Takdir Cinta

Takdir Cinta
Penyelamatan


__ADS_3

Suara tembakan cukup membuat semua orang terkejut , tak ada keributan yang terjadi berarti mereka tengah di bohongi Ana . Sedangkan Rafli yang sibuk membahas test DNA melupakan sejenak sosok Ana , karena setahunya Ana masih di taman samping berbicara dengan Vini dan Rahma .


Jova dengan sigap bergerak dan diikuti Devan .


'' Nona Ana di culik " ucap salah seorang bodyguard menolong sahabatnya yang terkena dua tembakan. Bodyguard tersebut juga menyebutkan plat mobil yang menculik Ana.


'' Ayo Jova kita cari mereka " ajak Devan dan segera melesat menuju arah dimana mobil tadi bergerak .


Jimmy dengan wajah datarnya baru saja tiba di mansion Permana , pecah ban yang tak pernah ia alami baru saja teratasi .


'' Jimmy , istriku diculik " ucap Rafli dan segera memasuki mobil Jimmy dan di ikuti oleh semua bodyguard nya .


'' Kalian antar nak Rahma dan Bu Laras " ucap Teguh kepada anak buahnya .


'' Tenang , Ana pasti ketemu " ucap Teguh namun Laras begitu sedih hingga harus segera pulang kembali kemansion anaknya , berharap anaknya akan baik-baik saja dan semua masalah segera selesai dan tamat cerita buruk tentang anaknya hingga kebahagiaan yang akan menghiasi kehidupan anak-anak nya serta cucunya.


Eric memeriksa CCTV , ia mengenali plat mobil yang di gunakan untuk menculik Ana .


'' Kalian ikut denganku dan pakai rompi anti peluru kalian " ucap Eric dengan mata yang memerah , sorot mata tajam dan siap membunuh kini berada di mode aktif saat mengetahui siapa yang menculik Ana .


" Kalian tak bisa di nasehati dengan cara halus " batin Eric geram.


Kejar-kejaran terjadi , mobil yang menculik Ana berhasil memancing Devan dan itu membuat Viona emosi.


" Kau bodoh sekali , cepat jalankan mobilnya " bentak Viona , ia tak ingin niat menghabisi Ana tak terwujud.


" Kau diam , kau hanya benalu . Tutup mulutmu atau kau akan ku lempar dari jalanan ini " ucap Jero membuat Viona menahan amarahnya .


" Lebih baik kau bermain dengan tawananmu " ucap Jero dan senyum kebencian terbit di bibir Viona , ia mengambil pisau kecil dan sedikit menggores pipi mulus Ana dan terlihat darah mulai keluar .


" Kita akan mulai perlahan setelah kau sadar pasti akan seru " ucap Viona .


" Apa kalian ingin menikmatinya . Ayo silahkan , ini menantu kesayangan keluarga Wijaya yang selama ini di lindungi , lihatlah kulitnya masih kencang " ucap Viona , para anak buah Jero yang berhasrat tak jadi menyentuh Ana karena tatapan Jero. Jero tak ingin anak buahnya kehabisan tenaga karena kehabisan tenaga karena bercinta , musuhnya seorang Devan harus mereka hadapi jika Devan mati maka setiap anak buahnya akan mencicipi tubuh perawan yang dengan mudah mereka dapatkan.


" Awas kau Jero " batin Viona kesal.


Devan melajukan mobilnya dengan kencang dan kencang pulai mobil yang menculik Ana tersebut. Devan mengeluarkan satu tembakan kearah kaca namun tak berhasil untuk menembus kaca tersebut .


Baku tembak terjadi , sedangakan Jova mau tak mau memasang rompi anti peluru dan merakit senjata yang ada di mobil Devan. Jova juga memerintahkan temannya untuk memperketat penjagaan mansion Permana .


" Hubungi juga Jimmy dan Rafli untuk menggunakan rompi anti peluru . Serta anak buah Jimmy juga gunakan itu " ucap Devan .


" Dan oh ya . Hubungi anak buah ku untuk melacak ponsel ku dan segera suruh mereka datang " ucap Devan dan sedikit membuat Jova tecengngang karena cukup banyak kata yang di keluarkan Devan .


" Baiklah " ucap Jova..


" Apa kita perlu menggunakan M134 " tanya Jova .


'' Mereka masih musuh kecil , kita gunakan saja pistol biasa , tak usah Laras panjang " ucap Devan datar.


" Kita gunakan saja desert Eagle saja " ucap Devan dan di setujui Jova. Desert Eagle ini merupakan senjata buatan Israel dengan , jika pistol lain hanya menusuk saja berbeda dengan Desert Eagle yang mampu membuat obyeknya tertusuk dan juga meledak , daya hancur yang gila dengan sematan peluru yang cukup besar 325 garam . Tanpa sepengetahuan yang lainnya , Devan mempunyai pistol yang tak terduga oleh orang lain , pistolnya selalu Devan bawa kemanapun berbentuk cincin biasa namun mampu menembak lawan dengan jarak dekat .


'' Bos , Devan tak sendirian bos , ia bersama bodyguard wanita " ucap seseorang yang tadi sempat baku tembak dengan Jova yang iseng menggunakan M134 membuat anak buah Jero terkejut , beruntung Jova sengaja melesatkan tembakannya . Bagi Devan tak masalah masuk ke dalam kandang musuh dan itu yang ia cari tantangannya dan akan menghancurkan tempat itu seperti abu nantinya .


'' Sudah ku bilang , kita bunuh saja wanita ini " ucap Viona kesal menghentakkan kepala Ana dengan pistol yang ia bawa membuat pelipis Ana kini berdarah.


'' Kau akan menemani Alexa di neraka sana Ana ...hahaha " batin Viona..


Sementara langkah kaki Eric terhenti saat Vini menatapnya penuh tanya.


'' Mas , akan menyelamatkan Ana. Mas minta izin darimu " ucap Eric .


'' Tapi tubuh mas sedang tidak baik-baik saja " ucap Vini dengan mata berkaca-kaca.


'' Mas hanya membantu mereka menyelamatkan Ana. Apa kau mau calon besan kita kenapa-napa '' ucap Eric dan di jawab gelengan oleh Vini.


'' Tapi mas harus berhati-hati dan cepat kabari aku apapun yang terjadi '' ucap Vini menangis memeluk sang suami . Eric memeluknya dengan erat .

__ADS_1


'' Sayang , jaga mama baik-baik ya karena daddy akan ikut menyelamatkan calon mertuamu '' ucap Eric mendaratkan kecupan singkat di perut buncit istrinya .


'' Vini , tolong bujuk Ericana agar tak membenci Ana . Mungkin setelah ini semua akan terungkap dan aku tidak ingin kita semua terkena imbasnya '' ucap Eric.


'' Tentu mas aku kan membujuknya . Aku juga tak ingin calon menantu ku punya hubungan buruk dengan orang tua kandungnya '' ucap Vini.


'' Mas pamit sayang '' ucap Eric mencium kening Vini .


'' Hati-hati mas . Doa ku selalu menyertaimu '' lirih Vini dan Eric segera bergegas pergi .


Tak peduli sang mama yang terus mencegahnya untuk keluar , ntah sang mama termakan bisikan dari siapa hingga berbalik membenci Ana .


.


.


.


Bangunan yang menjulang tinggi dimana anggota Jero tengah terusan rapi , pembalasan dendam atas kematian sang kakak membuat Jero memerintahkan seluruh anak buahnya untuk ikut dalam misinya . Ia mengincar satu nyawa yaitu Devan . Sedangkan Ana tengah terikat tangannya dibalik sebuah kursi dengan kondisi masih tak sadarkan diri , orang-orang Jero juga tengah bersembunyi dimana Viona dan Ana berada.


Viona menatap Ana dengan penuh rasa iri dan kebencian , Ana tak ada salah apapun terhadapnya namun Viona merasa karena kehadiran Ana membuat hati Rafli tak terbuka hatinya untuk wanita lain termasuk untuknya , hingga Viona menerima perjodohan demi melupakan pujaan hatinya dan berharap bisa mendapat kebahagian hingga sang suami mencampakkannya dan menipunya habis-habisan bahkan berselingkuh hingga pertemuannya yang tak sengaja kembali mempertemukannya dengan Rafli yang akhirnya membuat Viona bertekad akan merebut Rafli apapun caranya bahkan untuk melenyapkan Ana akan ia lakukan .


'' Nona Ana '' Sura Devan menggelegar namun suara tembakan menyambut kedatangannya bersama Jova .


'' Berhati-hatilah Jova '' ucap Devan dengan mata yang melirik tajam . Devan mengantongi tiga senjata api dengan dua di bilik pakaiannya dan yang satu telah ia siap untuk berjaga . Sementara Jova hanya mengantongi dua senjata api dimana satu buah pistolnya terdapat racun yang sekali tembak mampu membuat target terasa lemas tak bergerak .


Niatnya hanya membawa satu pistol di setiap satu orang namun perasaan ragu menyerang batin Jova.


Dor


Satu tembakan Devan lesatkan dan mengeluarkan seonggok manusia yang baru saja meregang nyawa.


'' Keluar jangan jadi pengecut '' teriak Jova , yang tak suka bermain petak umpet .


Suara tembakan membuat Viona untuk memerintahkan mereka bersiap .


Sementara Rafli terlihat hawa panasnya begitu terasa nyata sama halnya dengan Jimmy yang siap untuk membunuh kembali saat ini .


'' Jim , perintahkan anak buahmu untuk menyiapkan bom . Aku akan membuat mereka yang menculik istriku hancur lebur '' geram Rafli .


'' Kau tenang saja Rafli . Didalam mobil bodyguard milikku tadi cukup banyak stock bom untuk mengaburkan tubuh mereka '' jawab Jimmy . Rafli dan Jimmy segera turun dan menyerang semua musuh dari luar .


'' Tuan masuklah , selamatkan nona Ana lebih dahulu '' ucap seorang bodyguard.


'' Kalian berdua temani tuan . Ingat harus jeli dengan mata kalian '' ucap Jimmy dan diangguki oleh dua bodygaurd yang ia tunjuk .


Jimmy membantu bodyguard nya untuk membabat habis musuh di luar ruangan .


Didalam tengah terjadi baku tembak antara Jova dan anak buah Jero yang menyerangnya , mengelak melompat hingga berpegangan di dinding sudah bisa Jova lakukan dengan kemampuan yang tak diragukan.


Devan sendiri tengah berjalan kelantai dua untuk menuju lantai lima berada dimana Ana sedang disekap.


'' Hai Devan '' ucap Jero mengejek Devan yang seolah menyerahkan nyawanya dengan senang hati.


'' Jika kau punya urusan denganku , jangan melibatkan orang lain '' ucap Devan dengan aura menyeramkan begitu terasa.


Semua anggota Jero terbahak - bahak dan Devan merasa tak terganggu akan hal itu . Matanya hanya fokus kepada Jero , yang ingin sekali Devan mematahkan kepala Jero lalu memutarnya untuk menjadi gantungan di atas menara Eiffel.


'' Wanita cantik itu bukan urusanku , aku tak menginginkan nyawanya . Yang aku mau hanya nyawamu . Andai saat penyelamatan nya waktu itu aku membunuhmu , namun sayang aku tak mengetahui jika kau yang melenyapkan nyawa kakakku '' teriak Jero di ujung kalimatnya.


'' Hahaha '' tawa Devan menggelegar mengejek kebodohan Jero yang saat itu bersatu dengan kelompok Wijaya untuk menyelamatkan nyawa Ana .


'' Kau memang bodoh. Sama seperti kakakmu '' ucap Devan yang sengaja memancing emosi Jero hingga ....


Dor , suara tembakan meleset yang di hasilkan oleh pistol milik Jero hingga seorang anak buah Jero menjerit kesakitan .


'' Penembakan yang payah . Keahlianmu jauh dibawah Jerry sialan itu '' ucap Devan.

__ADS_1


Dor


Dor


Dor ... tiga suara tembak dari Devan tepat mengenai sasaran dan menumbangkan anak buah Jero .


'' Bagaimana. Jika kau pria satu lawan satu '' ucap Devan dengan senyum smirik ya , tidak sampai tiga puluh detik maka Jero akan berhenti bernafas di tangan seorang Devan , meski Jero pemimpin kelompok mafia yang lumayan di takuti namun keahlian membunuhnya tak mampu mengalahkan Devan yang tak mempunyai rasa kemanusiaan semakin menyempurnakan jiwa pembunuh Devan .


" Serang " ucap Jero dan Devan harus berjuang sendiri untuk melumpuhkan puluhan manusia yang terkutuk di lantai dua namun tak lama Rafli datang berserta Jimmy mempermudah jalan Devan untuk melangkah kearah Jero yang sesaat tadi hanya tersenyum mengamati .


Jova yang sempat tertembak di bagian lengan tadi kini bergabung dengan body guard milik Jimmy , hampir tiga puluh orang telah tumbang di luaran sana dan dipastikan telah tak bernyawa .


Rombongan Eric tiba dan bertepatan dengan anak buah milik Devan yang terlihat bersenjata lengkap bahkan tiga diantaranya membawa senapan laras panjang dengan peluru yang melingkari seluruh tubuh bagian atas mereka .


'' Mengerikan '' batin seorang bodyguard Eric.


'' Kami akan langsung ketitik atas '' ucap Eric namun hanya diacuhkan oleh anak buah milik Devan yang kini datang untuk misi penyelamatan Devan lebih dahulu lalu nona mereka.


Anak buah Jero dari lantai lima mengintip jika anak buah Devan telah datang dengan jumlah lumayan , tapi bukan itu yang mereka takuti namun persenjataan mereka . Sedangkan anak buah Jero tak punya banyak senjata hanya diberikan satu-satu oleh bos mereka dan baru beberapa menit mereka mendengar kabar jika markas persenjataan mereka telah terbakar habis , yang pelakunya adalah orang suruhan Eric bahkan kebakaran itu juga menewaskan beberapa ****** didalamnya .


Dor seorang anak buah Devan menembak orang yang mengintip tersebut hingga tubuh targetnya jatuh kebawah .


'' Apa keadaanya kita akan kalah ' teriak frustasi Viona. Ia geram melihat Ana yang belum sadarkan diri meski sesungguhnya Ana telah sadar namun ia takut untuk bertindak selain hanya diam untuk saat ini.


Kedatangan anak buah Devan dan beberapa bodygaurd milik Eric membuat kelompok Jero yang berada di lantai satu dan dua terdesak membuat yang berada di lantai tiga akhirnya turun membantu .


Devan membabat habis tubuh Jero yang sempat menembak lengan Devan yang menimbulkan se gores luka karena peluru itu hanya menyenggol lengannya saja.


Tubuh Jero telah patah mematah , setiap orang yang ingin menembak Devan selalu di gagalkan oleh beberapa anak buah Jimmy hingga membuat Devan leluasa menyikasa tubuh Jero.


Anak buah Jero yang dilantai satu hanya bersisa sedikit namun Jova dan empat orang lainnya tetap berjaga dan sebagian yang membantu Jova melangkah ke atas. Jova segera menahan rasa sakit yang bagi orang lain sakit luar biasa saat sebuah peluru di keluarkan dari lengannya lalu lengan Jova segera diberikan serbuk yang berguna untuk menghentikan pendarahan yang baru saja di bawa salah satu anak buah Devan . Rasa serbuk itu saat mengenai luka Jova berasa nano-nano yang langkah , rasa pedih cenat cenut ngilu Jova rasakan .


'' Rafli kita harus segera keatas '' ucap Jimmy saat rombongan Devan telah datang dan menyadarkan Rafli yang selalu mencabik musuhnya meski musuhnya sudah tak bernyawa.


'' Kakak lihatlah '' ucap Devan berteriak dan mengalihkan perhatian semuanya .


Brakkk klek Kepala Jero terlepas dari bagian tubuhnya membuat anak buah Jero menegang . Devan meletakkan kepala Jero dengan beberapa luka memar dan mata Jero yang melotot diatas meja lalu menyerang anak buah Jero yang tersisa sedikit.


Dengan mudah Rafli , Jimmy , Eric dan lainnya berada di lantai empat cukup banyak orang berkumpul disana .


'' Tuan Eric , anda berkhianat '' ucap seseorang yang tak menyukai Eric sedari dulu.


'' Aku berpihak kepada yang kurasa benar '' tukas Eric .


'' Jim , kau dan Rafli harus segera keatas jika ada cela untuk keatas . Biarkan kami yang disini mengatasi mereka. Aku yakin Ana berada di lantai atas '' ucap Eric membagi tugas mereka , menghadapi musuh yang cukup banyak di lantai empat membuat Rafli dan yang lainnya susah untuk menerobos ke atas.


Sementara Viona tak ingin misi membunuh Ana gagal segera mengambil pisau lipat kecil yang berada disaku jaket anak buah Jero yang berada disisinya .


'' Bersiaplah ke neraka wanita sialan '' teriak Viona .


'' Bugh '' Ana menendang Viona dengan sepatu high heels nya membuat dagu Viona lecet dengan rasa nyeri cukup mendalam.


'' Kenapa , kau pikir aku akan diam saja saat kau ingin membunuhku '' ucap Ana , ia berhasil melepaskan tali di tangannya saat ia tersadar , anak jauh Jero yang terlihat begitu sibuk tak memperhatikan Ana sedari tadi.


'' Kau memang sialan Ana '' teriak Viona , membuat suaranya terdengar di telinga Rafli dengan jelas . Rafli melirik Jimmy dan Jimmy mengerti akan kode itu .


'' Akulah yang akan mencabut nyawa mu Viona " batin Rafli .


'' Kak , kita harus segera ke atas '' ucap Devan tiba-tiba yang masih menenteng kepala Jero di tangan kirinya .


'' Habisi wanita ****** ini '' perintah Viona .


'' Kalian , pengecut jika hanya bisa melawan wanita , lebih baik kalian turun ke bawah jika tak ingin dianggap banci olehku '' ucap Ana , dirinya sungguh mustahil untuk melawan pria di hadapannya . Jika melawan Viona mungkin ia bisa dengan ilmu bela diri yang cukup untuk melindunginya , Alexa pernah mengajarinya cara untuk bertahan dan sedikit memberi serangan.


Jangan lupa like dan komentarnya.


Selamat membaca 😊.

__ADS_1


Beberapa episode lagi bakal ending ya .


__ADS_2