Takdir Cinta

Takdir Cinta
episode 311


__ADS_3

Mentari terlihat sudah menampakkan dirinya, menyinari bumi dan seisinya dengan sinar hangatnya. Salju yang tebal kini sedikit demi sedikit telah mencair.


Terlihat wanita cantik yang masih terlelap dengan polosnya, rambut pirang yang terurai dengan tubuh yang terbalut selimut. Laudya masih tertidur dengan mimpi-mimpi indahnya.


Saat terkena sinar matahari barulah, keningnya mengerut dan matanya mulai terbuka sedikit demi sedikit mengerti menyesuaikan sinar mentari yang mengenai wajahnya.


"Emm, kenapa silau sekali?" ucapnya dengan mengisi wajahmu perlahan.


Laudya mencoba duduk namun rasa sakit di kakinya membuatnya kembali terbaring. Sedikit rasa ngilu yang dia rasakan. Laudya mengingat kembali saat kemarin apa yang terjadi.


"Dimana aku? Tempat apa ini?" gumamnya seraya menatap seluruh ruangan itu.


Laudya melihat dirinya yang memakai pakaian baru dan saat membuka selimut terlihat kakinya di perban seperti bekas operasi.


"Mereka apakan, kakiku?" sambungnya seraya memegangi kakinya.


Laudya ingin sekali beranjak ke kursi rodanya, namun tenaganya tak mampu mengangkat tubuhnya apalagi rasa sakit pada kakinya membuatnya semakin lemas.


"Hey, Nona kau mau apa? Tetap diam di ranjangmu! Kau itu baru saja selesai operasi," ucap Arga yang terlihat masuk ke dalam ruangan.


"Siapa kau? Aku dimana, operasi? Apa maksudnya aku baru saja menjalankan operasi?" tanya Laudya tak percaya.


"Ya, kau benar. Semalaman aku dan Dokter telah melakukan operasi pada kakimu itu, jika tidak kakimu akan mengalami kerusakan yang fatal. Apalagi kakimu sudah membusuk," jawab Arga begitu jujur.


Laudya menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang Arga katakan. Apalagi, mereka baru saja bertemu, Laudya berpikir kalau semua itu hanya akal-akalannya saja.


"Membusuk, kau jangan bercanda padaku. Kau tahu, aku sedang berada di rumah sakit besar di sana dan mereka selalu mengobatiku dengan baik," ujar Laudya dengan emosi.


"Dengan baik? Apa kau tak merasa aneh, kenapa kau hanya di berikan obat saja setelah itu kembali di balut perban tanpa ada Dokter yang mengeceknya langsung?" tanya Arga.


Laudya mengingat-ingat akan semua ucapan dari Agra dan semua itu benar. Apalagi setiap Lissa mengoleskan obat itu rasanya luka itu semakin sakit dan membuatnya merasakan sangat panas.


"Tidak, tidak mungkin Lissa melakukan itu. Dia wanita polos dan baik, kenapa dia bisa melakukan itu padaku?" gumam Laudya.


"Dasar kau itu wanita yang sangat bodoh. Kau itu sudah menjadi barang sampah, tak brrguna lagi. Walaupun kau masih terlihat cantik dan tubuhmu masih seksi, namun kakimu itu cacat kau akan di buat lumpuh selamanya, bahkan lebih parah kakimu di biarkan membusuk lalu kau akan di amputasi," ucap Elina yang tiba-tiba masuk.


Deg,,, deg,,, deg,,,


Jantung Laudya berdegup kencang mendengar semua ucapan dari Elina, dia mengingat akan semua ucapan dari Zidan dan perilaku Lissa yang terlihat begitu baik padanya. Ternyata itu semua hanyalah kedok belakang smuanya palsu.


Air mata Laudya mengalir deras memikirkan akan bagaimana nasib dirinya, yang sudah tak akan bisa lagi menjadi model dengan tubuh yang cacat.


"Kau menangis? Meratapi akan seperti apa hidupmu nantinya?" tanya Elina seraya tersenyum.


Laudya menatap Elina dengan mata yang masih basah karena menangis, dadanya begitu sakit dan sangatlah desa dia rasakan.

__ADS_1


"Jangan menatapku seperti itu! Kau harusnya berterimakasih padaku yang sudah menolongmu dan mengoperasi kakimu itu," sambung Elina.


"Apa tujuanmu melakukan ini padaku? Apa mau mu dengan menolongku?" tanya Laudya.


"Tidak ada, aku hanya menjalankan perintah saja. Untuk menolongmu dan membuatmu sembuh kembali," jawab Elina.


"Siapa, siapa dia yang menyuruhmu melakukan semua ini?" tanya Laudya.


"Belum saatnya, sekarang saatnya kau memulihkan dirimu saja terlebih dahulu! Agar tugasku semakin ringan, makan dan menurutlah pada kami!" perintah Elina seraya beranjak pergi.


"Hey, tunggu! Jawab dulu pertanyaanku!" pinta Laudya berteriak.


"Huussttt!! Jangan berteriak, lukanya belum kering. Jangan membuat usahaku dan kakakku menjadi sia-sia karena kau tak menurut padaku!" seru Arga.


Laudya menatap Arga dengan curiga, Laudya begitu waspada pada sosok lelaki tampan di depannya itu. Arga hanya memutar malas bola matanya lalu memakan satu suap sendok bubur itu ke mulutnya.


"Tak ada racun tak ada obat tidur. Ini memang bubur biasa, jadi makanya!" perintah Arga.


Arga menyodorkan mangkuk itu pada Laudya, dengan ragu-ragu Laudya menerima itu dan mencoba memakannya dengan sangat sedikit. Arga meletakan air putih dan juga susu di sana.


"Kau habiskan! Awas saja jika tak habis, aku sudah susah payah membuatnya. Sekarang aku harus pergi dahulu," ucap Arga dan pergi begitu saja.


"Dasar bocah, kenapa dia begitu cerewet. Usianya masih mudah tapi kenapa sudah bisa melakukan prosedur operasi?" gumam Laudya.


Wildan memantau Laudya dari kamera CCTV yang telah dia pasang dan sembunyikan di ruangan itu, terlihat di belakang ada Elina dan Arga yang juga melihatnya.


"Baik, kami mengerti. Tapi, bagaimana dengan dua lelaki yang di sekap oleh Zidan?" tanya Elina.


"Itu akan menjadi urusan adikmu, El. Aku sudah mengurusnya ke sana, jadi kalian harus fokus pada Laudya saja!" jawab Wildan.


"Apa dia sudah kembali, Dokter?" tanya Arga ragu.


"Ya, kau benar. Kakakmu, sudah kembali dan dia sudah sangat siap menjalani misinya. Kau bisa bertemu dengannya jika dia sudah berhasil membawa dua temanku," jawab Wildan.


Arga menatap Elina dan di balas anggukan. Arga tersenyum dan membungkuk yang berartikan terimakasih pada Wildan.


Wildan menatap Laudya yang sedang meminum susu yang sudah dia campur dengan satu obat. Tanpa dia ketahui dan tak dapat dia rasakan.


"Aku akan pergi ke Milan, kalian ingin menitip apa?" tanya Wildan.


Mendengar kata Milan, kedua kakak itu langsung memberikan masing-masing sepucuk kertas pada Wildan. Saat, Wildan membukanya matanya melebar tak percaya apa yang mereka pesan dan itu membuatnya megelengkan kepala.


"Baiklah, aku akan kembali tiga hari lagi. Aku percayakan semuanya padamu, El," ucap Wildan.


"Bersenang-senanglah! Jangan sampai terlewat satu pun yang ada di kertas itu!" pinta Elina.

__ADS_1


"Dok, tolong punyaku juga! Karena, ada satu barang yang sangat penting di situ," ucap Arga.


"Ya, ia baiklah! Kalian bisa tenang, katena aku sangat pandai mencari barang. Bukankah begitu Elina?" tanya Wildan.


"Eh, ya tentunya. Kau juga sangat handal dalam memilih," jawab Elina.


Wildan hanya tertawa kecil, sedangkan Arga merasa aneh dengan Wildan dan Elina. Elina yang merasa di perhatikan oleh Arga pun memilih keluar dari sana dan beranjak pergi keluar villa.


*******************


Terdengar suara gaduh dari luar yang membuat tidur Alex dan Wiliem terbangun. Keduanya tidur satu ranjang yang sudah reot, membuat tubuh mereka merasa sakit dan pegal, karena ukuran ranjang yang kecil dengan tubuh mereka yang besar.


"Ahh, leherku sakit sekali," gumam Wiliem.


"Lenganku kebas, ini membuatku lebih sakit dari pada memukul sepuluh orang," ujar Alex serah meregangkan tubuhnya.


"Suara bising apa itu? Kenapa begitu ribut, membuat tidurku terganggu saja," ucap Wiliem kesal.


"Mungkin saja sarapan pagi, aku sangat kelaparan. Aku butuh susu segar," balas Alex.


"Kenapa di saat susah seperti ini, kai selalu memikirkan makanan?" tanya Wil.


"Entahlah, aku pun tak tahu. Yang aku rasakan hanya ingin makan semua makanan saja," jawab Alex.


Wiliem menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari Alex yang menurutnya sangatlah aneh. Namun, semua itu tak pernah di anggap serius oleh Alex dan Wiliem.


Tak,,, tak,,, tak,,,


Bunyi kayu yang di pukulkan pada dinding, suara itu semakin mendekat dan sepertinya berhenti tepat di depan ruangan mereka.


Klak,,, pintu terbuka dan melihatkan sosok lelaki muda di sana, dia datang dengan senyuman di wajahnya. Alex dan Wiliem mengerutkan kening mereka, bahkan sangat curiga dengan pemuda tersebut.


"Hallo Tuan Wiliem Alexander," sapanya sopan.


Alex dan Wiliem terbelalak mendengar pemuda itu menyebut mereka dengan nama seperti itu. Sedangkan, pemuda itu hanya tersenyum sembari masuk dan menutup kembali pintu tersebut.


"Siapa kau? Anak via dari Zidan?" tanya Alex.


"No, kau salah. Aku bukan anak buah Zidan, kalian salah besar," jawabnya.


"Siapa yang mengirimmu?" tanya Wiliem.


"Aku tak tahu namanya, namun jangan salah dia sosok yang berkuasa," jawab pemuda itu.


*Siapakah dia? Apakah rencananya akan berhasil membawa Alex dan Wiliem kabur?

__ADS_1


Nantikan Lanjutannya !!! Stay selalu di novelku seperti kalian #staydirumah_saja.


Terimakasih 🍂🍂🍂


__ADS_2