
Vanya sudah berada di mansion baru merasa kesepian karena tidak ada Zee dan Alex di sana. Elina dan Arga sibuk dengan tugas mereka masing-masing, begitu pula dengan Wildan yang entah ke mana. Lelaki itu sangat misterius menurut Vanya, karena tidak bnyak hal ayng terlihat begitu rahasia saat dia kembali atau pergi.
“Hufh,, aku merindukan keluargaku. Aku merindukan Kak Ara dan Kak Abi, bagaimana keadaan Kakak?” ucap Vanya sembari menyangga kepalanya dengan tangan.
“Wil, bagaimana juga keadaanmmu? Ini sudah seminggu berlalu, aku tidak melihatmu. Bahkan, Kak Alex tidak memperbolehkanku tuk menemui dirimu,” gumam Vanya begitu sedih.
Tanpa Vanya tahu, jika dirinya terus di awasi oleh Messi. Pemuda itu memilih tetap diam di dalam mansion tuk menjaga Vanya, usianya memang masih muda tapi sikap dan pemikirannya sangat dewasa. Messi terus memperhatikan gerak gerik Vanya dari jarak yang lumayan jauh.
“Kenapa kau tidak mendekatinya saja dan menjadi teman bicaranya?” tanya Arga yang baru saja datang.
“Jangan bercanda, aku tidak mau terlalu dekat dengan seorang wanita yang sudah bersuami. Apalagi kau tahu sendiri, jika Taun Wildan juga mencintainya,” jawab Messi.
“Apa kau juga menyukai Vanya?” tanya Arga penasaran.
“Tidak. Aku tidak menyukai dirinya,” jawab Messi singkat.
Elina yang mendengar jawaban dari Messi hanya tersenyum simpul, ternyata pesona dari Vanya pun mampu membuat sang adik menyukainya. Arga pun berpikir sama dan hanya mendiamkan saja, biarlah waktu yang akan menjawab rasa di dalam hati Messi.
“Hari ini, kita akan membawa Vanya menemui suaminya itu. Karena Alex dan Zee harus segera membawa Wiliem pergi ke Amerika, setelah itu Vanya akan kembali ke Finlandia dengan Tuan Ken,” ucap Elina.
Messi dan Arga pun mengangguk ia, Arga yang yang memang pemuda yang ceria itu tidak canggung saat pergi mendekati Vanya yang sedang duduk di taman sendirian.
“Sepertinya kau merasa jenuh di sini?” tanya Arga mengagetkan Vanya.
“Emm, kau benar. Aku hanya rindu rumahku saja, Ar kenapa kau dan kedua kakakmu itu membuatku iri?” tanya Vanya seraya menunjuk Elina dan Messi yang berada di lantai dua.
Elina dan Messi yang melihat Vanya menunjuk mereka pun merasa terkejut dan mencoba tersenyum seraya
menyapanya. Begitu juga dengan Arga yang terkejut hanya tersenyum kuda.
“Kau tahu, kami di sana?” tanya Arga.
“Aku tahu, dimana Messi yang selalu bersembunyi dariku. Aku juga tahu saat kau dan Elina pulang dan bergabung dengan Messi tuk melihatku dari atas sana,” jawab Vanya dengan cemberut.
“Aish, kau membuatku takut saja! Apa kau mempunyai mata batin atau semacamnya?” tanya Arga.
“Tidak.” Vanya berjalan meninggalkan Arga yang masih terbengong dengan jawabannya.
Malam harinya Vanya hanya di temani tiga bersaudara itu, Vanya sungguh merindukan keluarganya. Wanita itu sangat-sangat merindukan sang kakak. Elina yang melihat itu hanya bisa menghembuskan napas panjang karena merasa kasihan dengannya.
“Vanya, besok pagi kau akan bertemu dengan Tuan Ken. Kalian akan segera pulang ke Finlandia,” ucap Elina.
“Benarkah itu? Lalu bagaimana dengan mereka?” tanya Vanya tanpa menatap Elina.
“Mereka akan pergi ke Amerika, karena Tuan Wil harus mendapatkan penanganan khusus,” jawab Elina.
Vanya sangat bersedih mendengar itu, hatinya sangat hancur. Dia sudah menyebabkan suaminya menjadi depresi seperti dahulu dan sebagai seorang istri dia sungguh tidak berguna karena tidak ada bersamanya.
__ADS_1
Tak,,, Tak,,, Tak,,,
Terdengar suara langkah kaki yang begitu asing begitu juga dengan para lelaki ber jas yang masuk ke dalam ruangan itu. Vanya begitu terkejut melihat banyaknya orang di sana, Messi sudah mendekati Vanya dan melindunginya dengan Arga. Sedangkan Elina yang berada di depan Messi terlihat kesal dengan tamu tidak di undang itu.
“Selamat malam semuanya,” sapa Laudya dengan senyum nakalnya.
Di sampingnya terlihat Zidan yang berjalan dengan dua wanita seksi yang mengapitnya. Elina dan yang lainnya begitu terkejut melihat Laudya yang datang dengan Zidan.
“Dasar wanita laknat!” hardik Messi begitu keras.
Laudya hanya menyunggingkan senyumannya dan tidak menghiaukan Messi, tapi matanya lebih memilih tuk melihat Arga yang berada di belakang Vanya.
“Kau datang untuk membawaku?” tanya Vanya menatap Laudya.
“Ya, karena kau yang berharga tuk kami. Jadi, kau bisa datang kemari tanpa aku paksa bukan?” tanya Laudya.
Vanya tersenyum menatap Laudya dan Zidan, Vanya sungguh lelah dengan semua ini. Wanita itu pun berjalan maju namun tertahan oleh Messi, lelaki itu menggenggam tangan Vanya dengan erat dan menggelengkan kepalanya.
Laudya tertawa dengan sangat keras sampai mengejutkan semua orang yang berada di ruangan itu. Zidan pun merasa aneh dengan sikap Laudya begitu juga dengan Elina dan Arga.
“Kalian benar-benar pasangan yang munafik. Vanya, dengan kecantikan dan kepolosanmu kau berhasil membuat semua lelaki yang berada di dekatmu menjadi suka padamu, bahkan Messi yang terkenal dengan lelaki es pun bisa kau cairkan dengan sikapmu itu,” ucap Laudya dengan tertawa.
“Apa maksudmu? Jangan berkata yang tidak masuk akal, jika kau sendiri melakukan sesuatu dengan lelaki yang sudah menjadi suami orang lain. Kau menjijikkan Laudya,” balas Vanya dengan nada dingin.
Laudya yang sejak tadi tertawa pun seketika terdiam, menatap tajam Vanya dengan mata yang berapi-api. Vanya mencoba tersenyum dengan hati yang begitu sakit karena mengetahui suaminya telah tidur dengan mantan kekasihnya.
Laudya yang merasa tersindir pun hanya diam tak bersuara, Elina dan kedua adiknya tak menyangka jika Vanya begitu berani mengatakan segalanya jika sudah marah. Zidan yang melihat itu pun hanya tersenyum dengan keberanian Vanya.
“Bawa wanita itu dan habisi semua yang menghalangi!” perintah Zidan.
Vanya membulatkan matanya mendengar perintah Zidan, begitu juga dengan Laudya yang takut terjadi sesutau pada mereka. Messi menatap Vanya begitu juga sebaliknya.
“Lepaskan tanganku! Biarkan aku pergi, aku tidak mau kalian celaka karena aku,” pinta Vanya pada Messi.
“Dengarkan aku, pergi dan terus berlarilah jangan hiraukan kami di sini!” perintah Messi.
Vanya menggeleng, wanita itu melihat Elina dan Arga dengan wajah yang cemas. Laudya yang melihat Vanya yang ketakutan pun begitu khawatir jika wanita itu sampai terluka.
“Vanya, aku katakan sekarang juga. Berjalanlah kemari, dan ikut bersamaku!” perintah Laudya dengan berteriak pada Vanya.
Vanya menatap Laudya yang terlihat cemas, Vanya berpikir ada sesuatu yang ingin Laudya katakan padanya. Vanya menatap Messi melepaskan tangan pemuda itu dan mencoba tersenyum.
“Terima kasih, sudah menjagaku sudah selalu ada bersamaku akhir-akhir ini,” bisik Vanya seraya memeluk Messi.
Setelah itu Vanya berjalan menjauh dan berjalan ke arah Laudya, Messi, Elina dan Arga berteriak memanggil Vanya.
“Berhenti Vanya! Aku mohon percayalah pada kami!” pinta Elina.
__ADS_1
Vanya menggeleng dengan menangis, Arga dan Messi begitu geram dan memukul semua orang yang ada di depannya. Vanya semakin menangis dengan kencang meminta keduanya tuk berhenti. Elina yang lengah pun sudah di kunci pergerakannya oleh lawan.
“Laudya aku mohon lepaskan Elina!” pinta Vanya sembari menangis.
Bugh,, Bugh,, Bugh,,
Arga dan Messi pun tersungkur lemas hanya dengan berapa pukulan, Zidan tersenyum melihat lawannya terkapar tak berdaya. Vanya juga terkejut dengan kondisi mereka yang biasanya begitu kuat menjadi lemah.
“Apa yang kau lakukan pada mereka? Apa yang kau campurkan pada makanan mereka, huh?” teriak Vanya yang berusaha mendekati Messi. Namun di tahan oleh seorang lelaki.
“JANGAN SENTUH DIA!” teriak Laudya begitu marah melihat anak buah Zidan menyentuh Vanya.
“Mereka hanya lemas dan tidak akan bisa bergerak sama sekali untuk beberapa jam ke depan,” ucap Zidan.
Vanya menangis melihat Elina, Arga dan Messi yang terlihat merasakan kesakitan. Laudya membantu Vanya tuk bangun lalu membisikkan sesuatu yang membuat Vanya menatapnya.
“Ikut denganku sekarang juga, jika kau tidak mau Zidan membunuh mereka,” bisik Laudya.
“LEPASKAN MEREKA, JANGAN ADA YANG MENYENTUH MEREKA!” teriak Vanya begitu marah melihat ke arah
Zidan.
Zidan menatap Laudya dan mengangguk. Zidan mengibaskan tangannya tuk memberikan kode pada anak buahnya tuk melepaskan mereka, setelah itu Zidan keluar begitu saja meninggalkan Vanya dengan Laudya.
“Va-vanya, jangan pergi!” pinta Messi dengan sisa tenaganya.
Laudya yang melihat salah satu anak buah Zidan yang akan berbuat tidak pantas pada Elina pun dengan cepat menembak tangannya yang akan menyentuh tubuh Elina. Dan membuat lelaki itu mundur beberapa langkah, Laudya pun menunjuknya dan segera di seret oleh yang lainnya.
“Elina!!” teriak Vanya yang melihat Laudya menembak ke arah Elina.
Arga melihat ke arah Elina yang terlihat berdarah di bagian punggungnya dengan menangis. Sedangkan Vanya hanya menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang Laudya lakukan.
“Kita harus pergi sekarang!” ucap Laudya seraya menarik tangan Vanya keluar dari ruangan itu.
“Hah,,, hah,,, persetan dengan wanita itu. Kenapa dia masih berbuat baik di saat dia menjadi seorang penjahat dalam waktu yang bersamaan,” seru Elina yang mengangkat wajahnya.
Arga dan Messi yang masih mempunya sedikit tenaga pun mendekati sang kakak wanita mereka. Arga dan Messi memeluk tubuh Elina karena berpikir Elina lah yang di tembak oleh Laudya.
Vanya satu mobil dengan Laudya, kedua wanita itu diam tak bersuara. Vanya masih memikirkan Elina yang dia pikir tertembak oleh Laudya. Sedangkan Laudya begitu kesal karena Vanya sudah tahu apa yang terjadi antara dirinya dan Wiliem, terlihat sebuah pesan masuk di ponselnya dan itu adalah Roy.
“Dia aman bersamaku. Tidak ada yang menyentuh wanitamu.” Tulis Laudya pada pesan yang akan di kirimkan pada Roy.
Roy yang mendapat balasan itu pun merasa lega, karena Laudya menjalankan tugasnya dengan baik. Sekarang adalah tugasnya tuk membuat Zyan muncul ke permukaan. Roy akan membuat masalah ini selesai esok, Zyan harus muncul tuk bisa membunuh Zidan dan menyelamatkan sang adik Zee dan Vanya.
“Aku akan mati dengan segala rasaku padamu, Vanya. Biarkan seluruh keluargamu mengingat aku sebagai seorang pembunuh,” batin Roy.
BERSAMBUNG....
__ADS_1