namun sayang Devan telah mengirim mu ke neraka dengan cara seperti itu . Semoga ini akhir kisah dari penderitaan kami " batin Rafli .
Rafli segera mendudukkan Ana di dalam mobil milik Devan dan mobil pun segera melaju kerumah sakit .
Dan tiga detik kemudian suara dentuman keras terjadi . Gedung yang menjadi tempat penyekapan Ana tadi runtuh dengan begitu dahsyat, membuat hempasan debu menerpa mobil milik mereka yang tengah melaju .
" Devan kau bisa menyetir kan " tanya Rafli memastikan .
" Bisa kak , maksudku tuan . Ini hanya luka kecil " ucap Devan .
" Kau bebas memanggilku apa selagi sopan , tak usah ragu memanggilku kakak " sergah Rafli .
" Kita akan mengobati luka di pipimu kerumah sakit ya " ucap Rafli dan diangguki Ana.
" Mas tolong lepas bajumu . Begitu bau anyir , dan kau juga Devan " ucap Ana rasa mual menyerang perutnya .
" Devan , apa ada parfum disini " tanya Rafli.
" Tidak ada kak " jawab Devan .
" Devan nanti di depan ada distro kita berhenti sebentar " ucap Rafli dan diangguki Devan .
Satu menit mobil Devan telah berhenti di sebuah distro terkenal di kota Roma . Rafli segera keluar dengan bertelanjang dada tanpa sempat Ana mencegahnya , tanpa menunggu lama Rafli kembali dengan tiga buah paper bag berisi baju pria .
" Kenapa mas " tanya Ana saat Rafli menyodorkan baju pria yang pasti kebesaran di tubuhnya.
" Apa kau ingin kerumah sakit dengan pakaian seperti ini sayang " keluh Rafli .
" Tapi akan lucu mas , jika di kombinasi dengan dress " ucap Ana .
" Tidak ada yang lucu di saat genting Ana " ucap Rafli tak ingin di bantah .
" Devan , fokus ke depan jangan lihat kebelakang atau ku congkel matamu " ucap Rafli dan diangguki Devan yang memang sedari tadi fokus ke jalanan.
Rafli menurunkan dress Ana hingga bagian pinggang , bahu mulus sang istri yang sedikit memerah itu terpampang sempurna di depan wajahnya.
" Dasar junior sialan . Disaat ini seperti ini pakai acara bangkit pula " batin Rafli menahan hasrat yang tiba-tiba merayap naik .
Ana segera memakai baju pemberian Rafli yang terbukti kebesaran di tubuhnya dan dress yang sedikit sobek tersebut di atur sedemikian rupa menjadi rok , namu meski begitu tetap saja pakaian itu tidak menyambung jika di lihat .
" Paling tidak , aset berharga milik mas tidak dilihat orang lain lagi " bisik Rafli , ternyata Rafli sedari tadi tidak ikhlas jika paha sang istri terlihat oleh beberapa anak buah Jimmy dan Devan yang tak sengaja melihatnya .
.
.
.
'' Ma aku titip Ericana dirumah ya " Isak Vini .
__ADS_1
'' Kau kenapa nak " tanya Sasa cemas.
'' Mas Eric tertembak ma dan sekarang sedang berada dirumah sakit " Isak Vini . Ia tadi mendapat telepon dari anak buah Eric jika Eric tertembak namun belum sempat menjelaskan bagian mana yang tertembak telpon segera dimatikan Vini yang tak bisa mendengar kabar buruk sedikit saja tentang suaminya.
'' Kenapa yang selalu sial putra ku jika bersangkutan dengan Ana . Sungguh wanita pembawa si.... " ucap Sasa terhenti akibat bentakan suaminya .
'' Cukup ma " bentak Teguh.
'' Ayo nak kita kerumah sakit dan mama dirumah saja dengan Ericana " ucap Teguh .
'' Mama ikut " ucap Sasa.
'' Ericana dengan siapa ma. Nanti dia menangis saat bangun tak melihat siapapun dari kita " ucap Teguh .
'' Pa , biarkan mama ikut saja dan Vini kau dirumah saja . Lihatlah keadaan mu tengah hamil sayang " ucap Sasa.
'' Benar Vin kata mama . Pasti Eric hanya tertembak ringan " ucap Teguh .
'' Tapi pa..hiks...hiks... " tolak Vini .
'' Setelah papa sampai sana dan bertemu Eric , papa langsung video call dengan mu '' ucap Teguh dan akhirnya Vini menurut meski dengan berat hati.
.
.
.
Beberapa anak buah milik Jimmy dan Devan ada yang terluka , ada yang cukup parah dan juga ringan segera mendapatkan perawatan dirumah sakit , beruntung nya tak ada korban jiwa kali ini .
Terlihat Bu Laras , Gunawan dan juga Rahma lebih dulu tiba di rumah sakit , kedatangan mereka tentu menunggu Ana serta yang lainnya . Mereka juga sempat melihat Eric terluka sebelum Eric masuk keruang operasi kecil mengambil peluru di lengannya.
'' Dokter tolong istriku dok " ucap Rafli tak peduli jika akan ada yang mengenalinya .
'' Silahkan dibaringkan istri anda tuan " ucap sang dokter.
'' Tapi mas juga terluka , lihat pelipis mu " lirih Ana dengan mata berkaca-kaca , melihat pelipis suaminya berdarah bahkan wajah Rafli terdapat lebam.
'' Ini tak apa Ana , sekarang lebih penting dirimu . Aku tak ingin tubuhmu nanti terkena infeksi terlebih wajah ini " ucap Rafli tak ingin di bantah .
'' Ya Allah, mbak Ana kenapa pipinya , mas Rafli " ucap Rahma terkejut melihatnya . Rafli tak menggubris bahkan saat dokter melarangnya masuk , Rafli tetap menerobos masuk .
'' Ana akan baik-baik saja " sahut Jimmy .
'' Kalian semua baik-baik saja kan nak " Isak Laras .
'' Ibu tenang saja , kami semua baik dan hanya ada beberapa bodygaurd yang terluka namun segera mendapat pertolongan " ucap Jimmy tersenyum .
'' Devan , obati luka mu nak " ucap Gunawan .
'' Ini hanya luka kecil pak '' ucap Devan , ia begitu terharu saat Gunawan dan Laras begitu peduli padanya , namun Devan begitu pandai menutupi perasaannya.
Laras , Gunawan serta Rahma mulai bernafas tenang saat semua baik-baik saja namun berbeda diruangan Ana yang terlihat wanita itu sedikit bersedih karena luka di wajahnya cukup dalam dan tetap akan meninggalkan jejak luka di pipinya .
'' Kita akan segera melakukan operasi plastik untuk pipimu saat kita tiba di Berlin '' ucap Rafli tak ingin istrinya bersedih karena memikirkan sebuah pipi , namanya saja wanita apalagi sudah bersuami tentu harus menjaga kecantikannya termasuk Ana.
'' Tapi , apakah akan sembuh mas '' ucap Ana terisak .
'' Jika tak sembuh mas akan melukai pipi mas biar sama sepertimu '' ucap Rafli serius dan Ana menggeleng cepat .
'' Cinta mas tak memandang dirimu hanya dari segi kecantikan namun kecantikan hati serta ketulusan mu itu yang membuat mas makin mencintaimu . Cantiknya wanita dari sini , dari hati dan budi pekertinya '' ucap Rafli membuat dokter wanita serta asistennya menjadi terharu sedangakan Ana tetap merasa sedih.
'' Nona Ana , anda bisa datang ke klinik XXX di Berlin tepatnya di jalan XYZ . Disana bisa melakukan operasi yang bertaraf internasional dengan hasil memuaskan , banyak artis papan atas yang melakukan oplas disana dan untuk luka anda pasti akan hilang dengan sempurna asal segala aturannya di ikuti '' ucap sang dokter memberi semangat .
'' Anda yakin klinik itu mempunyai izin resmi '' tanya Rafli tak yakin akan ucapan dokter tersebut karena sebuah Klinik.
'' Saya yakin tuan , tak mungkin saya berbohong dan menyesatkan pasien '' ucap dokter wanita tersebut yakin.
'' Jika hasil operasinya tak menghilangkan bekas dari wajah istriku untuk kembali seperti dulu maka siapkan kepalamu '' ucap Rafli segera beranjak dan menggandeng Ana , sedangkan dokter tersebut memegang kepalanya sendiri yang terasa bulu kuduknya meremang.
Jangan lupa like dan komentarnya .
Maaf jika kematian Viona gak begitu tragis .
__ADS_1
Selamat membaca 😊