
TERKEJUT
Tangannya bergetarlalu menutup mulutnya supaya tak mengeluarkan suaranya karena betapa
terkejutnya dia dengan pengakuan dari Wildan. Dengan perlahan dia mencoba tuk berjalan pergi meninggalkan ruangan itu, entah kenapa dia mersakan kakinya begitu lemas begitu juga dengan detak jantungnya yang sangat cepat.
“Wild, sudah jangan bicara lagi! Kau harus tidur sekarang,” ucap Wendy seraya memapahnya.
Malam itu, Wildan benar-benar mabuk parah. Kadang dia tertawa, kadang juga menangis sembari begelayut di tubuh sang kakak. Wendy di bantu oleh peleyan lelaki yang membawanya masuk ke dalam kamarnya. Wendy mersa sangat kasihan pada sang adik, di usianya yang sudah matang berumah tangga
Wildan masih belum bisa menemukan seorang wanita yang membuatnya jatuh cinta. Tapi, kenapa Tuhan malah mengirimkan Vanya yang sudah bersuamikan lelaki lain. Membuat adiknya mersakan jatuh cinta pada pandangan pertama.
“Aku harus menjauhkanmu, Wild. Kalian harus segera
dijauhkan, bahkan lebih baik kalian tidak bertemu tuk selamanya lagi,” ucap Wendy, seraya mengusap pelan rambut Wildan.
Bagaimana pun Wildan adalah adik kesayangannya. Setelah kematian Lisa, Wildan adalah saudara satu-satunya Wendy. Dia tak ingin kehilangan adiknya lagi, apa lagi sampai adiknya menderita oleh cinta. Wendy memang terlihat sebagai wanita yang lemah lembut dengan segala prilaku putrinya. Namun, sebenarnya dia adalah seorang wanita yang keras dan akan melakukan apapun demi keluarganya.
Malam itu, Wendy tak bisa tidur karena Wildan terus mengigau nama Vanya dan Lisa dengan bersamaan. Karena cemas, Wendy membawa Wildan pergi terlebih dahulu dengan Elina sebagai Dokternya.
Ceklek
Tubuhnya masih begitu lemas, sampai dia terduduk di lantai kamarnya. Napasnya naikturun seakan dia selesai melakukan lari maraton. Kepalanya menggeleng karena malam ini dia mendengar apa yang seharusnya tidak dia dengar.
“Apa yang mereka lakukan di belakang kami semua?” ucapnya penuh tanya.
“Apa yang terjadi mereka, sejak pulang dengan Dokter itu Vanya terus diam dan tiba-tiba menangis.
Ternyata pikiranku salah karena menganggap dia merasa salah paham.”
Wanita itu berdiri dan berjalan pelan ke arah ranjangnya, mengingat akan kejadian sore tadi. Memikirkan salah satu orang yang kini berda di hatinya kembali.
“Apa reaksinya, jika mengetahui jika ada sesuatu antara istrinya dan Dokter Wildan.”
Laudya, wanita itu tanpa sengaja mendengar percakapan dari Wendy dan Wildan. Setelah dia selesai mencari minum karena merasa kehausan, sebelumnya Laudya juga bertemu Vanya yang ingin kembali ke kamarnya bersama Zee.
Disana, Vanya dan Laudya bahkan sempat berbincang sebentar. Karena, Vanya menanyakan keadaan
dirinya yang terluka.
“Apa sebelumnya kalian bertemu dengan Wildan, Anh? Apa yang kalian lakukan malam-malam seperti ini?” ucap Laudya penuh dengan pertanyaan di benaknya.
Vanya memang sudah kembali ke kamarnya setelah mersa sudah baikan dan merasa letih dengan tubuhnya. Terlihat Zee tidur dengan sangat pulas. Vanya tidur dengan mendekap lengan Zee. Matanya perlahan tertutup dan membawanya ke alam mimpi.
Esok harinya, Vanya yang msih tertidur pulas pun tak
mengetahui jika Wiliem masuk ke kamarnya dan malah merebahan tubuhnya berada di sampingnya. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh siang, namun Vanya masih tertidur lelap.
“Sepertinya, Anya semalam tidak bisa tidur, Wil. Aku rasa dia baru kembali saat tengah malam,” ucap Zee.
__ADS_1
Wiliem mengangguk dan membiarkan sang istri tuk tidur, tanpa ingin menganggunya bahkan Wiliem tak
menyentuh Vanya sama sekali. Lelaki itu hanya tidur saja di sampingnya dengan terus menatap wajah ayu sang istri.
“Maafkan aku, sayang jika kau sangat peduli pada Laudya. Dan itu, membuatmu merasa tak suka,” ucap Wiliem lirih.
“Aku hanya ingin menjadi teman yang baik saja dengannya, sama seperti saat dulu. Namun, yakinlah
padaku jika perasaanku yang sekarang adalah untukmu,” sambung Wiliem seraya mencium kening Vanya dengan sangat lembut.
Zee pergi meninggalkan Williem dan Vanya bersama di dalam kamar. Sedangkan dia menjemput Alex di dalam kamarnya, Alex begitu sennag saat melihat Zee yag masuk. Lelaki itu tak tinngal diam dengan langka cepat menarik tubuh Zee dalam dekapannya dan melummat habis bibir sang istri yang di balas senyuman Zee.
“Dasar mesum, ini masih pagi,” ucap Zee yang masih dalam pelukan Alex.
“Mesumku hanya padamu, honey. Aku sangat merindukanmu semalam kemarin karena tak bisa tidur
dengan memelukmu,” balas Alex mencium kening Zee.
Zee tak menjawab, dia hanya memeamkan matanya mersakan detak jantung dari Alex. Mersakan belaian
lembut dan rasa hangat, nyaman dalam dekapan sang suami, “Selamat pagi, Al. Lihat aku yang selalu di buat bahagia oleh Alex, maafkan aku yang sering kali melupankanmu.”
“Apa kau sedang bebicara dengan kekasihmu sayang?” tanya Alex menatap ke arah sang istri.
Zee mendongak menatapAlex dengan tersenyum, lalu kembali menghirup aroma wangi dari tubuh sang suami. Zee mencium dada bidang Alex lalu melepaskan pelukan dari Alex.
“Sudah tahu kebiasaanku, kenapa kau masih bertanya?” tanya Zee dengan cemberut.
“Kau itu wanita yang unik, Zee. Setiap paginya kau akan menyapaku sebagai suamimu, lalu akan beralih pada area dadaku dan menyapa kekasihmu,” sambung Alex seraya membawa Zee duduk di sofa.
Zee menunduk malu akan tingkahnya sendiri yang menurutnya seperti orang tak waras. Tapi, Alex yang melihat itu merasa lucu karena kekasih dan suaminya itu masih satu tubuh yang sama.
“Lex, kau jangan meledekku! Aku tak bisa melupakan dia, kalian itu orang yang sama pentingnya dan berharganya tuk ku. Kalian itu nyawa dalam hidupku,” ucap Zee dengan wajah serius.
Alex yan sedari tadi tertawa pun menghentikan tawanya, sungguh Alex meras terharu akan ucapan
dari Zee. Alex memang masih sering cemburu mendiang Alfa yang masih memliki cinta dari Zee, sungguh sangat setia istrinya itu pada keksihnya.
“Aku tahu itu, aku juga sanagt bersyukur dengan semua takdir ini,” balas Alex kembali memeluk
Zee.
Akhirnya setelah selesai berpacaran mereka pun keluar tuk berkumpul bersama dengan yang lainnya. Terlihat Laudya ynag sedang asyik dengan Arga, Sedangkan Elina dan Messi terus dekat dengan Ken. Setelah mengetahui jika Dokter hebat itu adalah Ken.
Wildan yang duduk sendiri dengan memegang ponselnya. Terlihat lelaki itu sudah sangat baik,
padahal malam tadi dia mabuk sangat parah. Laudya saja mersa heran dengan sikap Wildan yang terkesan cepat sekali berubah dan bisa kembali seperti semula
seperti tak terjadi apapun itu.
__ADS_1
“Wah sudah berkumpul semua,” ucap Wendy dengan riang menatap mereka stu persatu.
“Ehem, tidak ada Tuan Wil dan Nona Vanya,” balas Arga yang menggelengkan kepalanya.
“Ahh, Vanya sepertinya sedang tidak enak badan. Maka dari itu, Wil menemainya di dalam kamar,” ucap Zee mencari alasan.
Mendengar Vanya yang tak ada, membuat Wildan menatap Zee. Karena sejak dia bangun dia tak menyadarinya jika memang Vanya tidak ada.
“Apa dia demam karena semalam bermain air?”batinya penuh tanya.
“Apa dia demam, Zee? Perlu kakak periksa?” tanya Ken yang khawatir pada sang adik.
“Tidak, Kak. Anya berkata kalau dia hanya kelelahan karena kemari terlalu senang berbelanja dan itu membuat tubuhnya menjadi lelah,” jawab Zee terbata.
Wendy dan Laudyamelihat Wildan, terlihat lelaki itu terlihat khawatir. Namun dengan cepat, Wildan memalingkan wajahnya agar tak ada yang melihat kekhawatirannya.
“Kau benar-benar menyukai gadis itu, Wild. Astaga, kenapa jadi seperti ini,” gumam Wendy seraya memijat pelipisnya.
Di dalam kamar, Wiliem masih tak beranjak dari ranjang dan masih memandangi Vanya yang tertidur. Akan tetapi, lama kelamaan membuat Vanya merasa sedang di tatap pun membuka matanya. Betapa terkejutnya, wanita itu saat ada wajah Wiliem di depannya sampai tak sengaja mendorongnya dengan sangat kuat.
“Anh, sayang kau kenapa? Ini aku, Wilem suamimu,” ucap Wiliem seraya mendekati Vanya.
Vanya yang menyadarinya pun terkejut karena yang dia sangka Wildan itu adalah suaminya Wiliem. Dengan air mata yang mengalir Vanya langsung memeluk sang suami dengan erat, Wiliem yang melihat itu sangat terkejut karena Vanya menangis.
“Maaf sayang, maafkan aku yang mengejutkanmu.” Wiliem mengusap lembut punggung dan menghujani kepala Vanya dengan ciuman.
“Tidak, Wil. Aku yang harusnya meminta maaf padamu karena telah mendorongmu,” isak Vanya dengan sesenggukan.
Vanya melepas pelukan itu dan benar-benar menatap wajah Wiliem dengan lekat, hatinya berdebar karena sempat menyangka jika itu wajah Wildan. Sungguh Vanya merasa trauma hanya karena ciuman itu, Vanya menyentuh semua yang ada di wajah Wil dengan perlahan. Sampai dia menyentuh bibir Wiliem, Vanya terpaku diam tak berkedip.
“Sungguh, maafkan aku Wil!” ucap Vanya dengan nada lirih.
Vanya menarik leher Wil dengan perlahan, lalu mencium bibir sang suami dengan sangat lembut. Wiliem yang sejak kemarin menahan tuk menyentuh Vanya pun membalas ciuman itu dengan penuh gairah. Wiliem seperti mendapatkan sinyal hijau pun, tak menyia-nyia kan itu, siang itu Wiliem menghabiskan waktu bersama dengan sang istri, membuat Vanya terus terkungkung di bawahnya. Memberikan sensasi yang membuat Vanya nyaman terus berada di dekapannya.
Dan memang itu yang sekarang Vanya butuh kan rasa nyaman yang membuatnya gila, memabukkan akan sensasinya, bisa melupakan apa yang terjadi antara dia dan Wildan.
“Dia lah suamiku, dialah kebahagiaanku dan dialah hidupku,” batin Vanya.
Wiliem tersenyum menatap Vanya, menciumi seluruh wajahnya . Terlihat peluh yang mengalir di wajah Vanya. Wiliem mengusapnya dengan lembut.
“Terimaksih sayang, maaf membuatmu berkeringat siang ini.” Wiliem masih berada di atas tubuh Vanya.
Vanya tak menjawab, hanya anggukan saja tuk menjawab perkataan dari sang suami. Wiliem berpindah ke samping Vanya, lalu memeluknya.
“Jam berapa ini, kenapa kau mengatakan ini siang?” tanya Vanya.
Wiliem tertawa seraya mencubit hidung mancung Vanya karena gemas, Vanya hanya cemberut mendapat cubitan dari Wiliem.
“Ini sudah tengah hari sayang, mungkin sudah pukul dua belas,” jawab Wiliem.
__ADS_1
Vanya terperanjat mendengar itu, tanpa dia sadari langsung berjalan ke arak kamar mandi begitu saja tanpa memakai sehelai benang pun. Membuat Wiliem tertawa keras karena kepolosan Vanya.
Bersambung🍂🍂🍂